Bab 3

Setengah miliar.

Angka nol di belakang angka enam itu seolah menari-nari di depan mata Bayu. Kepalanya mendadak pening. Lututnya terasa lemas. Enam ratus juta rupiah tergeletak begitu saja di atas terpal rongsokan, digunakan sebagai tempat membuang abu rokok.

Bayu memalingkan wajahnya dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan.

"Tenang, Bayu. Tenang. Jangan bertingkah aneh. Pedagang loak sangat peka terhadap bahasa tubuh pembeli. Kalau aku langsung menunjuk mangkuk itu dengan mata berbinar, kakek ini pasti akan curiga dan menaikkan harganya secara gila-gilaan, atau malah tidak jadi menjualnya," batin Bayu, otaknya bekerja pada kecepatan maksimal.

Ia harus menggunakan taktik pengalihan.

Bayu melangkah maju mendekati lapak itu dengan gaya santai, berjongkok, dan mulai memilah-milah majalah bekas.

"Cari apa, Dek? Silakan dilihat-lihat, barang tua semua ini," sapa si kakek, suaranya serak. Ia mematikan rokoknya, menekan puntungnya tepat ke dasar mangkuk setengah miliar itu.

Bayu meringis dalam hati melihat porselen kekaisaran itu diperlakukan seperti tempat sampah, namun wajahnya tetap datar.

"Nyari majalah otomotif lama, Kek. Buat kliping tugas kampus adik saya. Ada nggak ya?" tanya Bayu santai.

Kakek itu mengaduk-aduk tumpukan kertasnya. "Wah, kalau otomotif kurang tahu ya. Kebanyakan ini majalah politik sama resep masakan. Coba aja dicari."

Bayu berpura-pura mencari selama beberapa menit. Lalu tangannya beralih mengambil radio transistor yang pecah.

"Ini radionya masih nyala, Kek?" tanyanya.

"Mati total itu, Dek. Dalemannya udah karatan. Cuma laku buat rongsok atau yang suka iseng benerin barang."

Bayu meletakkan radio itu, lalu mengambil sebuah jam saku tembaga yang rantainya sudah putus. Jendela informasi menunjukkan nilai jam itu sekitar lima puluh ribu.

"Nah, kalau jam ini gimana, Kek? Mati juga ya?" Bayu memutar-mutar jam itu di tangannya.

Kakek itu menyipitkan mata. "Itu jam lama, Dek. Mati sih, pernya kayaknya lepas. Tapi antik itu. Kalau buat pajangan di kamar mah bagus. Kakek lepas lima puluh ribu deh buat kamu."

"Waduh, lima puluh ribu mahal amat, Kek. Udah mati, kaca depannya juga baret-baret begini," keluh Bayu, mulai memainkan perannya. Ia tahu sisa uangnya hanya tiga puluh dua ribu. Ia harus mendapatkan jam ini beserta mangkuk itu dengan uang yang ia miliki.

"Namanya juga barang antik. Ya udah, empat puluh ribu aja. Udah mentok itu, Dek. Kakek belum pelaris dari pagi," si kakek mencoba membujuk.

Bayu terdiam sejenak, berpura-pura berpikir keras. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan semua uang yang ia miliki, dan menunjukkannya kepada si kakek.

"Duit saya sisa tiga puluh dua ribu, Kek. Nih, dua ribu buat ongkos angkot pulang. Jadi yang bisa saya pakai cuma tiga puluh ribu pas. Kalau boleh tiga puluh ribu, saya ambil jamnya sekarang."

Kakek itu menatap lembaran uang di tangan Bayu, lalu menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Daripada Kakek pulang tangan kosong. Sini tiga puluh ribu."

Bayu tersenyum lebar. Ia menyerahkan uang itu. "Makasih, Kek."

Saat si kakek menerima uang itu, Bayu tiba-tiba menunjuk ke arah mangkuk kotor yang penuh puntung rokok.

"Eh, Kek. Saya boleh minta mangkuk buluk itu sekalian nggak? Buat wadah baut-baut jam ini nanti kalau saya bongkar di rumah. Sayang kalau bautnya berceceran," pinta Bayu dengan nada memelas yang sangat natural.

Kakek itu melirik mangkuk asbaknya. "Oh, mangkuk tanah itu? Itu mah Kakek nemu di pinggir selokan deket stasiun minggu lalu. Buat asbak doang. Ya udahlah, ambil aja. Tapi bersihin sendiri ya, bau rokok itu."

