Bab 04
Rania Prameswari berdiri di koridor lantai dua seperti patung.
Matanya menatap Mika yang memeluk kaki Alya. Tangannya yang menggenggam tas kecil memutih.
"Mika," panggilnya pelan.
Mika tidak menoleh.
Alya bisa merasakan tubuh anak itu menegang. Pelukan kecilnya makin kuat, tetapi bukan seperti saat dia takut kehilangan. Kali ini seperti anak yang sedang melindungi diri.
Rania memaksakan senyum.
"Sayang, kenapa kamu memeluk Tante itu?"
"Dia bukan Tante."
Wajah Rania berkedut. "Lalu siapa?"
Mika mendongak dengan keras kepala.
"Mama."
Tamparan itu tidak memakai tangan, tetapi bekasnya jelas di wajah Rania.
Beberapa asisten rumah tangga di ujung koridor saling pandang. Pak Darman, yang baru keluar dari kamar Raka, langsung memberi isyarat agar mereka pergi.
Rania tertawa kecil, terlalu kering.
"Mika, jangan bercanda. Mama ada di sini."
"Tante Rania bukan Mama."
"Mika!"
Suara Rania naik. Mika tersentak. Alya langsung meletakkan tangan di bahu anak itu.
"Jangan membentaknya."
Rania menatap Alya dari atas ke bawah. Pandangannya cepat berubah dari bingung menjadi menghina.
"Kamu pasti Alya Mahira."
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?"
"Aku hanya tidak menyangka keluarga Adiwangsa benar-benar akan mengambil perempuan dari penjara untuk menggantikan posisiku."
Alya tersenyum tipis.
"Posisi apa? Istri sah?"
Rania seperti tertusuk.
"Aku tunangan Raka."
"Mantan."
"Kami belum putus."
"Tapi aku sudah akad."
Koridor mendadak sunyi.
Mika menatap Alya dengan mata berbinar. Entah mengerti atau tidak, dia tampak senang seseorang berani melawan Rania.
Rania menarik napas panjang, lalu suaranya kembali lembut. "Aku tidak mau bertengkar denganmu. Aku tahu kamu juga korban keputusan keluarga. Tapi jangan gunakan Mika untuk mengamankan posisimu."
"Aku tidak menggunakan siapa pun."
"Anak kecil mudah dibujuk."
Alya menunduk menatap Mika. "Mika, aku membujuk kamu?"
Mika menggeleng cepat. "Tidak. Mika sendiri yang mau."
"Dengar?"
Rania menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca.
Pintar, pikir Alya.
Air mata seperti itu tidak jatuh sembarangan. Dia menunggu penonton.
Benar saja, Nyonya Ratna keluar dari kamar Raka. Melihat Rania menangis, wajahnya rumit.
"Rania, kamu datang."
Rania langsung menghampiri Nyonya Ratna. "Tante, aku dengar Raka sadar. Aku sangat khawatir. Tapi saat aku datang, Mika malah..."
Kalimatnya berhenti. Dia menunduk, seolah terlalu terluka untuk melanjutkan.
Nyonya Ratna tampak serba salah.
Selama lima tahun, Rania memang disebut ibu Mika. Walau jarang datang, status itu diakui keluarga karena dia membawa bayi Mika ke rumah Adiwangsa setelah Raka mengaku pernah bersamanya pada malam kecelakaan lama.
Alya membaca wajah Nyonya Ratna.
Ada rasa bersalah pada Rania. Ada rasa sayang pada Mika. Ada kebingungan terhadap dirinya.
Rania memanfaatkan itu.
"Aku tahu aku salah karena sering pergi untuk pekerjaan dan yayasan, Tante. Tapi aku tetap ibu Mika. Aku tidak bisa melihat dia memanggil perempuan lain Mama."
Mika tiba-tiba berkata, "Kalau Tante ibu Mika, kenapa Tante tidak tahu Mika alergi udang?"
Rania membeku.
