BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor

​Hari ini, konsentrasi Aneska di kantor benar-benar hancur. Berkali-kali ia salah mengetik caption untuk proyek kliennya. Pikirannya melayang pada kesepakatan gila yang ia buat kemarin sore di Blue Coffee.

​Gue beneran bakal bawa cowok asing ke rumah? batinnya sambil menggigit ujung pulpen. Gimana kalau dia tiba-tiba grogi? Gimana kalau Papa tahu dia cuma cowok dari aplikasi kencan?

​Pukul 16.55, ponsel Aneska bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang kemarin ia simpan dengan nama 'Gani Penyelamat'.

​[Gani Penyelamat]: Saya sudah di depan lobi. Mobil hitam.

​Aneska langsung merapikan tasnya, memoles lipstik tipis, dan berpamitan pada teman-temannya dengan terburu-buru. Ia berlari kecil menuju pintu keluar gedung agensi tempatnya bekerja. Begitu sampai di lobi, langkahnya terhenti.

​Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap terparkir tepat di depan pintu masuk. Bukan sekadar mobil biasa, itu adalah seri terbaru yang harganya pasti bisa buat beli satu kompleks perumahan. Beberapa rekan kantor Aneska yang baru pulang terlihat berbisik-bisik sambil melirik mobil itu.

​"Nggak mungkin Gani," gumam Aneska. "Dia kan bilang wiraswasta, bukan sultan."

​Namun, kaca mobil itu turun perlahan. Sosok pria dengan kacamata hitam dan kemeja putih bersih yang dua kancing teratasnya terbuka terlihat di balik kemudi. Pria itu melepas kacamatanya, menatap Aneska dengan tatapan tenang yang mematikan.

​"Aneska, masuk," panggil Arga.

​Aneska melongo. Ia mendekat dengan ragu, lalu masuk ke dalam mobil yang aromanya sangat wangi—perpaduan antara kulit jok mahal dan parfum maskulin Arga.

​"Mas Gani... ini mobil siapa? Lo pinjem dari bos lo ya?" tanya Aneska langsung begitu pintu tertutup rapat.

​Arga hampir saja tertawa, tapi ia berhasil mempertahankan wajah datarnya. "Ini mobil saya sendiri. Kenapa? Kamu kurang suka?"

​"Bukan nggak suka! Tapi ini kemewahan banget! Lo bilang wiraswasta, wiraswasta apa yang pakai mobil beginian? Jualan pulau?" cerocos Aneska sambil meraba dasbor mobil yang sangat halus.

​"Wiraswasta kecil-kecilan," jawab Arga santai sambil mulai menjalankan mobilnya. "Saya cuma ingin terlihat meyakinkan di depan Papa kamu. Bukankah itu tujuan kita?"

​Aneska mengangguk-angguk setuju, meski hatinya masih merasa janggal. "Iya sih, tapi Mas... kalau lo terlalu kelihatan kaya begini, nanti Papa malah makin banyak tanya. Papa itu detektif kalau soal urusan cowok."

​Arga melirik Aneska sekilas. Gadis itu terlihat sangat cantik hari ini dengan blazer kasual dan celana bahan yang pas di tubuhnya. "Tenang saja. Saya sudah menyiapkan skenario. Kamu cukup ikuti alur saya."

​Perjalanan menuju rumah Aneska terasa lebih singkat dari biasanya karena suasana di dalam mobil yang sangat nyaman. Aneska mencoba mencairkan suasana dengan terus bicara, menceritakan betapa galaknya Papanya, sementara Arga lebih banyak mendengarkan dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

​Begitu sampai di depan gerbang rumah besar keluarga Graceva, Aneska menarik napas panjang.

​"Oke, Mas. Aturannya: Lo adalah Gani, pacar gue selama tiga bulan terakhir. Kita ketemu di pameran seni. Lo orangnya sukses, mandiri, dan... tolong ya, Mas, jangan biarkan Papa tahu kalau kita baru kenal kemarin."

