Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik

Alesia masih asyik mengunyah paha ayam kalkun panggang yang disajikan di atas nampan emas. Di dunia asalnya, makan enak begini cuma kalau Abah habis gajian dari melatih aparat. Sekarang, di depannya terhidang makanan bintang lima yang bisa ia santap sepuasnya tanpa harus memikirkan sisa saldo ATM.

"Buset dah, ini ayam empuk bener ya, Neng! Coba ada sambal korek sama pete bakar, makin mantap dah ini!" seru Alesia sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangan.

Lily yang berdiri di sudut kamar hanya bisa mengelus dada melihat etika makan junjungannya yang hancur lebur. "Yang Mulia... hamba mohon pelankan suara Anda. Dan tolong gunakan garpu perak itu. Kalau sampai terlihat kepala pelayan, Anda bisa dihukum belajar tata krama lagi!"

"Dih, ogah! Makan pakai tangan begini nikmatnya nambah seribu persen tahu! Lagian siapa sih yang mau ngintip? Kan pintunya udah lu kunci rapat tadi," sahut Alesia santai seraya mencomot buah anggur.

"Tap—"

BRAAAK!

Pintu kamar yang tadi dikunci rapat tiba-tiba didobrak paksa dari luar. Alesia yang hampir memasukkan anggur ke mulutnya sampai tersedak saking kagetnya.

"Uhuk! Uhuk! Buset dah! Ini pintu istana kaga ada engselnya apa gimana sih?! Hobinya didobrak mulu dari tadi!" omel Alesia seraya menepuk-nepuk dadanya.

Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala yang luar biasa megah melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya, mengekor empat orang dayang yang langsung menatap Alesia dengan pandangan meremehkan. Wanita itu adalah Selir Rose, musuh bebuyutan permaisuri asli dan dalang di balik beberapa kegugurannya yang lalu.

"Oh, astaga... Lihatlah siapa yang baru saja bangun dari maut!" sindir Selir Rose dengan senyum palsu yang memuakkan. Ia menutup hidungnya dengan kipas bulu. "Dan astaga, Permaisuri, kenapa Anda makan seperti rakyat jelata yang kelaparan begitu? Sungguh memalukan nama keluarga kerajaan!"

Alesia menatap wanita di depannya dari bawah sampai atas. Wah, gundik yang ini sok kecakepan bener. Bedaknya tebel amat kayak tembok kelurahan, batin Alesia gemas.

"Lu siapa sih? Datang-datang kaga permisi, malah langsung nyap-nyap kayak burung beo!" semprot Alesia tanpa ragu.

Senyum palsu di wajah Selir Rose langsung luntur seketika. Ia menurunkan kipasnya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa?! Anda tidak mengenali saya, Yang Mulia? Saya Rose! Selir kesayangan Yang Mulia Raja! Apakah keguguran kali ini juga membuat otak Anda ikut rusak?!"

Lily langsung gemetaran di belakang Alesia. "Ma-maafkan Yang Mulia Permaisuri, Selir Rose. Beliau baru saja sadar dan—"

"Heh, Neng Lily! Kaga usah minta maaf sama uler kadut begini!" potong Alesia cepat. Ia bangkit dari duduknya, berkacak pinggang, dan menatap Rose dengan mata menyipit.

"Oh, jadi lu yang namanya mawar merah merona ini? Denger ya, Mba Rose. Lu emang cakep, tapi sayang mulut lu kaga ada saringannya! Lu kate otak gue rusak? Otak gue mah masih tokcer! Otak lu tuh yang geser karena kebanyakan pakai parfum kaga jelas!" balas Alesia ngegas.

Selir Rose melongo. Semua dayang pengiringnya juga ikut melongo. Permaisuri Alessia yang biasanya hanya bisa menangis diam saat disindir, kini mendadak membalas ucapannya dengan bahasa aneh yang sangat kasar.

"Berani sekali Anda bicara seperti itu pada saya! Biar Anda tahu ya, semalam Yang Mulia Raja tidur di kamar saya karena beliau sangat muak melihat rahim Anda yang tidak berguna itu!" ujar Rose mencoba memanasi Alesia.

