Bab 4

Hari Senin pagi biasanya menjadi neraka bagi Bayu. Berdesakan di KRL, berlari mengejar mesin absensi, dan bersiap mendengarkan omelan Pak Handoko adalah rutinitas yang menyiksa jiwa. Namun pagi ini, Bayu memutuskan untuk memutus rantai tersebut. Ia menelepon bagian HRD di kantornya, berpura-pura keracunan makanan, dan mengambil cuti sakit satu hari.

Ia punya urusan yang triliunan kali lebih penting daripada merekap data keuangan divisi operasional.

Bayu berdiri di depan cermin lemari plastik di kamar kosnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang terbaik yang ia miliki. Kemeja putih polos yang kerahnya sudah sedikit menguning karena terlalu sering disikat, dipadukan dengan celana kain hitam yang warnanya mulai pudar di bagian lutut. Ia menata rambutnya serapi mungkin. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak sepatu bekas yang ia lapisi dengan tumpukan koran dan sisa plastik gelembung. Di dalam kotak itulah, harta karun bernilai setengah miliar rupiahnya bersemayam.

"Gembel memang tidak bisa menyembunyikan bau kemiskinannya hanya dengan kemeja rapi," batin Bayu sambil tersenyum getir melihat pantulannya sendiri. "Tapi hari ini, isi kotaknya yang berbicara, bukan kemejanya."

Ia berangkat menggunakan bus TransJakarta menuju kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD. Kawasan ini adalah jantung bisnis paling elit di Jakarta, tempat uang berputar seperti air bah setiap detiknya.

Tujuan Bayu adalah sebuah gedung pencakar langit berlapis kaca gelap. Di lobi utama gedung itu, terdapat sebuah nama besar yang diukir dengan emas: Balai Lelang Nusantara. Ini adalah balai lelang barang antik dan seni paling bergengsi di Asia Tenggara. Hanya kolektor kelas atas, konglomerat, dan pejabat yang biasa bertransaksi di sini.

Begitu melewati pintu putar otomatis, hawa dingin dari pendingin ruangan sentral langsung menyapa kulit Bayu. Lantai marmer Italia yang ia injak memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa di langit-langit lobi. Orang-orang yang berlalu-lalang mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama, menenteng tas kulit buatan tangan, dan menguarkan aroma parfum jutaan rupiah.

Kehadiran Bayu dengan kotak sepatu kusamnya jelas merusak pemandangan estetis lobi tersebut.

Bayu berjalan dengan langkah tenang, menekan rapat-rapat rasa gugup yang mulai merayap di dadanya. Ia mendekati meja resepsionis melingkar yang dijaga oleh dua wanita cantik berseragam abu-abu elegan.

"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" sapa salah satu resepsionis. Senyumnya dilatih secara profesional, namun matanya dengan cepat memindai penampilan Bayu dari ujung kepala sampai ujung sepatu bot usangnya, lalu berhenti sejenak pada kotak sepatu di tangannya. Senyum wanita itu sedikit kaku.

"Pagi. Saya ingin mendaftarkan sebuah barang antik untuk dinilai, dan kalau memungkinkan, dimasukkan ke dalam bursa lelang terdekat," jawab Bayu sopan.

Resepsionis itu saling berpandangan sekilas dengan rekannya. Tatapan mereka menyiratkan keraguan yang amat sangat.

"Baik, Pak. Apakah Bapak sudah membuat janji temu dengan tim apraiser atau penilai kami sebelumnya?"

"Belum. Apakah harus membuat janji jauh-jauh hari?"

"Untuk barang dengan nilai estimasi di atas seratus juta rupiah, biasanya diwajibkan untuk menjadwalkan pertemuan pribadi, Pak. Namun untuk barang umum, kami memiliki penilai junior yang bertugas hari ini. Silakan tunggu di ruang tunggu sebelah sana, saya akan menghubungi Pak Johan."

Bayu mengangguk dan berjalan menuju area ruang tunggu. Ia duduk di salah satu sofa kulit tunggal yang terasa sangat empuk, memangku kotak sepatunya dengan hati-hati.

Sepuluh menit berlalu. Seorang pria muda berwajah licin dengan setelan jas biru dongker yang dipotong pas badan menghampirinya. Papan nama di dadanya bertuliskan Johan, Penilai Junior. Gaya berjalannya sedikit angkuh, dengan dagu yang agak terangkat.

