Bab 3. Mulai takut

Semua harga saling berbisik satu sama lain ketika semua sudah berkumpul untuk melihat keluarga Sayuti yang mati terbunuh semua, sungguh sangat tidak disangka bahwa keadaan Sayuti sungguh mengerikan karena terlihat semua tubuh sudah membusuk sama sekali tidak ada yang tersisa sehingga orang yang melayat terus menutup hidung akibat bau itu.

Seminggu mayat dibiarkan begitu saja sehingga wajar bila aroma busuk sudah menyebar ke mana-mana, anda saja aroma busuk itu tidak keluar maka Davin dan Andi sama sekali tidak akan pernah tahu bahwa keluarga Sayuti sudah meninggal dunia dengan cara yang begitu tragis sekali, ini saja semua para warga masih bingung apa penyebab kematian orang kaya itu.

Mereka tidak pernah kenal Sayuti secara langsung dan hanya mengenal beberapa waktu sekilas dan itu juga tidak secara akrab, jadi silsilah keluarga Sayuti memang tidak pernah mereka ketahui dengan jelas, bahkan nama anak Sayuti mereka juga tidak mengetahui yang mana Riko dan mana Ricky.

Ini semua akan langsung di kubur begitu saja tanpa di mandikan terlebih dahulu, karena keadaan tubuh mereka yang sudah membusuk sehingga tidak mungkin bisa untuk di mandikan lagi. yang penting mereka akan menguburkan secara layak dan tidak ada rasa kemarahan di dalam hati, bahkan mereka tidak ada menggerutu walau selama ini Sayuti juga tidak pernah beramah tamah.

Keadaan desa terasa begitu mencekam sekali sehingga siapa saja yang melintas pasti akan bertanya apa yang telah terjadi, sebab mereka tidak tahu kenapa bisa ada seluruh keluarga mati dalam keadaan penuh misteri, yang jelas mereka menemukan sudah dalam keadaan membusuk semua seperti ini.

"Kenapa mereka mendadak saja ditemukan dalam keadaan meninggal dunia seperti?" para warga saling berbisik Karena penasaran.

"Tadi Andi dan Davin lewat dan mereka mencium aroma yang tidak sedap dari rumah itu." jawab yang lain.

"Kalau kena rampok tapi tidak mungkin karena keadaan rumah masih begitu rapi dan sama sekali tidak ada barang yang hilang." Pak RT juga terlihat begitu bingung.

"Kemungkinan pembunuh itu masuk dalam keadaan baik-baik, sebab memang tidak ada pintu yang rusak atau jendela kena congkel." Pak Lurah juga setuju dengan hal tersebut.

"Nah kami juga berpikir seperti itu karena saat tiba di sana memang semua pintu terkunci rapat." jawab Andi.

"Namun Kenapa mereka hanya membunuh saja tanpa mengambil barang? apa motif mereka membunuh keluarga Pak Sayuti." ujar Pak RT dengan nada bingung.

"Kita harus mencari tahu lebih dalam lagi kenapa bisa terjadi pembunuhan seperti itu." Andi bersemangat ingin mencari tahu bagaimana keluarga Sayuti meninggal dunia.

"Ah untuk apa kita mengurus keluarga dia sampai sedalam itu, sedangkan selama ini dia saja tidak pernah mau berbicara dengan para warga." bantah Yanto dengan sangat cepat.

"Benar, mereka jarang bersosialisasi dengan para tetangga dan tidak pernah menegur kami yang ada di dekat rumah." Muslihin juga setuju dengan hal itu.

Keluarga Sayuti memang sangat jarang berbicara dengan para warga yang ada di desa ini, Mereka sibuk dengan dunia sendiri dan tidak pernah mau berbicara bila tidak ada yang sangat penting, jangan kan untuk berbicara bahkan untuk tersenyum saja terasa berat bagi mereka semua yang tinggal di dalam rumah tersebut sehingga para warga tidak pernah ada yang mengenal.

"Tidak boleh bersikap seperti itu karena biar bagaimana mereka juga penduduk desa ini." Pak Lurah berkata dengan sangat bijak.

