Bab 5

Tirta Wijaya menatap Bayu sekilas, lalu pandangannya jatuh pada kotak sepatu yang masih terbuka di pangkuan pemuda itu.

Langkah Tirta tiba-tiba terhenti. Matanya yang sebelumnya tenang, kini melebar. Ia mengabaikan Johan sepenuhnya dan berjalan mendekati Bayu dengan langkah setengah tergesa-gesa.

"Anak muda, boleh saya melihat barang itu dari dekat?" tanya Tirta. Nada suaranya sopan, sama sekali tidak ada arogansi seperti Johan.

"Silakan, Pak," jawab Bayu tenang. Ia memegang dasar kotak itu agar Tirta bisa melihat lebih jelas.

Tirta merogoh saku kemeja batiknya, mengeluarkan sepasang sarung tangan katun putih yang selalu ia bawa dan sebuah kaca pembesar perhiasan. Ia memakai sarung tangan itu, lalu mengangkat mangkuk porselen tersebut dengan kedua tangannya dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah bom yang rapuh.

Ia membawa mangkuk itu mendekati cahaya lampu lobi. Ia mengamati permukaan glasirnya, ketebalan porselennya, bentuk lengkungan motif naganya, dan terakhir, ia membalik mangkuk itu untuk membaca enam karakter Tiongkok di dasarnya.

Tangan Tirta Wijaya mulai bergetar pelan. Napasnya tertahan.

"Gelembung glasirnya tidak merata, tanda pembakaran tungku tradisional kayu. Sapuan warna biru kobaltnya menembus masuk ke dalam tulang porselen, karakteristik khas dari bahan "Su Ni Bo Qing" yang hanya diimpor dari Persia pada era tersebut. Dan tanda segel ini... Da Ming Xuan De Nian Zhi," gumam Tirta, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Tirta berbalik menatap Johan dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin.

"Johan, kamu bilang ini barang replika cetakan pabrik?"

Johan menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur di pelipisnya. "I-iya, Tuan Tirta. Warnanya terlalu baru dan mulus..."

"Bodoh!" bentak Tirta, suaranya menggelegar membuat para resepsionis terlonjak kaget. "Kamu hampir saja membuang salah satu mahakarya paling langka dari masa keemasan Kaisar Xuande! Ketidaktahuanmu bisa membuat balai lelang ini kehilangan muka di mata internasional! Ini porselen asli, seratus persen otentik!"

Manajer umum bule yang berdiri di belakang Tirta langsung memelototi Johan. "Johan, kemasi barang-barangmu di meja. Kamu dipecat hari ini juga."

Kaki Johan lemas. Ia mundur selangkah, menatap mangkuk yang tadi ia hina dengan pandangan tidak percaya. Karirnya di dunia lelang hancur dalam hitungan detik.

Tirta kembali menatap Bayu. Matanya berbinar penuh gairah kolektor yang menemukan buruan legendaris.

"Anak muda, dari mana kamu mendapatkan barang dengan kondisi sesempurna ini?"

"Barang ini sudah ada di keluarga saya selama beberapa generasi, Pak. Turun-temurun," Bayu berbohong dengan wajah sangat meyakinkan. Sifatnya yang sering menutupi emosi di depan atasannya di kantor sangat berguna sekarang. "Namun karena ada keperluan mendesak, saya terpaksa harus mencairkannya menjadi dana segar secepat mungkin. Makanya saya bawa ke sini."

Tirta mengangguk paham. Ia adalah seorang pebisnis ulung. Otaknya langsung berhitung. Jika mangkuk ini masuk ke meja lelang bulan depan, kolektor dari Tiongkok, Hongkong, dan Eropa pasti akan ikut campur. Harga penawarannya bisa melonjak tidak masuk akal hingga menyentuh angka puluhan miliar, dan ia mungkin akan kalah saing. Ia harus mengamankan barang ini sekarang juga.

"Dengar, anak muda. Proses lelang itu panjang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk verifikasi dokumen, pembuatan katalog asuransi, publisitas, belum lagi potongan komisi balai lelang sebesar dua puluh persen dari harga jual akhir," jelas Tirta dengan nada membujuk.

Bayu diam mendengarkan, membiarkan Tirta melanjutkan tawarannya. Ia tahu posisinya sekarang berada di atas angin.

"Saya menawarkan transaksi pribadi. Bawah tangan. Saya beli mangkuk ini dari kamu hari ini juga, tunai langsung ke rekeningmu. Lima ratus juta rupiah."

Suasana lobi mendadak hening seketika. Resepsionis menutup mulutnya yang menganga. Mantan penilai Johan yang masih berdiri di sana tampak seperti ingin pingsan. Uang lima ratus juta ditawarkan begitu saja di lobi untuk sebuah mangkuk dari dalam kotak sepatu bekas.

Bayu mengingat kembali informasi dari Kacamata Penilai Barang Antiknya semalam. Nilai estimasi pasar benda itu adalah empat ratus lima puluh sampai enam ratus juta rupiah. Tawaran Tirta berada tepat di tengah-tengah. Sangat masuk akal dan adil.

