BAB 2: Meja Nomor Dua Belas

​Aneska berdiri di depan cermin toilet kafe Blue Coffee untuk ke-sepuluh kalinya. Ia merapikan gaun floral berwarna soft pink yang menurutnya memberikan kesan "wanita baik-baik yang butuh dilindungi". Rambutnya yang bergelombang sengaja digerai, memberikan aroma vanilla yang manis setiap kali ia bergerak.

​"Oke, Anes. Lo pasti bisa. Lo cuma perlu meyakinkan cowok bernama Gani ini buat jadi pacar sewaan. Kalau dia minta bayaran, gue bakal pakai uang tabungan beli tas baru gue. Ini demi kebebasan!" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.

​Ia keluar dari toilet dengan langkah mantap. Matanya menyisir seluruh penjuru kafe yang didominasi dekorasi kayu dan aroma biji kopi yang kuat. Suasana cukup ramai, denting sendok dan tawa ringan pengunjung memenuhi udara.

​Aneska melirik ponselnya. Pesan dari Miska: Meja nomor 12, Anes! Inget, jangan malu-maluin!

​Matanya tertuju pada sebuah meja di sudut ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Di sana, seorang pria sedang duduk membelakanginya. Dari belakang saja, pundaknya terlihat kokoh dan lebar. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku.

​Aneska menarik napas dalam-dalam, membusungkan dada, dan melangkah mendekat. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja melewati meja nomor dua belas yang asli—di mana seorang pria berkaus polo biru sedang sibuk bermain ponsel—dan justru melangkah menuju meja nomor dua puluh satu yang letaknya di pojok paling privat.

​Plak!

​Aneska meletakkan tas tangannya di atas meja dengan sedikit bertenaga untuk menarik perhatian. Tanpa menunggu dipersilakan, ia langsung menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria itu.

​"Hai! Maaf ya nunggu lama. Kamu 'Gani' kan? Kenalin, aku Aneska yang dibilang Miska tadi," cerocos Aneska tanpa jeda, sambil menunjukkan senyum paling cerah yang ia miliki.

​Pria di hadapannya tertegun. Gelas kopi yang baru saja akan menyentuh bibirnya tertahan di udara. Pria itu adalah Argani Sebasta. Arga mengerutkan kening. Ia baru saja tiba dua menit yang lalu dan sedang menunggu calon tunangannya yang katanya bernama Aneska.

​Aneska? batin Arga. Ia menatap gadis di depannya intens. Wajahnya sama dengan foto yang dikirimkan papanya, tapi sikapnya... jauh dari kata "gadis kalem" yang diceritakan orang tuanya.

​"Gani?" Arga mengulang nama itu dengan suara bariton yang rendah dan seksi.

​"Iya, Gani! Eh, atau lo mau dipanggil Mas Gani? Kak Gani? Terserah deh," Aneska mengibaskan tangannya santai. Ia sedikit terpesona melihat wajah pria di depannya. Gila, Miska nggak bilang kalau 'Gani' ini gantengnya kelewatan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan matanya... duh, tajam banget kayak mau nelan orang.

​Arga meletakkan kembali gelas kopinya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, bersedekap, dan menatap Aneska dengan tatapan menyelidik. Ia menyadari sesuatu: gadis ini salah mengira dirinya sebagai orang lain dari aplikasi kencan.

​"Jadi... kamu Aneska?" tanya Arga, memastikan.

​"Iya! Aneska Claryz Graceva. Panggil aja Anes," Aneska memajukan tubuhnya, volumenya mengecil jadi berbisik. "Gini, Mas Gani. Gue mau langsung to the point aja ya, soalnya waktu kita nggak banyak. Gue dalam masalah besar."

​Arga menaikkan sebelah alisnya, merasa terhibur. "Masalah besar apa?"

