Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur

​Raja Magnus berdiri mematung di ambang pintu. Matanya yang tajam seperti elang menyapu seluruh sudut kamar, lalu berhenti tepat di wajah Alesia yang masih memegang gelas air putih dengan gaya santai—kaki satu diangkat ke atas kursi, persis seperti orang lagi nongkrong di warkop.

​"Baru saja aku berpapasan dengan Rose," suara Magnus berat dan rendah, bergema di ruangan yang mendadak sunyi itu. "Dia menangis histeris sampai suaranya terdengar ke paviliun seberang. Katanya, kau mencoba membunuhnya dengan ilmu hitam?"

​Alesia hampir tersedak air putihnya. Ia meletakkan gelasnya dengan bunyi thud yang keras di meja emas.

​"Ilmu hitam mata lu soak, Bang!" semprot Alesia sambil mengelap bibirnya. "Itu namanya teknik bela diri, Bang Magnus yang ganteng tapi kaku! Dia duluan yang mau nampol gue, ya gue kasih 'hadiah' dikit biar pinggangnya makin aduhai. Lagian, itu cewek lu ya? Bilangin, kalau mau nampar orang, minimal latihan angkat beban dulu biar kaga lembek kayak tahu sisa semalem!"

​Lily yang berdiri di pojokan sudah hampir pingsan. "Yang Mulia Permaisuri... hamba mohon... itu Baginda Raja..." bisiknya dengan suara gemetar.

​Magnus melangkah masuk, menutup pintu besar itu dengan satu tangan. Auranya sangat menekan, membuat Lily buru-buru menunduk dan keluar dari kamar tanpa disuruh. Sekarang, hanya tinggal mereka berdua. Magnus berjalan mendekat, jaraknya kini hanya sejangkauan tangan dari Alesia yang masih duduk dengan pose "barbarnya".

​"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Alessia," ucap Magnus sambil mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Alesia. "Tidak ada Permaisuri di dunia ini yang berani menyebut selir raja sebagai 'tahu sisa semalam', apalagi membantingnya ke lantai marmer sampai pingsan."

​Alesia tidak gentar. Ia justru berdiri, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Bau parfum maskulin Magnus yang segar bercampur aroma kayu cendana sempat membuat hidung Alesia kembang-kempis. Duh, ganteng-ganteng kok galak banget sih nih kanebo kering, batinnya.

​"Ya sekarang ada! Nih, di depan mata lu!" Alesia menunjuk dadanya sendiri dengan jempol. "Denger ya, Bang Magnus. Gue capek dibilang lemah. Gue capek dibilang mesin anak. Mulai sekarang, siapa pun yang naruh tangan di muka gue, bakal gue bikin mereka sujud syukur di ubin. Termasuk lu kalau berani macem-macem!"

​Bukannya marah, Magnus justru merasakan desiran aneh di dadanya. Keberanian Alesia yang meledak-ledak ini jauh lebih menarik daripada Alessia yang dulu, yang selalu bicara dengan nada yang hampir tidak terdengar dan selalu menunduk ketakutan.

​"Soal dupa itu..." Magnus menggantung kalimatnya. Ia merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya yang megah. Sebuah kantong kecil berisi sisa arang dupa yang tadi dibuang Alesia. "Aku sudah menyuruh tabib pribadiku memeriksanya secara rahasia. Dan kau benar. Ada kandungan Akar Darah yang dosisnya sangat tinggi. Itu bisa menyebabkan kontraksi hebat pada wanita hamil jika dihirup terlalu lama."

​Mendengar itu, ekspresi Alesia melunak sedikit, berganti dengan sorot mata tajam penuh dendam. "Nah, kan! Gue bilang juga apa! Lu tuh Raja, Bang. Harusnya lu jagain bini lu, bukan cuma tau beres doang pas mau 'bikin' ahli waris. Lu tau nggak betapa menderitanya 'Alessia' yang dulu? Dia sedih, dia ngerasa gagal, padahal dia cuma korban dari gundik-gundik lu yang haus kuasa!"