Mika melanjutkan, "Kenapa Tante selalu bawa cokelat kacang padahal Mika tidak suka kacang? Kenapa Tante tidak pernah tahu Mika tidur harus pegang selimut biru?"
Nyonya Ratna menatap Rania.
Rania cepat berkata, "Mika, Mama hanya terlalu sibuk. Mama melakukan semuanya untuk masa depanmu."
"Mika tidak butuh masa depan dari Tante."
"Mika!"
Alya menutup telinga Mika dengan satu tangan.
Gerakannya spontan.
Rania melihat itu dan matanya makin gelap.
"Kamu baru datang sehari, jangan bertingkah seolah paling mengerti anakku."
Alya menjawab pelan, "Kalau kamu tidak mau terlihat kalah dari orang yang baru datang sehari, seharusnya lima tahun ini kamu melakukan lebih baik."
Rania kehilangan kata-kata.
Nyonya Ratna memejamkan mata. "Cukup. Raka perlu istirahat. Mika, ikut Oma turun makan."
Mika menolak. "Mika mau sama Mama."
Nyonya Ratna menatap Alya. Ada permintaan di sana.
Alya berjongkok lagi.
"Mika, aku juga harus makan. Kamu mau makan bersama?"
Mika langsung mengangguk.
"Tapi setelah makan, kamu harus tidur siang. Papa kamu baru sadar. Jangan membuat dia khawatir."
"Kalau Mika tidur, Mama tidak pergi?"
"Aku tidak pergi."
Rania tiba-tiba berkata, "Aku juga ikut."
Mika menggeleng keras. "Tidak mau."
Wajah Rania tampak nyaris retak.
Nyonya Ratna akhirnya berkata, "Rania, biarkan Mika tenang dulu. Kamu bisa bicara dengan Raka nanti."
"Tante..."
"Raka baru sadar. Jangan membuat rumah ini ribut."
Kalimat itu halus, tetapi jelas.
Rania terpaksa mundur.
Alya menggandeng Mika turun. Anak itu berjalan dekat sekali dengannya, seolah takut seseorang menariknya pergi.
Di ruang makan kecil, Bi Sari menyiapkan bubur ayam hangat, sup bening, tahu goreng, dan teh manis. Aroma jahe dari cangkir membuat Alya sadar betapa kosong perutnya.
"Nyonya Alya, silakan."
Alya hampir tersedak mendengar panggilan itu.
"Panggil Alya saja."
Bi Sari tersenyum takut-takut. "Tidak berani, Nyonya. Ini rumah keluarga Adiwangsa."
Mika duduk di samping Alya. "Bi, Mama suka apa?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Bi Sari bingung. Dia baru bertemu Alya.
Alya mengambil sendok. "Mama makan apa saja."
"Tidak boleh. Mama harus makan yang enak."
Mika mengambil perkedel kecil dan menaruhnya di mangkuk Alya. "Ini enak. Mika suka."
Alya menatap perkedel itu lama.
Di penjara, makanan hangat jarang terasa seperti makanan. Semua hanya sesuatu untuk membuat tubuh tetap berdiri. Sekarang seorang anak kecil memberinya perkedel dan menunggu dia makan dengan mata penuh harap.
Alya menyuap.
"Enak."
Mika tersenyum lebar.
Di pintu ruang makan, Raka duduk di kursi roda.
Alya hampir mengira dia salah lihat.
Pria itu seharusnya masih di ranjang. Tetapi dia sudah memakai kemeja longgar, wajah pucat, dan selimut tipis di lutut. Pak Darman berdiri di belakang, tampak khawatir.
"Papa!" Mika berdiri.
"Duduk," kata Raka.
Mika langsung duduk, tetapi wajahnya senang. "Papa sudah bisa keluar kamar."
"Bukan berarti Papa sehat."
Alya menatap Pak Darman. "Siapa yang mengizinkan dia turun?"
Pak Darman menunduk. "Tuan memaksa."
"Aku tidak bertanya pada kursi roda," kata Raka dingin.
