Restu Yang Ditarik Kembali

​Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden ruang makan biasanya menjadi tanda dimulainya kehangatan di rumah ini. Bau roti panggang, aroma kopi yang pekat, dan obrolan ringan tentang jadwal masing-masing selalu menjadi pengantar hari yang menyenangkan bagi Adila. Namun pagi ini, semua itu terasa seperti dekorasi panggung yang palsu.

​Adila duduk di kursi makannya dengan punggung tegak, namun tatapannya kosong menatap piring di depannya. Di atas piring itu hanya ada selembar roti gandum tanpa selai yang bahkan belum disentuhnya sama sekali. Di seberangnya, Revan duduk dengan kemeja kantor yang sudah rapi, namun wajahnya nampak keruh. Ia sesekali melirik Adila dengan tatapan yang tajam, seolah sedang menahan rentetan kalimat yang sudah di ujung lidah.

​Bi Ijah datang membawakan teko berisi air panas, melirik cemas ke arah kedua majikannya yang saling bungkam. Suasana di ruang makan itu begitu berat, seolah oksigen di sana baru saja disedot habis.

​"Silakan diminum tehnya, Mas, Non," ucap Bi Ijah lirih sebelum buru-buru kembali ke dapur.

​Revan menyesap tehnya dengan kasar, lalu meletakkan cangkir itu hingga menimbulkan bunyi denting yang nyaring di atas meja kaca. "Tadi malam Mama meneleponku lagi setelah kamu menutup teleponnya, Dila," ucap Revan membuka suara. Nadanya dingin, penuh dengan nada menyindir yang tidak ditutup-tutupi.

​Adila tidak bergeming. Ia masih menatap rotinya.

​"Mama bilang kamu protes soal uang itu? Kamu bahkan berdebat dengan Mama soal apa yang seharusnya aku lakukan pada uangku sendiri?" Revan melanjutkan, suaranya naik satu oktav. "Aku tidak menyangka, Dila. Sepuluh tahun kita menikah, ternyata di balik sikap manismu, kamu punya sifat yang sangat perhitungan. Kamu bahkan tega membuat orang tua ku sendiri merasa bersalah hanya karena urusan angka."

​Adila akhirnya mendongak. Matanya yang merah dan sembab menatap lurus ke arah laki-laki yang dulu berjanji akan menjaganya itu. "Perhitungan? Mas, apa kamu sadar siapa yang sedang kamu bela sekarang? Aku istrimu. Aku bukan orang asing yang sedang meminta sedekah padamu. Aku menuntut apa yang sudah menjadi kesepakatan kita."

​Revan tertawa sumbang, sebuah tawa yang merendahkan. "Kesepakatan? Kesepakatan itu dibuat saat kondisi normal. Sekarang Meisya sedang hamil dan dia butuh bantuan. Kamu tahu kan kalau dia tidak punya siapa-siapa? Sementara kamu? Kamu punya karier yang sedang kamu rintis, kamu punya tabungan, kamu punya segalanya. Kenapa kamu jadi sekikir ini?"

​"Aku bukan kikir, Mas! Aku hanya ingin dihargai sebagai istrimu! Kamu memberikan uang itu pada wanita lain tanpa diskusi denganku lebih dulu. Kamu memotong biaya sekolahku, Mas!"

​"Sekolah? Kamu selalu saja bicara soal sekolah!" Revan menggebrak meja, membuat sendok di samping piring Adila bergeming. "Ambisi doktermu itu sudah membuatmu buta hati. Kamu terlalu sibuk mengejar gelar sampai kamu lupa bagaimana caranya menjadi manusia yang punya empati. Pantas saja Mama bilang kamu itu egois. Mama benar, mungkin karena kamu terlalu fokus pada dirimu sendiri, Tuhan sampai sekarang belum menitipkan anak di rahimmu.

Mungkin kamu memang belum pantas menjadi ibu kalau hatimu saja sekeras ini pada anak Meisya."

​Deg.

​Dunia Adila seolah runtuh saat itu juga. Kalimat itu adalah serangan paling rendah yang pernah dilontarkan Revan selama sepuluh tahun ini. Revan tahu betapa Adila menangis setiap kali datang bulan, betapa Adila diam-diam mengonsumsi vitamin dan rutin cek ke dokter kandungan sendirian di sela jadwal koasnya yang padat. Dan sekarang, suaminya menggunakan titik terlemahnya untuk membela wanita lain.

​Rasa sakit itu begitu hebat hingga Adila bahkan tidak bisa menangis lagi. Ia merasa seolah ada sesuatu yang mati di dalam dadanya. Api cintanya yang selama ini ia jaga dengan susah payah, padam seketika disiram oleh kebencian suaminya sendiri.

​Adila berdiri perlahan. Kursinya berderit pelan di atas lantai marmer. Ia tidak membalas teriakan Revan. Ia tidak lagi ingin berdebat. Baginya, kata-kata Revan barusan sudah menjadi titik akhir dari segala upaya negosiasinya.

