BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata

​Begitu pintu gerbang rumah keluarga Graceva tertutup di belakang mereka, Aneska langsung melepaskan genggaman tangan Arga seolah tangannya baru saja terkena sengatan listrik. Ia berbalik, menatap pria di depannya dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.

​"Mas Gani! Lo... lo tadi kerasukan jin apa?!" teriak Aneska setengah berbisik agar suaranya tidak terdengar sampai ke dalam rumah.

​Arga dengan santai memasukkan kunci mobil ke saku celananya, lalu menatap Aneska dengan ekspresi datar yang menyebalkan. "Kerasukan? Saya rasa saya sangat sadar saat bicara tadi."

​"Sadar apanya?! Lo baru saja bilang ke Papa gue kalau lo bakal bawa keluarga lo minggu depan buat ngelamar gue! Minggu depan, Mas! Itu tujuh hari lagi!" Aneska menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Niatnya kan cuma mau bikin Papa batalin perjodohan sama si Arga-Arga itu, bukan malah beneran bikin acara lamaran!"

​Arga menyandarkan punggungnya pada pintu mobil mewah itu, melipat tangan di depan dada. "Bukannya itu solusi terbaik? Papa kamu bilang kalau kamu tidak bawa calon sendiri, kamu harus menikah dengan Argani. Sekarang, Papa kamu sudah setuju dengan saya. Masalah selesai, kan?"

​"Selesai gundulmu!" Aneska mulai bicara kasar karena panik. "Kita itu asing, Mas. Kita baru ketemu kemarin sore! Gue bahkan nggak tahu marga lo apa, alamat lo di mana, atau lo punya hobi koleksi ikan cupang atau nggak. Masa tiba-tiba nikah?"

​Arga melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aneska refleks mundur sampai punggungnya membentur pagar besi. Arga menumpukan satu tangannya di pagar, mengurung Aneska dalam aromanya yang memabukkan.

​"Nama saya Gani. Saya tidak punya koleksi ikan cupang," ucap Arga dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Aneska meremang. "Dan soal 'asing'... bukankah itu gunanya masa tunangan? Kita punya waktu untuk saling mengenal."

​Aneska menelan ludah susah payah. Wajah Arga terlalu dekat. "T-tapi... gimana kalau lo cuma mau manfaatin gue? Atau gimana kalau ternyata lo itu sebenarnya... penipu?"

​Arga terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat merdu namun penuh rahasia. "Penipu mana yang membawa mobil seharga miliaran ke rumah korbannya? Aneska, berpikirlah realistis. Saya tampan, saya mapan, dan saya baru saja menyelamatkanmu dari perjodohan yang tidak kamu inginkan. Kamu seharusnya berterima kasih."

​Aneska terdiam. Logikanya benar-benar lumpuh setiap kali pria ini menatapnya dengan intens. "Oke, oke. Tapi soal keluarga... lo beneran punya keluarga yang bisa dibawa? Bukan aktor bayaran?"

​"Keluarga saya asli. Sangat asli sampai mungkin kamu akan kaget nanti," jawab Arga dengan senyum misterius. "Sekarang, masuklah. Besok saya jemput lagi setelah jam kantor. Kita harus mulai 'kenalan' secara intensif agar akting kita tidak cacat di depan Papa kamu."

​Aneska hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melihat Arga masuk ke mobil dan meluncur pergi, meninggalkan dirinya yang masih mematung di pinggir jalan.

......................

​Malam itu, Aneska tidak bisa tidur. Ia langsung menelepon Miska dan menceritakan semuanya dari A sampai Z dengan nada yang hampir menangis.

​"APA?! DIA SETUJU NIKAHIN LO?!" teriak Miska di ujung telepon sampai Aneska harus menjauhkan ponselnya.

​"Iya, Mis! Gila kan si Gani itu? Gue rasa dia beneran jomblo lapuk yang udah putus asa nyari istri makanya langsung nyamber pas gue ajak," keluh Aneska.

​"Tapi Nes, kalau dia beneran ganteng dan kaya kayak yang lo bilang... ya udah sih, sikat aja! Daripada lo dapet si Argani pilihan bokap lo yang katanya kaku itu?"

​"Masalahnya, Mis... gue ngerasa ada yang aneh. Papa tadi pas ketemu Gani itu reaksinya beda. Kayak... kayak mereka udah kenal, tapi nggak mungkin kan?"

​"Ah, perasaan lo aja kali karena lagi stres. Udah, nikmatin aja. Jarang-jarang kan dapet cowok spek dewa dari aplikasi kencan?"

​Aneska menutup telepon dengan perasaan yang masih tidak tenang. Ia membuka aplikasi kencan yang Miska gunakan, mencoba mencari akun bernama 'Gani'. Namun, ia tidak menemukan satu pun foto yang mirip dengan pria yang tadi sore datang ke rumahnya.

​Apa dia hapus akunnya setelah ketemu gue? batin Aneska.

​Esok harinya di kantor, Aneska disambut oleh sebuah buket bunga mawar putih raksasa di atas mejanya. Ada sebuah kartu kecil terselip di sana.

​“Untuk calon istriku yang ceroboh. Jangan lupa makan siang. – G.”

​Seluruh rekan kantor Aneska bersorak menggoda, membuat Aneska ingin tenggelam ke bawah lantai. "Anes! Gila ya, pacar lo sweet banget! Siapa sih? Kok nggak pernah dikenalin?"

