05

.

Di dalam mobil mewah yang baru saja meluncur meninggalkan area parkir gedung RA Corp, suasana terasa hening. Mr. Henderson dan rekannya duduk bersandar santai di kursi penumpang belakang, wajahnya yang tadi terlihat marah dan kesal kini berubah menjadi datar dan tenang, seolah ledakan emosinya di ruang rapat tadi tidak pernah ada.

Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya berdering.

Pria berkulit putih dengan rambut pirang itu menatap layar ponselnya, lalu segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.

"Yes, Mr. Rian?" sapanya penuh hormat, lalu diam mendengarkan.

*[... ]”

Mr. Henderson saling pandang dengan rekannya lalu tersenyum tipis.

"Everything went smoothly, Sir. Semuanya berjalan sesuai rencana," jawab Mr. Henderson dengan nada pasti. "Saya melakukan persis seperti instruksi Anda. Kami tidak akan melanjutkan kontrak kerjasama jika bukan Mrs. Anindya sendiri yang menerima dan menangani negosiasi ini," lanjut Mr. Henderson.

Suara di seberang sana terdengar menghela napas pelan, namun ada nada puas di baliknya.

“[...]]”

"Of course, Sir! Apakah ada instruksi lain?" tanya Mr. Henderson.

“[... ]”

“Oke, Sir. Saya akan menunggu perintah Anda. Senang berbisnis dengan Anda.”

Tut.

Panggilan terputus.

Mr. Henderson menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya, lalu menatap lurus ke depan dengan pikiran yang tak terbaca.

"Anindya Wicaksono... Belum pernah ada wanita yang bisa menarik perhatian Mr. Rian," gumamnya pelan.

*

Sementara itu, di dalam gedung RA Corp...

Raditya masih terpaku diam di tengah ruang rapat yang kosong. Kerugian yang diderita perusahaan hari ini bukan hanya soal uang, tapi juga nama baik dan kepercayaan yang hilang begitu saja.

"Anindya...!" geramnya penuh amarah dan keputusasaan. "Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan?”

Ia tidak tahu, bahwa istrinya kini sedang berjalan di jalan yang berbeda, dan siap untuk menghancurkan segalanya yang pernah mereka bangun bersama.

*

Sementara itu di dalam mal terbesar dan termewah di kota itu, Anindya melenggang dengan santai bak ratu yang sedang meninjau kerajaannya. Wanita itu masih mengenakan setelan kerja yang ia pakai tadi. Tapi tangannya tidak lagi sibuk memegang berkas rapat. Di belakangnya dua orang pelayan toko mengikuti dengan tangan penuh paperbag bermerek terkenal.

Ujung jarinya seolah punya kekuatan magis, tunjuk ini tunjuk itu, lalu berkata... “ Bungkus semua!” titahnya.

"Baik, Nyonya," jawab pramuniaga dengan wajah berseri-seri. Belum pernah mereka melihat pelanggan semurah hati dan sepercaya diri Anindya hari ini.

.

Di toko perhiasan, Anindya tersenyum lebar membuka katalog di tangannya. Matanya berbinar, bukan karena harganya yang mahal, tapi karena rasa puas yang luar biasa.

"Radit, dulu aku menahan diri. Untuk membeli celana dalam saja harus mikir berkali-kali. Sekarang? Tidak!" batinnya meledak penuh kemenangan.

Hari ini, Anindya benar-benar melepaskan pengekangan dirinya. Tidak ada lagi kata hemat, tidak ada lagi kata bersabar.

*

Matahari mulai bergeser ufuk barat ketika mobil yang dikendarai Radit memasuki halaman rumah mewahnya. Pria itu turun dengan langkah lebar dan wajah yang masam, berjalan masuk ke dalam rumah dengan napas memburu. Matanya menyapu seluruh ruangan, berharap melihat sosok istrinya duduk di sana.

Namun, kosong. Rumah itu terasa sepi.

"Dini! Sari!" teriak Raditya keras memanggil dua orang pelayan yang sedang membersihkan perabot.

Kedua pelayan itu langsung berlari mendekat dengan wajah takut melihat aura marah yang terpancar di wajah majikannya.

