Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

AIR MATA DI ATAS DEBU

​Di bawah hamparan langit yang luas, terbentang sebuah wilayah yang dikenal sebagai Daratan Bawah, atau bagi para penghuni langit, disebut sebagai "Tanah Pembuangan". Daratan ini terbagi menjadi tiga kekaisaran besar yang terus bersaing memperebutkan energi alam yang kian menipis. Di pinggiran Kekaisaran Awan Biru, berdirilah Sekte Pedang Langit, sebuah sekte kelas tiga yang menjadi penguasa regional atas belasan kota kecil di sekitarnya.

​Dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Di sini, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Mereka yang memiliki bakat kultivasi disebut sebagai "Manusia Setengah Dewa", sementara mereka yang tidak memiliki bakat hanyalah "Debu Daratan"—makhluk yang keberadaannya hanya untuk diinjak.

​Dan di antara ribuan debu yang bertebaran di Sekte Pedang Langit, terdapat satu pemuda yang nasibnya jauh lebih rendah dari itu.

​"Lihat si sampah itu! Beraninya dia menunjukkan wajahnya di jalur utama!"

​Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perut Han Feng. Tubuhnya yang kurus terpental, menghantam pilar batu sebelum akhirnya jatuh ke kubangan lumpur sisa hujan semalam. Han Feng tidak berteriak. Dia hanya meringkuk, berusaha melindungi organ vitalnya, sebuah gerakan defensif yang sudah dia pelajari dengan sangat baik selama tiga tahun terakhir.

​"Wajah yang memuakkan," ludah seorang pemuda berpakaian sutra biru—pakaian resmi murid luar Sekte Pedang Langit. Namanya adalah Li Wei, seorang pemuda dari keluarga kaya yang merasa terhina setiap kali melihat Han Feng.

​Mengapa? Karena Han Feng terlalu tampan.

​Bahkan dalam kondisi babak belur, kotor, dan mengenakan pakaian pelayan yang compang-camping, garis wajah Han Feng tampak seperti diukir oleh pengrajin surgawi. Alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna, dan mata yang—jika tidak redup karena penderitaan—pasti akan mampu memikat siapa pun. Di dunia di mana para kultivator berusaha memperbaiki fisik mereka melalui energi Qi, Han Feng memiliki ketampanan yang alami tanpa setetes pun bakat kultivasi di tubuhnya.

​Bagi Li Wei dan murid-murid lainnya, ketampanan Han Feng adalah sebuah "kesalahan alam". Bagaimana mungkin seorang pelayan tanpa bakat, yang nadinya tersumbat total, memiliki wajah yang lebih menawan daripada mereka yang terlahir mulia?

​"Tuan Muda Li... mohon ampuni saya... saya hanya ingin mengambil air..." suara Han Feng terdengar serak dan bergetar. Dia tidak berani menatap mata lawan bicaranya. Ketakutan telah menjadi kulit keduanya.

​"Mengambil air dengan wajah seperti itu? Kau membuat para murid perempuan terganggu konsentrasinya!" Li Wei menginjak tangan Han Feng ke dalam lumpur, menekannya hingga terdengar suara tulang yang retak.

​Han Feng meringis, air mata mulai mengalir, namun dia tetap diam. Di kejauhan, di atas balkon paviliun, seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu panjang berdiri memperhatikan. Dia adalah Tetua Mo, penanggung jawab disiplin murid luar. Matanya yang dingin hanya melirik sekilas ke arah penyiksaan itu sebelum dia menyesap tehnya kembali. Bagi Tetua Mo, Han Feng bukanlah manusia. Dia hanyalah seekor serangga yang keberadaannya tidak lebih berharga daripada semut di bawah kakinya. Keadilan? Itu hanya berlaku bagi mereka yang bisa mencapai Ranah Pengumpulan Qi. Untuk seorang pelayan tanpa bakat, keadilan adalah dongeng sebelum tidur.

​Penderitaan Han Feng tidak berhenti di sana. Sore itu, Li Wei dan kawan-kawannya menyeret Han Feng menuju Hutan Kematian, sebuah wilayah hutan biasa di pinggiran sekte yang jarang dilewati orang karena banyaknya binatang buas.

​"Mereka bilang kau sangat mencintai wajahmu, bukan?" Li Wei menarik rambut Han Feng, memaksa pemuda itu menengadah. "Bagaimana kalau kita lihat, apakah binatang buas di dalam sana juga menyukai wajahmu?"

