04

.

Baru saja Anindya hendak kembali menikmati hidangannya setelah kepergian Sofia, ponselnya yang tergeletak di atas meja kembali berdering. Wanita itu hanya melirik sekilas, dan terlihat nama Radit sebagai pemanggil. Dengan santainya Anin menggeser tombol merah tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Sudah cukup kamu bersenang-senang. Sekarang giliranku untuk bahagia," batinnya tegas.

Anindya mulai menikmati hidangan mewah di hadapannya dengan lahap. Setiap suapan terasa begitu nikmat, terasa seperti balas dendam yang manis.

Suara dering kembali terdengar berkali-kali, namun Anindya tetap tak peduli. Mulai hari ini, dunianya berubah. Raditya dan urusan perusahaan bukan lagi prioritas utamanya.

Setelah puas makan, Anindya memberi isyarat dengan petikan jarinya. Sesaat kemudian pelayan datang membawa bill. Anin hanya melirik sekilas jumlahnya yang cukup fantastis, lalu dengan santai menggesekkan kartu kreditnya.

Bibirnya tersenyum kalau membayangkan wajah geram suaminya nanti saat melihat tagihannya, “Radit. Ini baru permulaan," gumamnya sinis.

Anindya berdiri, merapikan gaunnya, lalu melenggang keluar restoran dengan kepala tegak.

"Kapan lagi aku menikmati hasil kerja kerasku sendiri?" ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Daripada dikuras habis untuk wanita lain, mending aku habiskan untuk diriku sendiri!"

Ia tidak kembali ke kantor. Sebaliknya malah mengemudikan mobil mewahnya menuju mal terbesar di kota itu. Hari ini, ia akan berbelanja sepuas hati.

Sementara itu, di kantor pusat RA Corp...

Suasana di lantai utama sedang mencekam. Suara bantingan berkas dan teriakan amarah terdengar memecah keheningan.

"Di mana Anindya?! Cepat hubungi lagi?!" hardik Raditya dengan wajah memerah padam. Ia mondar-mandir dengan langkah lebar di ruang rapat yang besar.

Darius, asisten pribadinya berdiri dengan tubuh bergetar di hadapannya karena dia lah yang menjadi sasaran kemarahan bosnya.

"Maaf, Pak... Saya sudah coba telepon berkali-kali, tapi tidak diangkat. Sepertinya Ibu Anin mematikan ponsel," jawab Darius terbata-bata.

"Di mana sebenarnya dia?!" bentak Raditya. "Masalah ini krusial, Darius! Kontrak kerja sama dengan investor asing dari Eropa itu harus ditandatangani hari ini juga! Detail teknis dan negosiasi finalnya hanya Anindya yang hafal di luar kepala! Tanpa dia, proyek bernilai miliaran ini bisa batal!"

Raditya mengacak rambutnya frustrasi. Memang benar, meski namanya Raditya yang lebih sering tampil di depan publik, namun urusan perhitungan, strategi, dan negosiasi rumit selalu dipegang penuh oleh Anindya. Anindya adalah otak di balik semua kesuksesan mereka.

"Sekarang bagaimana, Tuan? Investor sudah menunggu di ruang tamu sejak tadi! Mereka mulai tidak sabar dan mengancam akan membatalkan kerja sama jika tidak ada yang bisa menjelaskan detail teknis dengan jelas!" lapor Darius dengan panik.

"Brengsek!" umpat Raditya keras. Ia menepuk meja kuat-kuat. "Kenapa tiba-tiba dia menghilang?! Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu?!"

Di luar kemarahannya, ada rasa cemas yang mulai menggerogoti hatinya. Sikap Anindya kemarin malam, dan sekarang ia yang menghilang saat perusahaan sangat membutuhkannya, membuat firasat buruk tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Cari tahu di mana dia sekarang! Aku butuh dia di sini SEKARANG!"

Darius segera keluar dari ruangan Radit lalu berlari kecil menuju lantai yang satu tingkat di bawah ruangan Presiden Direktur, tepatnya di depan ruangan Wakil Presiden Direktur. Ruangan milik Anindya. Ia mendorong pintu kaca itu dengan tergesa-gesa, bahkan lupa untuk mengetuk pintu.