​"Gue mau dijodohin! Sama om-om pilihan bokap gue! Namanya Argani siapa gitu, gue nggak peduli," Aneska mengadu dengan wajah cemberut yang bagi Arga justru terlihat sangat lucu. "Katanya sih dia mapan, tapi ya ampun... umurnya udah tiga puluh tahun, Mas! Lo bayangin nggak sih betapa ngeboseninnya hidup gue kalau harus sama orang kayak gitu? Pasti dia kaku banget, jam delapan malam udah tidur, terus kalau ngomong pakai bahasa baku."

​Arga hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Kaku? Jam delapan sudah tidur? Ia baru saja ingin tertawa, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Wajahnya tetap datar, namun matanya berkilat penuh minat.

​"Jadi, kamu nggak mau sama Argani itu?" tanya Arga memancing.

​"Nggak mau lah! Makanya, gue mau minta tolong sama lo. Miska bilang lo lagi nyari hubungan serius. Gue butuh 'pacar' buat dipamerin ke bokap gue dalam tiga hari ini. Gue bakal bayar lo, atau lo boleh minta apa aja deh, asal lo mau akting jadi cowok gue di depan bokap gue. Gimana? Lo mau kan bantu gue?"

​Aneska menatap Arga dengan mata bulat yang penuh harap, persis seperti anak kucing yang meminta makan.

​Arga terdiam cukup lama. Ia menatap gadis yang mengatainya "om-om membosankan" ini dengan sudut pandang baru. Aneska sangat ekspresif, jujur, dan... sedikit ceroboh.

​"Menarik," gumam Arga pelan.

​"Gimana? Mau kan?" desak Aneska.

​Arga mengetukkan jari telunjuknya di meja. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya. Jika ia mengaku sebagai Argani sekarang, mungkin Aneska akan langsung kabur. Tapi jika ia mengikuti permainan gadis ini...

​"Kenapa harus pacaran?" tanya Arga tiba-tiba.

​"Hah?" Aneska bengong.

​"Kalau cuma pacaran, Papa kamu masih punya celah buat maksa kamu nikah sama 'si om-om' itu, kan? Kalau pacar kamu cuma level pacar, posisi Argani itu masih kuat di mata Papa kamu."

​Aneska mengerutkan dahi. "Terus? Gue harus gimana?"

​Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat jarak di antara mereka terkikis. Aroma parfum maskulin yang elegan—campuran kayu cendana dan citrus—menusuk indra penciuman Aneska, membuatnya tiba-tiba gugup.

​"Kenapa nggak langsung menikah saja?" tanya Arga dengan nada santai seolah sedang menawarkan menu makanan.

​Mata Aneska nyaris keluar dari kelopaknya. "M-menikah?! Kita bahkan belum pesan minum, Mas Gani!"

​"Pikirkan begini," Arga mulai bernegosiasi dengan gaya CEO-nya yang mematikan. "Kamu butuh tameng yang permanen. Kalau kamu bawa calon suami, Papa kamu nggak punya alasan lagi buat jodohin kamu sama orang lain. Saya mapan, saya jomblo, dan seperti yang kamu lihat... saya tidak seburuk om-om pilihan Papa kamu, kan?"

​Aneska menatap wajah Arga lamat-lamat. Bener juga sih. Gani ini ganteng banget. Kalau gue bawa dia ke rumah, Papa pasti langsung minder bandingin dia sama si Arga-Arga itu. Tapi... nikah?

​"Tapi kita kan nggak kenal..." cicit Aneska.

​"Kita bisa kenalan sambil jalan. Lagipula, kamu bilang kamu butuh solusi cepat," Arga melirik jam tangannya. "Waktu kamu sisa dua hari lebih beberapa jam lagi, Aneska."

​Aneska menggigit bibir bawahnya. Logikanya berteriak 'Jangan!', tapi rasa paniknya terhadap perjodohan Papa jauh lebih besar. Ditambah lagi, pria di depannya ini punya aura yang sangat meyakinkan. Dewasa, tenang, dan tampan.

​"Lo beneran jomblo kan? Bukan simpanan tante-tante atau buronan?" tanya Aneska curiga.