​Arga menghentikan mesin mobil. Ia menoleh ke arah Aneska, lalu tiba-tiba tangannya terulur untuk merapikan sehelai rambut Aneska yang menutupi wajahnya. Sentuhan itu singkat, tapi sukses membuat jantung Aneska berdebar kencang.

​"Aneska," suara Arga merendah. "Percaya pada saya. Semuanya akan lancar."

​Mereka turun dan disambut oleh asisten rumah tangga yang langsung mengantar mereka ke ruang tamu luas. Di sana, Hendra Graceva sudah duduk di sofa tunggalnya, tampak seperti raja yang sedang menunggu laporan dari bawahannya.

​"Pa, ini... Mas Gani. Pacar Anes," suara Aneska sedikit bergetar saat memperkenalkan Arga.

​Hendra berdiri. Matanya yang tajam langsung memindai Arga dari ujung kepala sampai ujung kaki. Arga tidak terlihat gentar sedikit pun. Ia justru melangkah maju dengan percaya diri, mengulurkan tangan, dan memberikan jabat tangan yang sangat mantap.

​"Selamat sore, Om. Saya Argani... maksud saya, Gani," Arga meralat ucapannya dengan sangat halus sehingga Aneska tidak menyadarinya. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda."

​Hendra terdiam sejenak, menatap tangan Arga, lalu beralih ke wajah Arga. Ada kilatan aneh di mata Hendra—seperti rasa terkejut yang tertahan.

​"Gani, ya?" Hendra duduk kembali dan mempersilakan mereka duduk. "Silakan duduk. Jadi, kamu yang selama ini membuat putri saya menolak semua tawaran perjodohan saya?"

​"Papa!" Aneska memprotes, wajahnya merah padam.

​Arga tersenyum sopan. "Saya rasa Aneska berhak memilih kebahagiaannya sendiri, Om. Dan saya di sini untuk memastikan bahwa pilihan Aneska tidak salah."

​Hendra berdehem, suaranya terdengar sedikit lebih lunak namun tetap mengintimidasi. "Kamu kerja di mana? Tadi saya lihat mobil di depan. Cukup menarik untuk ukuran anak muda."

​"Saya mengelola beberapa bisnis di bidang teknologi dan logistik, Om. Masih tahap pengembangan, tapi stabil," jawab Arga diplomatis.

​Aneska menyenggol lengan Arga pelan, berbisik, "Mas, jangan sombong-sombong banget, nanti Papa minta saham!"

​Arga hanya membalas dengan kerlingan mata nakal yang membuat Aneska makin salah tingkah.

​"Teknologi dan logistik?" Hendra mengulang kalimat itu. "Menarik. Karena setahu saya, anak rekan saya, Argani Sebasta, juga bergerak di bidang yang sama. Kamu tidak kenal dia?"

​Deg! Jantung Aneska serasa berhenti. Ia melirik Arga dengan panik.

​Arga justru terlihat sangat tenang. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke mata Hendra. "Oh, saya kenal baik dengan dia, Om. Bahkan bisa dibilang, saya tahu setiap langkah yang dia ambil."

​Aneska hampir saja pingsan. Mas Gani, lo cari mati ya?! batinnya menjerit. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Papanya sedang mati-matian menahan senyum karena mengenali siapa sebenarnya pria di depannya ini.

​"Oh ya?" Hendra menaikkan alisnya. "Lalu menurutmu, siapa yang lebih baik untuk Aneska? Kamu, atau Argani Sebasta itu?"

​Ruangan itu mendadak sunyi. Aneska menggenggam ujung blazernya dengan erat. Ia menanti jawaban dari pria yang ia pikir hanyalah "orang asing dari aplikasi kencan" ini.

​Arga menoleh ke arah Aneska, memberikan tatapan yang begitu dalam dan tulus, lalu kembali menatap Hendra.

​"Argani Sebasta mungkin punya segalanya, Om. Tapi saya... saya adalah pria yang berdiri di sini sekarang, memegang komitmen untuk menjaga Aneska. Dan menurut saya, itu adalah nilai yang tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun."

