DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG

​Matahari pagi menyusup di sela-sela rimbunnya Hutan Kematian, membawa kehangatan yang tidak pernah dirasakan Han Feng sebelumnya. Biasanya, pagi hari baginya adalah pengingat akan tulang yang pegal dan tugas-tugas berat yang menanti. Namun hari ini, setiap partikel udara yang masuk ke paru-parunya terasa seperti aliran madu yang murni dan bertenaga.

​Han Feng berdiri di tepi sungai kecil yang membelah hutan. Tubuhnya yang kemarin hancur kini terasa asing—bukan karena sakit, tapi karena kekuatannya. Dia mengepalkan tangan, merasakan kepadatan otot dan struktur tulang yang kini lebih menyerupai giok daripada daging manusia.

​Sutra Dewa yang Terbuang.

​Han Feng memejamkan mata. Di dalam benaknya, sebuah hamparan perpustakaan cahaya tak terbatas terbuka. Jutaan gulungan teknik, resep alkimia, dan rahasia semesta tersusun rapi, menunggu untuk disentuh. Dengan satu pemikiran, dia memanggil sebuah teknik dasar pernapasan: "Napas Sunyi Dewa Langit".

​Seketika, seluruh pori-porinya seolah menghisap energi Qi dari alam sekitar. Di Daratan Bawah, seorang kultivator butuh waktu berjam-jam untuk menyerap satu tetes energi alam. Namun bagi Han Feng, energi itu datang seperti pelayan yang rindu pada tuannya, berebut masuk ke dalam nadinya yang kini seluas samudra.

​Wush!

​Dia melayangkan satu pukulan lurus ke arah sebuah pohon besar berdiameter dua meter di depannya. Gerakannya lambat, hampir malas. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada teriakan heroik. Namun, saat tinjunya berhenti beberapa inci sebelum menyentuh kulit pohon, udara di depannya meledak.

​BRAK!

​Batang pohon itu hancur berkeping-keping, menyisakan lubang besar yang tembus ke belakang. Han Feng melihat tangannya sendiri dengan tatapan datar.

​"Hanya sepuluh persen dari kekuatan fisik murni tanpa energi Qi," gumamnya. Suaranya tidak lagi serak ketakutan; suaranya kini memiliki resonansi yang dalam dan menenangkan, seperti denting lonceng di kuil kuno. "Dunia ini... ternyata jauh lebih rapuh dari yang aku ingat."

...***...

​Han Feng berjalan keluar dari hutan dengan langkah santai. Jubah pelayannya yang abu-abu robek di sana-sini, memperlihatkan kulitnya yang kini putih bersih tanpa bekas luka sedikit pun. Wajahnya yang luar biasa tampan tidak lagi ditutupi oleh ekspresi memelas, melainkan ketenangan yang sangat mengintimidasi.

​Saat dia mendekati gerbang belakang Sekte Pedang Langit, dua penjaga pelayan yang sedang bersandar di tombak mereka mendongak. Salah satunya adalah Zhang Hu, pelayan senior yang sering mencuri jatah makan Han Feng.

​"Eh? Mata hariku pasti sedang rusak," Zhang Hu mengucek matanya. "Si Sampah itu... bukankah kemarin Li Wei melemparnya ke Hutan Kematian untuk dimakan serigala?"

​Han Feng terus berjalan tanpa mengubah kecepatannya.

​"Hei! Berhenti!" Zhang Hu melangkah maju, menghalangi jalan Han Feng dengan tombaknya. "Berani-beraninya kau kembali tanpa izin? Dan lihat wajahmu itu... kenapa kau terlihat begitu... sombong?"

​Han Feng berhenti tepat di depan ujung tombak Zhang Hu. Matanya yang keemasan menatap langsung ke pupil mata Zhang Hu. Tidak ada kemarahan di sana, hanya kekosongan yang membuat Zhang Hu tiba-tiba merasa kedinginan, seolah dia sedang menatap jurang yang tak berdasar.

​"Minggir," ucap Han Feng pendek.

​Zhang Hu tertegun. Suara itu... sejak kapan pelayan ini punya keberanian untuk memerintah? "Kau... kau mencari mati! Berlutut dan minta maaf sekarang, atau aku akan—"

​Sret.

