Episode 5

Bab 05

Keesokan paginya, Alya bangun sebelum azan subuh selesai menggema dari kejauhan.

Dia tidak terbiasa tidur nyenyak. Di lapas, tidur terlalu dalam berarti kehilangan barang, kehilangan makanan, atau terbangun karena teriakan orang lain. Tubuhnya belajar berjaga bahkan saat mata terpejam.

Kamar utama keluarga Adiwangsa terlalu besar untuknya.

Tempat tidur besar, lemari tinggi, sofa panjang, kamar mandi dengan marmer dingin. Semua terlihat mahal dan asing. Alya tidur di sisi paling pinggir, masih memakai baju sederhana yang diberi Bi Sari semalam.

Raka tidak tidur di ranjang yang sama.

Dia dipindahkan ke kamar perawatan sebelah setelah pemeriksaan dokter. Itu keputusan Nyonya Ratna, bukan karena Alya meminta. Meski begitu, beberapa asisten rumah tangga sudah berbisik seolah pasangan baru itu terlalu malu untuk sekamar.

Alya tidak peduli.

Dia membuka tas kainnya dan mengeluarkan foto bayi kembar.

Dua bayi kecil berbaring berdampingan. Mika di kiri, Arkan di kanan. Saat itu dia memberi nama mereka tanpa bertanya pada siapa pun, karena dia tahu dunia akan mencoba mengambil banyak hal darinya.

Nama adalah hal pertama yang dia lindungi.

Jarinya menyentuh wajah bayi pertama.

"Apa kamu benar-benar ada di rumah ini?" bisiknya.

Lalu jarinya pindah ke bayi kedua.

"Arkan, kamu di mana?"

Ketukan pelan terdengar.

"Nyonya Alya?"

Alya menyimpan foto cepat. "Masuk."

Bi Sari membuka pintu sambil membawa nampan teh jahe.

"Maaf mengganggu. Tuan Raka meminta Nyonya sarapan dulu sebelum pergi."

"Dia memberi perintah dari kamar sebelah?"

Bi Sari tersenyum kikuk. "Tuan Raka memang begitu."

"Menyebalkan?"

Bi Sari hampir menjatuhkan nampan.

Alya mengambil cangkir. "Tenang. Aku tidak akan mengadu."

Bi Sari menunduk, tetapi senyumnya muncul. "Tuan keras, tapi tidak jahat."

"Semua orang bilang begitu tentang orang kaya sebelum mereka menyakiti orang miskin."

Bi Sari diam.

Alya menyesap teh jahe. Hangatnya turun ke perut.

"Mika sudah bangun?"

"Sudah. Dari tadi menunggu di depan kamar, tapi Pak Darman melarang masuk."

Alya membuka pintu.

Benar saja, Mika duduk di lantai koridor sambil memeluk lutut. Begitu melihat Alya, dia berdiri cepat.

"Mama!"

"Kenapa duduk di lantai?"

"Mika mau tunggu Mama."

"Lantai dingin."

"Tidak apa-apa."

Alya berjongkok dan menyentuh tangan kecilnya. Dingin.

Dia melepas cardigan tipis dari bahunya dan menyampirkannya pada Mika.

"Lain kali ketuk saja."

"Pak Darman bilang Mama baru tidur. Mika tidak mau ganggu."

Anak ini terlalu hati-hati untuk usianya.

Alya menahan dorongan untuk memeluknya lama-lama. Jika Mika benar anaknya, dia akan memperjuangkannya. Jika bukan, dia tetap tidak akan melukai anak ini dengan harapan palsu.

"Aku akan keluar sebentar."

Wajah Mika langsung berubah. "Ke mana?"

"Rumah keluarga Wijaya."

"Keluarga Mama?"

Alya tersenyum samar. "Mereka punya nama itu, tapi belum tentu keluarga."

Mika tidak sepenuhnya mengerti, tetapi dia mengangguk serius.

"Mika ikut."

"Tidak."

"Mika bisa jaga Mama."

"Kamu lima tahun."

"Tapi Mika pintar."

"Pintar bukan berarti kebal diculik."

Mika cemberut. "Papa juga bilang begitu."

"Karena kali ini Papa kamu benar."

Suara Raka terdengar dari pintu kamar perawatan. "Aku sering benar."

Alya menoleh.

Raka duduk di kursi roda, memakai pakaian rapi meski wajahnya masih pucat. Di belakangnya, seorang fisioterapis dan Pak Darman tampak pasrah.