Alya meletakkan sendok. "Dan aku tidak sedang bicara dengan pasien keras kepala."
Mika menutup mulutnya, menahan tawa.
Raka melihatnya. "Lucu?"
Mika cepat menggeleng, tetapi matanya masih tertawa.
Raka mengarahkan kursi rodanya ke meja. Gerakannya lambat, namun penuh harga diri. Dia duduk di seberang Alya.
"Aku ingin melihat bagaimana istriku memikat anakku hanya dengan makan bubur."
Alya mengambil teh. "Sayang sekali. Ilmunya mahal."
"Berapa?"
"Lebih mahal dari egomu."
Bi Sari pura-pura batuk. Pak Darman menunduk lebih dalam, mungkin menyembunyikan senyum.
Raka menatap Alya lama.
"Setelah makan, kita bicara."
"Tentang?"
"Aturan."
"Aku baru keluar penjara. Aku cukup akrab dengan aturan."
"Bagus. Berarti kamu tahu akibat melanggar."
Alya menatapnya. "Aku juga tahu aturan kadang dibuat orang yang paling banyak menyembunyikan kejahatan."
Mata Raka menyipit.
Sebelum dia menjawab, ponsel Alya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Alya mengangkatnya.
Suara Vania Wijaya, adik tirinya, terdengar manis seperti racun.
"Kak Alya, selamat ya. Akhirnya kamu jadi istri orang kaya. Papa bilang jangan lupa diri."
Alya diam.
Vania tertawa kecil. "Oh iya, Kak. Kamu pasti ingin tahu soal anak-anakmu, kan?"
Sendok di tangan Alya berhenti.
Raka memperhatikan perubahan wajahnya.
Vania melanjutkan, "Datanglah besok ke rumah. Kalau kamu berani datang sebagai Nyonya Adiwangsa, mungkin kami akan kasih tahu sesuatu."
Telepon terputus.
Mika memiringkan kepala. "Mama kenapa?"
Alya menaruh ponsel pelan.
"Tidak apa-apa."
Raka menatapnya. "Keluargamu?"
"Besok aku perlu keluar."
"Tidak."
"Aku tidak meminta izin."
"Kamu baru masuk rumah ini. Keluargamu jelas sedang memasang jebakan."
"Aku tahu."
"Dan kamu tetap pergi?"
Alya menatap Raka dengan mata dingin.
"Kalau ada orang yang menyebut anakmu, kamu akan duduk diam?"
Raka tidak menjawab.
Mika memegang tangan Alya di bawah meja. "Mika ikut."
"Tidak," Alya dan Raka menjawab bersamaan.
Mika cemberut.
Raka menatap Alya.
Untuk pertama kalinya, nada suaranya tidak hanya curiga.
"Besok Pak Darman ikut. Dua pengawal juga."
"Aku bisa sendiri."
"Aku tidak peduli."
"Tuan Raka..."
"Kamu istriku. Kalau kamu mati di luar rumah sehari setelah akad, keluargaku repot."
Alya tersenyum miring.
"Perhatianmu menyentuh hati."
"Jangan salah paham. Ini murni urusan administrasi."
"Tentu."
Mika melihat mereka bergantian, lalu berbisik pada Bi Sari, cukup keras untuk didengar semua orang.
"Bi, Papa kalau malu memang suka marah."
Raka terdiam.
Alya menunduk, menggigit bibir agar tidak tertawa.
Untuk sesaat, rumah Adiwangsa yang dingin terasa sedikit hangat.
Namun di lantai dua, Rania berdiri di balik pagar tangga, menatap tangan Mika yang menggenggam Alya.
Matanya tidak lagi berair.
Yang ada hanya kebencian.
"Perempuan bekas penjara," bisiknya. "Aku tidak akan membiarkanmu mengambil semuanya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Kezia ayumi
/Facepalm/
2026-06-24
1
M Fikri
saya suka wanita berani tidak mudah ditindas
2026-05-29
2