Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah

​Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela kristal besar itu membangunkan Alesia. Ia mengerjap, tangannya secara refleks meraba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Hanya ada bekas lekukan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bau keringat tipis yang entah kenapa tidak bikin mual.

​"Cih, udah kabur si Bambang. Takut gue piting lagi kali ya?" gumam Alesia sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

​"Selamat pagi, Yang Mulia Permaisuri!"

​Alesia hampir saja melompat dari kasur saat melihat Lily sudah berdiri di dekat pintu bersama tiga pelayan lain yang membawa nampan perak.

​"Aduh, Neng Lily! Kaget gue. Kebiasaan deh lu muncul kayak jaelangkung," omel Alesia sambil mengucek matanya. "Si Magnus mana? Udah pergi?"

​"Yang Mulia Raja sudah berangkat ke balai pertemuan sejak fajar, Yang Mulia. Beliau berpesan agar Anda segera sarapan dan... bersiap," jawab Lily dengan nada bicara yang terdengar ragu.

​"Bersiap apaan? Mau diajak jalan-jalan ke Monas versi kerajaan ini?"

​"Bukan, Yang Mulia. Tapi... sarapan Anda sudah siap."

​Alesia melirik nampan yang diletakkan di atas meja. Isinya adalah semangkuk bubur putih pucat yang dihias selembar daun peterseli, sepotong roti tawar yang kerasnya seperti batu bata, dan segelas susu kambing yang baunya prengus.

​Alesia mengerutkan kening. Ia mengambil sendok perak, mencicipi bubur itu sedikit, lalu langsung menyemburkannya kembali ke lantai. Cuih!

​"Ini makanan apa tawas?! Hambar bener kayak janji manis mantan! Nggak ada rasa, nggak ada jiwanya!" protes Alesia kencang.

​"Ma-maaf, Yang Mulia. Itu adalah menu khusus pemulihan pasca keguguran yang disusun oleh Tabib Utama dan diawasi oleh Kepala Pelayan Martha," jelas Lily dengan kepala menunduk.

​"Tabib Utama lagi? Itu orang beneran kudu gue ganti matanya pakai biji kelereng! Masak orang sakit dikasih makanan hambar begini. Yang ada malah makin tipus gue!" Alesia bangkit dari kasur, menyambar jubah tidurnya yang berbahan sutra, lalu mengikatnya asal-asalan layaknya handuk setelah mandi.

​"Yang Mulia! Anda mau ke mana?"

​"Gue mau ke dapur! Gue mau liat siapa yang masak ini sampah. Ini mah kalau dikasih ke kucing di Rawa Belong juga kucingnya bakal demo!"

​"Tapi Yang Mulia, Permaisuri tidak boleh menginjakkan kaki di dapur! Itu melanggar etiket!" jerit Lily panik sambil mengekor di belakang Alesia yang melangkah lebar keluar kamar.

​Alesia tidak peduli. Sepanjang lorong istana yang megah, para pengawal dan pelayan yang berpapasan dengannya langsung mematung. Bagaimana tidak? Sang Permaisuri berjalan dengan langkah tegap, daster sutranya berkibar-ibar, dan wajahnya tertekuk seperti orang mau ngajak tawuran.

​Begitu sampai di pintu dapur kerajaan yang luasnya hampir sebesar lapangan futsal, Alesia langsung menendang pintunya. BRAK!

​"HEI! SIAPA KOKI KEPALA DI SINI?! KELUAR LU!" teriak Alesia menggelegar, membuat puluhan koki dan asistennya menjatuhkan alat masak mereka.

​Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan topi tinggi melangkah maju. Wajahnya penuh lemak dan ekspresinya terlihat sangat tersinggung. "Saya Chef Gustaff, Yang Mulia. Ada apa dengan keributan ini? Dapur adalah area suci saya."

​"Area suci mata lu soak! Ini apa?" Alesia menyodorkan mangkuk bubur yang ia bawa. "Ini bubur apa lem kayu? Kenapa hambar bener? Lu kaga punya garem? Apa lu korupsi duit bumbu?"