Johan berdiri di depan Bayu tanpa menyodorkan tangan untuk bersalaman. Ia melirik jam tangan mewahnya sekilas, lalu menatap Bayu dengan tatapan malas.

"Anda yang mau mendaftarkan barang antik?" tanya Johan. Nada suaranya terdengar meremehkan. "Barang apa yang Anda bawa di dalam kotak sepatu itu? Kalau Anda membawa keramik palsu hasil cetakan pabrik dari Jatinegara atau keris suvenir dari Malioboro, saya sarankan Anda bawa pulang saja. Balai Lelang Nusantara memiliki standar minimum untuk barang yang bisa masuk ke meja penilaian."

Bayu tidak terpancing emosi. Ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang arogan seperti Reza di kantornya. Ia tahu cara menghadapi mereka adalah dengan ketenangan yang mematikan.

"Saya membawa porselen era Kekaisaran Ming, Pak Johan. Saya rasa ini memenuhi standar balai lelang Anda," jawab Bayu datar.

Ia membuka tutup kotak sepatu itu, menyingkirkan tumpukan koran dan plastik gelembung, lalu memperlihatkan mangkuk porselen putih dengan motif naga biru kobalt tersebut. Mangkuk itu kini sudah bersih mengkilap, memancarkan aura keanggunan sejarah yang sangat kuat.

Mata Johan menyipit melihat benda itu. Namun, bukannya mengambil kaca pembesar atau sarung tangan putih seperti prosedur standar penilai profesional, Johan hanya mencondongkan tubuhnya sedikit, melihat mangkuk itu dari jarak setengah meter selama tiga detik, lalu mendengus sinis.

"Porselen Dinasti Ming? Dari Dinasti Ming yang mana? Pabrik keramik di Tangerang?" Johan tertawa mengejek. "Anak muda, dengar. Barang asli dari era Kekaisaran Ming tidak mungkin terlihat semulus dan sebersih ini kalau tidak dirawat di museum atau brankas kedap udara. Warnanya terlalu cerah. Glasirnya terlalu sempurna. Ini jelas barang replika modern yang dicetak massal."

Johan melambaikan tangannya mengusir.

"Bawa keluar barang itu. Kamu hanya membuang-buang waktuku dan mengotori lobi kami. Pihak keamanan!" Johan memanggil dua orang satpam bertubuh besar yang berdiri di dekat pintu masuk.

Kedua satpam itu segera berjalan mendekat.

"Anda mengusir pelanggan bahkan sebelum menyentuh barangnya dan melakukan pengecekan standar menggunakan alat? Begitukah cara kerja penilai di balai lelang kelas internasional sebesar ini?" suara Bayu meninggi satu oktaf, memastikan suaranya bergema cukup keras di area lobi yang lumayan sepi itu.

"Kamu bukan pelanggan. Kamu hanya pemimpi yang mencari uang cepat dengan membawa barang rongsokan," desis Johan tajam. "Seret dia keluar."

Satpam pertama baru saja akan memegang lengan Bayu, ketika sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa menghentikan gerakan mereka.

"Ada keributan apa ini di pagi hari, Johan?"

Semua orang menoleh. Seorang pria paruh baya berusia enam puluhan berjalan dari arah lorong VIP. Pria itu mengenakan kemeja batik tulis sutra yang sangat elegan, dengan tongkat kayu berukir di tangan kanannya. Di belakangnya, mengekor seorang pria bule yang merupakan manajer umum balai lelang tersebut.

Wajah Johan seketika pucat pasi. Kesombongannya luntur seketika berganti dengan kepanikan. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam.

"Selamat pagi, Tuan Tirta. Maaf jika mengganggu kenyamanan Anda. Ini, ada seorang pemuda yang memaksa mendaftarkan keramik replika murahan dan menolak untuk diminta pergi."

Pria paruh baya itu adalah Tirta Wijaya, salah satu konglomerat properti terbesar di Jakarta dan anggota VIP tingkat Platinum di Balai Lelang Nusantara. Beliau adalah kolektor fanatik barang antik Asia Timur.

Terpopuler

Comments

nes2 ya6

nes2 ya6

iya ngeremehin banget

2026-06-13

0

Jaka

Jaka

wah ngeremehin dia

2026-05-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Terimakasih
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!