​"Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara!" bentak Revan.

​Adila tetap diam. Ia berjalan menuju lantai atas, masuk ke dalam kamar dan mengambil tas kerjanya. Ia tidak membawa banyak barang, hanya peralatan medisnya, buku referensi yang ia butuhkan, dan beberapa dokumen penting miliknya sendiri. Ia menatap cermin sejenak, melihat wajah wanita yang tampak hancur namun memiliki binar tekad yang mulai menyala di matanya.

​Adila turun kembali ke bawah. Revan masih berdiri di ruang makan dengan napas yang memburu, nampak terkejut melihat Adila sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan tas di bahu.

​"Dila, jangan coba-coba pergi kalau aku sedang bicara! Kita harus selesaikan masalah ini!"

​Adila melewati ruang makan tanpa menoleh sedikit pun. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, bahkan tidak untuk berpamitan. Langkah kakinya terdengar mantap menuju pintu utama.

​"Adila! Kamu dengar aku tidak?!" teriak Revan dari dalam.

​Brak.

​Suara pintu utama yang tertutup dengan tegas menjadi jawaban Adila. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan segera meluncur keluar dari gerbang rumah yang selama ini ia anggap sebagai surga. Di spion tengah, ia bisa melihat Revan keluar ke teras dengan wajah penuh amarah, namun Adila tidak peduli lagi.

​Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Adila hanya menatap lurus ke depan. Pikirannya tidak lagi tertuju pada Revan, tidak lagi pada Meisya, dan tidak lagi pada mertuanya yang picik. Ia memikirkan tentang ujian bedah yang harus ia hadapi minggu depan. Ia memikirkan tentang pasien-pasien yang menunggunya.

​Ia sadar, satu-satunya hal yang tidak akan mengkhianatinya adalah ilmu dan kemampuannya sendiri. Jika restu manusia sudah ditarik kembali, maka ia akan mencari restu dari kerja kerasnya sendiri. Mulai detik ini, Adila bukan lagi istri yang memohon-mohon perhatian. Ia adalah calon dokter yang akan mengambil alih kendali hidupnya sendiri, meski harus dimulai dengan berjalan dalam diam di tengah badai yang paling sunyi.

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

Sifat mertua dan suami yang sudah tidak sejalan ...gak usah dipertahankan lagi..

2026-08-25

1

Yati Syahira

Yati Syahira

keluar dri lingkaran setan dila

2026-08-23

1

Tamirah

Tamirah

Keluar dari rumah itu tindakan yg tepat toh suami dan mertua sdh gak resfek padamu.pikirkan masa depan' mu, perkataan bibik dirumah mu itu benar masa depan mua akan bersinar.