​Chef Gustaff mendengus remeh. "Itu adalah standar nutrisi kerajaan untuk wanita lemah yang gagal menjaga kandungannya. Rasa yang kuat hanya akan merusak keseimbangan cairan tubuh Anda."

​Darah Alesia mendidih. "Wanita lemah? Lu bilang gue lemah?! Denger ya, Gustaff... atau siapa pun nama lu. Gue ini anak jawara. Makanan itu adalah bahan bakar buat petarung. Kalau bahan bakarnya busuk begini, gimana mau sehat?!"

​"Saya hanya menerima perintah dari Tabib Utama dan Selir Agung," sahut Gustaff angkuh.

​"Oalah... jadi lu antek-anteknya gundik itu juga?" Alesia menyingsingkan lengan bajunya. "Geser lu! Biar gue yang masak sendiri!"

​"Apa?! Anda mau memasak? Jangan konyol, Yang Mulia. Tangan halus Anda tidak akan bisa memegang pisau dapur kami yang berat," ejek Gustaff disertai tawa kecil para asistennya.

​Alesia menyeringai tipis. Ia berjalan ke arah talenan besar, mengambil sebuah pisau daging yang sangat besar dan berat. Dengan gerakan kilat, ia memutar pisau itu di sela jarinya—teknik permainan golok yang diajarkan Abahnya—lalu JLEB! Pisau itu tertancap dalam di meja kayu tepat satu senti dari jari tangan Gustaff.

​Tawa di dapur itu langsung lenyap. Gustaff gemetaran, wajahnya pucat pasi.

​"Eh, denger ya. Lu kaga tau siapa gue? Gue bisa nyincang bawang secepat gue nyincang musuh gue," desis Alesia. "Lily! Cariin gue bawang merah, bawang putih, cabai yang paling pedas, garem, sama terasi kalau ada!"

​"Ter... terasi apa, Yang Mulia?" tanya Lily bingung.

​"Ah, udahlah, cari bumbu yang baunya menyengat tapi enak! Cepetan!"

​Selama satu jam berikutnya, dapur kerajaan berubah menjadi medan pertunjukan. Alesia bergerak lincah. Ia mengulek bumbu dengan gerakan bertenaga, tumisannya menimbulkan aroma harum yang luar biasa kuat—sesuatu yang belum pernah tercium di istana yang biasanya hanya mencium aroma mentega dan kaldu hambar.

​"Ini namanya Sambal Korek Ayam Suwir!" seru Alesia sambil mengoseng daging ayam di atas wajan besar. "Dan ini, sayur bening bayam pakai kunci, biar seger!"

​Aroma pedas dan gurih itu merayap keluar dapur, melewati lorong-lorong, hingga mencapai hidung Raja Magnus yang sedang berjalan menuju ruang makan bersama beberapa menteri dan Jenderal perang.

​"Aroma apa ini? Sangat menyengat tapi membuat lapar," tanya Jenderal Alaric, seorang pria tua yang gagah.

​Magnus mengernyit. "Aromanya datang dari arah dapur. Mari kita lihat."

​Begitu mereka sampai di dapur, pemandangan yang tersaji membuat semua menteri melongo. Sang Permaisuri sedang berdiri di depan tungku besar, wajahnya sedikit cemong karena jelaga, rambutnya diikat asal ke atas, dan ia sedang asyik mencicipi masakan dari sutil kayu.

​"Nah, ini baru namanya makanan! Gurihnya dapet, pedesnya nampol!" ujar Alesia puas.

​"Alessia!" suara bariton Magnus menginterupsi.

​Alesia menoleh, sutil masih di tangan. "Eh, Bang Magnus! Pas bener lu dateng. Sini, sini! Cobain nih masakan bini lu. Lu pasti bosen kan tiap hari makan makanan yang rasanya kayak kertas basah?"

​Magnus mendekat dengan wajah kaku, diikuti para menteri yang ketakutan. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau memegang pisau? Kau memasak? Ini benar-benar tidak pantas!"

​"Pantas atau kaga, yang penting perut kenyang, hati senang!" Alesia mengambil piring kecil, meletakkan sesuap nasi dan ayam suwir pedasnya, lalu menyodorkannya ke depan mulut Magnus. "Ayo, buka mulut. Aaaa... jangan malu-malu, kayak perawan mau lamaran aja lu!"