​Magnus terpaku. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menusuk hatinya. Selama ini ia memang terlalu fokus pada urusan perbatasan dan politik, menganggap urusan dalam istana adalah hal sepele yang bisa diselesaikan para wanita sendiri.

​"Aku akan menghukum siapa pun pelayan yang membawa dupa itu ke kamarmu," ucap Magnus tegas.

​"Hukum pelayannya doang? Dih, cetek amat pemikiran lu, Bang!" Alesia mencibir sambil berkacak pinggang. "Pelayan mah cuma kacung! Yang punya niat jahat itu majikannya. Lu kudu usut sampai ke akar-akarnya. Kalau perlu, geledah tuh kamar selir-selir lu satu per satu. Pasti ada barang bukti lain!"

​Magnus menghela napas panjang. Ia berjalan menuju ranjang raksasa di tengah ruangan, lalu duduk di pinggirnya dengan angkuh. "Istana tidak sesederhana itu, Alessia. Ada politik di belakang mereka. Perdana Menteri, ayah Rose, adalah pendukung utamaku di dewan."

​"Oalah... jadi lu takut sama mertua lu sendiri? Cemen amat jadi Raja!" Alesia tertawa meremehkan, membuat rahang Magnus mengeras. "Kalau lu takut, ya udah. Biar gue yang turun tangan pakai cara gue sendiri. Tapi jangan salahin gue kalau ntar istana lu ini jadi ring tinju!"

​Magnus tiba-tiba berdiri dan dalam satu gerakan cepat, ia menangkap pinggang Alesia, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Alesia tersentak, tangannya refleks menempel di dada bidang Magnus yang keras seperti batu kali.

​"Kau menantangku, Permaisuri?" bisik Magnus tepat di depan bibir Alesia. Suaranya rendah dan penuh ancaman, tapi matanya menunjukkan ketertarikan yang dalam. "Kau pikir aku selemah itu sampai harus takut pada perdana menteri? Aku hanya butuh waktu untuk mencabut akarnya sampai habis."

​"Waktu, waktu... keburu gue mati diracun lagi kalau nungguin waktu lu!" balas Alesia, meski jantungnya mulai dug-dugan kencang.

​"Mulai malam ini, aku akan tidur di sini," putus Magnus tiba-tiba.

​"APA?!" Alesia melotot sampai matanya mau keluar. "Eh, enak aja! Kagak bisa! Gue lagi masa iddah—eh, maksudnya gue lagi pemulihan! Kagak boleh ada aktivitas produksi dulu! Lagian lu baru dari kamar si Mawar kan?"

​Magnus menyeringai tipis—senyum pertama yang dilihat Alesia di wajah kaku itu. "Siapa yang bilang mau 'produksi'? Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi dupa atau makanan beracun yang masuk ke kamar ini. Aku akan menjagamu sendiri."

​"Nggak usah! Gue bisa jaga diri gue sendiri pakai jurus Golok Seliwa!"

​"Aku tidak menerima penolakan, Alessia. Ini perintah Raja."

​Magnus melepaskan pelukannya, lalu mulai melepas jubah luar dan kancing kemeja atasnya, memperlihatkan bahu lebar dan otot leher yang tercetak jelas. Alesia berdiri mematung di pinggir tempat tidur.

​"Eh, Bang! Lu ngapain buka-buka baju? Ini kamar gue, ya wilayah kedaulatan gue! Lu tidur di sofa sono, atau balik ke kandang mawar lu tadi!" seru Alesia sambil menunjuk sofa beludru di pojok ruangan.