​"I-itu... cuma temen," jawab Aneska gugup.

​Baru saja ia ingin bernapas lega, asisten kantor berteriak dari pintu masuk, "Mbak Aneska! Di depan ada kiriman lagi!"

​Bukan bunga, kali ini adalah lima kantong besar berisi makan siang dari restoran bintang lima untuk seluruh divisi kreatif. Ada nota kecil di sana: “Makan siang dari tunangan Aneska.”

​Aneska menepuk jidatnya. Mas Gani... lo beneran mau bikin satu kantor tahu kalau gue udah laku?!

​Tepat pukul lima sore, mobil hitam yang sama sudah terparkir manis di depan kantor. Arga keluar dari mobil, kali ini tanpa kacamata hitam. Ia berdiri bersandar di pintu mobil, mengenakan kemeja biru navy yang sangat pas di badannya.

​Begitu Aneska keluar, Arga langsung membukakan pintu untuknya dengan sangat sopan.

​"Gimana bunganya? Suka?" tanya Arga saat mereka sudah di dalam mobil.

​"Mas Gani! Lo berlebihan banget tahu nggak! Satu kantor langsung gosipin gue!" protes Aneska.

​"Saya hanya menandai wilayah saya, Aneska. Agar tidak ada pria lain di kantor itu yang berani mendekati calon istri saya," jawab Arga santai sambil mulai menyetir.

​Aneska menyipitkan matanya. "Lo... lo beneran serius ya soal ini? Bukan karena lo ada maksud lain kan?"

​Arga menghentikan mobil di lampu merah, lalu menoleh ke arah Aneska. Wajahnya yang semula bercanda kini berubah menjadi sangat serius.

​"Aneska, saya tidak pernah main-main dengan apa yang sudah saya tandatangani atau saya ucapkan. Termasuk janji di depan Papa kamu semalam."

​Aneska tertegun. "Tapi lo bahkan nggak tahu makanan kesukaan gue apa, hobi gue apa..."

​"Makanan kesukaanmu bubur ayam tapi nggak diaduk, hobimu baca novel romance sampai pagi, dan kamu benci kalau ada orang yang menyentuh barang-barang di meja kerjamu," potong Arga lancar.

​Aneska membeku. "L-lo... kok tahu?! Miska yang kasih tahu ya?"

​Arga hanya tersenyum tipis, kembali fokus ke jalan raya. "Saya punya cara sendiri untuk mencari tahu tentang apa yang menjadi milik saya."

​Aneska mulai merinding. Pria ini terlalu sempurna, terlalu tahu banyak hal, dan terlalu misterius untuk sekadar "cowok dari aplikasi kencan". Siapa sebenarnya "Gani" ini?

Terpopuler

Comments

umie chaby_ba

umie chaby_ba

untung nama belakang nya sama ga salah juga argani sama gani🤭

2026-04-27

1

Ayusha

Ayusha

lah, kok kaya aku 🤣

2026-04-25

0

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

Ya Allah Thor. cerita Author keren banget... Semangat berkarya ya Thor. Aku Izin baca

2026-07-15

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2 BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3 BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4 BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5 BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6 BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7 BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8 BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9 BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10 BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11 BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12 BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13 BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14 BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15 BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16 BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17 BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18 BAB 18: Sweet Morning Chaos
19 BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20 BAB 20: Posesif Mode On
21 BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22 BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23 BAB 23: Manja Mode Max
24 BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25 BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26 BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27 BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28 BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29 BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30 BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31 BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32 BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33 BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34 BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35 BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36 BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37 BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38 BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39 BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40 BAB 40: Manja Mode: Permanen
41 BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42 BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43 BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44 BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45 BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46 BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47 BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48 BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49 BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50 BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51 BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52 BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53 BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54 BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55 BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56 BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57 BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58 BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59 BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60 BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61 BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62 BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63 BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64 BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65 BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66 BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67 BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68 BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69 BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70 BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71 BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72 BAB 72: Topeng Sang Predator
73 BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74 BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75 BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76 BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77 BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78 BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79 BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80 BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81 BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82 BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83 BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84 BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85 BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86 BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87 BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88 BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89 BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90 BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91 EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2
BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3
BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4
BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5
BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6
BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7
BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8
BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9
BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10
BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11
BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12
BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13
BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14
BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15
BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16
BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17
BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18
BAB 18: Sweet Morning Chaos
19
BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20
BAB 20: Posesif Mode On
21
BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22
BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23
BAB 23: Manja Mode Max
24
BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25
BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26
BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27
BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28
BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29
BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30
BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31
BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32
BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33
BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34
BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35
BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36
BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37
BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38
BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39
BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40
BAB 40: Manja Mode: Permanen
41
BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42
BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43
BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44
BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45
BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46
BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47
BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48
BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49
BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50
BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51
BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52
BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53
BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54
BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55
BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56
BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57
BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58
BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59
BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60
BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61
BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62
BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63
BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64
BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65
BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66
BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67
BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68
BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69
BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70
BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71
BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72
BAB 72: Topeng Sang Predator
73
BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74
BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75
BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76
BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77
BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78
BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79
BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80
BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81
BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82
BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83
BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84
BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85
BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86
BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87
BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88
BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89
BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90
BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91
EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!