Restu Yang Ditarik Kembali

​Bau antiseptik yang tajam menyambut Adila begitu ia melangkah memasuki lobi rumah sakit pendidikan tempatnya menempuh koas. Baginya, aroma ini biasanya terasa mencekik, namun pagi ini, bau obat-obatan dan pembersih lantai itu justru terasa seperti udara segar yang menyelamatkannya dari sesaknya udara di rumah tadi. Di sini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati atau menantu yang disudutkan. Di sini, ia adalah Adila, calon dokter yang memiliki tanggung jawab besar atas nyawa orang lain.

​Adila segera menuju ruang ganti, mengenakan jas putih kebanggaannya dengan gerakan cepat. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang buram. Matanya masih sembab, namun ia memulas sedikit bedak dan lipstik tipis untuk menyamarkan luka yang masih basah.

​"Fokus, Dila. Fokus," bisiknya pada diri sendiri.

​Hari itu, jadwal Adila benar-benar padat. Ia seolah-olah sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan status pasien dan jadwal visite dokter spesialis. Ia berlari dari satu bangsal ke bangsal lain, memeriksa tanda-tanda vital, mengganti perban, hingga membantu tindakan kecil di ruang gawat darurat. Setiap kali pikirannya mulai melayang pada wajah Revan yang marah atau suara mertuanya yang menghina, Adila segera mengalihkannya dengan membaca ulang dosis obat atau istilah-istilah medis yang rumit.

​Pekerjaan adalah pelarian terbaiknya. Saat ia sibuk menjelaskan kondisi pasien kepada keluarganya, ia lupa bahwa rumah tangganya sendiri sedang berada di ruang ICU. Saat ia sibuk mendengarkan detak jantung pasien dengan stetoskopnya, ia bisa mengabaikan detak jantungnya sendiri yang masih terasa nyeri.

​Namun, tubuh manusia punya batas. Menjelang jam istirahat siang, kaki Adila mulai terasa lemas. Setelah lima jam berdiri tanpa henti, ia akhirnya menyerah pada rasa lapar dan lelah yang mulai menggerogoti.

​Adila berjalan gontai menuju kantin rumah sakit yang bising. Di pojok ruangan, ia melihat dua sahabat karibnya, Maya dan Sari, yang juga sedang menempuh koas di departemen yang berbeda. Mereka sudah duduk dengan nampan makanan masing-masing.

​"Dila! Di sini!" lambaian tangan Maya membuat Adila mendekat.

​Adila duduk dengan lemas, ia bahkan tidak berniat memesan makanan berat. Ia hanya membeli sebotol air mineral dan segelas kopi hitam tanpa gula pahit, seperti suasana hatinya.

​"Kamu kenapa, Dil? Wajahmu pucat sekali. Kamu jaga malam lagi semalam?" tanya Sari khawatir sambil meletakkan garpunya.

​Adila menggeleng pelan, ia mencoba tersenyum, namun senyum itu justru nampak seperti rintihan. Ia hanya menatap botol air mineral di tangannya tanpa minat untuk membukanya.

​Maya, yang sudah mengenal Adila sejak semester pertama kuliah, menyipitkan mata. Ia tahu ada yang tidak beres. "Jangan bohong ya, Dila. Kamu itu kalau stres biasanya paling rajin kerja, tapi matamu tidak bisa bohong. Kamu habis menangis?"

​Pertanyaan sederhana itu seperti jarum yang menusuk balon berisi air.

Pertahanan yang dibangun Adila sejak pagi tadi runtuh seketika. Bahunya mulai bergetar, dan air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga, menetes jatuh ke atas meja kantin yang kusam.

​"Hei, kenapa? Ada apa?" Maya dan Sari segera bergeser duduk mendekati Adila, mencoba menghalangi pandangan orang-orang di kantin dari sahabat mereka yang sedang hancur.

​Adila menutup wajahnya dengan kedua tangan, isaknya pecah meski ia mencoba menahannya agar tidak bersuara keras. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana... Mas Revan... dia berubah."

​Dengan suara yang terputus-putus, Adila akhirnya menumpahkan segalanya. Ia menceritakan tentang pemotongan nafkah yang dilakukan sepihak demi Meisya.

Ia menceritakan tentang alasan Revan yang menganggapnya terlalu kuat untuk dibela. Dan yang paling menyakitkan, ia menceritakan bagaimana ibu mertuanya menyindirnya soal rahim yang masih kosong sebagai alasan mengapa ia tidak pantas diprioritaskan.

​Maya dan Sari mendengarkan dengan wajah yang memerah karena geram. Sari bahkan hampir menggebrak meja saat mendengar bagian tentang mertua Adila.

​"Gila! Itu sudah keterlaluan, Dil!" desis Sari tajam. "Hanya karena Meisya hamil, bukan berarti dia bisa merampas hakmu! Lagipula itu kan bukan anak Revan!"