​Magnus menghentikan gerakannya, menoleh dengan satu alis terangkat. "Seluruh jengkal tanah di kerajaan ini adalah milikku, termasuk ranjang ini. Dan kau... adalah istriku yang sah. Kenapa aku harus tidur di sofa?"

​"Istri, istri... Lu baru inget gue istri pas mau tidur doang?" Alesia naik ke atas kasur, duduk bersila di tengah-tengah dengan gaya menantang. "Gak ada! Pokoknya gue kaga mau berbagi kasur sama laki yang kaga ada empati kayak lu! Kalau lu mau tidur di sini, lu kudu lewatin mayat gue dulu!"

​Magnus menatap kaki mungil Alesia yang menghalangi jalannya. "Kau benar-benar bicara seperti orang dari negeri antah berantah. Apa itu 'cemen'? Apa itu 'kanebo'? Dan kenapa kau tidak punya sopan santun sama sekali?"

​"Berisik! Pokoknya jangan lewat batas!" Alesia mengambil bantal, lalu meletakkannya di tengah kasur sebagai pembatas. "Ini namanya garis khatulistiwa. Sebelah sini wilayah Jakarta Barat, sebelah sono wilayah lu. Kalau lu lewat garis tengah, gue tendang lu sampai ke kutub utara!"

​Magnus terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia menangkap pergelangan kaki Alesia. Dengan satu sentakan pelan namun bertenaga, ia menarik Alesia hingga wanita itu terbaring telentang di kasur. Dalam sekejap, Magnus sudah berada di atasnya, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Alesia.

​"Lu... lu mau ngapain, Tong?! Jangan macem-macem ya! Gue teriak nih!" ancam Alesia, meskipun wajahnya sudah merah padam.

​"Berhenti memanggilku dengan sebutan aneh. Dan berhenti melawan suamimu, Alessia," bisik Magnus. Matanya mengunci tatapan Alesia. "Kau pikir jurus 'silat' mu itu bisa mengalahkanku di atas ranjang ini?"

​Alesia menyeringai, insting petarungnya bangkit. "Oh, lu nantangin? Belum tau lu kalau gue udah keluarin jurus 'Pitingan Leher'!"

​Dengan kelincahan luar biasa, Alesia melingkarkan kakinya ke pinggang Magnus dan menggunakan lengannya untuk mengunci leher sang raja. Mereka berguling di atas kasur yang luas itu. Magnus mencoba melepaskan kuncian tangan Alesia yang tak disangka sangat kuat dan teknis.

​"Lepas... kan... Alessia!" Magnus mengerang, setengah kesal setengah takjub karena baru kali ini ada wanita yang berani "bergulat" dengannya.

​"Kagak mau! Lu tidur di sofa dulu, baru gue lepasin!" seru Alesia sambil terus mengunci leher Magnus.

​Akhirnya, Magnus berhasil membalikkan keadaan dengan tenaga besarnya, mengunci kedua tangan Alesia di atas kepala wanita itu. Napas keduanya memburu. Rambut Alesia berantakan, sementara kemeja Magnus sudah hampir copot semua kancingnya.

​"Kau benar-benar gila," ucap Magnus sambil menatap mata Alesia. "Tapi aku akui... kau jauh lebih hidup sekarang. Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini. Aku hanya ingin kau aman."

​Magnus melepaskan kunciannya, lalu berbaring di sisi lain bantal pembatas. Alesia merapikan baju tidurnya sambil mendengus.

​"Awas lu kalau ngorok! Gue sikut ginjal lu ntar!" gumam Alesia sambil menarik selimut.

​Malam itu, untuk pertama kalinya, kamar Permaisuri yang biasanya penuh tangisan berubah menjadi medan pertempuran kecil yang penuh tawa dan amarah. Di balik sikap barbarnya, Alesia tahu... hidupnya di istana ini baru saja dimulai.