"Tapi kalau menurut saya maka tidak perlu untuk dibongkar lagi dan biar saja semua ini berjalan seperti ini, toh Kita juga sudah tidak tahu saudara yang mereka miliki." ucap pak RT.

Para warga banyak yang setuju dengan ucapan Pak RT tadi bahwa memang walau telah mereka bongkar siapa yang telah melakukan pembunuhan itu, tetap saja mereka tidak akan pernah bisa mengadukan kepada para keluarga, sebab saat ini keluarga Sayuti sudah tidak ada di desa ini lagi.

"Siapa tau saja di kota sana ada keluarga mereka." Andi berkata pelan.

"Lah yang ada di desa kita saja kita tidak saling mengenal, bagaimana yang ada di kota sana!" sinis Davin.

"Iya, lebih baik kita diam saja dan tidak perlu lagi ikut campur dalam urusan kematian mereka itu." Yanto setuju dengan ucapan Davin.

Pak Lurah hanya diam saja karena dia masih mempertimbangkan dan apa memang benar bahwa mereka lebih baik diam dan tidak usah ikut campur lagi, sebab kalau mau diungkit sampai mana saja maka mereka tidak akan pernah bisa melaporkan kepada keluarga yang di miliki oleh Sayuti di kota sana.

"Kita biarkan saja semua itu dan tidak usah ikut campur lagi." Pak Lurah akhirnya membuka suara.

"Nah benar apa yang dikatakan oleh Pak Lurah dan sebaiknya kita diam!" Pak RT juga membuka suara.

"Dengan begini kita hanya membantu menguburkan mayat yang telah kita temukan, tidak perlu lagi untuk mencari tahu tentang apa atau bagaimana mereka meninggal dunia." putus Pak Lurah.

Jadi para warga akhirnya setuju dan mereka tidak akan pernah mencari tahu tentang kematian Sayuti sekeluarga, membiarkan saja bagaimana keluarga itu meninggal dunia tanpa ada niat untuk mengusik lagi karena juga ini bukan urusan untuk mereka semua.

"Rumah itu nanti pasti akan sangat berhantu karena seluruh keluarga meninggal di sana." Muslihin berkata pelan.

"Eh iya ya, mana kalau kita mau pergi ke sawah pasti lewat rumah itu dulu." Yanto baru sadar.

"Kan, kadang aku malam juga ke sawah karena ada babi yang memakan padi." Muslihin mengusap wajah karena takut memikirkan hal itu.

Takut bila nanti dia pergi malam menuju sawah namun malah bertemu dengan sosok mengerikan di dalam rumah milik Sayuti, jadi ini para warga pasti merasakan takut ketika nanti akan melewati rumah Sayuti untuk menuju sawah milik mereka semua, rumah Sayuti memang paling ujung sehingga siapa saja yang perlu kesalahan harus lewat rumah itu terlebih dahulu.

"Ah tapi kan belum tentu juga kalau dia akan menjadi arwah gentayangan." Yanto berusaha menyangkal.

"Benar, siapa tahu itu tidak terjadi dan mungkin kita tidak perlu merasa takut." Muslihin berusaha untuk tetap tenang juga.

Yanto mengangguk pelan walau di dalam hati ada sedikit rasa keraguan tapi tetap saja dia berusaha untuk tidak takut, sebab Dia juga perlu ke sawah bila malam hari untuk menjaga padi, kadang-kadang memang ada babi yang ikut memakan padi milik mereka semua di sawah sehingga sebagian besar petani memilih untuk tidur di gubuk kecil agar bisa menjaga.

Selamat malam, jangan lupa like dan komen kalian semua ya.