2026-06-08

3

lihat semua
Episodes
1 Restu Yang Ditarik Kembali
2 Restu Yang Ditarik Kembali
3 Restu Yang Ditarik Kembali
4 Restu Yang Ditarik Kembali
5 Restu Yang Ditarik Kembali
6 Restu Yang Ditarik Kembali
7 Restu Yang Ditarik Kembali
8 Restu Yang Ditarik Kembali
9 9. Restu Yang Ditarik Kembali
10 Restu Yang Ditarik Kembali
11 Restu Yang Ditarik Kembali
12 Restu Yang Ditarik Kembali
13 Restu Yang Ditarik Kembali
14 Restu Yang Ditarik Kembali
15 Restu Yang Ditarik Kembali
16 Restu Yang Ditarik Kembali
17 Restu Yang Ditarik Kembali
18 Restu Yang Ditarik Kembali
19 Restu Yang Ditarik Kembali
20 Restu Yang Ditarik Kembali
21 Restu Yang Ditarik Kembali
22 Restu Yang Ditarik Kembali
23 Restu Yang Ditarik Kembali
24 Restu Yang Ditarik Kembali
25 Restu Yang Ditarik Kembali
26 Restu Yang Ditarik Kembali
27 Restu Yang Ditarik Kembali
28 Restu Yang Ditarik Kembali
29 Restu Yang Ditarik Kembali
30 Restu Yang Ditarik Kembali
31 Restu Yang Ditarik Kembali
32 Restu Yang Ditarik Kembali
33 Restu Yang Ditarik Kembali
34 Restu Yang Ditarik Kembali
35 Restu Yang Ditarik Kembali
36 Restu Yang Ditarik Kembali
37 Restu Yang Ditarik Kembali
38 Restu Yang Ditarik Kembali
39 Restu Yang Ditarik Kembali
40 Restu Yang Ditarik Kembali
41 Restu Yang Ditarik Kembali
42 Restu Yang Ditarik Kembali
43 Restu Yang Ditarik Kembali
44 Restu Yang Ditarik Kembali
45 Restu Yang Ditarik Kembali
46 Restu Yang Ditarik Kembali
47 Restu Yang Ditarik Kembali
48 Restu Yang Ditarik Kembali
49 Restu Yang Ditarik Kembali
50 Restu Yang Ditarik Kembali
51 Restu Yang Ditarik Kembali
52 Restu Yang Ditarik Kembali
53 Restu Yang Ditarik Kembali
54 Restu Yang Ditarik Kembali
55 Restu Yang Ditarik Kembali
56 Restu Yang Ditarik Kembali
57 Restu Yang Ditarik Kembali
58 Restu Yang Ditarik Kembali
59 Restu Yang Ditarik Kembali
60 Restu Yang Ditarik Kembali
61 Restu Yang Ditarik Kembali
62 Restu Yang Ditarik Kembali
63 Restu Yang Ditarik Kembali
64 Restu Yang Ditarik Kembali
65 Restu Yang Ditarik Kembali
66 Restu Yang Ditarik Kembali
67 Restu Yang Ditarik Kembali
68 Restu Yang Ditarik Kembali
69 Restu Yang Ditarik Kembali
70 Restu Yang Ditarik Kembali
71 Restu Yang Ditarik Kembali
72 Restu Yang Ditarik Kembali
73 Restu Yang Ditarik Kembali
74 Restu Yang Ditarik Kembali
75 Restu Yang Ditarik Kembali
76 Restu Yang Ditarik Kembali
77 Restu Yang Ditarik Kembali
78 Restu Yang Ditarik Kembali
79 Restu Yang Ditarik Kembali
80 Restu Yang Ditarik Kembali
81 Restu Yang Ditarik Kembali
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Restu Yang Ditarik Kembali
2
Restu Yang Ditarik Kembali
3
Restu Yang Ditarik Kembali
4
Restu Yang Ditarik Kembali
5
Restu Yang Ditarik Kembali
6
Restu Yang Ditarik Kembali
7
Restu Yang Ditarik Kembali
8
Restu Yang Ditarik Kembali
9
9. Restu Yang Ditarik Kembali
10
Restu Yang Ditarik Kembali
11
Restu Yang Ditarik Kembali
12
Restu Yang Ditarik Kembali
13
Restu Yang Ditarik Kembali
14
Restu Yang Ditarik Kembali
15
Restu Yang Ditarik Kembali
16
Restu Yang Ditarik Kembali
17
Restu Yang Ditarik Kembali
18
Restu Yang Ditarik Kembali
19
Restu Yang Ditarik Kembali
20
Restu Yang Ditarik Kembali
21
Restu Yang Ditarik Kembali
22
Restu Yang Ditarik Kembali
23
Restu Yang Ditarik Kembali
24
Restu Yang Ditarik Kembali
25
Restu Yang Ditarik Kembali
26
Restu Yang Ditarik Kembali
27
Restu Yang Ditarik Kembali
28
Restu Yang Ditarik Kembali
29
Restu Yang Ditarik Kembali
30
Restu Yang Ditarik Kembali
31
Restu Yang Ditarik Kembali
32
Restu Yang Ditarik Kembali
33
Restu Yang Ditarik Kembali
34
Restu Yang Ditarik Kembali
35
Restu Yang Ditarik Kembali
36
Restu Yang Ditarik Kembali
37
Restu Yang Ditarik Kembali
38
Restu Yang Ditarik Kembali
39
Restu Yang Ditarik Kembali
40
Restu Yang Ditarik Kembali
41
Restu Yang Ditarik Kembali
42
Restu Yang Ditarik Kembali
43
Restu Yang Ditarik Kembali
44
Restu Yang Ditarik Kembali
45
Restu Yang Ditarik Kembali
46
Restu Yang Ditarik Kembali
47
Restu Yang Ditarik Kembali
48
Restu Yang Ditarik Kembali
49
Restu Yang Ditarik Kembali
50
Restu Yang Ditarik Kembali
51
Restu Yang Ditarik Kembali
52
Restu Yang Ditarik Kembali
53
Restu Yang Ditarik Kembali
54
Restu Yang Ditarik Kembali
55
Restu Yang Ditarik Kembali
56
Restu Yang Ditarik Kembali
57
Restu Yang Ditarik Kembali
58
Restu Yang Ditarik Kembali
59
Restu Yang Ditarik Kembali
60
Restu Yang Ditarik Kembali
61
Restu Yang Ditarik Kembali
62
Restu Yang Ditarik Kembali
63
Restu Yang Ditarik Kembali
64
Restu Yang Ditarik Kembali
65
Restu Yang Ditarik Kembali
66
Restu Yang Ditarik Kembali
67
Restu Yang Ditarik Kembali
68
Restu Yang Ditarik Kembali
69
Restu Yang Ditarik Kembali
70
Restu Yang Ditarik Kembali
71
Restu Yang Ditarik Kembali
72
Restu Yang Ditarik Kembali
73
Restu Yang Ditarik Kembali
74
Restu Yang Ditarik Kembali
75
Restu Yang Ditarik Kembali
76
Restu Yang Ditarik Kembali
77
Restu Yang Ditarik Kembali
78
Restu Yang Ditarik Kembali
79
Restu Yang Ditarik Kembali
80
Restu Yang Ditarik Kembali
81
Restu Yang Ditarik Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!