Restu Yang Ditarik Kembali

​Sisa kehangatan dari mesin mobil Revan yang menjauh sudah lama menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap masuk melalui celah ventilasi. Adila masih berdiri mematung di ruang kerja, menatap meja yang kini berantakan dengan sisa kepanikan suaminya. Jarum jam di dinding berdetak dengan suara yang seolah mengejek kesunyian hatinya. Pukul satu dini hari. Jam di mana seharusnya seorang istri beristirahat di pelukan suaminya, bukan berdiri meratapi nafkah yang terbelah.

​Adila menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang masih tercecer. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di samping buku anatomi. Pikirannya buntu, namun hatinya mendesak untuk mencari kepastian. Hanya ada satu orang yang selama sepuluh tahun ini ia anggap sebagai ibu kedua, orang yang selalu membanggakannya sebagai menantu teladan.

​Ibu mertuanya.

​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Adila mencari kontak bernama Mama Revan. Ia ragu sejenak. Apakah pantas menghubungi orang tua di jam seperti ini? Namun, mengingat Revan mengatakan bahwa ini semua adalah atas saran ibunya, Adila merasa perlu mendengar kebenarannya secara langsung.

​Sambungan telepon itu berdering lama. Adila hampir saja menutupnya ketika suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar di ujung sana.

​"Halo? Revan? Ada apa malam-malam begini, Nak?" suara Mama Revan terdengar khawatir.

​"Ini Adila, Ma. Maaf mengganggu waktu istirahat Mama," bisik Adila pelan, karena biasanya memang Revan yang menghubungi Mama nya malam-malam makanya Mama nya tidak melihat siapa yang menelpon.

​Hening sejenak. Suara di seberang sana berubah, kehilangan nada khawatir yang tadi ditujukan untuk Revan. "Oh, Adila. Ada apa? Revan mana? Kenapa kamu yang menelepon pakai jam begini?"

​Adila menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Mas Revan baru saja pergi ke rumah Meisya, Ma. Katanya Meisya sedang kram perut dan butuh dibawa ke rumah sakit."

​"Ya ampun! Kasihan sekali Meisya," sahut Mama Revan seketika, suaranya kini terdengar segar dan penuh simpati simpati yang tidak Adila rasakan untuk dirinya sendiri. "Untung Revan sigap. Meisya itu sendirian, Dila. Kasihan janin di rahimnya kalau Meisya stres atau kelelahan."

​Adila memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh. "Mah... tadi Mas Revan bilang kalau Mama yang menyarankan dia untuk memberikan setengah uang bulanan kami untuk Meisya. Apa itu benar, Mah?"

​Ada jeda yang cukup lama sebelum mertuanya menjawab. Ketika suara itu kembali, nadanya berubah menjadi lebih tegas, hampir seperti sedang mengajarinya sebuah pelajaran hidup.

​"Dila, dengar Mama. Kamu itu perempuan pintar, calon dokter. Kamu mandiri, punya uang sendiri dari hasil tulisanmu. Kamu tidak akan kekurangan hanya karena uang belanja dipotong sedikit. Tapi Meisya? Dia tidak punya siapa-siapa. Dia tidak berpendidikan setinggi kamu. Dia hanya punya Revan sebagai tumpuan."

​"Tapi Mah, Adila ini istrinya. Adila punya hak atas nafkah itu untuk biaya kuliah yang semakin mahal. Kenapa harus hak Adila yang dikurangi demi wanita lain yang bahkan bukan keluarga kita?" suara Adila mulai bergetar karena emosi.

​"Bukan keluarga? Meisya itu sudah seperti anak buat Mama! Dulu orang tuanya banyak membantu Mama saat kita sedang susah," suara mertuanya mulai meninggi. "Lagipula, Dila... kamu sudah sepuluh tahun menikah dengan Revan.

Berapa umurmu sekarang? Tiga puluh dua? Dan sampai sekarang, kamu belum juga memberikan Revan keturunan. Kamu terlalu sibuk dengan ambisimu menjadi dokter, sibuk koas, sibuk belajar, sampai lupa kewajiban utamamu sebagai istri."