​Para menteri menutup mata. Berani sekali wanita ini menyuapi Raja dengan cara sekasar itu!

​Magnus sempat ragu melihat cabai merah yang melimpah di piring itu. Namun, aroma yang menggoda mengalahkan logikanya. Ia membuka mulut dan menerima suapan Alesia.

​Seketika, mata Magnus melebar. Sensasi panas merayap di lidahnya, diikuti ledakan rasa gurih dan segar yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena marah, tapi karena rasa makanan itu benar-benar "membangunkan" indranya.

​"Bagaimana? Mantap kan?" tanya Alesia bangga.

​"Ini... sangat pedas. Tapi... kenapa aku ingin lagi?" gumam Magnus jujur.

​"Itu namanya kenikmatan hakiki, Bang!" Alesia kemudian menoleh ke arah Chef Gustaff yang masih mematung. "Denger lu, Gendut! Mulai besok, menu gue harus ada rasanya. Kalau gue dikasih bubur tawas lagi, pisau ini bukan mampir di meja, tapi mampir di kumis lu! Paham?!"

​Gustaff langsung sujud syukur. "Pa-paham, Yang Mulia!"

​Alesia kembali menatap Magnus yang masih sibuk mengelap bibirnya karena kepedasan. "Tuh kan, Bang. Hidup itu butuh bumbu. Sama kayak hubungan kita, kalau kaku mulu ya hambar. Sekarang, gue mau makan di taman. Lu mau ikut kagak? Tapi inget, makannya pakai tangan ya, biar lebih afdhal!"

​Magnus menatap Jenderal Alaric dan para menteri yang menahan tawa, lalu kembali menatap istrinya yang barbar namun tampak sangat cantik dengan keringat di dahinya.

​"Baiklah. Aku akan menemanimu," jawab Magnus pelan, yang langsung membuat seisi dapur geger. Raja Magnus, sang penguasa dingin, mau makan di taman dengan cara lesehan?

​"Nah, gitu dong! Ayo, Lily, bawa bakul nasinya! Kita gelar tiker di taman!" seru Alesia riang sambil menarik tangan Magnus, tidak peduli dengan protokoler kerajaan yang sudah ia injak-injak hari itu.

​Namun di sudut bayangan dapur, seorang pelayan kepercayaan Selir Rose mengamati semuanya dengan tatapan benci. Ia segera pergi untuk melaporkan bahwa sang Permaisuri kini bukan hanya punya jurus bela diri, tapi juga punya cara baru untuk "menyihir" lidah sang Raja.