​Sebelum Zhang Hu bisa menyelesaikan kalimatnya, Han Feng melangkah maju. Gerakannya sangat efisien, seolah dia tahu persis ke mana arah tombak itu akan bergeser bahkan sebelum Zhang Hu bergerak. Han Feng melewati Zhang Hu seolah-olah pria besar itu hanyalah udara kosong.

​"Aku bilang minggir. Aku sedang tidak ingin mengotori tanganku dengan sampah sepertimu di pagi hari yang cerah ini," suara Han Feng bergema di telinga Zhang Hu, dingin dan tajam.

​Zhang Hu berdiri mematung. Dia ingin berteriak, ingin memukul, tapi tubuhnya gemetar tanpa alasan. Ada sesuatu dalam diri Han Feng yang membuatnya merasa bahwa jika dia bergerak satu inci saja, nyawanya akan melayang.

......................

​Han Feng kembali ke barak pelayan. Ruangan itu bau, lembap, dan penuh dengan debu. Di atas mejanya, menumpuk belasan kuali alkimia bekas yang berkerak hitam—tugas dari kepala pelayan yang sengaja ingin menyiksanya. Kerak itu berasal dari sisa pembakaran herbal tingkat rendah yang sangat sulit dibersihkan bahkan dengan asam kuat sekalipun.

​Biasanya, Han Feng akan menghabiskan tiga hari tiga malam untuk menggosok kuali-kuali ini sampai tangannya berdarah.

​Tapi sekarang?

​Han Feng melirik ke arah sudut ruangan di mana tumbuh beberapa rumput liar dan lumut karena kelembapan. Dia mengambil beberapa lembar daun rumput tersebut, memeras sarinya ke dalam sebuah ember air, dan menambahkan sedikit abu dari tungku.

​"Reaksi netralisasi alkimia dasar tingkat satu," gumamnya.

​Bagi para master alkimia di sekte ini, membersihkan kuali adalah pekerjaan fisik. Tapi bagi otak Han Feng yang berisi pengetahuan Dewa, itu adalah soal memanipulasi struktur molekul. Dia menuangkan air racikannya ke dalam kuali-kuali tersebut.

​Sssss...

​Dalam hitungan detik, kerak hitam yang membatu itu mengelupas dengan sendirinya, memperlihatkan permukaan logam kuali yang mengkilap seperti baru. Han Feng hanya perlu membilasnya sekali. Pekerjaan tiga hari selesai dalam tiga menit.

​Dia kemudian duduk di atas tempat tidur kayunya yang keras, lalu mulai memejamkan mata. Dia tidak bermeditasi untuk naik level; dia sedang menyusun strategi. Balas dendam terbaik bukan sekadar membunuh, tapi menghancurkan fondasi kebanggaan musuhnya.

​"Han Feng! Keluar kau, sampah!"

​Suara teriakan dari luar memecah keheningan. Itu adalah suara salah satu pengikut setia Li Wei, seorang pelayan yang baru saja naik pangkat menjadi murid luar tingkat satu bernama Xiao Bo.

​Han Feng berjalan keluar dengan tenang. Di depannya, Xiao Bo berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh beberapa pelayan lain yang ingin menonton tontonan gratis.

​"Kau berani mengabaikan Zhang Hu di gerbang? Kau pikir karena kau selamat dari hutan, kau menjadi hebat?" Xiao Bo meludah ke tanah. "Aku baru saja mencapai tahap pertama Body Refining. Bagiku, mematahkan lehermu semudah mematahkan ranting pohon!"

​Xiao Bo menerjang maju. Pukulannya membawa sedikit angin Qi, cukup kuat untuk meretakkan tembok bagi standar manusia biasa. Para penonton sudah membayangkan Han Feng akan terpental dengan wajah hancur.

​Namun, Han Feng tetap berdiri dengan tangan di belakang punggung.

​Saat tinju Xiao Bo hanya berjarak satu inci dari hidungnya, Han Feng sedikit memiringkan kepalanya. Gerakan itu sangat tipis, sangat presisi. Tinju Xiao Bo melewati udara kosong.

​"Kau meleset," ucap Han Feng datar.

​"Sialan!" Xiao Bo kembali menyerang dengan tendangan memutar.

​Han Feng tidak menghindar jauh. Dia hanya menggeser kakinya satu inci ke samping. Di mata orang lain, seolah-olah Xiao Bo sengaja menendang ke arah yang salah. Tapi bagi Xiao Bo, dia merasa Han Feng selalu berada di luar jangkauannya, seolah dia sedang mengejar bayangan di atas air.

