BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah

​Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah butik dengan fasad kaca tinggi di kawasan Jakarta Selatan. Nama butiknya hanya terdiri dari satu kata emas yang sangat elegan: 'VOGUE’E'. Aneska tahu butik ini. Ini adalah tempat di mana para artis dan sosialita memesan gaun custom yang harganya bisa setara dengan gaji Aneska selama dua tahun.

​"Mas... Mas Gani, kita ngapain ke sini?" tanya Aneska ragu, matanya tak lepas dari papan nama butik itu.

​"Mencari gaun untuk pertunangan minggu depan," jawab Arga santai sembari mematikan mesin.

​"Tapi Mas, di sini mahal banget! Gue punya tabungan sih, tapi kalau buat beli baju di sini, kayaknya gue harus puasa sampai tahun depan," bisik Aneska panik.

​Arga menoleh, menatap Aneska dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian mengulurkan tangan, mencubit pelan hidung Aneska. "Kamu tidak perlu mengeluarkan sepeser pun. Anggap saja ini investasi untuk calon istri saya."

​Aneska terpaku. Investasi? Kalimatnya kok kayak CEO banget ya?

​Begitu mereka melangkah masuk, denting lonceng di atas pintu menyambut mereka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat modis langsung berlari kecil menghampiri. Wajahnya cerah, tampak ingin menyapa dengan sangat akrab.

​"Ya ampun, Pak Ar—"

​"Gani," potong Arga dengan suara yang sangat tegas dan dalam, matanya menatap tajam ke arah wanita itu.

​Wanita itu langsung tersentak, mengerem ucapannya dengan paksa. Ia melirik Arga, lalu melirik Aneska yang tampak bingung, kemudian kembali ke Arga dengan ekspresi yang sangat canggung. "Ah... iya... Mas Gani. Maaf, saya salah sebut tadi. Silakan, silakan masuk. Ada yang bisa saya bantu, Mas Gani?"

​Aneska menyipitkan mata. "Tadi dia mau panggil apa, Mas?"

​"Pak Gan—i. Mungkin dia pikir saya sudah tua sampai dipanggil bapak," jawab Arga cepat, sangat tenang.

​"Tapi Mas, dia kayak kenal banget sama lo," selidik Aneska.

​"Saya sering memesan... seragam kantor di sini untuk karyawan saya," kilah Arga. "Ayo, jangan banyak tanya. Fokus cari gaun yang kamu suka."

​Wanita pemilik butik itu, yang ternyata bernama Madam Rosa, segera membawa mereka ke ruang VIP. Di sana, deretan gaun indah terpampang nyata. Arga duduk di sofa beludru, melipat kaki, dan memberikan isyarat agar Aneska mencoba beberapa gaun.

​Aneska keluar dari ruang ganti dengan gaun pertama: sebuah gaun A-line berwarna merah menyala dengan belahan dada rendah.

​Arga menggeleng tanpa suara. "Terlalu mencolok. Kamu akan jadi pusat perhatian pria-pria nakal."

​Aneska masuk lagi, lalu keluar dengan gaun kedua: mermaid dress berwarna emas yang sangat ketat.

​"Terlalu sesak. Kamu tidak akan bisa bernapas saat makan," komentar Arga lagi, meskipun matanya sempat terpaku pada lekuk tubuh Aneska yang sempurna.

​Sampai pada gaun ketiga. Sebuah gaun berwarna

 dengan detail brokat bunga kecil-kecil yang sangat halus, berlengan pendek transparan, dan panjangnya pas menyapu lantai. Begitu Aneska keluar dan berdiri di depan cermin besar, ruangan itu mendadak sunyi.

​Aneska terlihat sangat anggun, lembut, namun tetap memancarkan aura cantik yang berkelas.

​Arga berdiri dari sofanya. Ia berjalan perlahan menuju Aneska, berdiri tepat di belakang gadis itu. Melalui pantulan cermin, mata mereka bertemu.

​"Ini," bisik Arga. "Kamu cantik sekali, Aneska."

​Wajah Aneska memanas. "Beneran? Tapi harganya, Mas... gue takut lihat labelnya."

​"Jangan dilihat. Biar saya yang urus," Arga berpaling pada Madam Rosa. "Saya ambil yang ini. Kirim ke alamat saya seperti biasa."

​"Siap, Pak Ar—maksud saya, Mas Gani!" Madam Rosa membungkuk hormat.

​Saat Aneska kembali ke ruang ganti untuk melepas gaun, Arga berjalan menuju meja kasir. Di sana, asisten butik yang masih muda tampak sibuk dengan komputernya.

​"Pak Arga, mau pakai kartu yang Platinum atau—"

​"Pakai ini," Arga menyodorkan sebuah kartu hitam tanpa nama yang sangat eksklusif. "Dan ingat, jangan panggil saya Arga di depan gadis tadi. Mengerti?"

​Si asisten mengangguk cepat dengan wajah pucat. "Baik, Pak. Maafkan saya."

​Tiba-tiba, pintu butik terbuka kembali. Dua orang pria berjas rapi masuk dengan terburu-buru. Begitu mereka melihat Arga, mereka langsung berseru kompak.

​"Woi, Arga! Dicariin di kantor ternyata malah di sini! Rapat sama investor dari Singapura udah mulai sepuluh menit lalu, Bro!" teriak salah satu pria itu.