Di dalam sana, Rosita, sekretaris pribadi Anindya, sedang sibuk mengetik di depan komputernya. Melihat kedatangan Darius yang napasnya terengah-engah, wanita itu langsung berdiri.

"Pak Darius?" tanya Rosita kaget.

"Di mana Bu Anin?!" tanya Darius tanpa basa-basi, suaranya terdengar panik. "Pak Radit butuh beliau sekarang juga!"

Rosita mengerutkan kening, lalu menggelengkan kepalanya bingung.

"Bu Anin belum kembali sejak jam makan siang tadi, Pak," jawab Rosita jujur.

"Hah?!" Darius terbelalak. "Maksud kamu?"

"Iya, Pak. Tadi Bu Anin bilang mau pergi makan siang, tapi sampai sekarang belum kembali," tambah Rosita.

"Gawat!" seru Darius pelan. Ia tidak punya waktu banyak untuk berdiskusi. "Oke, terima kasih Ros! Aku lapor ke Bos dulu!"

Darius segera berbalik dan berlari kembali masuk lift, menuju ruangan Raditya.

Di ruangan utama...

Raditya masih mondar-mandir dengan wajah penuh tekanan. Begitu melihat Darius masuk, ia langsung menyergah.

"Bagaimana?! Di mana istriku?!"

Darius menarik napas sejenak untuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

"Maaf, Tuan. Menurut informasi dari asistennya, Ibu Anindya pergi sejak jam makan siang tadi," lapor Darius dengan nada takut.

"Apa?!" Raditya menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut dalam, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Belum kembali? Sejak makan siang?" tanya Raditya tidak percaya. Otaknya bekerja cepat memutar ingatan.

“Bukankah biasanya Anindya selalu membawa bekal dari rumah? Sejak kapan Anin suka keluar dari perusahaan hanya untuk makan siang?” gumam Raditya pelan, matanya menyipit tajam menatap dinding kosong. Ada perubahan besar yang terjadi pada istrinya. Perubahan yang membuatnya gelisah.

"Investor itu bagaimana, Tuan?" tanya Darius pelan memecah lamunan bosnya.

Raditya menghela napas panjang, lalu meninju meja dengan keras.

"Aku yang akan tangani sendiri! Siapkan semua berkasnya! Cepat!" bentak Raditya. "Dan kamu, cari tahu sekarang juga di mana dia berada!”

“Baik, Tuan.” Darius segera bergerak melakukan apa yang diperintahkan oleh Radit.

Dengan nafas memburu dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya, Raditya bergegas masuk ke ruang rapat utama diikuti oleh Darius. Di sana, dua orang investor asing berwajah datar sudah duduk menunggu dengan wajah penuh ketidaksabaran.

"Selamat siang, Tuan-tuan. Mohon maaf atas keterlambatan saya," ucap Raditya sambil mengulurkan tangan dengan senyum yang dipaksakan. "Saya Raditya Wicaksono, Presiden Direktur perusahaan ini."

Namun, kedua investor itu hanya menjabat sekilas lalu kembali duduk dengan wajah dingin.

"Dimana Ibu Anindya?" tanya Mr. Henderson, salah satu investor dengan logat Inggris yang kental. "Kami sudah sepakat bahwa beliau yang akan menjelaskan detail teknis dan analisis keuangan proyek ini. Kami butuh kepastian dari ahlinya langsung."

Jantung Raditya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri lalu duduk di kursi utama.

"Istri saya sedang ada keperluan mendadak hari ini, Tuan. Tapi tenang saja, saya juga paham betul seluruh isi kontrak ini. Silakan, tanya apa saja pada saya," jawab Raditya berusaha terlihat percaya diri.

Rapat pun dimulai. Namun, tak butuh waktu lama bagi para investor untuk menilai bahwa pengetahuan Raditya tentang detail proyek ini sangatlah dangkal.

"Stop!" Mr. Henderson menghentakkan tangannya ke meja, memotong penjelasan Raditya yang mulai ngawur. Wajah pria asing itu memerah menahan kesal.

"Mr. Raditya, kami bukan anak kecil yang bisa diberi omong kosong! Selama ini kami setuju bekerja sama karena kami percaya pada kecerdasan dan ketelitian Ibu Anindya!” hardiknya tegas.