Terpopuler

Comments

Lina.mrl

Lina.mrl

andai beneran ada purnama di dunia nyata..saya mau minta tolong sodara saya kena pelet/santet .. di periksa ke RS gak ada penyakit ke kiyai tetap gak n bisa sembuh..sekarang malah meninggal gak bisa ke tolong ka sedih😢..salam dari org KUNINGAN ka othor

2026-05-04

1

Ela Jutek

Ela Jutek

wah jangan² bakal jadi demit semua itu ntar

2026-05-03

3

Dewi

Dewi

Pnsaran mreka bkal jdi setan semua gk ya..tpi kan mreka gk bisa bls dendm sm wrga kykny bukan slh stu wrga gk sih

2026-05-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Malam pembantaian
2 Bab 2. Aroma busuk
3 Bab 3. Mulai takut
4 Bab 4. ketakutan Yanto
5 Bab 5. Menghantui
6 Bab 6. Terseret
7 Bab 7. Mencari Rais
8 Bab 8. Masuk rumah Sayuti
9 Bab 9. Menemukan Rais
10 Bab 10. Mencari solusi
11 Bab 11. Mimpi buruk
12 Bab 12. Pardi berulah
13 Bab 13. Masuk jebakan sendiri
14 Bab 14. Pardi celaka
15 Bab 15. Sibuk mencari
16 Bab 16. Masih mencari
17 Bab 17. Keluarga kota
18 Bab 18. Kedatangan tamu
19 Bab 19. sibuk mencari Arya
20 Bab 20. Ruangan rahasia
21 Bab 21. kedatangan keluarga
22 Bab 22. Geram nya Arya
23 Bab 23. Pardi pulang
24 Bab 24. Laporan Arya
25 Bab 25. Penderitaan Rais
26 Bab 26. Membawa ayam
27 Bab 27. Darius membuat masalah
28 Bab 28. mencari mangsa
29 Bab 29. Mendapat mangsa
30 Bab 30. Ritual
31 Bab 31. Elvi melihat
32 Bab 32. mayat yang mengambang
33 Bab 33. Tatto mawar dan pisau
34 Bab 34. Baju berdarah
35 Bab 35. Mayat juga
36 Bab 36. Tatto mawar lagi
37 Bab 37. Kendal Tau
38 Bab 38. menghantui Andi
39 Bab 39. Davin kena hajar
40 Bab 40. Menghubungi Purnama
41 Bab 41. Mencari Davin
42 Bab 42. Iblis bayangan
43 Bab 43. wanita cantik
44 Bab 44. Purnama kaget
45 Bab 45. Mendatangi rumah Sayuti
46 Bab 46. balasan Pardi
47 Bab 47. Siksaan lagi
48 Bab 48. Melihat bayangan
49 Bab 49. Berusaha untuk mencari
50 Bab 50. Emosi Elvi
51 Bab 51. Pocong hitam
52 Bab 52. Berpindah tempat
53 Bab 53. anak pertama
54 Bab 54. pocong patah hati
55 Bab 55. Di tampar siapa
56 Bab 56. Melihat arwah lain
57 Bab 57. Mencari penjara
58 Bab 58. Menemukan Sayuti
59 Bab 59. Menyiksa Sayuti
60 Bab 60. Di culik
61 Bab 61. Purnama bergerak
62 Bab 62. Tusuk konde emas
63 Bab 63. kabur dari penjara
64 Bab 64. bertemu dengan nilam
65 Bab 65. Curiga pada Pardi
66 Bab 66. Tampan namun sinis
67 Bab 67. Kisah Pardi
68 Bab 68. Menghajar genderuwo
69 Bab 69. Mak Darti yang aneh
70 Bab 70. Bertemu
71 Bab 71. Menyiksa
72 Bab 72. Bertempur
73 Bab 73. Membelit lawan
74 Bab 74. masuk lembah kematian
75 Bab 75. Siksaan Darius
76 Bab 76. Bunga mawar biru
77 Bab 77. Siksaan
78 Bab 78. Serangan telak
79 Bab 79. masih bertempur
80 Bab 80. Maharani terluka parah
81 Bab 81. mengalahkan Ambarwati
82 Bab 82. tidak percaya