​"Lambat. Terlalu banyak lubang. Napasmu tidak stabil," Han Feng mulai memberikan komentar, suaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang mengajar murid yang sangat bodoh.

​"TUTUP MULUTMU!" Xiao Bo murka. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk pukulan terakhir.

​Han Feng hanya mengulurkan satu jari telunjuknya. Dengan ketepatan yang mustahil, jari itu menyentuh pergelangan tangan Xiao Bo tepat di titik saraf utamanya.

​Tuk.

​Seketika, seluruh lengan Xiao Bo menjadi mati rasa. Keseimbangannya hilang, dan karena momentumnya sendiri, dia terpelesat di atas tanah yang licin dan jatuh tersungkur dengan wajah mendarat tepat di kubangan lumpur di depan kaki Han Feng.

​PLOK!

​Keheningan menyelimuti area barak. Para pelayan yang menonton ternganga. Xiao Bo, seorang kultivator tahap satu, jatuh hanya karena satu jari?

​Han Feng menunduk, menatap Xiao Bo yang berusaha bangkit dengan wajah penuh lumpur dan kotoran. Tatapan Han Feng begitu dingin, membuat nyali semua orang yang melihatnya menciut.

​"Lumpur itu cocok untukmu," ujar Han Feng pelan. "Setidaknya di sana kau tidak perlu khawatir tentang jatuh lagi, karena kau sudah berada di tempat paling rendah."

​Han Feng kemudian berbalik dan berjalan masuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Xiao Bo yang gemetar karena malu dan takut. Dia tahu, berita ini akan sampai ke telinga Li Wei dengan cepat. Dan memang itulah yang dia inginkan.

​"Biarkan mereka datang," bisik Han Feng sambil menatap langit dari jendela kecilnya. "Aku baru saja mulai merapikan papan catur ini."

​Di kejauhan, di puncak gunung sekte, Tetua Mo yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka matanya. Dia merasa ada riak kecil dalam energi alam di sekitar barak pelayan—sesuatu yang sangat murni, namun sangat asing. Dia mengerutkan kening, tidak menyadari bahwa serangga yang dia abaikan kemarin kini telah berubah menjadi naga yang siap menelan seluruh sektenya.

Terpopuler

Comments

🌹🌹Alika Moi🌹🌹

🌹🌹Alika Moi🌹🌹

lanjut Feng biar kapok.

