Restu Yang Ditarik Kembali

​Lampu-lampu jalanan mulai menyala, membiaskan cahaya jingga di atas aspal yang masih basah. Adila mengendarai mobilnya dengan perlahan memasuki kompleks perumahan elite tempat ia tinggal. Kepalanya berdenyut, efek dari tekanan pekerjaan di rumah sakit dan beban pikiran yang tak kunjung usai. Ia sempat ragu untuk pulang, namun ia sadar, melarikan diri bukanlah gaya seorang Adila. Ia harus menghadapi Revan, ia harus menegaskan posisinya.

​Namun, begitu mobilnya berbelok memasuki pekarangan rumah, jantung Adila seolah berhenti berdetak. Ada tiga mobil tambahan terparkir rapi di sana. Mobil mertuanya, dan satu mobil yang sangat ia kenal sebagai milik adik iparnya.

​"Ada acara apa?" bisik Adila pada kemudi yang ia genggam erat.

​Adila turun dari mobil dengan langkah yang terasa berat. Suara tawa dan obrolan hangat terdengar hingga ke teras depan. Begitu ia membuka pintu utama, sebuah pemandangan yang menghancurkan hatinya tersaji tepat di depan mata.

​Di ruang tamu yang biasanya tenang, kini ramai. Ada Mama dan Papa mertuanya, juga adik Revan, sedang duduk melingkar di sofa. Dan di tengah-tengah mereka, duduk seorang wanita dengan daster hamil yang nampak sangat nyaman, sedang memegang segelas susu hangat. Meisya.

​Adik Revan sedang tertawa sambil mengelus perut Meisya yang mulai membuncit, sementara Mama mertuanya sibuk menata bantal di belakang punggung wanita itu agar lebih nyaman. Revan berdiri di samping mereka, wajahnya tampak begitu cerah, jauh berbeda dengan wajah penuh amarah yang ia tunjukkan saat sarapan tadi.

​Kehadiran Adila membuat suasana yang tadinya hangat seketika membeku. Tawa itu lenyap, digantikan oleh ketegangan yang menyesakkan.

​"Oh, kamu sudah pulang, Dila?" tanya Papa mertuanya dengan nada yang dipaksakan biasa saja.

​Adila tetap berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas putihnya kontras dengan suasana domestik yang sedang berlangsung. Ia menatap mereka satu per satu, lalu matanya tertuju pada tas-tas besar yang tergeletak di sudut ruangan. Tas milik Meisya.

​"Ada acara apa ini, Mas? Kenapa semua orang berkumpul di sini? Dan kenapa... barang-barang Meisya ada di sini?" suara Adila terdengar rendah, namun bergetar hebat saat melihat koper milik Meisya karena Adila masih ingat dengan koper-koper itu.

​Revan berdeham, ia melirik ibunya sejenak sebelum berjalan mendekati Adila. Ia memegang lengan Adila, mencoba menariknya menjauh dari kerumunan itu.

"Dila, ayo ke kamar sebentar. Aku perlu bicara dengan kamu nanti Mas jelasin ya."

​Adila menepis tangan Revan. "Bicara di sini saja, Mas. Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Apa yang sedang terjadi di rumahku sendiri?"

​"Adila, jangan mulai. Ayo!" Revan mencengkeram lengan Adila lebih kuat dan setengah menyeretnya menuju kamar utama di lantai atas. Di belakang, Adila sempat menangkap lirikan sinis dari ibu mertuanya dan wajah sok polos Meisya.

​Begitu pintu kamar tertutup rapat, Adila langsung berbalik menghadap Revan.

"Jelaskan, Mas! Jelaskan sekarang juga!"

​Revan menghela napas, mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Dila, kondisi Meisya memburuk. Dia tidak bisa tinggal sendirian di kontrakan. Tadi dokter bilang dia harus banyak istirahat total dan tidak boleh stres. Mama dan Papa juga setuju. Jadi, untuk sementara waktu hanya sementara sampai dia melahirkan Meisya akan tinggal di sini. Di rumah ini."

​Dunia Adila seolah meledak. "Apa kamu bilang? Tinggal di sini? Di rumahku? Di istanaku?"

​"Ini juga rumahku, Adila!" bentak Revan. "Dan ini adalah keputusan keluarga. Mama merasa Meisya akan lebih terjamin kesehatannya kalau ada di bawah pengawasan kita. Ada Bi Ijah yang bisa membantunya masak, dan ada kamu... kamu calon dokter, kan? Kamu bisa memantau kondisinya setiap hari."

​Tawa pahit keluar dari bibir Adila. "Kamu gila, Mas. Kamu benar-benar sudah gila! Kamu membawa wanita lain ke dalam rumah kita, wanita yang sudah merampas nafkahku dan sekarang kamu memintaku untuk menjadi perawat pribadinya?"

​"Ini demi kemanusiaan, Adila! Kenapa hatimu begitu busuk? Dia sedang mengandung nyawa!"