​Dengan satu dorongan kasar, Han Feng dilemparkan ke dalam jurang dangkal yang dipenuhi semak berduri di tengah hutan. Tubuhnya menghantam batu tajam, mematahkan beberapa tulang rusuknya. Darah segar merembes dari pakaian pelayannya yang abu-abu.

​"Jangan pernah kembali ke sekte. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku akan mengulitinya inci demi inci," ancam Li Wei sebelum pergi dengan tawa meremehkan bersama pengikutnya.

...***...

​Han Feng terbaring diam. Langit mulai menggelap, dan suhu hutan turun drastis. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Dia membenci dunia ini. Dia membenci para kultivator. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri—dirinya yang lemah, yang penakut, dan yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.

​"Mengapa... mengapa aku harus lahir?" bisiknya dengan napas yang makin memendek. "Jika hidup hanya untuk diinjak, lebih baik aku menjadi tanah saja."

​Pandangannya mulai kabur. Kesadarannya perlahan menghilang saat dinginnya maut mulai menyelimuti. Namun, tepat saat jantungnya berdenyut lemah untuk terakhir kalinya, sesuatu yang mustahil terjadi.

​KEBANGKITAN SUTRA DEWA

​Tepat di bawah tempat Han Feng terbaring, di balik lapisan tanah dan akar pohon tua, sebuah benda yang telah terkubur selama jutaan tahun bereaksi. Sebuah cahaya keemasan yang redup tiba-tiba meledak menjadi terang benderang.

​Sebuah buku kuno yang tampak seperti terbuat dari giok putih tiba-tiba melesat keluar dari tanah. Buku itu tidak memiliki judul yang terlihat oleh mata manusia biasa, namun auranya membuat seluruh hutan seketika menjadi sunyi. Binatang buas yang tadinya mengintai Han Feng langsung lari ketakutan seolah melihat penguasa langit turun ke bumi.

​Buku itu adalah Sutra Dewa yang Terbuang. Pusaka tertinggi dari dunia dewa yang jatuh ke dunia bawah setelah sebuah pengkhianatan besar di langit tertinggi.

​Buku itu melayang di atas tubuh Han Feng yang sekarat. Halamannya terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan suara seperti ribuan dewa yang sedang merapal mantra. Tiba-tiba, buku itu hancur menjadi debu cahaya keemasan yang sangat murni.

​Cahaya itu tidak menghilang, melainkan menyerbu masuk ke dalam tubuh Han Feng melalui setiap pori-pori kulitnya.

​"AAAGHHH!"

​Han Feng yang tadinya hampir mati tiba-tiba melengkungkan punggungnya. Matanya terbuka lebar, namun tidak ada warna hitam dan putih di sana—hanya ada emas murni yang bersinar.

​Di dalam tubuhnya, sebuah revolusi sedang terjadi. Cahaya Sutra Dewa mengalir seperti sungai lava, menghancurkan semua nadi yang tersumbat dan membangunnya kembali dengan material yang lebih kuat dari baja purba. Tulang-tulangnya yang patah menyambung kembali, namun kini warnanya seputih perak dan sekeras berlian.

​Namun, perubahan yang paling mengerikan terjadi di otaknya.

​Ribuan tahun pengetahuan—teknik bela diri yang bisa membelah bintang, rumus alkimia yang bisa menghidupkan orang mati, taktik perang yang telah menghancurkan kerajaan dewa—semuanya dipaksa masuk ke dalam kesadarannya. Ingatannya yang dulu penuh dengan ketakutan dan hinaan kini tertutup oleh kebijakan dan kedinginan seorang penguasa.

​KELAHIRAN KEMBALI

​Hening.

​Cahaya keemasan itu perlahan memudar, menyisakan Han Feng yang berdiri di tengah kegelapan hutan. Pakaiannya masih compang-camping, namun aura yang terpancar darinya sangat berbeda.

​Dia tidak lagi gemetar. Dia tidak lagi menunduk.

​Han Feng mengangkat tangannya, melihat telapak tangannya yang kini bersih dari lumpur dan luka. Dia mengepalkan tinjunya, dan udara di sekitarnya seolah bergetar hebat. Di dalam kepalanya, sebuah suara bergema, suara yang dingin dan berwibawa: “Dunia telah membuangmu, maka kau akan menjadi penguasa dunia.”