Alesia justru tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu. "Hahaha! Ya bagus dong! Ambil dah tuh si Bambang kaku! Gue mah kaga rugi! Lu urusin dah tuh suami yang mukanya kaku kayak kanebo kering. Gue mah mending fokus makan enak di sini!"

"Ap... apa?! Anda menyebut Yang Mulia Raja apa tadi?!" Rose semakin syok mendengar panggilan tidak sopan dari mulut permaisuri.

"Udah ah, kaga usah banyak bacot lu di kamar gue. Sekarang mending lu keluar dah sebelum emosi gue naik!" usir Alesia seraya mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.

Merasa harga dirinya diinjak-injak di depan para dayangnya, Selir Rose menjadi gelap mata. Ia maju beberapa langkah dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat untuk menampar wajah Alesia.

"Rasakan ini, wanita tidak bergu—"

HUP!

Belum sempat telapak tangan Rose mendarat di pipi mulus Alesia, pergelangan tangan lentiknya sudah dicengkeram kuat oleh Alesia di udara.

Alesia menyeringai dingin. "Wah, maen fisik nih ceritanya? Lu kaga tahu ya kalau bapak gue itu pawang ular kobra di Depok?!"

"Lepaskan! Sakit! Berani sekali Anda menyentuh saya!" jerit Selir Rose kesakitan saat Alesia meremas pergelangan tangannya makin kuat.

"Ini belum seberapa, Mba Mawar!"

Alesia menarik tangan Rose ke depan, memutar tubuhnya sedikit, dan menggunakan pinggulnya untuk menjegal kaki Selir Rose dengan teknik bantingan silat 'Cikrak Sampah'.

BRUK!

Hanya dalam satu detik, tubuh ramping Selir Rose sudah terbanting keras ke lantai marmer yang dingin dengan posisi telentang konyol.

"AAAAAKH! Pinggangku!" jerit Rose histeris. Kipas bulu indahnya patah menjadi dua, dan tatanan rambutnya yang tinggi langsung acak-acakan menyerupai sarang burung.

"SELIR ROSE!" jerit keempat dayang pengiringnya serentak. Mereka langsung panik mengerubungi selir tersebut.

"Yang Mulia! Anda... Anda banting dia?!" Lily sampai menutup matanya karena terlalu syok dengan aksi barbar ratunya.

Alesia merapikan baju tidurnya dengan santai. Ia berkacak pinggang di depan Selir Rose yang masih mengaduh kesakitan di lantai. "Makanya, kalau kaga jago gelut kaga usah sok jagoan nantangin anak Abah! Itu baru pemanasan ya. Kalau lu berani usik gue lagi, atau berani racunin makanan gue lagi, bakal gue patahin tuh tulang punggung lu sampai kaga bisa goyang lagi! Paham lu?!"

"Anda... Anda gila! Saya akan laporkan ini pada Yang Mulia Raja! Anda melakukan kekerasan fisik pada saya!" ancam Selir Rose dengan air mata yang mulai bercucuran karena menahan nyeri di pinggangnya.

"Laporin aja sono! Paling ntar lakinya pusing sendiri denger aduan lu yang menye-menye itu! Buruan angkat kaki gundik lu dari kamar gue, sebelum gue keluarin jurus tendangan tanpa bayangan nih!" seru Alesia seraya memasang kuda-kuda silat andalannya.

Melihat Alesia yang tampak sangat siap untuk menghajar mereka lagi, para dayang Selir Rose langsung buru-buru memapah majikan mereka yang sudah menangis sesenggukan itu keluar dari kamar dengan sangat tergesa-gesa.

Setelah pintu kamar tertutup kembali (kali ini tidak didobrak, tapi dibanting dari luar oleh dayang yang ketakutan), Alesia langsung menghela napas lega dan kembali duduk di kasur.

"Hah! Beres juga satu hama. Neng Lily, ambilin air putih dong! Seret nih habis banting orang!" pinta Alesia dengan santai seolah baru saja melakukan aktivitas biasa.

Lily mengambilkan segelas air dengan tangan yang masih gemetaran hebat. "Yang Mulia... Anda benar-benar nekat. Selir Rose adalah keponakan dari Perdana Menteri yang sangat berkuasa. Jika Yang Mulia Raja marah karena aduan ini, posisi Anda benar-benar bisa terancam!"