"Siap, Kek! Makasih banyak ya. Semoga laris manis hari ini," ucap Bayu dengan nada riang.

Ia mengambil jam saku itu, lalu meraih mangkuk kotor tersebut dengan tangan telanjang. Tangannya sedikit gemetar saat merasakan tekstur keramik di balik lumpur dan debu itu, namun ia segera menyembunyikannya dengan berdiri cepat.

Bayu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari lapak. Langkahnya biasa saja di awal, namun semakin jauh ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Saat ia akhirnya keluar dari area Pasar Poncol dan berdiri di trotoar jalan raya, ia nyaris tidak bisa bernapas.

Ia memegang mangkuk kotor itu erat-erat di dadanya, tidak peduli kemejanya menjadi hitam terkena jelaga.

"Berhasil. Ya Tuhan, aku berhasil," batin Bayu. Kepalanya terasa ringan. Ia baru saja membeli barang seharga setengah miliar rupiah hanya sebagai hadiah tambahan gratis dari jam rongsokan seharga tiga puluh ribu.

Ia tidak peduli dengan rasa lapar. Ia tidak peduli dengan sisa uangnya yang tinggal dua ribu rupiah. Ia bahkan rela berjalan kaki sejauh lima kilometer kembali ke kosannya di Palmerah, menyusuri pinggiran jalan di bawah terik matahari Jakarta.

Satu jam kemudian, Bayu mengunci pintu kamar kosannya rapat-rapat.

Ia langsung bergegas ke kamar mandi kecil di ujung lorong kosan. Untung sedang sepi. Bayu menyalakan keran air di wastafel. Ia mengeluarkan mangkuk kotor itu dan mulai membersihkannya dengan sangat hati-hati.

Ia tidak menggunakan sikat yang kasar. Ia hanya menggunakan jari-jarinya, menggosok perlahan lumpur dan tanah liat yang menempel kuat di permukaan mangkuk. Ia menggunakan sedikit sabun cuci piring cair untuk meluruhkan noda minyak dan getah.

Seiring dengan lumpur yang larut ke saluran pembuangan, keindahan asli dari benda bersejarah itu mulai terungkap.

Tangan Bayu gemetar semakin hebat.

Warna dasar mangkuk itu putih susu, sangat halus dan tembus cahaya jika diarahkan ke lampu. Di atas warna putih itu, tergambar motif bunga lotus dan naga melingkar dengan warna biru kobalt yang sangat tajam dan elegan. Permukaan glasirnya terasa sangat dingin dan sempurna, tanpa ada cacat atau retakan sehelai rambut pun.

Bayu membalik bagian bawah mangkuk. Di sana, tertulis enam karakter huruf Tiongkok kuno dengan tinta biru yang sama.

"Da Ming Xuan De Nian Zhi," bisik Bayu, membaca pelan terjemahan yang diberikan oleh kacamata sistemnya. Dibuat pada masa pemerintahan Kaisar Xuande dari Dinasti Ming Agung.

Bayu membungkus mangkuk itu dengan handuk bersihnya yang paling lembut, membawanya kembali ke kamar, dan meletakkannya di atas kasur dengan sangat pelan seolah benda itu adalah bayi yang baru lahir.

Ia duduk bersila di lantai, menatap mangkuk itu dalam diam.

Dua hari yang lalu, ia diinjak-injak oleh manajernya. Ia diancam potong gaji. Ia dipaksa memikirkan cara bertahan hidup dengan lima puluh ribu rupiah.

Tapi besok, ia akan berjalan ke balai lelang terbesar di Jakarta Pusat.

Bayu mengambil ponselnya yang layarnya retak, membuka aplikasi Toko Ajaib, dan menatap saldo Koin Sistemnya yang masih nol.

"Ini baru permulaan," gumam Bayu, matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah ada sebelumnya. "Dengan modal dari mangkuk ini, aku akan membongkar seluruh katalog rahasia di toko ini. Reza, Handoko, bersiaplah mencari pekerjaan baru. Karena hidup kalian di perusahaan itu tidak akan lama lagi."

Terpopuler

Comments

Bunga Kamboja

Bunga Kamboja

bisa nyasar ya ke betawi🤣🤣🤣

2026-05-21

1

heparta

heparta

loadingnya lama bikin males..... parah ...

2026-05-31

0

Mamat Stone

Mamat Stone

/Determined/

2026-05-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Terimakasih
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!