​Han Feng perlahan berdiri tegak. Dia melihat ke arah Sekte Pedang Langit yang terlihat di kejauhan. Wajahnya yang tampan kini tidak lagi memancarkan kelemahan, melainkan sebuah kedinginan yang bisa membekukan jiwa siapa pun yang melihatnya.

​"Han Feng yang pengecut sudah mati di hutan ini," suaranya terdengar sangat tenang, namun mengandung nada yang tajam seperti pedang dewa.

​"Li Wei... Tetua Mo... Sekte Pedang Langit..." Dia menyebutkan nama-nama itu satu per satu tanpa emosi, seolah-olah dia sedang menghitung daftar barang yang akan dihancurkan.

​Dia tidak lagi merasakan kemarahan yang meledak-ledak. Yang dia rasakan hanyalah kedinginan yang absolut. Berkat Sutra Dewa, otaknya kini bekerja ribuan kali lebih cepat. Dia bisa melihat setiap kesalahan dalam gerakan kultivasi para murid sekte dalam ingatannya. Dia tahu betapa bodoh dan rendahnya mereka semua.

​"Kalian menganggapku sampah karena aku tidak memiliki bakat?" Han Feng tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat licik dan menakutkan.

​"Maka aku akan menunjukkan pada kalian, apa artinya dibantai oleh sampah."

​Dengan langkah yang ringan namun pasti, Han Feng berjalan meninggalkan hutan. Dia tidak lagi berjalan seperti seorang pelayan yang memohon nyawa. Dia berjalan seperti seorang dewa yang sedang menuju panggung pembalasannya.

​Malam itu, bintang-bintang di atas Daratan Bawah bersinar lebih terang dari biasanya, seolah menyambut kembalinya sang penguasa yang telah lama hilang. Badai besar akan segera datang ke Sekte Pedang Langit, dan badai itu bernama Han Feng.

Terpopuler

Comments

Manusia Ikan 🫪

Manusia Ikan 🫪

aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹

2026-05-07

4

Agus

Agus

ok mantap,tpi hrs tamat ya thor ceritanya

2026-06-11

3

Nanik S

Nanik S

Kembali kesekte dan Bantai semua yang telah menginjak mu terutama Li We dan Tetua Mo