​"Mas Revan bilang ini soal kemanusiaan," bisik Adila sambil menyeka air mata dengan ujung jas putihnya. "Dia bilang aku egois karena menuntut uang sekolahku sendiri di saat orang lain sedang susah. Dia bilang... mungkin aku belum pantas jadi ibu karena hatiku keras."

​Maya memegang tangan Adila erat-erat. "Dengar aku, Adila. Kamu bukan egois. Kamu menuntut hakmu sebagai istri sah. Dan soal anak... itu urusan Tuhan, bukan hak mereka untuk menghakimimu seperti itu. Kamu calon dokter, kamu tahu benar secara medis bagaimana proses itu bekerja. Jangan biarkan kata-kata picik mereka merusak mentalmu."

​"Aku merasa sendirian di rumah itu, May. Seolah-olah sepuluh tahun pengabdianku tidak ada harganya dibanding air mata Meisya yang baru muncul sebulan ini," Adila menatap sahabat-sahabatnya dengan pandangan kosong.

"Aku sudah pergi dari rumah pagi tadi tanpa pamit. Aku tidak tahu harus pulang ke mana nanti sore."

​"Jangan pulang ke sana dulu kalau kamu belum siap," ujar Maya tegas. "Kamu bisa menginap di tempatku. Kita harus fokus untuk ujian bedah minggu depan. Jangan biarkan drama suamimu menghancurkan gelar yang tinggal selangkah lagi kamu raih."

​Adila menarik napas panjang, merasa sedikit lebih ringan setelah membagikan beban yang menyesakkan dadanya. Meski masalahnya belum selesai, setidaknya ia tahu ia tidak benar-benar sendirian. Di balik jas putih ini, ada luka yang lebar, namun ada juga dukungan yang kuat dari sahabat-sahabat yang menghargai perjuangannya.

​"Terima kasih ya... aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kalian," ucap Adila tulus.

​"Sama-sama, Calon Dokter Spesialis!" Sari mencoba mencairkan suasana. "Sekarang, minum airmu dan makanlah sedikit. Kita masih punya daftar pasien panjang yang harus diperiksa setelah ini. Jangan sampai kamu pingsan dan malah jadi pasien di sini."

​Adila tersenyum kecil, kali ini senyumnya terasa sedikit lebih nyata. Ia membuka botol minumnya, bersiap kembali ke medan tempur di bangsal rumah sakit, dengan satu janji pada dirinya sendiri: ia akan tetap tegak, demi dirinya, demi mimpinya, dan demi setiap pasien yang membutuhkannya meskipun hatinya sendiri sedang hancur berkeping-keping.