​Arga terkekeh, suara yang sangat berat dan merdu. "Saya bersih. Saya cuma pria yang kebetulan sedang mencari istri, dan kamu... kebetulan lewat di depan saya."

​Aneska menarik napas dalam, menutup matanya sejenak, lalu membukanya dengan tekad bulat. Ia mengulurkan tangannya di atas meja.

​"Oke! Deal! Kita nikah. Tapi lo harus janji bakal bantuin gue ngadepin Papa!"

​Arga menyambut uluran tangan kecil Aneska. Genggamannya hangat dan kuat. "Deal. Saya akan bantu kamu... menghadapi apa pun."

​Arga tersenyum tipis—senyum kemenangan yang tidak disadari Aneska. Aneska, kamu tidak tahu kalau pria yang kamu sebut 'om-om membosankan' itu sedang memegang tanganmu sekarang.

​"Pilihan yang pintar, Aneska," ucap Arga pelan. "Jadi, kapan kita ke rumah Papa kamu?"

​Aneska tersenyum lebar, merasa bebannya terangkat. "Besok! Besok sore lo jemput gue di kantor! Gue bakal kirim lokasinya!"

​Tanpa mereka sadari, di meja nomor dua belas yang asli, pria berkaus polo biru mulai gelisah karena teman kencannya tak kunjung datang. Sementara itu, Aneska baru saja menyerahkan dirinya ke dalam "sangkar" yang justru ia buat sendiri.

Terpopuler

Comments

umie chaby_ba

umie chaby_ba

pengen juga salah meja kalo gitu🤭

2026-04-27

0

Aidil Kenzie Zie

Aidil Kenzie Zie

Aneska nggak liat kali nomer mejanya 🤣🤣🤣

2026-04-26

0

Katon Kc

Katon Kc

🤣🤣🤣🤣🤣

2026-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2 BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3 BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4 BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5 BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6 BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7 BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8 BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9 BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10 BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11 BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12 BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13 BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14 BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15 BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16 BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17 BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18 BAB 18: Sweet Morning Chaos
19 BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20 BAB 20: Posesif Mode On
21 BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22 BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23 BAB 23: Manja Mode Max
24 BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25 BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26 BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27 BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28 BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29 BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30 BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31 BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32 BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33 BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34 BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35 BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36 BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37 BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38 BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39 BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40 BAB 40: Manja Mode: Permanen
41 BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42 BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43 BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44 BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45 BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46 BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47 BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48 BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49 BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50 BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51 BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52 BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53 BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54 BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55 BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56 BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57 BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58 BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59 BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60 BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61 BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62 BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63 BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64 BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65 BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66 BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67 BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68 BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69 BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70 BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71 BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72 BAB 72: Topeng Sang Predator
73 BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74 BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75 BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76 BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77 BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78 BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79 BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80 BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81 BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82 BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83 BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84 BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85 BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86 BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87 BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88 BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89 BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90 BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91 EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2
BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3
BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4
BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5
BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6
BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7
BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8
BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9
BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10
BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11
BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12
BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13
BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14
BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15
BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16
BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17
BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18
BAB 18: Sweet Morning Chaos
19
BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20
BAB 20: Posesif Mode On
21
BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22
BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23
BAB 23: Manja Mode Max
24
BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25
BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26
BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27
BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28
BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29
BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30
BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31
BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32
BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33
BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34
BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35
BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36
BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37
BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38
BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39
BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40
BAB 40: Manja Mode: Permanen
41
BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42
BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43
BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44
BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45
BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46
BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47
BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48
BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49
BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50
BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51
BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52
BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53
BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54
BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55
BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56
BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57
BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58
BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59
BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60
BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61
BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62
BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63
BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64
BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65
BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66
BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67
BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68
BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69
BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70
BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71
BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72
BAB 72: Topeng Sang Predator
73
BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74
BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75
BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76
BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77
BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78
BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79
BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80
BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81
BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82
BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83
BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84
BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85
BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86
BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87
BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88
BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89
BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90
BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91
EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!