​Kalimat itu menghujam jantung Adila lebih dalam dari sembilu. "Mha, kami sudah berusaha. Mama tahu itu bukan sepenuhnya salah Adila—"

​"Cukup, Dila. Meisya sekarang sedang hamil. Meskipun itu bukan anak Revan, setidaknya dengan membantu Meisya, Revan bisa merasakan bagaimana rasanya menjaga seorang wanita hamil. Siapa tahu, dengan kebaikan Revan pada Meisya, Tuhan akan luluh dan memberimu keturunan. Tapi untuk sekarang, Mama minta kamu mengalah. Jangan egois. Jangan buat Revan pusing dengan keluhanmu soal uang. Kamu itu sudah punya segalanya, berbagilah sedikit pada yang lemah."

​Klik.

​Sambungan telepon diputus sepihak. Adila menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Egois? Berbagi?

Kata-kata itu terasa begitu ironis. Ia yang selama sepuluh tahun ini menghemat demi cicilan rumah, ia yang jarang membeli baju baru demi membantu tabungan masa depan mereka, kini disebut egois karena mempertanyakan haknya yang dirampas.

​Adila berjalan gontai menuju dapur, mencari air putih untuk membasuh rasa pahit di mulutnya. Di sana, ia melihat Bi Ijah yang rupanya belum tidur, sedang duduk di kursi dapur dengan wajah cemas.

​"Non... Non tidak apa-apa?" tanya Bi Ijah lirih.

​Adila hanya menggeleng pelan, ia duduk di hadapan wanita tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu. "Bi... apa menjadi kuat itu salah? Apa karena aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri, aku jadi tidak berhak untuk dilindungi?"

​Bi Ijah mengusap tangan Adila dengan kasih sayang. "Tidak ada yang salah dengan menjadi kuat, Non. Yang salah adalah orang-orang yang memanfaatkan kekuatan Non untuk menutupi kelemahan mereka sendiri. Non harus ingat, Non itu calon dokter. Masa depan Non cerah. Jangan biarkan mereka memadamkan cahaya Non."

​Adila terdiam, merenungi kata-kata Bi Ijah. Di tengah pengkhianatan suaminya dan penolakan mertuanya, dukungan dari seorang asisten rumah tangga justru terasa lebih tulus. Namun, kenyataan pahit tetap harus ia hadapi. Besok pagi, ia harus tetap pergi ke rumah sakit, menghadapi pasien, belajar anatomi, dan berpura-pura bahwa dunianya baik-baik saja.

​Ia kembali ke kamar, namun matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Setiap kali ia menutup mata, ia membayangkan Revan sedang menggenggam tangan Meisya di rumah sakit, memberikan kata-kata penenang yang seharusnya menjadi miliknya. Ia membayangkan Revan mengusap perut Meisya dengan penuh kasih sayang, sebuah kasih sayang yang selama sepuluh tahun ini ia dambakan namun belum kunjung hadir secara nyata dalam bentuk janin.

​Pukul empat pagi, suara mobil terdengar memasuki garasi. Adila menegang di bawah selimutnya. Ia mendengar langkah kaki suaminya yang berat menaiki tangga, lalu pintu kamar terbuka pelan. Revan masuk dengan aroma rumah sakit yang kuat, wajahnya nampak sangat letih namun ada binar lega di matanya.

​Revan mendekati tempat tidur, melihat Adila yang memunggunginya. Ia tidak tahu bahwa Adila sedang terjaga dengan air mata yang membasahi bantal.

​"Dila, kamu sudah bangun?" bisik Revan pelan.

​Adila tidak bergerak. Ia memilih untuk tetap berpura-pura tidur. Ia belum siap menghadapi wajah laki-laki itu sekarang.

​"Untung tadi aku cepat sampai, Dila. Meisya dan bayinya selamat. Dia hanya kelelahan," gumam Revan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Ibu benar, dia benar-benar butuh perlindungan."

​Mendengar itu, Adila meremas ujung selimutnya erat-erat. Rasa sakit itu kini bukan lagi sekadar luka, tapi mulai berubah menjadi api kecil yang membakar sisa-sisa cintanya. Di dalam kegelapan kamar itu, Adila bersumpah pada dirinya sendiri. Jika restu itu sudah ditarik kembali, jika perlindungan itu sudah dialihkan, maka ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja.