2026-06-06

2

lihat semua
Episodes
1 AIR MATA DI ATAS DEBU
2 DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG
3 PISAU TERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN
4 BUNGA SALJU DAN DEBU JALANAN
5 GEMURUH DI DALAM NADI
6 PERJUDIAN DI BALIK CADAR
7 ANGIN DINGIN DI PANGGUNG UJIAN
8 KEHENINGAN YANG MENGHANCURKAN
9 TAMU TAK DIUNDANG DI MEJA PELAYAN
10 PETI MATI UNTUK TAMU TAK DIUNDANG
11 LANGKAH NAGA, DEBU YANG TERPENCAR
12 BADAI DI HUTAN BAMBU MERAH
13 ARAK DINGIN DAN KABAR DARI KOTA AWAN
14 KILAT YANG PADAM DI UJUNG JARI
15 TRANSFORMASI NAGA EMAS
16 TARIAN MAUT DI LANGIT WADAS PUTIH
17 BENTROKAN DUA ZAMAN
18 SEGEL KUNO YANG TERBANGUN
19 ANOMALI SANG NAGA EMAS
20 PUNCAK-PUNCAK YANG MENYENTUH LANGIT
21 PERMATA DI BALIK KERAK BUMI
22 BADAI DI BALIK JENDELA PENGINAPAN
23 TARGET DI BALIK KABUT
24 TARIAN KILAT DI KERAJAAN BAWAH TANAH
25 DOMINASI YANG TAK TERGOYAHKAN
26 GEMURUH DI PUNCAK HENING
27 PENJAGAL DI TANGGA LANGIT
28 TOPI BAMBU YANG JATUH
29 HUKUM GENERASI MUDA
30 DARAH SANG NAGA DATARAN TENGAH
31 ARAH YANG BERBEDA
32 API DI PUNCAK PERBATASAN
33 SERIGALA DI JALUR SUTRA
34 DI BAWAH HIDUNG MUSUH
35 PANGGUNG DARAH DAN DEBU
36 BADAI DI DALAM HENING
37 TARIAN DI SARANG NAGA
38 KABUT DI PAVILIUN NAGA
39 FAJAR DI BALIK KABUT
40 PERJAMUAN DARAH NAGA
41 BAB 41: PUSARAN NAGA YANG RAKUS
42 KELAHIRAN KEMBALI SANG NAGA PETIR
43 PERJANJIAN DI BAWAH REMBULAN
44 JANJI DI AMBANG BATAS
45 GEMA DARI ALTAR KUNO
46 DEWA-DEWA MUDA DI MEJA BUNDAR
47 BADAI DI KOTA PELELANGAN
48 AMUKAN SANG PEWARIS HAN
49 PELARIAN SANG NAGA DAN DEKLARASI CINTA DI LANGIT
50 GONCANGAN LANGIT DAN BUMI
51 Gema Dendam di Gerbang Utara
52 Lembah Tulang dan Sumpah yang Tersisa
53 Sumpah di Bawah Langit Merah
54 Tumbal Sang Penguasa Altar
55 Melampaui Cakrawala Sembilan Langit
56 Badai di Lapisan Pertama
57 Pembantaian di Lembah Keputusasaan
58 Desas-Desus di Langit Atas
59 Mengetuk Gerbang Langit Ketiga
60 Hitung Mundur Altar Giok
61 Amukan Naga Meruntuhkan Altar
62 Sayap Merah Menggoncang Langit
63 Warisan Kuno di Kota Fajar
64 Badai Petir Melumat Aliansi
65 Menebas Bayangan Dewa
66 Angin Tenang di Taman Melayang
67 Menyembunyikan Taring di Kota Persik
68 Pembersihan Senyap di Gang Persik
69 Mencegat Takdir di Batas Langit
70 Aliansi Naga-Phoenix Membakar Kosmik
71 Ledakan Kosmik dan Sayap yang Terluka
72 Penjaga Rahasia Lembah Lembayung
73 Pembantaian di Bawah Air Terjun Air Raksa
74 Menuju Kota Alkimia Agung
75 Menampar Wajah Penguasa Alkimia
76 Tarian Maut di Atas Kawah Lava
77 Penjarahan Markas Besar Api Suci
78 Badai Sebelum Lompatan Langit
79 Selamat Datang di Lapisan Ketujuh, Ranah Para Monster
80 Mencabik Kesombongan Salju Abadi
81 Badai Mengintai di Kota Awan Es
82 Menebas Penatua, Merebut Jalan Langit
83 Jantung Alkimia dan Tatapan sang Pemangsa
84 Menyusup ke Istana Api Biru
85 Teror Kata sang Pengejar Jiwa
86 Pengorbanan Darah Naga dan Phoenix
87 Runtuhnya Langit, Perpisahan Dua Jiwa
88 Topeng Besi dan Jejak sang Pengembara
89 Perjamuan Para Pangeran dan Putri Misterius
90 Dinginnya Besi, Angkuhnya Teratai Hitam
91 Ketenangan di Balik Badai Api
92 Jejak Kuno dan Aliansi yang Retak
93 Bara Kuali dan Kilat Biru
94 Gempar Kota Pusat dan Badai yang Mengintai
95 Negosiasi di Balik Cadar Kosmik
96 Bab 96
97 Tiga Puncak Takdir, Detik-Detik Menuju Final
98 Badai Petir Surgawi dan Lahirnya Pil Iblis
99 Strategi Berdarah sang Iblis Naga
100 Cadar yang Terbuka dan Peta Langit Kedelapan
101 Daratan Dingin Kedelapan dan Evolusi Batin Naga
102 Penyusupan Senyap dan Taktik Kambing Hitam
103 Akses Spasial Terbuka dan Langkah Bayangan
104 Pelarian Menembus Badai dan Isolasi Gua Kosmik
105 Evolusi Ranah dan Metamorfosis Fisik Naga Kosmik
106 Pemurnian Jurus: Petir Naga Kosmik dan Medan Gravitasi Hampa
107 Tiba di Kota Pusat dan Penyamaran Alkemis yang Sempurna
108 Memasuki Jantung Musuh (Infiltrasi Benteng Pusat)
109 Racun Kosmik dan Dobrakan Gerbang Spasial
110 Menembus Batas Dunia dan Tirai Dingin Lapisan Sembilan
111 Interogasi Darah dan Peta Menara Api Suci
112 Tebasan Senyap dan Penyusupan Menara Penjara
113 Rantai Penghancur Takdir dan Amukan Api Sembilan Langit
114 Bentrokan Dua Hukum Dunia dan Puncak Kemarahan Naga
115 Sang Pengejar Jiwa dan Bayangan Masa Lalu
116 Leburan Tiga Domain dan Pintu Dimensi Kosmik
117 Arus Kosmos Liar dan Retakan Dunia Atas
118 Bahtera Kuno Batuan Meteorit dan Warisan Penguasa Bintang
119 Kebangkitan Penguasa Bintang dan Deklarasi Perang Kosmik
120 Runtuhnya Sembilan Langit dan Fajar Baru Dunia Kosmos
121 ARC BAHTERA BINTANG KUNO
122 Chapter 1
123 Chapter 2
124 Chapter 3
125 Chapter 4
126 Chapter 5
127 Chapter 6
128 Chapter 7
129 Chapter 8
130 Chapter 9
131 PENGUMUMAN PENTING / KARYA BARU THOR!
Episodes