"Pagi-pagi sudah mencari pujian?" tanya Alya.

"Pagi-pagi istriku sudah mau masuk jebakan."

"Kalau takut, jangan ikut."

"Aku memang tidak ikut."

Alya mengangkat alis.

Raka berkata, "Pak Darman dan dua pengawal ikut. Mobil sudah siap. Kamu tidak boleh masuk ke rumah Wijaya sendirian."

"Aku mengerti."

"Kalau mereka membuatmu menandatangani sesuatu, jangan."

"Aku mengerti."

"Kalau mereka menyebut anakmu untuk memancing emosi, jangan menyerang lebih dulu."

Alya menatapnya.

Raka balas menatap, tenang.

"Kamu tipe yang akan menyerang kalau mereka menyentuh luka itu."

"Kamu baru mengenalku sehari."

"Sehari cukup untuk tahu kamu punya mulut tajam dan tangan lebih cepat dari akal sehat."

Alya ingin membantah, tetapi tidak sepenuhnya salah.

Mika mengangkat tangan kecil. "Kalau mereka jahat ke Mama, boleh Mika suruh Papa hancurkan mereka?"

Raka menjawab, "Boleh."

Alya langsung menatapnya. "Jangan ajari anak seperti itu."

"Aku hanya menjawab."

"Dengan buruk."

Mika tersenyum senang, seolah menemukan permainan baru. "Mama marah ke Papa. Papa kalah."

Raka memandang putranya. "Kamu anak siapa sebenarnya?"

"Anak Mama."

Jawaban itu keluar cepat.

Raka terdiam. Alya juga.

Mika baru sadar suasana berubah. Dia menggenggam cardigan di dadanya dan menunduk.

"Mika cuma..."

Alya menyentuh kepalanya.

"Tidak apa-apa."

Raka melihat tangan Alya di kepala Mika. Matanya gelap, tetapi dia tidak melarang.

Setengah jam kemudian, Alya masuk ke mobil bersama Pak Darman. Dua pengawal mengikuti dengan mobil lain.

Rumah keluarga Wijaya berada di kawasan elite yang lebih kecil dibanding rumah Adiwangsa. Dulu Alya pernah tinggal di sana, tetapi setelah ibunya meninggal dan Surya menikahi Ratih, rumah itu berubah menjadi tempat asing.

Gerbang terbuka.

Alya turun.

Ratih, ibu tirinya, sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaian mahal dan senyum palsu. Di sampingnya Vania duduk sambil memainkan kuku. Surya berdiri dekat jendela, wajahnya serius.

"Akhirnya datang juga," kata Vania. "Aku kira setelah jadi Nyonya Adiwangsa, Kakak lupa jalan pulang."

Alya duduk tanpa disuruh.

"Aku datang untuk anak-anakku."

Ratih menghela napas. "Baru datang sudah bicara seperti itu. Tidak ada salam untuk orang tua?"

"Assalamualaikum," kata Alya datar. "Di mana anak-anakku?"

Vania tertawa. "Kakak masih sama. Tidak sabaran."

Pak Darman berdiri di belakang Alya. Surya meliriknya, tidak suka.

"Pak Darman, ini urusan keluarga," kata Surya.

Pak Darman tersenyum sopan. "Tuan Raka meminta saya menemani Nyonya Alya."

Kata Nyonya Alya membuat wajah Vania berubah masam.

Ratih menuangkan teh. "Alya, kamu harus mengerti. Setelah kamu masuk penjara, kami semua juga menderita."

Alya menatapnya. "Kalian menderita di sofa kulit Italia?"

Vania membanting gelas kecil ke meja.

"Jangan sombong. Kalau bukan Papa, kamu bahkan tidak akan bisa keluar secepat ini."

"Aku menjalani hukuman penuh lima tahun."

"Tapi Papa yang mengurus agar keluarga Adiwangsa mau menerimamu."

"Menerima? Kalian menjualku."

Surya akhirnya bicara. "Cukup. Kamu datang untuk membuat keributan?"

"Aku datang untuk Mika dan Arkan."

Ruangan sunyi.

Ratih menunduk, berpura-pura sedih.

Vania tersenyum tipis, seperti menunggu momen ini sejak lama.

"Kak, sebenarnya kami tidak tega bilang."

Alya tidak bergerak.

Surya berkata, "Salah satu anakmu meninggal tidak lama setelah dibawa pulang."

Jantung Alya seolah berhenti.