2026-07-15

1

Ria Gazali Dapson

Ria Gazali Dapson

ko mo jdi pelayan lagi

2026-06-14

1

Nanik S

Nanik S

Xiao Bao ... tempatmu didalam Lumpur

2026-06-07

2

lihat semua
Episodes
1 AIR MATA DI ATAS DEBU
2 DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG
3 PISAU TERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN
4 BUNGA SALJU DAN DEBU JALANAN
5 GEMURUH DI DALAM NADI
6 PERJUDIAN DI BALIK CADAR
7 ANGIN DINGIN DI PANGGUNG UJIAN
8 KEHENINGAN YANG MENGHANCURKAN
9 TAMU TAK DIUNDANG DI MEJA PELAYAN
10 PETI MATI UNTUK TAMU TAK DIUNDANG
11 LANGKAH NAGA, DEBU YANG TERPENCAR
12 BADAI DI HUTAN BAMBU MERAH
13 ARAK DINGIN DAN KABAR DARI KOTA AWAN
14 KILAT YANG PADAM DI UJUNG JARI
15 TRANSFORMASI NAGA EMAS
16 TARIAN MAUT DI LANGIT WADAS PUTIH
17 BENTROKAN DUA ZAMAN
18 SEGEL KUNO YANG TERBANGUN
19 ANOMALI SANG NAGA EMAS
20 PUNCAK-PUNCAK YANG MENYENTUH LANGIT
21 PERMATA DI BALIK KERAK BUMI
22 BADAI DI BALIK JENDELA PENGINAPAN
23 TARGET DI BALIK KABUT
24 TARIAN KILAT DI KERAJAAN BAWAH TANAH
25 DOMINASI YANG TAK TERGOYAHKAN
26 GEMURUH DI PUNCAK HENING
27 PENJAGAL DI TANGGA LANGIT
28 TOPI BAMBU YANG JATUH
29 HUKUM GENERASI MUDA
30 DARAH SANG NAGA DATARAN TENGAH
31 ARAH YANG BERBEDA
32 API DI PUNCAK PERBATASAN
33 SERIGALA DI JALUR SUTRA
34 DI BAWAH HIDUNG MUSUH
35 PANGGUNG DARAH DAN DEBU
36 BADAI DI DALAM HENING
37 TARIAN DI SARANG NAGA
38 KABUT DI PAVILIUN NAGA
39 FAJAR DI BALIK KABUT
40 PERJAMUAN DARAH NAGA
41 BAB 41: PUSARAN NAGA YANG RAKUS
42 KELAHIRAN KEMBALI SANG NAGA PETIR
43 PERJANJIAN DI BAWAH REMBULAN
44 JANJI DI AMBANG BATAS
45 GEMA DARI ALTAR KUNO
46 DEWA-DEWA MUDA DI MEJA BUNDAR
47 BADAI DI KOTA PELELANGAN
48 AMUKAN SANG PEWARIS HAN
49 PELARIAN SANG NAGA DAN DEKLARASI CINTA DI LANGIT
50 GONCANGAN LANGIT DAN BUMI
51 Gema Dendam di Gerbang Utara
52 Lembah Tulang dan Sumpah yang Tersisa
53 Sumpah di Bawah Langit Merah
54 Tumbal Sang Penguasa Altar
55 Melampaui Cakrawala Sembilan Langit
56 Badai di Lapisan Pertama
57 Pembantaian di Lembah Keputusasaan
58 Desas-Desus di Langit Atas
59 Mengetuk Gerbang Langit Ketiga
60 Hitung Mundur Altar Giok
61 Amukan Naga Meruntuhkan Altar
62 Sayap Merah Menggoncang Langit
63 Warisan Kuno di Kota Fajar
64 Badai Petir Melumat Aliansi
65 Menebas Bayangan Dewa
66 Angin Tenang di Taman Melayang
67 Menyembunyikan Taring di Kota Persik
68 Pembersihan Senyap di Gang Persik
69 Mencegat Takdir di Batas Langit
70 Aliansi Naga-Phoenix Membakar Kosmik