"Halah, kaga usah takut, Neng! Selama ada jurus silat Abah di badan gue, kaga bakal ada yang bisa nyentuh kita sembarangan. Lagian si Mangnus kaku itu juga kayaknya lagi sibuk ngecek dupa beracun yang gue kasih tahu tadi," jawab Alesia percaya diri seraya meneguk air putihnya sampai habis.

Tepat setelah Alesia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki yang berat dan tegas kembali terdengar dari arah lorong luar kamar. Pintu kamar tersebut terbuka lagi dengan perlahan.

Berdiri di sana adalah Raja Magnus, sendirian tanpa pengawal, dengan ekspresi wajah yang sangat sulit diartikan.

Alesia langsung memutar bola matanya malas. Buset dah. Baru juga diomongin, kanebo keringnya beneran dateng lagi! batin Alesia gemas.

Terpopuler

Comments

Aldah Karisa

Aldah Karisa

kok alessia ini Betawi banget rasanya.. 🤣

2026-05-25

0

Muft Smoker

Muft Smoker

ni nama ny permaisuri jaman emansipasi🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟

2026-05-10

0

aditya rian

aditya rian

heh! permaisurinya kaga ada elegannya bener🤣🤣🤣

2026-05-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2 Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3 Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4 Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5 Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6 Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7 Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8 Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9 Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10 Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11 Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12 Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13 Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14 Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15 Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16 Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17 Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18 Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19 Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20 Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21 BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22 Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23 Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24 Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25 Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26 Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27 Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28 BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29 Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30 Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31 Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32 Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33 Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34 Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35 Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36 Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37 Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38 Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39 Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40 Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41 Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42 Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43 Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44 Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45 Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46 Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47 Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48 Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49 Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50 Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51 Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52 Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53 Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54 Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55 Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56 Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57 Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58 Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59 Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60 Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61 Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62 Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63 Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64 Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65 Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66 Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67 Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68 Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69 Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70 Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71 Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72 Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73 Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74 Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75 Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76 Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77 Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78 Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79 Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80 Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81 Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82 Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83 Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84 Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85 Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86 Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87 Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88 Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89 Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90 Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
91 Bab 91: Sirkuit Dewa Perang Dan Kisah Sate Kurcaci
92 Bab 92: Aroma Bawang Goreng Dan Diagnosa Santai Di Teras Sore
93 Bab 93: Festival Tongkol Balado Dan Sabotase Bawang Goreng
94 Bab 94: Misteri Buku Rekor Nenek Dan Tantangan Kawah Hitam
95 Bab 95: Seblak Ceker Mercon Dan Perdamaian Di Balik Meja
96 Bab 96: Razia Daster Dan Ambisi Fashion Faction
97 Bab 97: Kedatangan Madam Vivienne Dan Standar Snob Kota Pusat
98 Bab 98: Arisan Pasar Kaget Dan Operasi Intelijen Emak-emak
99 Bab 99: Demam Pil Koplo Faksi Jelata Dan Dilema Sang Tiran
100 Bab 100: Syukuran Seratus Bab Dan Kelahiran Rekor Baru
101 Bab 101: Tim Inspeksi Pajak Dan Anomali Es Lilin Kuah Rujak
102 Bab 102: Negosiasi Di Atas Ruang Kesehatan Dan Strategi Es Lilin Kedua
103 Bab 103: Jeda Sore, Kreasi Es Kopi, Dan Lamunan Sang Panglima
104 Bab 104: Tantangan Subsidi Dan Debat Apem Klan Peri
105 Bab 105: Sidang Daster Dan Serangan Arisan Perdana
106 Bab 106: Insiden Wajan Bolong Dan Diplomasi Minyak Goreng
107 Bab 107: Huru-Hara Bakwan Kriuk Dan Serbuan Hari H
108 Bab 108: Setoran Bulanan Dan Tragedi Dompet Kulit Naga
109 Bab 109: Operasi Sutra Ghaib Dan Sabun Cuci Kramat
110 Bab 110: Tingkah Pangeran Bumi Dan Ekspedisi Sabun Colek Antar-dimensi
111 Bab 111: Teori Jemuran Quantum Dan Beban Berat Sang Asisten
112 Bab 112: Resep Rahasia Dan Insiden Ketela Rambat
