Menikah Kilat dengan Bos Vegetatif Usai Keluar Penjara
Bab 01
Pintu besi Lapas Perempuan Tangerang terbuka pelan.
Alya Mahira berdiri di ambang pintu dengan tas kain kecil di tangan. Isinya hanya dua stel baju lusuh, sebuah buku catatan, dan satu foto bayi kembar yang sudah menguning di bagian tepi.
Lima tahun.
Dia masuk ke tempat itu saat usianya baru dua puluh satu tahun. Hari ini dia keluar dengan nama yang sama, tetapi hidup yang sama sekali berbeda.
"Alya."
Suara laki-laki itu membuat langkahnya berhenti.
Di depan mobil hitam, Surya Wijaya berdiri dengan kemeja mahal dan wajah yang dibuat penuh kasih. Kalau orang lain melihat, mereka mungkin akan mengira dia ayah yang menunggu anaknya pulang.
Alya tahu itu bohong.
Selama lima tahun dia dipenjara, Surya tidak pernah datang sekali pun.
"Papa akhirnya ingat jalan ke sini?" tanya Alya datar.
Senyum Surya kaku sebentar.
"Jangan bicara seperti itu. Papa datang menjemput kamu. Kamu sudah bebas, Alya. Mulai hari ini kamu bisa hidup lebih baik."
Alya menatapnya. "Lebih baik?"
"Masuk dulu ke mobil. Kita bicara di jalan."
"Bicarakan di sini saja."
Surya menoleh ke kanan dan kiri. Dua sopir dan seorang pengacara keluarga berdiri tidak jauh dari mereka. Wajah Surya berubah tidak sabar, tetapi dia masih berusaha menahan suara.
"Papa sudah mengurus semuanya. Namamu memang masih punya catatan hukum, tapi tidak apa-apa. Ada keluarga besar yang mau menerima kamu."
Alya tertawa pelan.
"Keluarga besar? Papa sedang menjualku ke siapa?"
"Alya!"
"Jawab saja."
Surya menarik napas panjang. "Keluarga Adiwangsa."
Nama itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.
Adiwangsa Group adalah salah satu konglomerat terbesar di Jakarta. Properti, rumah sakit, media, pelabuhan, semuanya ada di tangan keluarga itu. Siapa pun yang hidup di kota ini pasti pernah mendengar nama mereka.
Dan pewaris utamanya, Raka Adiwangsa, juga terkenal.
Bukan hanya karena tampan dan kejam dalam bisnis.
Tetapi karena satu tahun terakhir, dia koma setelah kecelakaan. Ada rumor tubuhnya lumpuh, organ dalamnya rusak, dan dokter hanya menunggu waktu untuk menyerah.
"Papa mau aku menikah dengan orang yang sedang sekarat?" tanya Alya.
Surya cepat berkata, "Jangan kasar. Tuan Raka masih hidup."
"Tapi tidak sadar."
"Dokter bilang ada kemungkinan."
"Kemungkinan untuk mati?"
Wajah Surya memerah. "Kamu seharusnya bersyukur. Dengan statusmu sekarang, keluarga mana yang mau menerima mantan narapidana?"
Alya menggenggam tali tasnya kuat-kuat.
Lima tahun lalu, orang yang mendorongnya masuk penjara adalah Surya. Kakak tirinya menggelapkan dana investor lewat perusahaan keluarga. Dokumen palsu dibuat memakai tanda tangan digital Alya. Pengacara keluarga meminta Alya mengaku, dengan janji dua bayi yang baru lahir akan dirawat baik-baik.
Dia percaya.
Karena saat itu dia baru melahirkan, tubuhnya lemah, dan dua bayinya terlalu kecil untuk hidup tanpa perlindungan.
"Aku masuk penjara karena siapa?" tanyanya pelan.
Surya menghindari tatapannya. "Masa lalu tidak perlu dibahas."
"Aku mau bertemu Mika dan Arkan."
Nama itu keluar dari bibir Alya seperti doa yang terlalu lama ditahan.
Mika dan Arkan.
Dua bayi laki-laki yang hanya sempat dia peluk beberapa menit sebelum Surya membawa mereka pergi.
Surya tidak menjawab.
Alya melangkah mendekat. "Di mana anak-anakku?"
"Mereka aman."
"Aku mau lihat mereka sekarang."
"Setelah akad."
Alya membeku.
Surya akhirnya melepaskan topengnya. Suaranya berubah dingin. "Kamu menikah dulu dengan Raka Adiwangsa. Setelah itu Papa akan izinkan kamu melihat anak-anak."
"Izinkan?"