71 Ledakan Kosmik dan Sayap yang Terluka
72 Penjaga Rahasia Lembah Lembayung
73 Pembantaian di Bawah Air Terjun Air Raksa
74 Menuju Kota Alkimia Agung
75 Menampar Wajah Penguasa Alkimia
76 Tarian Maut di Atas Kawah Lava
77 Penjarahan Markas Besar Api Suci
78 Badai Sebelum Lompatan Langit
79 Selamat Datang di Lapisan Ketujuh, Ranah Para Monster
80 Mencabik Kesombongan Salju Abadi
81 Badai Mengintai di Kota Awan Es
82 Menebas Penatua, Merebut Jalan Langit
83 Jantung Alkimia dan Tatapan sang Pemangsa
84 Menyusup ke Istana Api Biru
85 Teror Kata sang Pengejar Jiwa
86 Pengorbanan Darah Naga dan Phoenix
87 Runtuhnya Langit, Perpisahan Dua Jiwa
88 Topeng Besi dan Jejak sang Pengembara
89 Perjamuan Para Pangeran dan Putri Misterius
90 Dinginnya Besi, Angkuhnya Teratai Hitam
91 Ketenangan di Balik Badai Api
92 Jejak Kuno dan Aliansi yang Retak
93 Bara Kuali dan Kilat Biru
94 Gempar Kota Pusat dan Badai yang Mengintai
95 Negosiasi di Balik Cadar Kosmik
96 Bab 96
97 Tiga Puncak Takdir, Detik-Detik Menuju Final
98 Badai Petir Surgawi dan Lahirnya Pil Iblis
99 Strategi Berdarah sang Iblis Naga
100 Cadar yang Terbuka dan Peta Langit Kedelapan
101 Daratan Dingin Kedelapan dan Evolusi Batin Naga
102 Penyusupan Senyap dan Taktik Kambing Hitam
103 Akses Spasial Terbuka dan Langkah Bayangan
104 Pelarian Menembus Badai dan Isolasi Gua Kosmik
105 Evolusi Ranah dan Metamorfosis Fisik Naga Kosmik
106 Pemurnian Jurus: Petir Naga Kosmik dan Medan Gravitasi Hampa
107 Tiba di Kota Pusat dan Penyamaran Alkemis yang Sempurna
108 Memasuki Jantung Musuh (Infiltrasi Benteng Pusat)
109 Racun Kosmik dan Dobrakan Gerbang Spasial
110 Menembus Batas Dunia dan Tirai Dingin Lapisan Sembilan
111 Interogasi Darah dan Peta Menara Api Suci
112 Tebasan Senyap dan Penyusupan Menara Penjara
113 Rantai Penghancur Takdir dan Amukan Api Sembilan Langit
114 Bentrokan Dua Hukum Dunia dan Puncak Kemarahan Naga
115 Sang Pengejar Jiwa dan Bayangan Masa Lalu
116 Leburan Tiga Domain dan Pintu Dimensi Kosmik
117 Arus Kosmos Liar dan Retakan Dunia Atas
118 Bahtera Kuno Batuan Meteorit dan Warisan Penguasa Bintang
119 Kebangkitan Penguasa Bintang dan Deklarasi Perang Kosmik
120 Runtuhnya Sembilan Langit dan Fajar Baru Dunia Kosmos
121 ARC BAHTERA BINTANG KUNO
122 Chapter 1
123 Chapter 2
124 Chapter 3
125 Chapter 4
126 Chapter 5
127 Chapter 6
128 Chapter 7
129 Chapter 8
130 Chapter 9
131 PENGUMUMAN PENTING / KARYA BARU THOR!
Episodes