​"Nyawa yang bahkan bukan darah dagingmu!" teriak Adila, suaranya pecah oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. "Kamu menghancurkan privasiku, kamu menghancurkan harga diriku sebagai istri! Kamu membiarkan ibumu membawa penyusup masuk ke dalam ruang pribadiku! Apa kamu pernah memikirkan perasaanku sedikit saja?"

​Adila mulai melemparkan bantal dari atas tempat tidur ke arah Revan. "Keluar! Suruh mereka keluar! Suruh wanita itu pergi dari sini sekarang juga!"

​"Cukup, Adila! Jaga bicaramu! Kamu memalukan kalau terdengar orang tua di bawah!" Revan mencoba menahan tangan Adila.

​"Aku memalukan? Kamu yang memalukan, Mas! Kamu membawa selingkuhan terselubungmu masuk ke rumah! Apa kamu pikir aku bodoh? Apa kamu pikir aku akan diam saja melihat kalian bermain keluarga bahagia di bawah sana sementara aku dianggap pengganggu?"

​Adila murka luar biasa. Ia menyapu semua barang di atas meja riasnya hingga jatuh berantakan ke lantai. Suara kaca pecah menggema di seluruh ruangan, sama seperti hatinya yang kini sudah hancur tak bersisa. "Jika wanita itu tidak pergi malam ini, maka aku yang akan pergi dan tidak akan pernah kembali lagi!"

​Revan menatap Adila dengan pandangan dingin yang mematikan. "Silakan jika itu maumu. Tapi Meisya tetap akan tinggal di sini karena dia punya restu dari orang tuaku. Jika kamu tidak bisa menerima itu, mungkin benar kata Mama... kamu memang tidak pernah pantas menjadi bagian dari keluarga ini."

​Kalimat itu menjadi paku terakhir di peti mati pernikahan mereka. Adila berhenti mengamuk. Ia terdiam, napasnya tersengal, menatap laki-laki yang sepuluh tahun ini ia puja seolah dia adalah orang asing yang paling mengerikan. Di luar kamar, suara tawa riang keluarga Revan kembali terdengar, seolah-olah kehancuran Adila di dalam kamar ini hanyalah gangguan kecil yang tak berarti bagi kebahagiaan baru mereka bersama Meisya.

Terpopuler

Comments

Ranny

Ranny

Keluar saja dr rumah yg bagaikan neraka itu tak perlu kau tangisi perjalanan mu masih panjang kejarlah kebahagiaan mu lupakan mereka semua masih banyak kok lelaki sejati di luar sana

2026-08-04

2

Evy

Evy

Jika memang kasihan...Kenapa tidak dirumah orang tua Revan saja sicalon pelakor itu tinggal...