​Arga membeku. Ia menoleh perlahan, memberikan tatapan "ingin membunuh" pada kedua temannya itu.

​Aneska baru saja keluar dari ruang ganti tepat saat kata-kata itu terlontar. Ia mengerutkan kening, menatap kedua pria asing itu, lalu beralih ke Arga.

​"Arga? Siapa yang Arga?" tanya Aneska bingung.

​Kedua pria itu terdiam, menatap Aneska yang cantik, lalu menatap Arga yang sedang memberikan kode mata agar mereka diam.

​"Eh... itu... Arga... Arga itu nama tengahnya Gani!" seru salah satu teman Arga, mencoba menyelamatkan situasi dengan asal-asalan. "Iya, kan, Ga—ni?"

​Aneska menatap Arga dengan penuh selidik. "Mas Gani punya nama tengah Arga? Kok di aplikasi kencan cuma ditulis 'Gani'?"

​Arga berdehem, mencoba menguasai keadaan. "Iya. Nama lengkap saya memang ada Arga-nya. Tapi saya tidak suka menggunakannya karena... itu terlalu pasaran. Dan kedua orang ini," Arga menunjuk teman-temannya dengan tatapan tajam, "adalah bawahan saya yang sangat tidak sopan."

​Kedua teman Arga melongo. Bawahan? Kita kan partner bisnis! batin mereka protes, tapi melihat aura Arga yang mengerikan, mereka hanya bisa mengangguk-angguk pasrah.

​"Oalah... kirain siapa," ucap Aneska, tampak percaya meski masih agak sangsi.

​"Ya sudah, ayo kita pergi. Saya harus... rapat dengan investor Singapura yang dibilang 'bawahan' saya tadi," Arga segera merangkul bahu Aneska, menggiringnya keluar butik sebelum rahasianya benar-benar terbongkar.

​Di dalam mobil, Aneska terdiam cukup lama. Ia menatap profil samping wajah Arga yang sedang fokus menyetir.

​"Mas Gani," panggil Aneska pelan.

​"Ya?"

​"Lo beneran cuma wiraswasta biasa, kan? Lo nggak lagi bohongin gue soal apa pun, kan?"

​Arga terdiam sejenak. Ia menghentikan mobil di lampu merah, lalu menoleh menatap Aneska. Untuk pertama kalinya, ada kilatan rasa bersalah di mata pria itu, namun tertutup oleh ketenangan yang luar biasa.

​"Saya adalah pria yang akan menikahimu minggu depan, Aneska. Itu satu-satunya kenyataan yang perlu kamu tahu sekarang."

​Aneska mendengus. "Jawaban lo nggak nyambung, Mas!"

​Arga hanya tersenyum tipis. Dalam hati, ia berbisik, Maafkan aku, Aneska. Tapi kalau kamu tahu aku adalah Argani Sebasta sekarang, kamu pasti akan kabur. Dan aku... aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Terpopuler

Comments

Kristina NellaWara

Kristina NellaWara

next kak

2026-04-29

1

Kristina NellaWara

Kristina NellaWara

bawahan😂😂😂😂😂😂

2026-04-29

0

umie chaby_ba

umie chaby_ba

lanjut deh ini asik

2026-04-27

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2 BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3 BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4 BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5 BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6 BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7 BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8 BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9 BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10 BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11 BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12 BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13 BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14 BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15 BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16 BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17 BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18 BAB 18: Sweet Morning Chaos
19 BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20 BAB 20: Posesif Mode On
21 BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22 BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23 BAB 23: Manja Mode Max
24 BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25 BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26 BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27 BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28 BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29 BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30 BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31 BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32 BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33 BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34 BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35 BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36 BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37 BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38 BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39 BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40 BAB 40: Manja Mode: Permanen
41 BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42 BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43 BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44 BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45 BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46 BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47 BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48 BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49 BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50 BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51 BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52 BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53 BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54 BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55 BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56 BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57 BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58 BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59 BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60 BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61 BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62 BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63 BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64 BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65 BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66 BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67 BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68 BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69 BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70 BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71 BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72 BAB 72: Topeng Sang Predator
73 BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74 BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75 BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76 BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77 BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78 BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79 BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80 BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81 BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82 BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83 BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84 BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85 BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86 BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87 BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88 BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89 BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90 BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91 EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2
BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3
BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4
BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5
BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6
BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7
BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8
BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9
BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10
BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11
BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12
BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13
BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14
BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15
BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16
BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17
BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18
BAB 18: Sweet Morning Chaos
19
BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20
BAB 20: Posesif Mode On
21
BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22
BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23
BAB 23: Manja Mode Max
24
BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25
BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26
BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27
BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28
BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29
BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30
BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31
BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32
BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33
BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34
BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35
BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36
BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37
BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38
BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39
BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40
BAB 40: Manja Mode: Permanen
41
BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42
BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43
BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44
BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45
BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46
BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47
BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48
BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49
BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50
BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51
BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52
BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53
BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54
BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55
BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56
BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57
BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58
BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59
BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60
BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61
BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62
BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63
BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64
BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65
BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66
BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67
BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68
BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69
BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70
BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71
BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72
BAB 72: Topeng Sang Predator
73
BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74
BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75
BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76
BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77
BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78
BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79
BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80
BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81
BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82
BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83
BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84
BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85
BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86
BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87
BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88
BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89
BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90
BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91
EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!