83 Bab 83. Mengobati Maharani
84 Bab 84. Susah mengambil mutiara
85 Bab 85. Derita Pardi
86 Bab 86. Merelakan Pardi
87 Bab 87. Ketahuan
88 Bab 88. memenggal kepala Laila
89 Bab 89. Siksaan demi siksaan
90 Bab 90. Selesai
91 Bab 91. Akhir
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1. Malam pembantaian
2
Bab 2. Aroma busuk
3
Bab 3. Mulai takut
4
Bab 4. ketakutan Yanto
5
Bab 5. Menghantui
6
Bab 6. Terseret
7
Bab 7. Mencari Rais
8
Bab 8. Masuk rumah Sayuti
9
Bab 9. Menemukan Rais
10
Bab 10. Mencari solusi
11
Bab 11. Mimpi buruk
12
Bab 12. Pardi berulah
13
Bab 13. Masuk jebakan sendiri
14
Bab 14. Pardi celaka
15
Bab 15. Sibuk mencari
16
Bab 16. Masih mencari
17
Bab 17. Keluarga kota
18
Bab 18. Kedatangan tamu
19
Bab 19. sibuk mencari Arya
20
Bab 20. Ruangan rahasia
21
Bab 21. kedatangan keluarga
22
Bab 22. Geram nya Arya
23
Bab 23. Pardi pulang
24
Bab 24. Laporan Arya
25
Bab 25. Penderitaan Rais
26
Bab 26. Membawa ayam
27
Bab 27. Darius membuat masalah
28
Bab 28. mencari mangsa
29
Bab 29. Mendapat mangsa
30
Bab 30. Ritual
31
Bab 31. Elvi melihat
32
Bab 32. mayat yang mengambang
33
Bab 33. Tatto mawar dan pisau
34
Bab 34. Baju berdarah
35
Bab 35. Mayat juga
36
Bab 36. Tatto mawar lagi
37
Bab 37. Kendal Tau
38
Bab 38. menghantui Andi
39
Bab 39. Davin kena hajar
40
Bab 40. Menghubungi Purnama
41
Bab 41. Mencari Davin
42
Bab 42. Iblis bayangan
43
Bab 43. wanita cantik
44
Bab 44. Purnama kaget
45
Bab 45. Mendatangi rumah Sayuti
46
Bab 46. balasan Pardi
47
Bab 47. Siksaan lagi
48
Bab 48. Melihat bayangan
49
Bab 49. Berusaha untuk mencari
50
Bab 50. Emosi Elvi
51
Bab 51. Pocong hitam
52
Bab 52. Berpindah tempat
53
Bab 53. anak pertama
54
Bab 54. pocong patah hati
55
Bab 55. Di tampar siapa
56
Bab 56. Melihat arwah lain
57
Bab 57. Mencari penjara
58
Bab 58. Menemukan Sayuti
59
Bab 59. Menyiksa Sayuti
60
Bab 60. Di culik
61
Bab 61. Purnama bergerak
62
Bab 62. Tusuk konde emas
63
Bab 63. kabur dari penjara
64
Bab 64. bertemu dengan nilam
65
Bab 65. Curiga pada Pardi
66
Bab 66. Tampan namun sinis
67
Bab 67. Kisah Pardi
68
Bab 68. Menghajar genderuwo
69
Bab 69. Mak Darti yang aneh
70
Bab 70. Bertemu
71
Bab 71. Menyiksa
72
Bab 72. Bertempur
73
Bab 73. Membelit lawan
74
Bab 74. masuk lembah kematian
75
Bab 75. Siksaan Darius
76
Bab 76. Bunga mawar biru
77
Bab 77. Siksaan
78
Bab 78. Serangan telak
79
Bab 79. masih bertempur
80
Bab 80. Maharani terluka parah
81
Bab 81. mengalahkan Ambarwati
82
Bab 82. tidak percaya
83
Bab 83. Mengobati Maharani
84
Bab 84. Susah mengambil mutiara
85
Bab 85. Derita Pardi
86
Bab 86. Merelakan Pardi
87
Bab 87. Ketahuan
88
Bab 88. memenggal kepala Laila
89
Bab 89. Siksaan demi siksaan
90
Bab 90. Selesai
91
Bab 91. Akhir

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!