Terpopuler

Comments

Neng Alifa

Neng Alifa

Et dahh 🤭

2026-06-22

1

Dede Bleher

Dede Bleher

🤣🤣🤣
hebaat kau Thor

2026-06-09

0

Aldah Karisa

Aldah Karisa

bacanya pengen ketawa mulu

2026-05-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2 Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3 Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4 Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5 Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6 Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7 Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8 Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9 Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10 Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11 Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12 Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13 Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14 Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15 Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16 Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17 Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18 Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19 Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20 Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21 BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22 Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23 Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24 Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25 Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26 Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27 Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28 BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29 Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30 Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31 Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32 Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33 Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34 Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35 Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36 Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37 Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38 Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39 Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40 Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41 Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42 Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43 Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44 Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45 Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46 Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47 Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48 Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49 Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50 Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51 Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52 Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53 Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54 Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55 Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56 Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57 Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58 Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59 Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60 Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61 Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62 Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63 Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64 Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65 Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66 Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67 Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68 Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69 Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70 Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71 Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72 Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73 Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74 Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75 Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76 Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77 Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78 Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79 Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80 Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81 Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82 Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83 Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84 Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85 Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86 Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87 Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88 Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89 Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90 Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
91 Bab 91: Sirkuit Dewa Perang Dan Kisah Sate Kurcaci
92 Bab 92: Aroma Bawang Goreng Dan Diagnosa Santai Di Teras Sore
93 Bab 93: Festival Tongkol Balado Dan Sabotase Bawang Goreng
94 Bab 94: Misteri Buku Rekor Nenek Dan Tantangan Kawah Hitam
95 Bab 95: Seblak Ceker Mercon Dan Perdamaian Di Balik Meja
96 Bab 96: Razia Daster Dan Ambisi Fashion Faction
97 Bab 97: Kedatangan Madam Vivienne Dan Standar Snob Kota Pusat
98 Bab 98: Arisan Pasar Kaget Dan Operasi Intelijen Emak-emak
99 Bab 99: Demam Pil Koplo Faksi Jelata Dan Dilema Sang Tiran
100 Bab 100: Syukuran Seratus Bab Dan Kelahiran Rekor Baru
101 Bab 101: Tim Inspeksi Pajak Dan Anomali Es Lilin Kuah Rujak
102 Bab 102: Negosiasi Di Atas Ruang Kesehatan Dan Strategi Es Lilin Kedua
103 Bab 103: Jeda Sore, Kreasi Es Kopi, Dan Lamunan Sang Panglima
104 Bab 104: Tantangan Subsidi Dan Debat Apem Klan Peri
105 Bab 105: Sidang Daster Dan Serangan Arisan Perdana
106 Bab 106: Insiden Wajan Bolong Dan Diplomasi Minyak Goreng
107 Bab 107: Huru-Hara Bakwan Kriuk Dan Serbuan Hari H
108 Bab 108: Setoran Bulanan Dan Tragedi Dompet Kulit Naga
109 Bab 109: Operasi Sutra Ghaib Dan Sabun Cuci Kramat
110 Bab 110: Tingkah Pangeran Bumi Dan Ekspedisi Sabun Colek Antar-dimensi
111 Bab 111: Teori Jemuran Quantum Dan Beban Berat Sang Asisten
112 Bab 112: Resep Rahasia Dan Insiden Ketela Rambat
113 Bab 113: Proyek Keripik Siber Dan Rekor Baru Kelas Terasi
114 Bab 114: Jemuran Sutra Terakhir Dan Filosofi Remah Keripik
115 Bab 115: Festival Klan Orc Dan Gelar Baru Maha-Dister
116 Bab 116: Evaluasi Pasca-Festival Dan Ambisi Ember Baru
117 Bab 117: Misi Ember Titanium Dan Debat Parutan Siber
118 Bab 118: Kedatangan Ember Sakti Dan Uji Coba Kelas Berat
119 Bab 119: Pasar Kaget Perbatasan Dan Siasat Kupon Mandiri
120 Bab 120: Daulat Paripurna Sang Maha-dister (BAB TERAKHIR)
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1: Mending Reinkarnasi Jadi Orang Kaya, Lah Ini Jadi Mesin Cetak Batako!
2
Bab 2: Jurus 'cikrak Sampah' Untuk Selir Licik
3
Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
4
Bab 4: Revolusi Lidah Dan Demo Masak Anak Abah
5
Bab 5: Diplomasi Sambal Korek Dan Tiker Sembahyang
6
Bab 6: Menantu Idaman Rawa Belong Vs Ibu Suri
7
Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
8
Bab 8: Pengadilan "Santet" Dan Logika Anak Depok
9
Bab 9: Modus Sang Raja Dan Duel Darah Panas
10
Bab 10: Drama Jurang Dan Pahlawan Kesiangan
11
Bab 11: Obat Merah, Salep, Dan Jantung Yang Diskotik
12
Bab 12: Anggur Harum Tapi Maut Dan Indra Penciuman Anak Depok
13
Bab 13: Badai Di Paviliun Mawar Dan Sikap Tegas Sang Raja
14
Bab 14: Nasi Goreng Jawara Dan Sisi Manis Sang Raja Dingin
15
Bab 15: Pijat Saraf Dan Salam Perpisahan Untuk Sang Jenderal
16
Bab 16: Silat Seliwa Dan Dongeng Dari Negeri Depok
17
Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
18
Bab 18: Cermin Kebenaran Dan Teriakan Dari Depok
19
Bab 19: Tamu Dari Masa Lalu Dan Sinyal Perang Perempuan
20
Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
21
BAB 21: RACUN DALAM MANISAN DAN SUMPAH DI BAWAH REMBULAN
22
Bab 22: Penyamaran Di Pasar Kerak Neraka
23
Bab 23: Logika Depok Vs Fitnah Iblis
24
Bab 24: Mission Impossible: Operasi Air Bersih
25
Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
26
Bab 26: Gerilya Di Lembah Kabut
27
Bab 27: Proklamasi Jiwa Dan Titik Didih Orizon
28
BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA
29
Bab 29: Sisa Asap Dan Rencana Nasi Liwet
30
Bab 30: Pasir Putih Dan Goyang Rakyat Jelata
31
Bab 31: Pesan Dalam Botol Dan Misteri Pulau Tanpa Nama
32
Bab 32: Tanda Di Pergelangan Tangan
33
Bab 33: Frekuensi Anti-galau
34
Bab 34: Teknologi Para Dewa Atau Hanya "Wi-fi" Yang Hilang?
35
Bab 35: Sesak Napas Di Ruang Hampa
36
Bab 36: Badai Dan Intrik Sang Anak Angkat
37
Bab 37: Pengadilan Lidah Bercabang
38
Bab 38: Gema Khianat Di Balik Festival
39
Bab 39: Memori Yang Memudar Dan Ritual Kegelapan
40
Bab 40: Pilihan Sang Permaisuri: Mahkota Atau Pulang?
41