Dia sudah mendengar ancaman dan kebohongan selama lima tahun. Tetapi saat kalimat itu benar-benar keluar, tubuhnya tetap bereaksi seperti dihantam.

"Siapa?"

Surya tidak menjawab.

Alya berdiri. "Siapa yang meninggal?"

Ratih menangis pelan. "Kami tidak bisa membedakan. Mereka masih bayi. Kondisinya lemah..."

"Bohong."

Vania menyandarkan punggung. "Kakak mau percaya atau tidak, itu urusan Kakak. Satu meninggal. Satu lagi hilang saat usia dua tahun."

Alya menoleh perlahan.

"Hilang?"

"Iya. Kami sudah cari. Mungkin diambil orang. Mungkin jadi anak jalanan. Siapa tahu?"

Dunia di sekitar Alya menyempit.

Dia mendengar napasnya sendiri. Pendek. Berat.

Pak Darman melangkah maju sedikit. "Nyonya..."

Alya mengangkat tangan, meminta dia diam.

"Lima tahun," kata Alya pelan. "Lima tahun aku bertahan di penjara karena kalian berjanji menjaga mereka."

Surya memalingkan wajah.

Ratih berbisik, "Kami sudah berusaha."

"Berusaha?"

Alya menatap meja kaca di depan mereka. Di atasnya ada vas mahal berisi bunga segar. Rumah ini tidak kehilangan apa pun. Mereka makan enak, tidur nyaman, membeli baju mahal.

Sementara anak-anaknya...

"Di mana makamnya?" tanya Alya.

Ratih terdiam.

"Di mana laporan kehilangan?"

Vania berhenti tersenyum.

"Di mana akta kelahiran mereka?"

Surya membentak, "Alya!"

Alya menatap ayahnya.

"Kalian bahkan tidak menyiapkan kebohongan dengan rapi."

Ratih berdiri. "Apa maksudmu?"

"Kalau satu meninggal, ada makam. Ada surat kematian. Kalau satu hilang, ada laporan polisi. Kalau kalian tidak punya semuanya, berarti kalian menjual mereka."

Tamparan melayang dari tangan Surya.

Alya menangkap pergelangan tangannya di udara.

Wajah Surya berubah kaget.

Dulu dia bisa memukul Alya sesuka hati.

Sekarang tidak lagi.

"Jangan coba-coba," kata Alya.

Vania berdiri. "Kakak benar-benar tidak tahu diri!"

Alya melepas tangan Surya dengan dorongan keras. Surya mundur dua langkah.

"Mulai hari ini, aku tidak punya ayah di rumah ini."

Ratih berkata tajam, "Jangan lupa, makam ibumu masih kami yang urus."

Alya membeku.

Ratih tahu dia berhasil menyentuh luka lain.

"Kalau kamu terus kurang ajar, jangan salahkan kami kalau tanah makam itu tidak lagi aman."

Detik berikutnya, Alya sudah berada di depan Ratih.

Tidak ada yang sempat mencegah.

Alya mencengkeram kerah baju Ratih dan menatapnya begitu dekat.

"Sentuh makam ibuku, aku akan membuatmu berharap tidak pernah mengenal namaku."

Ratih pucat.

Pak Darman cepat maju. "Nyonya, Tuan Raka meminta Anda pulang dalam keadaan aman."

Nama Raka membuat Alya menahan diri.

Dia melepaskan Ratih.

"Aku akan menemukan anak-anakku. Kalau terbukti kalian menjual mereka, aku tidak akan berteriak. Aku akan membuat kalian hancur pelan-pelan."

Alya berbalik keluar.

Di teras, hujan mulai turun.

Dia berjalan ke mobil tanpa payung. Air membasahi rambut dan wajahnya, tetapi dia tidak berhenti.

Pak Darman membuka pintu.

Sebelum masuk, Alya menoleh sekali ke rumah itu.

Rumah tempat dia pernah berharap punya keluarga.

Sekarang hanya tersisa musuh.

Di dalam mobil, ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

Hanya satu foto.

Foto punggung seorang anak laki-laki kecil dengan tanda lahir merah berbentuk sayap di pinggang kiri.

Di bawah foto itu ada kalimat:

Kalau mau tahu siapa dia, cari akta kelahiran Mika Adiwangsa.

Alya menatap layar.

Tangannya gemetar untuk pertama kali hari itu.

Mika.

*** End Patch

Terpopuler

Comments

Maulidia Okta

Maulidia Okta

ikut Tegang....
lanjut thor

2026-05-31

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!