Updated 131 Episodes

1
AIR MATA DI ATAS DEBU
2
DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG
3
PISAU TERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN
4
BUNGA SALJU DAN DEBU JALANAN
5
GEMURUH DI DALAM NADI
6
PERJUDIAN DI BALIK CADAR
7
ANGIN DINGIN DI PANGGUNG UJIAN
8
KEHENINGAN YANG MENGHANCURKAN
9
TAMU TAK DIUNDANG DI MEJA PELAYAN
10
PETI MATI UNTUK TAMU TAK DIUNDANG
11
LANGKAH NAGA, DEBU YANG TERPENCAR
12
BADAI DI HUTAN BAMBU MERAH
13
ARAK DINGIN DAN KABAR DARI KOTA AWAN
14
KILAT YANG PADAM DI UJUNG JARI
15
TRANSFORMASI NAGA EMAS
16
TARIAN MAUT DI LANGIT WADAS PUTIH
17
BENTROKAN DUA ZAMAN
18
SEGEL KUNO YANG TERBANGUN
19
ANOMALI SANG NAGA EMAS
20
PUNCAK-PUNCAK YANG MENYENTUH LANGIT
21
PERMATA DI BALIK KERAK BUMI
22
BADAI DI BALIK JENDELA PENGINAPAN
23
TARGET DI BALIK KABUT
24
TARIAN KILAT DI KERAJAAN BAWAH TANAH
25
DOMINASI YANG TAK TERGOYAHKAN
26
GEMURUH DI PUNCAK HENING
27
PENJAGAL DI TANGGA LANGIT
28
TOPI BAMBU YANG JATUH
29
HUKUM GENERASI MUDA
30
DARAH SANG NAGA DATARAN TENGAH
31
ARAH YANG BERBEDA
32
API DI PUNCAK PERBATASAN
33
SERIGALA DI JALUR SUTRA
34
DI BAWAH HIDUNG MUSUH
35
PANGGUNG DARAH DAN DEBU
36
BADAI DI DALAM HENING
37
TARIAN DI SARANG NAGA
38
KABUT DI PAVILIUN NAGA
39
FAJAR DI BALIK KABUT
40
PERJAMUAN DARAH NAGA
41
BAB 41: PUSARAN NAGA YANG RAKUS
42
KELAHIRAN KEMBALI SANG NAGA PETIR
43
PERJANJIAN DI BAWAH REMBULAN
44
JANJI DI AMBANG BATAS
45
GEMA DARI ALTAR KUNO
46
DEWA-DEWA MUDA DI MEJA BUNDAR
47
BADAI DI KOTA PELELANGAN
48
AMUKAN SANG PEWARIS HAN
49
PELARIAN SANG NAGA DAN DEKLARASI CINTA DI LANGIT
50
GONCANGAN LANGIT DAN BUMI
51
Gema Dendam di Gerbang Utara
52
Lembah Tulang dan Sumpah yang Tersisa
53
Sumpah di Bawah Langit Merah
54
Tumbal Sang Penguasa Altar
55
Melampaui Cakrawala Sembilan Langit
56
Badai di Lapisan Pertama
57
Pembantaian di Lembah Keputusasaan
58
Desas-Desus di Langit Atas
59
Mengetuk Gerbang Langit Ketiga
60
Hitung Mundur Altar Giok
61
Amukan Naga Meruntuhkan Altar
62
Sayap Merah Menggoncang Langit
63
Warisan Kuno di Kota Fajar
64
Badai Petir Melumat Aliansi
65
Menebas Bayangan Dewa
66
Angin Tenang di Taman Melayang
67
Menyembunyikan Taring di Kota Persik
68
Pembersihan Senyap di Gang Persik
69
Mencegat Takdir di Batas Langit
70
Aliansi Naga-Phoenix Membakar Kosmik
71
Ledakan Kosmik dan Sayap yang Terluka
72
Penjaga Rahasia Lembah Lembayung
73
Pembantaian di Bawah Air Terjun Air Raksa
74
Menuju Kota Alkimia Agung
75
Menampar Wajah Penguasa Alkimia
76
Tarian Maut di Atas Kawah Lava
77
Penjarahan Markas Besar Api Suci
78
Badai Sebelum Lompatan Langit
79
Selamat Datang di Lapisan Ketujuh, Ranah Para Monster
80
Mencabik Kesombongan Salju Abadi
81
Badai Mengintai di Kota Awan Es
82
Menebas Penatua, Merebut Jalan Langit
83
Jantung Alkimia dan Tatapan sang Pemangsa
84
Menyusup ke Istana Api Biru
85
Teror Kata sang Pengejar Jiwa
86
Pengorbanan Darah Naga dan Phoenix
87
Runtuhnya Langit, Perpisahan Dua Jiwa
88
Topeng Besi dan Jejak sang Pengembara
89
Perjamuan Para Pangeran dan Putri Misterius
90
Dinginnya Besi, Angkuhnya Teratai Hitam
91
Ketenangan di Balik Badai Api
92
Jejak Kuno dan Aliansi yang Retak
93
Bara Kuali dan Kilat Biru
94
Gempar Kota Pusat dan Badai yang Mengintai
95
Negosiasi di Balik Cadar Kosmik
96
Bab 96
97
Tiga Puncak Takdir, Detik-Detik Menuju Final
98
Badai Petir Surgawi dan Lahirnya Pil Iblis
99
Strategi Berdarah sang Iblis Naga
100
Cadar yang Terbuka dan Peta Langit Kedelapan
101
Daratan Dingin Kedelapan dan Evolusi Batin Naga
102
Penyusupan Senyap dan Taktik Kambing Hitam
103
Akses Spasial Terbuka dan Langkah Bayangan
104
Pelarian Menembus Badai dan Isolasi Gua Kosmik
105
Evolusi Ranah dan Metamorfosis Fisik Naga Kosmik
106
Pemurnian Jurus: Petir Naga Kosmik dan Medan Gravitasi Hampa
107
Tiba di Kota Pusat dan Penyamaran Alkemis yang Sempurna
108
Memasuki Jantung Musuh (Infiltrasi Benteng Pusat)
109
Racun Kosmik dan Dobrakan Gerbang Spasial
110
Menembus Batas Dunia dan Tirai Dingin Lapisan Sembilan
111
Interogasi Darah dan Peta Menara Api Suci
112
Tebasan Senyap dan Penyusupan Menara Penjara
113
Rantai Penghancur Takdir dan Amukan Api Sembilan Langit
114
Bentrokan Dua Hukum Dunia dan Puncak Kemarahan Naga
115
Sang Pengejar Jiwa dan Bayangan Masa Lalu
116
Leburan Tiga Domain dan Pintu Dimensi Kosmik
117
Arus Kosmos Liar dan Retakan Dunia Atas
118
Bahtera Kuno Batuan Meteorit dan Warisan Penguasa Bintang
119
Kebangkitan Penguasa Bintang dan Deklarasi Perang Kosmik
120
Runtuhnya Sembilan Langit dan Fajar Baru Dunia Kosmos
121
ARC BAHTERA BINTANG KUNO
122
Chapter 1
123
Chapter 2
124
Chapter 3
125
Chapter 4
126
Chapter 5
127
Chapter 6
128
Chapter 7
129
Chapter 8
130
Chapter 9
131
PENGUMUMAN PENTING / KARYA BARU THOR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!