2026-08-25

0

Eric ardy Yahya

Eric ardy Yahya

si Revan orang tolol , pantas aja takut sama emak , ternyata anak mami

2026-08-19

1

lihat semua
Episodes
1 Restu Yang Ditarik Kembali
2 Restu Yang Ditarik Kembali
3 Restu Yang Ditarik Kembali
4 Restu Yang Ditarik Kembali
5 Restu Yang Ditarik Kembali
6 Restu Yang Ditarik Kembali
7 Restu Yang Ditarik Kembali
8 Restu Yang Ditarik Kembali
9 9. Restu Yang Ditarik Kembali
10 Restu Yang Ditarik Kembali
11 Restu Yang Ditarik Kembali
12 Restu Yang Ditarik Kembali
13 Restu Yang Ditarik Kembali
14 Restu Yang Ditarik Kembali
15 Restu Yang Ditarik Kembali
16 Restu Yang Ditarik Kembali
17 Restu Yang Ditarik Kembali
18 Restu Yang Ditarik Kembali
19 Restu Yang Ditarik Kembali
20 Restu Yang Ditarik Kembali
21 Restu Yang Ditarik Kembali
22 Restu Yang Ditarik Kembali
23 Restu Yang Ditarik Kembali
24 Restu Yang Ditarik Kembali
25 Restu Yang Ditarik Kembali
26 Restu Yang Ditarik Kembali
27 Restu Yang Ditarik Kembali
28 Restu Yang Ditarik Kembali
29 Restu Yang Ditarik Kembali
30 Restu Yang Ditarik Kembali
31 Restu Yang Ditarik Kembali
32 Restu Yang Ditarik Kembali
33 Restu Yang Ditarik Kembali
34 Restu Yang Ditarik Kembali
35 Restu Yang Ditarik Kembali
36 Restu Yang Ditarik Kembali
37 Restu Yang Ditarik Kembali
38 Restu Yang Ditarik Kembali
39 Restu Yang Ditarik Kembali
40 Restu Yang Ditarik Kembali
41 Restu Yang Ditarik Kembali
42 Restu Yang Ditarik Kembali
43 Restu Yang Ditarik Kembali
44 Restu Yang Ditarik Kembali
45 Restu Yang Ditarik Kembali
46 Restu Yang Ditarik Kembali
47 Restu Yang Ditarik Kembali
48 Restu Yang Ditarik Kembali
49 Restu Yang Ditarik Kembali
50 Restu Yang Ditarik Kembali
51 Restu Yang Ditarik Kembali
52 Restu Yang Ditarik Kembali
53 Restu Yang Ditarik Kembali
54 Restu Yang Ditarik Kembali
55 Restu Yang Ditarik Kembali
56 Restu Yang Ditarik Kembali
57 Restu Yang Ditarik Kembali
58 Restu Yang Ditarik Kembali
59 Restu Yang Ditarik Kembali
60 Restu Yang Ditarik Kembali
61 Restu Yang Ditarik Kembali
62 Restu Yang Ditarik Kembali
63 Restu Yang Ditarik Kembali
64 Restu Yang Ditarik Kembali
65 Restu Yang Ditarik Kembali
66 Restu Yang Ditarik Kembali
67 Restu Yang Ditarik Kembali
68 Restu Yang Ditarik Kembali
69 Restu Yang Ditarik Kembali
70 Restu Yang Ditarik Kembali
71 Restu Yang Ditarik Kembali
72 Restu Yang Ditarik Kembali
73 Restu Yang Ditarik Kembali
74 Restu Yang Ditarik Kembali
75 Restu Yang Ditarik Kembali
76 Restu Yang Ditarik Kembali
77 Restu Yang Ditarik Kembali
78 Restu Yang Ditarik Kembali
79 Restu Yang Ditarik Kembali
80 Restu Yang Ditarik Kembali
81 Restu Yang Ditarik Kembali
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Restu Yang Ditarik Kembali
2
Restu Yang Ditarik Kembali
3
Restu Yang Ditarik Kembali
4
Restu Yang Ditarik Kembali
5
Restu Yang Ditarik Kembali
6
Restu Yang Ditarik Kembali
7
Restu Yang Ditarik Kembali
8
Restu Yang Ditarik Kembali
9
9. Restu Yang Ditarik Kembali
10
Restu Yang Ditarik Kembali
11
Restu Yang Ditarik Kembali
12
Restu Yang Ditarik Kembali
13
Restu Yang Ditarik Kembali
14
Restu Yang Ditarik Kembali
15
Restu Yang Ditarik Kembali
16
Restu Yang Ditarik Kembali
17
Restu Yang Ditarik Kembali
18
Restu Yang Ditarik Kembali
19
Restu Yang Ditarik Kembali
20
Restu Yang Ditarik Kembali
21
Restu Yang Ditarik Kembali
22
Restu Yang Ditarik Kembali
23
Restu Yang Ditarik Kembali
24
Restu Yang Ditarik Kembali
25
Restu Yang Ditarik Kembali
26
Restu Yang Ditarik Kembali
27
Restu Yang Ditarik Kembali
28
Restu Yang Ditarik Kembali
29
Restu Yang Ditarik Kembali
30
Restu Yang Ditarik Kembali
31
Restu Yang Ditarik Kembali
32
Restu Yang Ditarik Kembali
33
Restu Yang Ditarik Kembali
34
Restu Yang Ditarik Kembali
35
Restu Yang Ditarik Kembali
36
Restu Yang Ditarik Kembali
37
Restu Yang Ditarik Kembali
38
Restu Yang Ditarik Kembali
39
Restu Yang Ditarik Kembali
40
Restu Yang Ditarik Kembali
41
Restu Yang Ditarik Kembali
42
Restu Yang Ditarik Kembali
43
Restu Yang Ditarik Kembali
44
Restu Yang Ditarik Kembali
45
Restu Yang Ditarik Kembali
46
Restu Yang Ditarik Kembali
47
Restu Yang Ditarik Kembali
48
Restu Yang Ditarik Kembali
49
Restu Yang Ditarik Kembali
50
Restu Yang Ditarik Kembali
51
Restu Yang Ditarik Kembali
52
Restu Yang Ditarik Kembali
53
Restu Yang Ditarik Kembali
54
Restu Yang Ditarik Kembali
55
Restu Yang Ditarik Kembali
56
Restu Yang Ditarik Kembali
57
Restu Yang Ditarik Kembali
58
Restu Yang Ditarik Kembali
59
Restu Yang Ditarik Kembali
60
Restu Yang Ditarik Kembali
61
Restu Yang Ditarik Kembali
62
Restu Yang Ditarik Kembali
63
Restu Yang Ditarik Kembali
64
Restu Yang Ditarik Kembali
65
Restu Yang Ditarik Kembali
66
Restu Yang Ditarik Kembali
67
Restu Yang Ditarik Kembali
68
Restu Yang Ditarik Kembali
69
Restu Yang Ditarik Kembali
70
Restu Yang Ditarik Kembali
71
Restu Yang Ditarik Kembali
72
Restu Yang Ditarik Kembali
73
Restu Yang Ditarik Kembali
74
Restu Yang Ditarik Kembali
75
Restu Yang Ditarik Kembali
76
Restu Yang Ditarik Kembali
77
Restu Yang Ditarik Kembali
78
Restu Yang Ditarik Kembali
79
Restu Yang Ditarik Kembali
80
Restu Yang Ditarik Kembali
81
Restu Yang Ditarik Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!