​Hendra terdiam lama, lalu tiba-tiba... tawa keras pecah dari mulut pria paruh baya itu. "Hahaha! Bagus! Kamu punya nyali juga!"

​Aneska bengong. Hah? Papa nggak marah? Papa malah ketawa?

​"Anes, Papa suka pria ini," ucap Hendra tiba-tiba. "Tapi, Papa punya satu syarat kalau kamu mau tetap sama dia dan membatalkan perjodohan dengan Arga."

​Aneska menegakkan punggungnya. "Apa syaratnya, Pa?"

​"Kalian harus bertunangan secara resmi minggu depan. Papa tidak mau pacaran yang tidak jelas arahnya. Kalau Gani beneran serius, dia pasti setuju."

​Aneska melongo. "Tapi Pa, minggu depan?!"

​"Kenapa? Kamu nggak mau?" tantang Hendra.

​Aneska melirik Arga, memberi kode agar Arga menolak atau memberi alasan. Namun, yang dilakukan Arga justru di luar dugaan.

​Arga menggenggam tangan Aneska di atas meja, di depan mata Papanya sendiri. "Saya setuju, Om. Minggu depan, saya akan membawa keluarga saya ke sini untuk melamar Aneska secara resmi."

​Aneska: "HAAAHH?!"

Terpopuler

Comments

Aidil Kenzie Zie

Aidil Kenzie Zie

papanya Anes senang banget akhirnya Anes sendiri yang datang membawa calonnya yang katanya "Om-om"itu🤣🤣🤣🤣

2026-04-26

1

umie chaby_ba

umie chaby_ba

lah kok malah kaget 🤣🤣

2026-04-27

0

Kristina NellaWara

Kristina NellaWara

astga🤣🤣

2026-04-29

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2 BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3 BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4 BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5 BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6 BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7 BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8 BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9 BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10 BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11 BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12 BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13 BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14 BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15 BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16 BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17 BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18 BAB 18: Sweet Morning Chaos
19 BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20 BAB 20: Posesif Mode On
21 BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22 BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23 BAB 23: Manja Mode Max
24 BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25 BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26 BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27 BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28 BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29 BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30 BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31 BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32 BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33 BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34 BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35 BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36 BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37 BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38 BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39 BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40 BAB 40: Manja Mode: Permanen
41 BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42 BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43 BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44 BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45 BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46 BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47 BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48 BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49 BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50 BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51 BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52 BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53 BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54 BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55 BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56 BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57 BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58 BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59 BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60 BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61 BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62 BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63 BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64 BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65 BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66 BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67 BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68 BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69 BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70 BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71 BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72 BAB 72: Topeng Sang Predator
73 BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74 BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75 BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76 BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77 BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78 BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79 BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80 BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81 BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82 BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83 BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84 BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85 BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86 BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87 BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88 BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89 BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90 BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91 EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2
BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3
BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4
BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5
BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6
BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7
BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8
BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9
BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10
BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11
BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12
BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13
BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14
BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15
BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16
BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17
BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18
BAB 18: Sweet Morning Chaos
19
BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20
BAB 20: Posesif Mode On
21
BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22
BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23
BAB 23: Manja Mode Max
24
BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25
BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26
BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27
BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28
BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29
BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30
BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31
BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32
BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33
BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34
BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35
BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36
BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37
BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38
BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39
BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40
BAB 40: Manja Mode: Permanen
41
BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42
BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43
BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44
BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45
BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46
BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47
BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48
BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49
BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50
BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51
BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52
BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53
BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54
BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55
BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56
BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57
BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58
BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59
BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60
BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61
BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62
BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63
BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64
BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65
BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66
BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67
BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68
BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69
BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70
BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71
BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72
BAB 72: Topeng Sang Predator
73
BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74
BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75
BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76
BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77
BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78
BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79
BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80
BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81
BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82
BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83
BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84
BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85
BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86
BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87
BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88
BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89
BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90
BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91
EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!