Bab 41: Kurikulum Terasi Dan Revolusi Papan Tulis
42
Bab 42: Guru Dari Masa Lalu Dan Kelas Yang Semrawut
43
Bab 43: Sepupu Jauh Dari Kampung Seberang
44
Bab 44: Burung Dewa Yang Mengeluarkan Api
45
Bab 45: Kebenaran Yang Menyengat Lebih Dari Terasi
46
Bab 46: Inspektur Seksi Dan Bau-bau Asap Cemburu
47
Bab 47: Obat Cinta Dan Ember Penyelamat
48
Bab 48: Ketika Penggaris Berubah Jadi Popor Senjata
49
Bab 49: Badai Pasir Dan Besi Raksasa
50
Bab 50: Pesan Dari Masa Depan Yang Terbelah
51
Bab 51: Layang-layang Petir Dan Sengatan Dari Langit
52
Bab 52: Revolusi Micin Dan Keajaiban Bungkus Kuning
53
Bab 53: Mata-mata Yang Salah Cara Pegang Garpu
54
Bab 54: Eksoskeleton Dan Hujan Bambu Ledak
55
Bab 55: Suara Dari Masa Depan Yang Paling Dekat
56
Bab 56: Duel Dua Darah Di Bawah Langit Yang Pecah
57
Bab 57: Teh Anget Depok Dan Rekonsiliasi Keluarga
58
Bab 58: Sebuah Rencana Balas Dendam Beraroma Baja
59
Bab 59: Benturan Logam Dan Ambisi Yang Terlalu Tinggi
60
Bab 60: Detik-detik Keheningan Yang Mematikan
61
Bab 61: Tumpengan, Micin, Dan Tagihan Rakyat
62
Bab 62: Negosiasi Internal Dan Kotak Putih Di Laci Mandi
63
Bab 63: Geger Istana Dan Zirah Bayi Pertama Di Dunia
64
Bab 64: Rujak Asam Pedas Dan Ramalan Tiga Bulan Bulat
65
Bab 65: Tidur Berjalan Dan Sendok Terbang
66
Bab 66: Perut Semalam Dan Utusan Dari Kerajaan Pusat
67
Bab 67: Hujatan Sang Utusan Dan Amukan Daster Mega Mendung
68
Bab 68: Kontraksi Minggu Kedua Dan Radar Yang Meledak
69
Bab 69: Seblak Ceker Mana Level Setan Dan Paradox Indrawi
70
Bab 70: Artefak Bulan Darah Dan Pertahanan Terakhir
71
Bab 71: Hari Yang Dinanti Dan Kepanikan Antar-dimensi
72
Bab 72: Bumi Arka Magnus Dan Sendok-sendok Yang Tersesat
73
Bab 73: Desas-Desus Kota Pusat Dan Golok Yang Diasah
74
Bab 74: Penyusup Bayang Dan Setruman Jemuran Batik
75
Bab 75: Racun Kafein Dan Detektif Dapur Orizon
76
Bab 76: Pusaran Air Hangat Dan Serbuan Gua Barat
77
Bab 77: Kolom Air Ajaib Dan Putri Dari Selatan
78
Bab 78: Panah Beracun Spasial Dan Aksi Penyelamatan Sang Mayor
79
Bab 79: Bersin Sang Pangeran Dan Daun Perak Yang Bergetar
80
Bab 80: Popok Anti-radiasi Dan Redupnya Cahaya Bumi
81
Bab 81: Popok Yang Membara Dan Badai Di Bukit Tengkorak
82
Bab 82: Bakso Urat Depok Dan Material Makcomblang
83
Bab 83: Zirah Dewa Perang Dan Kedatangan Sang Tyrant
84
Bab 84: Sensor Dimensi Kantong Dan Akhir Sang Dewa Perang
85
Bab 85: Piagam Putih Dan Balap Karung Eps-omega
86
Bab 86: Kunjungan Mertua Gaib Dan Operasi Bersih-bersih Paviliun
87
Bab 87: Stroller Terbang Kelas Dewa Dan Insiden Overdrive Siber
88
Bab 88: Kain Jarik Legendaris Dan Kilau Akik Sang Pengembara
89
Bab 89: Marabunta Utara Dan Palu Tempa Tradisional
90
Bab 90: Madu Lebah Ratu Mistis Dan Operasi Sarang Raksasa
91
Bab 91: Sirkuit Dewa Perang Dan Kisah Sate Kurcaci
92
Bab 92: Aroma Bawang Goreng Dan Diagnosa Santai Di Teras Sore
93
Bab 93: Festival Tongkol Balado Dan Sabotase Bawang Goreng
94
Bab 94: Misteri Buku Rekor Nenek Dan Tantangan Kawah Hitam
95
Bab 95: Seblak Ceker Mercon Dan Perdamaian Di Balik Meja
96
Bab 96: Razia Daster Dan Ambisi Fashion Faction
97
Bab 97: Kedatangan Madam Vivienne Dan Standar Snob Kota Pusat
98
Bab 98: Arisan Pasar Kaget Dan Operasi Intelijen Emak-emak
99
Bab 99: Demam Pil Koplo Faksi Jelata Dan Dilema Sang Tiran
100
Bab 100: Syukuran Seratus Bab Dan Kelahiran Rekor Baru
101
Bab 101: Tim Inspeksi Pajak Dan Anomali Es Lilin Kuah Rujak
102
Bab 102: Negosiasi Di Atas Ruang Kesehatan Dan Strategi Es Lilin Kedua
103
Bab 103: Jeda Sore, Kreasi Es Kopi, Dan Lamunan Sang Panglima
104
Bab 104: Tantangan Subsidi Dan Debat Apem Klan Peri
105
Bab 105: Sidang Daster Dan Serangan Arisan Perdana
106
Bab 106: Insiden Wajan Bolong Dan Diplomasi Minyak Goreng
107
Bab 107: Huru-Hara Bakwan Kriuk Dan Serbuan Hari H
108
Bab 108: Setoran Bulanan Dan Tragedi Dompet Kulit Naga
109
Bab 109: Operasi Sutra Ghaib Dan Sabun Cuci Kramat
110
Bab 110: Tingkah Pangeran Bumi Dan Ekspedisi Sabun Colek Antar-dimensi
111
Bab 111: Teori Jemuran Quantum Dan Beban Berat Sang Asisten
112
Bab 112: Resep Rahasia Dan Insiden Ketela Rambat
113
Bab 113: Proyek Keripik Siber Dan Rekor Baru Kelas Terasi
114
Bab 114: Jemuran Sutra Terakhir Dan Filosofi Remah Keripik
115
Bab 115: Festival Klan Orc Dan Gelar Baru Maha-Dister
116
Bab 116: Evaluasi Pasca-Festival Dan Ambisi Ember Baru
117
Bab 117: Misi Ember Titanium Dan Debat Parutan Siber
118
Bab 118: Kedatangan Ember Sakti Dan Uji Coba Kelas Berat
119
Bab 119: Pasar Kaget Perbatasan Dan Siasat Kupon Mandiri
120
Bab 120: Daulat Paripurna Sang Maha-dister (BAB TERAKHIR)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!