"Iya, Tuan?" tanya mereka serentak sambil menunduk hormat.

"Di mana Nyonya?!" serbu Raditya sambil menahan geram.

Dini dan Sari saling bertukar pandang, lalu menggelengkan kepala serentak.

"Bukankah Nyonya berangkat ke perusahaan bersama Anda tadi pagi?”

“Apa maksud kalian?!" Raditya terbelalak. "Jadi, Nyonya belum pulang?"

"Belum, Tuan,” jawab Sari meyakinkan.

Raditya mengibaskan tangannya dan dua pelayan itu pun pergi. Pria itu berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya. “Kemana dia sebenarnya?'

Pikiran buruk mulai meneror otaknya.

Apakah wanita itu mengetahui sesuatu dan sedang marah padanya? Tapi bagaimana mungkin? Dia sudah bermain dengan sangat rapi. Radit menjambak rambutnya frustrasi, lalu mendudukkan tubuhnya yang lelah dan emosional itu ke sofa dengan kasar.

*

*

*

Hari telah gelap ketika Radit mendengar suara mobil Anin memasuki halaman rumah mewahnya. Pria itu segera berdiri dari duduknya dan siap menumpahkan segala amarah. Wajahnya sudah merah padam, gigi-giginya saling beradu menimbulkan bunyi gemeletuk, dua tangannya terkepal erat di samping badan.

Suara pintu terbuka dan seorang wanita cantik melenggang dengan santai. Anindya. Dua tangannya penuh dengan paperbag, begitu juga dengan dua tangan satpam yang mengikuti di belakangnya. Pemandangan yang membuat rahang Radit semakin mengeras. Berapa banyak uang yang sudah dihabiskan Anin?

“Ya ampun lelahnya… “ keluhnya kemudian menghempaskan tubuh di atas sofa. “Taruh situ saja, Pak,” ucapnya dengan mata terpejam pada pak satpam yang berdiri menunggu.

Satpam itu mengangguk lalu meletakkan semua paperbag yang tadi dia bawa ke atas meja. Tidak muat, sehingga sebagian ia letakkan berjejer di lantai tak jauh dari meja, kemudian undur diri.

“Dari mana saja kamu?” tanya Radit dengan posisi berdiri menjulang di depan sofa di mana Anin merebahkan tubuhnya. “Apa kamu tidak sadar? Gara-gara kamu, perusahaan kita rugi milyaran?” lanjutnya geram melihat Anin yang memejamkan mata seolah tanpa dosa.

“Anindya Maheswari, aku sedang bicara padamu!!”

Mendengar teriakan keras Radit, Anindya membuka matanya perlahan. Sebenarnya dia tidak se-lelah itu, tapi memang sengaja.

“Kamu enak-enakan shopping sementara aku kalang kabut sendirian di perusahaan?” Mata Radit menyorot tajam.

Anin berdiri perlahan dan mendekat ke arah Radit. Tangannya menyambar sebuah paperbag yang berada di atas meja dan melemparkan ke dada Radit.

“Kamu berteriak padaku?” tanya Anin dengan suaranya yang rendah. Tidak berteriak, tapi nadanya yang dingin dan sorot matanya yang tajam mampu membuat Radit menelan ludah. Pria itu mundur selangkah seiring gerakan Anin yang semakin mendekat.

“Aku bekerja keras selama dua puluh tahun dan tidak pernah protes. Sekarang hanya karena aku pergi keluar selama separuh hari dan kamu sudah berteriak?” teriak Anin di akhir kalimat.

“Ti tidak sep perti it tu maksud-ku.” Raditya gelagapan melihat reaksi istrinya yang di luar dugaan. Tadinya ia kira Anin akan merasa bersalah dan meminta maaf dengan wajah memelas. “Perusahaan asing membatalkan kerjasama, dan kita rugi milyaran,” ucap Radit menjelaskan.

“Memangnya kenapa kalau batal?!”

Teriakan tak terduga meluncur dari mulut istrinya dan membuat Radit terbelalak.

“Batal ya batal saja! Masih banyak perusahaan lain yang antri berjajar,” lanjut Anin. “Aku hanya healing sebentar dan kamu sudah mengamuk, kamu pikir aku ini robot?”