113 Bab 113: Proyek Keripik Siber Dan Rekor Baru Kelas Terasi
114 Bab 114: Jemuran Sutra Terakhir Dan Filosofi Remah Keripik
115 Bab 115: Festival Klan Orc Dan Gelar Baru Maha-Dister
116 Bab 116: Evaluasi Pasca-Festival Dan Ambisi Ember Baru
117 Bab 117: Misi Ember Titanium Dan Debat Parutan Siber
118 Bab 118: Kedatangan Ember Sakti Dan Uji Coba Kelas Berat
119 Bab 119: Pasar Kaget Perbatasan Dan Siasat Kupon Mandiri
120 Bab 120: Daulat Paripurna Sang Maha-dister (BAB TERAKHIR)
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2
Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3
Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4
Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5
Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6
Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7
Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8
Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9
Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10
Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11
Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12
Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13
Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14
Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15
Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16
Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17
Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18
Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19
Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20
Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21
BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22
Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23
Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24
Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25
Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26
Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27
Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28
BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29
Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30
Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31
Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32
Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33
Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34
Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35
Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36
Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37
Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38
Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39
Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40
Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41
Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42
Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43
Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44
Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45
Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46
Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47
Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48
Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49
Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50
Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51
Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52
Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53
Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54
Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55
Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56
Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57
Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58
Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59
Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60
Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61
Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62
Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63
Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64
Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65
Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66
Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67
Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68
Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69
Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70
Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71
Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72
Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73
Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74
Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75
Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76
Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77
Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78
Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79
Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80
Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81
Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82
Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83
Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84
Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85
Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86
Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87
Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88
Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89
Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90
Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
91
Bab 91: Sirkuit Dewa Perang Dan Kisah Sate Kurcaci
92
Bab 92: Aroma Bawang Goreng Dan Diagnosa Santai Di Teras Sore
93
Bab 93: Festival Tongkol Balado Dan Sabotase Bawang Goreng
94
Bab 94: Misteri Buku Rekor Nenek Dan Tantangan Kawah Hitam
95
Bab 95: Seblak Ceker Mercon Dan Perdamaian Di Balik Meja
96
Bab 96: Razia Daster Dan Ambisi Fashion Faction
97
Bab 97: Kedatangan Madam Vivienne Dan Standar Snob Kota Pusat
98
Bab 98: Arisan Pasar Kaget Dan Operasi Intelijen Emak-emak
99
Bab 99: Demam Pil Koplo Faksi Jelata Dan Dilema Sang Tiran
100
Bab 100: Syukuran Seratus Bab Dan Kelahiran Rekor Baru
101
Bab 101: Tim Inspeksi Pajak Dan Anomali Es Lilin Kuah Rujak
102
Bab 102: Negosiasi Di Atas Ruang Kesehatan Dan Strategi Es Lilin Kedua
103
Bab 103: Jeda Sore, Kreasi Es Kopi, Dan Lamunan Sang Panglima
104
Bab 104: Tantangan Subsidi Dan Debat Apem Klan Peri
105
Bab 105: Sidang Daster Dan Serangan Arisan Perdana
106
Bab 106: Insiden Wajan Bolong Dan Diplomasi Minyak Goreng
107
Bab 107: Huru-Hara Bakwan Kriuk Dan Serbuan Hari H
108
Bab 108: Setoran Bulanan Dan Tragedi Dompet Kulit Naga
109
Bab 109: Operasi Sutra Ghaib Dan Sabun Cuci Kramat
110
Bab 110: Tingkah Pangeran Bumi Dan Ekspedisi Sabun Colek Antar-dimensi
111
Bab 111: Teori Jemuran Quantum Dan Beban Berat Sang Asisten
112
Bab 112: Resep Rahasia Dan Insiden Ketela Rambat
113
Bab 113: Proyek Keripik Siber Dan Rekor Baru Kelas Terasi
114
Bab 114: Jemuran Sutra Terakhir Dan Filosofi Remah Keripik
115
Bab 115: Festival Klan Orc Dan Gelar Baru Maha-Dister
116
Bab 116: Evaluasi Pasca-Festival Dan Ambisi Ember Baru
117
Bab 117: Misi Ember Titanium Dan Debat Parutan Siber
118
Bab 118: Kedatangan Ember Sakti Dan Uji Coba Kelas Berat
119
Bab 119: Pasar Kaget Perbatasan Dan Siasat Kupon Mandiri
120
Bab 120: Daulat Paripurna Sang Maha-dister (BAB TERAKHIR)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!