Updated 131 Episodes

1
AIR MATA DI ATAS DEBU
2
DEBU YANG BERUBAH MENJADI KARANG
3
PISAU TERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN
4
BUNGA SALJU DAN DEBU JALANAN
5
GEMURUH DI DALAM NADI
6
PERJUDIAN DI BALIK CADAR
7
ANGIN DINGIN DI PANGGUNG UJIAN
8
KEHENINGAN YANG MENGHANCURKAN
9
TAMU TAK DIUNDANG DI MEJA PELAYAN
10
PETI MATI UNTUK TAMU TAK DIUNDANG
11
LANGKAH NAGA, DEBU YANG TERPENCAR
12
BADAI DI HUTAN BAMBU MERAH
13
ARAK DINGIN DAN KABAR DARI KOTA AWAN
14
KILAT YANG PADAM DI UJUNG JARI
15
TRANSFORMASI NAGA EMAS
16
TARIAN MAUT DI LANGIT WADAS PUTIH
17
BENTROKAN DUA ZAMAN
18
SEGEL KUNO YANG TERBANGUN
19
ANOMALI SANG NAGA EMAS
20
PUNCAK-PUNCAK YANG MENYENTUH LANGIT
21
PERMATA DI BALIK KERAK BUMI
22
BADAI DI BALIK JENDELA PENGINAPAN
23
TARGET DI BALIK KABUT
24
TARIAN KILAT DI KERAJAAN BAWAH TANAH
25
DOMINASI YANG TAK TERGOYAHKAN
26
GEMURUH DI PUNCAK HENING
27
PENJAGAL DI TANGGA LANGIT
28
TOPI BAMBU YANG JATUH
29
HUKUM GENERASI MUDA
30
DARAH SANG NAGA DATARAN TENGAH
31
ARAH YANG BERBEDA
32
API DI PUNCAK PERBATASAN
33
SERIGALA DI JALUR SUTRA
34
DI BAWAH HIDUNG MUSUH
35
PANGGUNG DARAH DAN DEBU
36
BADAI DI DALAM HENING
37
TARIAN DI SARANG NAGA
38
KABUT DI PAVILIUN NAGA
39
FAJAR DI BALIK KABUT
40
PERJAMUAN DARAH NAGA
41
BAB 41: PUSARAN NAGA YANG RAKUS
42
KELAHIRAN KEMBALI SANG NAGA PETIR
43
PERJANJIAN DI BAWAH REMBULAN
44
JANJI DI AMBANG BATAS
45
GEMA DARI ALTAR KUNO
46
DEWA-DEWA MUDA DI MEJA BUNDAR
47
BADAI DI KOTA PELELANGAN
48
AMUKAN SANG PEWARIS HAN
49
PELARIAN SANG NAGA DAN DEKLARASI CINTA DI LANGIT
50
GONCANGAN LANGIT DAN BUMI
51
Gema Dendam di Gerbang Utara
52
Lembah Tulang dan Sumpah yang Tersisa
53
Sumpah di Bawah Langit Merah
54
Tumbal Sang Penguasa Altar
55
Melampaui Cakrawala Sembilan Langit
56
Badai di Lapisan Pertama
57
Pembantaian di Lembah Keputusasaan
58
Desas-Desus di Langit Atas
59
Mengetuk Gerbang Langit Ketiga
60
Hitung Mundur Altar Giok
61
Amukan Naga Meruntuhkan Altar
62
Sayap Merah Menggoncang Langit
63
Warisan Kuno di Kota Fajar
64
Badai Petir Melumat Aliansi
65
Menebas Bayangan Dewa
66
Angin Tenang di Taman Melayang
67
Menyembunyikan Taring di Kota Persik
68
Pembersihan Senyap di Gang Persik
69
Mencegat Takdir di Batas Langit
70
Aliansi Naga-Phoenix Membakar Kosmik
71
Ledakan Kosmik dan Sayap yang Terluka
72
Penjaga Rahasia Lembah Lembayung
73
Pembantaian di Bawah Air Terjun Air Raksa