“Ti tidak, Sayang. Maaf aku salah,” ucap Radit mencoba meraih tangan Anin, tapi segera di tepi oleh wanita itu. “Aku… aku hanya sedih karena kita kehilangan investor. Aku pikir itu pasti akan membuat kamu sedih juga, makanya aku panik. Ya… aku hanya panik sesaat.” Radit menyeka keringat yang tiba-tiba membasahi pelipisnya.

Anin melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku tidak ada, tapi kamu ada. Jika meyakinkan investor begitu saja gagal, lalu fungsimu sebagai presdir apa?”

Radit terbelalak, ucapan Anin begitu tajam melukai harga dirinya. Namun, ia hanya bisa mengepalkan tangan tanpa bantahan.

“Sayang, aku… “

Dert… dert…

Baru saja Radit ingin berucap untuk menenangkan istrinya, ponsel dalam tas Anin berdering. Wanita itu segera mengambilnya dengan mata yang masih melirik tajam ke arah suaminya.

“Ya, Ros… ?”

Terpopuler

Comments

Omah Tien

Omah Tien

ya dua2 nya salah sudah lm nikah g ounya anak ya wayar lah cari turunan cm cr nya jg salah apa mandul ya minta ijin gt

2026-07-19

2

Deera__

Deera__

horang kayaaa dan guaanteengg ini.. tapi super dingin 😍😍😍😍🤣🤣e
pengagum rahasia Anindya

2026-08-04

1

Ummi Adzkia

Ummi Adzkia

owalah punya pelayan toh. kirain masih hidup berdua tok. sampe Radit mau masakin Anin.

2026-07-26

0

lihat semua
Episodes
1 01
2 02
3 03
4 04
5 05
6 06
7 07
8 08
9 09
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 1000 Hari Perjalanan Mama Mia Bersama NOVELTOON
44 43
45 44
46 45
47 46
48 47
49 48
50 49
51 50
52 51
53 52
54 53
55 54
56 55
57 56
58 57
59 58
60 59
61 60
62 61
63 62
64 63
65 64
66 65
67 66
68 67
69 68
70 69
71 70
72 71
73 72
74 73
75 74
76 75
77 76
78 77
79 78
80 79
81 80
82 81
83 82
84 83
85 84
86 85
87 86
88 87
89 88
90 89
91 90
92 91
93 92
94 93
95 94
96 95
97 96
98 97
99 98
100 promo karya teman
101 99
102 100
103 101
104 102
105 103
106 104
107 105
108 106
109 107
110 108
111 109
112 110
113 111
114 112
115 113
116 114
117 115
118 116
119 117
120 118
121 119
122 120
123 121
124 122
125 123
126 124
127 125
128 126
129 127
130 128
131 129
132 130
133 131
134 132
135 133
136 134
137 135
138 136
139 Draft
140 138
141 139
142 140. END
Episodes

Updated 142 Episodes

1
01
2
02
3
03
4
04
5
05
6
06
7
07
8
08
9
09
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
1000 Hari Perjalanan Mama Mia Bersama NOVELTOON
44
43
45
44
46
45
47
46
48
47
49
48
50
49
51
50
52
51
53
52
54
53
55
54
56
55
57
56
58
57
59
58
60
59
61
60
62
61
63
62
64
63
65
64
66
65
67
66
68
67
69
68
70
69
71
70
72
71
73
72
74
73
75
74
76
75
77
76
78
77
79
78
80
79
81
80
82
81
83
82
84
83
85
84
86
85
87
86
88
87
89
88
90
89
91
90
92
91
93
92
94
93
95
94
96
95
97
96
98
97
99
98
100
promo karya teman
101
99
102
100
103
101
104
102
105
103
106
104
107
105
108
106
109
107
110
108
111
109
112
110
113
111
114
112
115
113
116
114
117
115
118
116
119
117
120
118
121
119
122
120
123
121
124
122
125
123
126
124
127
125
128
126
129
127
130
128
131
129
132
130
133
131
134
132
135
133
136
134
137
135
138
136
139
Draft
140
138
141
139
142
140. END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!