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

mengejar. karir makanya g hamil🤣

2026-05-20

0

lihat semua
Episodes
1 Restu Yang Ditarik Kembali
2 Restu Yang Ditarik Kembali
3 Restu Yang Ditarik Kembali
4 Restu Yang Ditarik Kembali
5 Restu Yang Ditarik Kembali
6 Restu Yang Ditarik Kembali
7 Restu Yang Ditarik Kembali
8 Restu Yang Ditarik Kembali
9 9. Restu Yang Ditarik Kembali
10 Restu Yang Ditarik Kembali
11 Restu Yang Ditarik Kembali
12 Restu Yang Ditarik Kembali
13 Restu Yang Ditarik Kembali
14 Restu Yang Ditarik Kembali
15 Restu Yang Ditarik Kembali
16 Restu Yang Ditarik Kembali
17 Restu Yang Ditarik Kembali
18 Restu Yang Ditarik Kembali
19 Restu Yang Ditarik Kembali
20 Restu Yang Ditarik Kembali
21 Restu Yang Ditarik Kembali
22 Restu Yang Ditarik Kembali
23 Restu Yang Ditarik Kembali
24 Restu Yang Ditarik Kembali
25 Restu Yang Ditarik Kembali
26 Restu Yang Ditarik Kembali
27 Restu Yang Ditarik Kembali
28 Restu Yang Ditarik Kembali
29 Restu Yang Ditarik Kembali
30 Restu Yang Ditarik Kembali
31 Restu Yang Ditarik Kembali
32 Restu Yang Ditarik Kembali
33 Restu Yang Ditarik Kembali
34 Restu Yang Ditarik Kembali
35 Restu Yang Ditarik Kembali
36 Restu Yang Ditarik Kembali
37 Restu Yang Ditarik Kembali
38 Restu Yang Ditarik Kembali
39 Restu Yang Ditarik Kembali
40 Restu Yang Ditarik Kembali
41 Restu Yang Ditarik Kembali
42 Restu Yang Ditarik Kembali
43 Restu Yang Ditarik Kembali
44 Restu Yang Ditarik Kembali
45 Restu Yang Ditarik Kembali
46 Restu Yang Ditarik Kembali
47 Restu Yang Ditarik Kembali
48 Restu Yang Ditarik Kembali
49 Restu Yang Ditarik Kembali
50 Restu Yang Ditarik Kembali
51 Restu Yang Ditarik Kembali
52 Restu Yang Ditarik Kembali
53 Restu Yang Ditarik Kembali
54 Restu Yang Ditarik Kembali
55 Restu Yang Ditarik Kembali
56 Restu Yang Ditarik Kembali
57 Restu Yang Ditarik Kembali
58 Restu Yang Ditarik Kembali
59 Restu Yang Ditarik Kembali
60 Restu Yang Ditarik Kembali
61 Restu Yang Ditarik Kembali
62 Restu Yang Ditarik Kembali
63 Restu Yang Ditarik Kembali
64 Restu Yang Ditarik Kembali
65 Restu Yang Ditarik Kembali
66 Restu Yang Ditarik Kembali
67 Restu Yang Ditarik Kembali
68 Restu Yang Ditarik Kembali
69 Restu Yang Ditarik Kembali
70 Restu Yang Ditarik Kembali
71 Restu Yang Ditarik Kembali
72 Restu Yang Ditarik Kembali
73 Restu Yang Ditarik Kembali
74 Restu Yang Ditarik Kembali
75 Restu Yang Ditarik Kembali
76 Restu Yang Ditarik Kembali
77 Restu Yang Ditarik Kembali
78 Restu Yang Ditarik Kembali
79 Restu Yang Ditarik Kembali
80 Restu Yang Ditarik Kembali
81 Restu Yang Ditarik Kembali
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Restu Yang Ditarik Kembali
2
Restu Yang Ditarik Kembali
3
Restu Yang Ditarik Kembali
4
Restu Yang Ditarik Kembali
5
Restu Yang Ditarik Kembali
6
Restu Yang Ditarik Kembali
7
Restu Yang Ditarik Kembali
8
Restu Yang Ditarik Kembali
9
9. Restu Yang Ditarik Kembali
10
Restu Yang Ditarik Kembali
11
Restu Yang Ditarik Kembali
12
Restu Yang Ditarik Kembali
13
Restu Yang Ditarik Kembali
14
Restu Yang Ditarik Kembali
15
Restu Yang Ditarik Kembali
16
Restu Yang Ditarik Kembali
17
Restu Yang Ditarik Kembali
18
Restu Yang Ditarik Kembali
19
Restu Yang Ditarik Kembali
20
Restu Yang Ditarik Kembali
21
Restu Yang Ditarik Kembali
22
Restu Yang Ditarik Kembali
23
Restu Yang Ditarik Kembali
24
Restu Yang Ditarik Kembali
25
Restu Yang Ditarik Kembali
26
Restu Yang Ditarik Kembali
27
Restu Yang Ditarik Kembali
28
Restu Yang Ditarik Kembali
29
Restu Yang Ditarik Kembali
30
Restu Yang Ditarik Kembali
31
Restu Yang Ditarik Kembali
32
Restu Yang Ditarik Kembali
33
Restu Yang Ditarik Kembali
34
Restu Yang Ditarik Kembali
35
Restu Yang Ditarik Kembali
36
Restu Yang Ditarik Kembali
37
Restu Yang Ditarik Kembali
38
Restu Yang Ditarik Kembali
39
Restu Yang Ditarik Kembali
40
Restu Yang Ditarik Kembali
41
Restu Yang Ditarik Kembali
42
Restu Yang Ditarik Kembali
43
Restu Yang Ditarik Kembali
44
Restu Yang Ditarik Kembali
45
Restu Yang Ditarik Kembali
46
Restu Yang Ditarik Kembali
47
Restu Yang Ditarik Kembali
48
Restu Yang Ditarik Kembali
49
Restu Yang Ditarik Kembali
50
Restu Yang Ditarik Kembali
51
Restu Yang Ditarik Kembali
52
Restu Yang Ditarik Kembali
53
Restu Yang Ditarik Kembali
54
Restu Yang Ditarik Kembali
55
Restu Yang Ditarik Kembali
56
Restu Yang Ditarik Kembali
57
Restu Yang Ditarik Kembali
58
Restu Yang Ditarik Kembali
59
Restu Yang Ditarik Kembali
60
Restu Yang Ditarik Kembali
61
Restu Yang Ditarik Kembali
62
Restu Yang Ditarik Kembali
63
Restu Yang Ditarik Kembali
64
Restu Yang Ditarik Kembali
65
Restu Yang Ditarik Kembali
66
Restu Yang Ditarik Kembali
67
Restu Yang Ditarik Kembali
68
Restu Yang Ditarik Kembali
69
Restu Yang Ditarik Kembali
70
Restu Yang Ditarik Kembali
71
Restu Yang Ditarik Kembali
72
Restu Yang Ditarik Kembali
73
Restu Yang Ditarik Kembali
74
Restu Yang Ditarik Kembali
75
Restu Yang Ditarik Kembali
76
Restu Yang Ditarik Kembali
77
Restu Yang Ditarik Kembali
78
Restu Yang Ditarik Kembali
79
Restu Yang Ditarik Kembali
80
Restu Yang Ditarik Kembali
81
Restu Yang Ditarik Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!