Namun, Bayu bukan orang bodoh yang langsung melompat kegirangan di tawaran pertama.

"Tuan Tirta, saya tahu Bapak adalah kolektor besar. Dan saya juga tahu bahwa mangkuk era Xuande dengan kondisi semulus ini sangat langka di pasaran," Bayu memasang wajah datar, nada suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang mau meledak. "Di pasar internasional balai lelang Christie"s atau Sotheby"s, barang ini bisa menyentuh angka lebih dari enam ratus juta rupiah."

Tirta sedikit terkejut mendengar argumen teknis dari pemuda berpenampilan lusuh ini. Ia tersenyum, menyukai nyali pemuda di depannya.

"Kamu benar. Tapi itu angka kotor belum dipotong pajak dan komisi lelang. Lalu, berapa yang kamu mau untuk melepasnya ke saya hari ini?" tantang Tirta.

"Lima ratus lima puluh juta rupiah. Uang bersih, tanpa potongan apa pun, masuk ke rekening saya detik ini juga. Dan barang ini mutlak menjadi milik Bapak tanpa pesaing," jawab Bayu tegas, menatap langsung ke mata sang konglomerat.

Tirta terdiam selama beberapa detik. Ia menatap mangkuk di tangannya, lalu menatap Bayu, dan akhirnya tertawa lepas. Tawanya menggema di lobi yang hening.

"Luar biasa. Kamu masih muda tapi sangat pandai bernegosiasi. Deal! Lima ratus lima puluh juta," Tirta menyodorkan tangan kanannya yang tidak memakai sarung tangan.

Bayu menyambut jabatan tangan itu dengan mantap. "Deal."

Mereka berdua pindah ke ruang VIP di lantai dua, ditemani oleh manajer balai lelang sebagai saksi transaksi pribadi tersebut. Sambil meminum kopi tubruk yang disajikan oleh pelayan, Tirta meminta nomor rekening Bayu. Ia melakukan panggilan telepon singkat ke manajer bank pribadinya.

Hanya butuh waktu lima menit.

Kring!

Ponsel Bayu yang layarnya retak bergetar di dalam sakunya. Ia mengeluarkannya dan membuka layar notifikasi.

[Transfer Masuk: Rp 550.000.000. Pengirim: Tirta Wijaya.]

Bayu menatap deretan angka nol yang berjejer panjang di layar ponselnya. Kepalanya terasa ringan. Kakinya seolah tidak menapak lantai. Ia menelan ludah, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat seperti orang kampung yang baru menang lotre.

Setengah jam yang lalu, ia harus menghitung sisa koin di dompetnya untuk membeli sebungkus nasi. Sekarang, ia bisa membeli warung nasi itu beserta tanahnya jika ia mau.

"Senang berbisnis denganmu, Nak Bayu," kata Tirta sambil memasukkan mangkuk porselen itu ke dalam koper keamanan berlapis busa baja yang baru saja dibawakan oleh pengawalnya. Ia menyerahkan sebuah kartu nama elegan berwarna hitam bertuliskan tinta emas. "Ini nomor pribadi saya. Jika keluargamu masih menyimpan barang-barang kuno lainnya, jangan repot-repot datang ke balai lelang. Hubungi saya langsung."

"Pasti, Pak Tirta. Terima kasih banyak," jawab Bayu sambil menyimpan kartu nama itu ke dalam saku dadanya.

Bayu berjalan keluar dari ruang VIP, menuruni tangga pualam, dan melintasi lobi utama. Johan sudah tidak terlihat di sana, mungkin sedang membereskan mejanya dengan penuh penyesalan. Para resepsionis yang tadi menatapnya dengan sebelah mata kini menundukkan kepala dengan hormat saat ia lewat.

Begitu pintu kaca otomatis terbuka dan Bayu melangkah keluar dari gedung Balai Lelang Nusantara, angin panas Jakarta menyapanya. Tapi kali ini, udara terasa sangat segar. Suara bising knalpot mobil terdengar seperti musik yang merdu.

Bayu merogoh sakunya, menggenggam ponselnya yang berisi uang setengah miliar rupiah. Otaknya yang analitis sudah kembali bekerja normal, merencanakan langkah mematikan selanjutnya.

"Reza, Pak Handoko," gumam Bayu, matanya memancarkan tekad yang dingin menatap deretan gedung pencakar langit. "Mari kita lihat, seberapa berani kalian menindasku saat aku kembali ke kantor besok."

Permainan baru saja dinaikkan ke level berikutnya.

Terpopuler

Comments

Wega Luna

Wega Luna

dendam kesumat internal pekerja kantoran 🤣🤣🤣🤣🤣🤣,

2026-05-30

0

💜⃟ᵇᵗˢ SENJA

💜⃟ᵇᵗˢ SENJA

sukur 🤣🤣🤣

2026-05-10

1

Mamat Stone

Mamat Stone

/Good/

2026-05-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Terimakasih
Episodes

Updated 107 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!