​Ia akan menyelesaikan pendidikannya. Ia akan menjadi dokter yang hebat. Dan suatu saat nanti, ketika ia sudah berdiri di puncaknya sendiri tanpa bantuan siapapun, ia akan menunjukkan pada Revan dan ibunya bahwa wanita yang mereka sebut kuat ini bisa hidup jauh lebih bahagia tanpa sisa-sisa kasih sayang mereka yang telah terbagi.

​Malam itu berakhir dengan Adila yang tetap terdiam dalam tangis tanpa suara, sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya, memimpikan keselamatan wanita lain dan janin yang bukan miliknya.

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

Menolak sih boleh boleh saja..tapi tidak dengan cara mengurangi jatah untuk rumah tangga...itu namanya egois...

2026-08-25

0

Evi Goenharto

Evi Goenharto

knp laki2 itu pd bego ya...walau ga semua, tp kalo liat yg lembut2, manja, bahenol gampang bgt trgoda

2026-08-24

0

falea sezi

falea sezi

10 tahun g hamil. mandul kahh

2026-05-20

1

lihat semua
Episodes
1 Restu Yang Ditarik Kembali
2 Restu Yang Ditarik Kembali
3 Restu Yang Ditarik Kembali
4 Restu Yang Ditarik Kembali
5 Restu Yang Ditarik Kembali
6 Restu Yang Ditarik Kembali
7 Restu Yang Ditarik Kembali
8 Restu Yang Ditarik Kembali
9 9. Restu Yang Ditarik Kembali
10 Restu Yang Ditarik Kembali
11 Restu Yang Ditarik Kembali
12 Restu Yang Ditarik Kembali
13 Restu Yang Ditarik Kembali
14 Restu Yang Ditarik Kembali
15 Restu Yang Ditarik Kembali
16 Restu Yang Ditarik Kembali
17 Restu Yang Ditarik Kembali
18 Restu Yang Ditarik Kembali
19 Restu Yang Ditarik Kembali
20 Restu Yang Ditarik Kembali
21 Restu Yang Ditarik Kembali
22 Restu Yang Ditarik Kembali
23 Restu Yang Ditarik Kembali
24 Restu Yang Ditarik Kembali
25 Restu Yang Ditarik Kembali
26 Restu Yang Ditarik Kembali
27 Restu Yang Ditarik Kembali
28 Restu Yang Ditarik Kembali
29 Restu Yang Ditarik Kembali
30 Restu Yang Ditarik Kembali
31 Restu Yang Ditarik Kembali
32 Restu Yang Ditarik Kembali
33 Restu Yang Ditarik Kembali
34 Restu Yang Ditarik Kembali
35 Restu Yang Ditarik Kembali
36 Restu Yang Ditarik Kembali
37 Restu Yang Ditarik Kembali
38 Restu Yang Ditarik Kembali
39 Restu Yang Ditarik Kembali
40 Restu Yang Ditarik Kembali
41 Restu Yang Ditarik Kembali
42 Restu Yang Ditarik Kembali
43 Restu Yang Ditarik Kembali
44 Restu Yang Ditarik Kembali
45 Restu Yang Ditarik Kembali
46 Restu Yang Ditarik Kembali
47 Restu Yang Ditarik Kembali
48 Restu Yang Ditarik Kembali
49 Restu Yang Ditarik Kembali
50 Restu Yang Ditarik Kembali
51 Restu Yang Ditarik Kembali
52 Restu Yang Ditarik Kembali
53 Restu Yang Ditarik Kembali
54 Restu Yang Ditarik Kembali
55 Restu Yang Ditarik Kembali
56 Restu Yang Ditarik Kembali
57 Restu Yang Ditarik Kembali
58 Restu Yang Ditarik Kembali
59 Restu Yang Ditarik Kembali
60 Restu Yang Ditarik Kembali
61 Restu Yang Ditarik Kembali
62 Restu Yang Ditarik Kembali
63 Restu Yang Ditarik Kembali
64 Restu Yang Ditarik Kembali
65 Restu Yang Ditarik Kembali
66 Restu Yang Ditarik Kembali
67 Restu Yang Ditarik Kembali