"Anda hanya bisa bicara soal gambaran besar dan visi yang manis, tapi semua penjelasan Anda sangat tidak memuaskan!" tambah rekannya.

Raditya terlihat panik. "Tidak, Tuan. Mohon beri saya kesempatan, saya bisa jelaskan lagi..."

"Tidak perlu!" potong Mr. Henderson dingin. "Kami tidak mau menaruh uang miliaran dolar pada proyek yang pemimpinnya tidak paham detail kerja."

Pria itu mengambil berkas kontrak di hadapannya, lalu melipatnya dan menyerahkan kembali ke arah Raditya.

"Dengan ini, kami menyatakan membatalkan seluruh kerjasama ini. Selamat siang."

Tanpa mau mendengar alasan lagi, kedua investor itu berdiri dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah membara,

GLEK!

Raditya menelan ludah dengan susah payah. Wajah pria itu pucat pasi. Kontrak bernilai fantastis batal. Hancur lebur hanya dalam waktu kurang dari satu jam.

“Anindya… !”

Terpopuler

Comments

Siti Saodah

Siti Saodah

nah loh Baru satu kali Anin tidak turun tangan sudah rugi miliaran gimana klo seterusnya, makanya jdi laki itu tau diri dikit,dari nol Istri yang nemenin giliran sukses pelakor Yng di bikin seneng

2026-08-24

0

Ida Haryono

Ida Haryono

nah lho apkh nggak kepikir tuh gmn kelakuan dia selingkuh hingga ketahuan....dasar hoblok he..he....
lanjut tthor....👍👍

2026-07-08

2

Yuliaya

Yuliaya

agak bingung dengan paragraf ini

2026-06-18

0

lihat semua
Episodes
1 01
2 02
3 03
4 04
5 05
6 06
7 07
8 08
9 09
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 1000 Hari Perjalanan Mama Mia Bersama NOVELTOON
44 43
45 44
46 45
47 46
48 47
49 48
50 49
51 50
52 51
53 52
54 53
55 54
56 55
57 56
58 57
59 58
60 59
61 60
62 61
63 62
64 63
65 64
66 65
67 66
68 67
69 68
70 69
71 70
72 71
73 72
74 73
75 74
76 75
77 76
78 77
79 78
80 79
81 80
82 81
83 82
84 83
85 84
86 85
87 86
88 87
89 88
90 89
91 90
92 91
93 92
94 93
95 94
96 95
97 96
98 97
99 98
100 promo karya teman
101 99
102 100
103 101
104 102
105 103
106 104
107 105
108 106
109 107
110 108
111 109
112 110
113 111
114 112
115 113
116 114
117 115
118 116
119 117
120 118
121 119
122 120
123 121
124 122
125 123
126 124
127 125
128 126
129 127
130 128
131 129
132 130
133 131
134 132
135 133
136 134
137 135
138 136
139 Draft
140 138
141 139
142 140. END
Episodes

Updated 142 Episodes

1
01
2
02
3
03
4
04
5
05
6
06
7
07
8
08
9
09
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
1000 Hari Perjalanan Mama Mia Bersama NOVELTOON
44
43
45
44
46
45
47
46
48
47
49
48
50
49
51
50
52
51
53
52
54
53
55
54
56
55
57
56
58
57
59
58
60
59
61
60
62
61
63
62
64
63
65
64
66
65
67
66
68
67
69
68
70
69
71
70
72
71
73
72
74
73
75
74
76
75
77
76
78
77
79
78
80
79
81
80
82
81
83
82
84
83
85
84
86
85
87
86
88
87
89
88
90
89
91
90
92
91
93
92
94
93
95
94
96
95
97
96
98
97
99
98
100
promo karya teman
101
99
102
100
103
101
104
102
105
103
106
104
107
105
108
106
109
107
110
108
111
109
112
110
113
111
114
112
115
113
116
114
117
115
118
116
119
117
120
118
121
119
122
120
123
121
124
122
125
123
126
124
127
125
128
126
129
127
130
128
131
129
132
130
133
131
134
132
135
133
136
134
137
135
138
136
139
Draft
140
138
141
139
142
140. END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!