Terpopuler

Comments

sasa adzka

sasa adzka

asli sumpah kak aku suka yg bar bar kaya ini MC cewek nya😍😍😍 tdk bisa d tindas 💪

2026-05-31

0

Aldah Karisa

Aldah Karisa

sumpah kocaghh

2026-05-25

0

umie chaby_ba

umie chaby_ba

lucu ....🤣🤣🤣🤣

2026-05-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2 Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3 Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4 Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5 Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6 Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7 Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8 Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9 Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10 Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11 Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12 Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13 Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14 Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15 Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16 Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17 Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18 Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19 Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20 Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21 BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22 Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23 Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24 Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25 Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26 Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27 Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28 BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29 Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30 Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31 Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32 Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33 Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34 Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35 Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36 Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37 Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38 Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39 Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40 Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41 Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42 Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43 Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44 Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45 Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46 Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47 Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48 Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49 Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50 Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51 Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52 Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53 Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54 Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55 Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56 Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57 Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58 Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59 Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60 Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61 Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62 Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63 Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64 Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65 Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66 Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67 Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68 Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69 Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70 Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71 Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72 Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73 Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74 Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75 Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76 Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77 Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78 Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79 Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80 Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81 Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82 Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83 Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84 Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85 Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86 Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87 Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88 Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89 Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90 Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
91 Bab 91: Sirkuit Dewa Perang Dan Kisah Sate Kurcaci
92 Bab 92: Aroma Bawang Goreng Dan Diagnosa Santai Di Teras Sore
93 Bab 93: Festival Tongkol Balado Dan Sabotase Bawang Goreng
94 Bab 94: Misteri Buku Rekor Nenek Dan Tantangan Kawah Hitam
95 Bab 95: Seblak Ceker Mercon Dan Perdamaian Di Balik Meja
96 Bab 96: Razia Daster Dan Ambisi Fashion Faction
97 Bab 97: Kedatangan Madam Vivienne Dan Standar Snob Kota Pusat
98 Bab 98: Arisan Pasar Kaget Dan Operasi Intelijen Emak-emak
99 Bab 99: Demam Pil Koplo Faksi Jelata Dan Dilema Sang Tiran
100 Bab 100: Syukuran Seratus Bab Dan Kelahiran Rekor Baru
101 Bab 101: Tim Inspeksi Pajak Dan Anomali Es Lilin Kuah Rujak
102 Bab 102: Negosiasi Di Atas Ruang Kesehatan Dan Strategi Es Lilin Kedua
103 Bab 103: Jeda Sore, Kreasi Es Kopi, Dan Lamunan Sang Panglima
104 Bab 104: Tantangan Subsidi Dan Debat Apem Klan Peri
105 Bab 105: Sidang Daster Dan Serangan Arisan Perdana
106 Bab 106: Insiden Wajan Bolong Dan Diplomasi Minyak Goreng
107 Bab 107: Huru-Hara Bakwan Kriuk Dan Serbuan Hari H
108 Bab 108: Setoran Bulanan Dan Tragedi Dompet Kulit Naga
109 Bab 109: Operasi Sutra Ghaib Dan Sabun Cuci Kramat
110 Bab 110: Tingkah Pangeran Bumi Dan Ekspedisi Sabun Colek Antar-dimensi
111 Bab 111: Teori Jemuran Quantum Dan Beban Berat Sang Asisten
112 Bab 112: Resep Rahasia Dan Insiden Ketela Rambat
113 Bab 113: Proyek Keripik Siber Dan Rekor Baru Kelas Terasi
114 Bab 114: Jemuran Sutra Terakhir Dan Filosofi Remah Keripik
115 Bab 115: Festival Klan Orc Dan Gelar Baru Maha-Dister
116 Bab 116: Evaluasi Pasca-Festival Dan Ambisi Ember Baru
117 Bab 117: Misi Ember Titanium Dan Debat Parutan Siber
118 Bab 118: Kedatangan Ember Sakti Dan Uji Coba Kelas Berat