68 Restu Yang Ditarik Kembali
69 Restu Yang Ditarik Kembali
70 Restu Yang Ditarik Kembali
71 Restu Yang Ditarik Kembali
72 Restu Yang Ditarik Kembali
73 Restu Yang Ditarik Kembali
74 Restu Yang Ditarik Kembali
75 Restu Yang Ditarik Kembali
76 Restu Yang Ditarik Kembali
77 Restu Yang Ditarik Kembali
78 Restu Yang Ditarik Kembali
79 Restu Yang Ditarik Kembali
80 Restu Yang Ditarik Kembali
81 Restu Yang Ditarik Kembali
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Restu Yang Ditarik Kembali
2
Restu Yang Ditarik Kembali
3
Restu Yang Ditarik Kembali
4
Restu Yang Ditarik Kembali
5
Restu Yang Ditarik Kembali
6
Restu Yang Ditarik Kembali
7
Restu Yang Ditarik Kembali
8
Restu Yang Ditarik Kembali
9
9. Restu Yang Ditarik Kembali
10
Restu Yang Ditarik Kembali
11
Restu Yang Ditarik Kembali
12
Restu Yang Ditarik Kembali
13
Restu Yang Ditarik Kembali
14
Restu Yang Ditarik Kembali
15
Restu Yang Ditarik Kembali
16
Restu Yang Ditarik Kembali
17
Restu Yang Ditarik Kembali
18
Restu Yang Ditarik Kembali
19
Restu Yang Ditarik Kembali
20
Restu Yang Ditarik Kembali
21
Restu Yang Ditarik Kembali
22
Restu Yang Ditarik Kembali
23
Restu Yang Ditarik Kembali
24
Restu Yang Ditarik Kembali
25
Restu Yang Ditarik Kembali
26
Restu Yang Ditarik Kembali
27
Restu Yang Ditarik Kembali
28
Restu Yang Ditarik Kembali
29
Restu Yang Ditarik Kembali
30
Restu Yang Ditarik Kembali
31
Restu Yang Ditarik Kembali
32
Restu Yang Ditarik Kembali
33
Restu Yang Ditarik Kembali
34
Restu Yang Ditarik Kembali
35
Restu Yang Ditarik Kembali
36
Restu Yang Ditarik Kembali
37
Restu Yang Ditarik Kembali
38
Restu Yang Ditarik Kembali
39
Restu Yang Ditarik Kembali
40
Restu Yang Ditarik Kembali
41
Restu Yang Ditarik Kembali
42
Restu Yang Ditarik Kembali
43
Restu Yang Ditarik Kembali
44
Restu Yang Ditarik Kembali
45
Restu Yang Ditarik Kembali
46
Restu Yang Ditarik Kembali
47
Restu Yang Ditarik Kembali
48
Restu Yang Ditarik Kembali
49
Restu Yang Ditarik Kembali
50
Restu Yang Ditarik Kembali
51
Restu Yang Ditarik Kembali
52
Restu Yang Ditarik Kembali
53
Restu Yang Ditarik Kembali
54
Restu Yang Ditarik Kembali
55
Restu Yang Ditarik Kembali
56
Restu Yang Ditarik Kembali
57
Restu Yang Ditarik Kembali
58
Restu Yang Ditarik Kembali
59
Restu Yang Ditarik Kembali
60
Restu Yang Ditarik Kembali
61
Restu Yang Ditarik Kembali
62
Restu Yang Ditarik Kembali
63
Restu Yang Ditarik Kembali
64
Restu Yang Ditarik Kembali
65
Restu Yang Ditarik Kembali
66
Restu Yang Ditarik Kembali
67
Restu Yang Ditarik Kembali
68
Restu Yang Ditarik Kembali
69
Restu Yang Ditarik Kembali
70
Restu Yang Ditarik Kembali
71
Restu Yang Ditarik Kembali
72
Restu Yang Ditarik Kembali
73
Restu Yang Ditarik Kembali
74
Restu Yang Ditarik Kembali
75
Restu Yang Ditarik Kembali
76
Restu Yang Ditarik Kembali
77
Restu Yang Ditarik Kembali
78
Restu Yang Ditarik Kembali
79
Restu Yang Ditarik Kembali
80
Restu Yang Ditarik Kembali
81
Restu Yang Ditarik Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!