74
Menuju Kota Alkimia Agung
75
Menampar Wajah Penguasa Alkimia
76
Tarian Maut di Atas Kawah Lava
77
Penjarahan Markas Besar Api Suci
78
Badai Sebelum Lompatan Langit
79
Selamat Datang di Lapisan Ketujuh, Ranah Para Monster
80
Mencabik Kesombongan Salju Abadi
81
Badai Mengintai di Kota Awan Es
82
Menebas Penatua, Merebut Jalan Langit
83
Jantung Alkimia dan Tatapan sang Pemangsa
84
Menyusup ke Istana Api Biru
85
Teror Kata sang Pengejar Jiwa
86
Pengorbanan Darah Naga dan Phoenix
87
Runtuhnya Langit, Perpisahan Dua Jiwa
88
Topeng Besi dan Jejak sang Pengembara
89
Perjamuan Para Pangeran dan Putri Misterius
90
Dinginnya Besi, Angkuhnya Teratai Hitam
91
Ketenangan di Balik Badai Api
92
Jejak Kuno dan Aliansi yang Retak
93
Bara Kuali dan Kilat Biru
94
Gempar Kota Pusat dan Badai yang Mengintai
95
Negosiasi di Balik Cadar Kosmik
96
Bab 96
97
Tiga Puncak Takdir, Detik-Detik Menuju Final
98
Badai Petir Surgawi dan Lahirnya Pil Iblis
99
Strategi Berdarah sang Iblis Naga
100
Cadar yang Terbuka dan Peta Langit Kedelapan
101
Daratan Dingin Kedelapan dan Evolusi Batin Naga
102
Penyusupan Senyap dan Taktik Kambing Hitam
103
Akses Spasial Terbuka dan Langkah Bayangan
104
Pelarian Menembus Badai dan Isolasi Gua Kosmik
105
Evolusi Ranah dan Metamorfosis Fisik Naga Kosmik
106
Pemurnian Jurus: Petir Naga Kosmik dan Medan Gravitasi Hampa
107
Tiba di Kota Pusat dan Penyamaran Alkemis yang Sempurna
108
Memasuki Jantung Musuh (Infiltrasi Benteng Pusat)
109
Racun Kosmik dan Dobrakan Gerbang Spasial
110
Menembus Batas Dunia dan Tirai Dingin Lapisan Sembilan
111
Interogasi Darah dan Peta Menara Api Suci
112
Tebasan Senyap dan Penyusupan Menara Penjara
113
Rantai Penghancur Takdir dan Amukan Api Sembilan Langit
114
Bentrokan Dua Hukum Dunia dan Puncak Kemarahan Naga
115
Sang Pengejar Jiwa dan Bayangan Masa Lalu
116
Leburan Tiga Domain dan Pintu Dimensi Kosmik
117
Arus Kosmos Liar dan Retakan Dunia Atas
118
Bahtera Kuno Batuan Meteorit dan Warisan Penguasa Bintang
119
Kebangkitan Penguasa Bintang dan Deklarasi Perang Kosmik
120
Runtuhnya Sembilan Langit dan Fajar Baru Dunia Kosmos
121
ARC BAHTERA BINTANG KUNO
122
Chapter 1
123
Chapter 2
124
Chapter 3
125
Chapter 4
126
Chapter 5
127
Chapter 6
128
Chapter 7
129
Chapter 8
130
Chapter 9
131
PENGUMUMAN PENTING / KARYA BARU THOR!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!