119 Bab 119: Pasar Kaget Perbatasan Dan Siasat Kupon Mandiri
120 Bab 120: Daulat Paripurna Sang Maha-dister (BAB TERAKHIR)
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2
Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3
Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4
Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5
Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6
Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7
Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8
Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9
Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10
Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11
Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12
Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13
Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14
Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15
Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16
Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17
Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18
Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19
Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20
Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21
BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22
Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23
Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24
Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25
Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26
Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27
Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28
BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29
Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30
Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31
Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32
Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33
Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34
Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35
Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36
Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37
Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38
Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39
Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40
Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41
Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42
Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43
Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44
Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45
Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46
Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47
Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48
Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49
Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50
Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51
Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52
Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53
Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54
Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55
Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56
Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57
Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58
Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59
Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60
Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61
Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62
Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63
Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64
Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65
Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66
Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67
Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68
Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69
Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70
Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71
Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72
Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73
Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74
Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75
Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76
Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77
Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78
Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79
Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80
Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81
Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82
Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83
Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84
Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85
Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86
Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87
Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88
Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89
Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90
Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
91
Bab 91: Sirkuit Dewa Perang Dan Kisah Sate Kurcaci
92
Bab 92: Aroma Bawang Goreng Dan Diagnosa Santai Di Teras Sore
93
Bab 93: Festival Tongkol Balado Dan Sabotase Bawang Goreng
94
Bab 94: Misteri Buku Rekor Nenek Dan Tantangan Kawah Hitam
95
Bab 95: Seblak Ceker Mercon Dan Perdamaian Di Balik Meja
96
Bab 96: Razia Daster Dan Ambisi Fashion Faction
97
Bab 97: Kedatangan Madam Vivienne Dan Standar Snob Kota Pusat
98
Bab 98: Arisan Pasar Kaget Dan Operasi Intelijen Emak-emak
99
Bab 99: Demam Pil Koplo Faksi Jelata Dan Dilema Sang Tiran
100
Bab 100: Syukuran Seratus Bab Dan Kelahiran Rekor Baru
101
Bab 101: Tim Inspeksi Pajak Dan Anomali Es Lilin Kuah Rujak
102
Bab 102: Negosiasi Di Atas Ruang Kesehatan Dan Strategi Es Lilin Kedua
103
Bab 103: Jeda Sore, Kreasi Es Kopi, Dan Lamunan Sang Panglima
104
Bab 104: Tantangan Subsidi Dan Debat Apem Klan Peri
105
Bab 105: Sidang Daster Dan Serangan Arisan Perdana
106
Bab 106: Insiden Wajan Bolong Dan Diplomasi Minyak Goreng
107
Bab 107: Huru-Hara Bakwan Kriuk Dan Serbuan Hari H
108
Bab 108: Setoran Bulanan Dan Tragedi Dompet Kulit Naga
109
Bab 109: Operasi Sutra Ghaib Dan Sabun Cuci Kramat
110
Bab 110: Tingkah Pangeran Bumi Dan Ekspedisi Sabun Colek Antar-dimensi
111
Bab 111: Teori Jemuran Quantum Dan Beban Berat Sang Asisten
112
Bab 112: Resep Rahasia Dan Insiden Ketela Rambat
113
Bab 113: Proyek Keripik Siber Dan Rekor Baru Kelas Terasi
114
Bab 114: Jemuran Sutra Terakhir Dan Filosofi Remah Keripik
115
Bab 115: Festival Klan Orc Dan Gelar Baru Maha-Dister
116
Bab 116: Evaluasi Pasca-Festival Dan Ambisi Ember Baru
117
Bab 117: Misi Ember Titanium Dan Debat Parutan Siber
118
Bab 118: Kedatangan Ember Sakti Dan Uji Coba Kelas Berat
119
Bab 119: Pasar Kaget Perbatasan Dan Siasat Kupon Mandiri
120
Bab 120: Daulat Paripurna Sang Maha-dister (BAB TERAKHIR)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!