"Jangan membuat semuanya sulit. Keluarga Adiwangsa sudah setuju melunasi utang perusahaan kita dan menarik beberapa tuntutan lama. Kamu hanya perlu menjadi istri Raka. Kalau dia meninggal, kamu tetap akan mendapat bagian. Kalau dia sadar, lebih bagus."
Alya menatap wajah ayahnya. Tidak ada rasa bersalah di sana. Yang ada hanya hitungan untung rugi.
"Papa benar-benar menjualku."
"Papa menyelamatkan keluarga."
"Keluarga mana? Keluarga Papa dengan Ratih dan Vania?"
Mata Surya menajam. "Jaga bicaramu."
"Tidak."
Alya berbalik hendak pergi, tetapi Surya berkata dengan suara rendah, "Kalau kamu pergi, jangan harap bisa melihat anak-anakmu lagi."
Langkah Alya berhenti.
Surya tahu titik paling sakitnya.
"Papa tidak main-main," lanjut Surya. "Mika dan Arkan masih bergantung pada keputusan Papa. Satu tanda tangan darimu bisa membuat mereka hidup tenang. Satu penolakan darimu bisa membuat mereka kehilangan segalanya."
Alya perlahan menoleh.
Matanya tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang tajam di sana, seperti pisau yang baru keluar dari sarung.
"Kalau Papa menyentuh mereka..."
"Kamu mau apa?" Surya mencibir. "Kamu baru keluar dari penjara. Uang tidak punya, nama baik tidak punya, teman tidak punya. Kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?"
Alya diam.
Lima tahun di penjara mengajarinya satu hal: jangan menghabiskan tenaga untuk mengancam orang yang belum waktunya dihancurkan.
Dia tersenyum tipis.
"Baik. Aku menikah."
Surya jelas lega, tetapi Alya belum selesai.
"Tapi dengarkan baik-baik, Pa. Ini terakhir kalinya Papa memakai anak-anakku untuk mengikatku. Setelah aku memastikan mereka baik-baik saja, semua utang antara kita selesai."
"Alya, Papa ini ayahmu."
"Ayah tidak menjual anak perempuannya."
Surya hendak membentak, tetapi pengacara di belakangnya memberi isyarat halus. Mereka tidak punya waktu.
Pernikahan keluarga Adiwangsa harus dilakukan sore itu juga.
Alya masuk ke mobil.
Sepanjang jalan, dia menatap Jakarta dari balik kaca. Kota itu tetap macet, panas, dan hidup seperti biasa. Tidak ada yang tahu seorang perempuan baru keluar dari penjara sedang dibawa menuju pernikahan yang tidak dia inginkan.
Di pangkuannya, foto bayi kembar itu dia genggam.
"Mika, Arkan," bisiknya hampir tanpa suara. "Mama pulang."
Mobil berhenti di depan rumah besar di kawasan Menteng.
Rumah keluarga Adiwangsa tidak tampak seperti rumah. Pilar tinggi, halaman luas, satpam berseragam, deretan mobil mewah, dan wajah-wajah dingin yang menunggu di teras.
Alya turun dengan baju sederhana yang dia pakai sejak keluar lapas.
Bisikan langsung terdengar.
"Itu calon istri Raka?"
"Mantan narapidana?"
"Keluarga Wijaya benar-benar tidak tahu malu."
"Mahar dibayar mahal, tapi yang dikirim perempuan bekas penjara."
Alya tidak menoleh.
Seorang perempuan tua berambut putih duduk di kursi roda dekat pintu utama. Matanya tajam, tetapi tidak menghina. Di sebelahnya berdiri perempuan anggun dengan wajah pucat karena kurang tidur.
Surya membungkuk. "Oma Ratna, Nyonya Ratna. Ini Alya."
Oma Ratna menatap Alya lama.
"Kamu tahu kenapa kamu dibawa ke sini?"
"Untuk menikah dengan cucu Oma."
"Kamu keberatan?"
Alya ingin tertawa. Pertanyaan itu datang terlambat.
"Keberatan atau tidak, sepertinya tidak ada yang peduli."
Beberapa kerabat Adiwangsa langsung berbisik marah. Nyonya Ratna tampak terkejut, tetapi Oma Ratna malah tersenyum sedikit.
"Setidaknya kamu tidak pura-pura manis."
Seorang pria paruh baya dari sisi kanan mencibir. "Mama, apa kita benar-benar menyerahkan Raka pada perempuan seperti ini? Dia punya catatan kriminal."
Oma Ratna menoleh. "Dan kamu punya catatan mengincar kursi cucuku sejak dia koma. Mau kita bahas sekarang?"
Pria itu langsung diam.
Alya menyimpan kalimat itu dalam kepala.
Rumah ini juga penuh ular.
Akad dilakukan cepat, terlalu cepat untuk sebuah pernikahan. Raka tidak hadir di ruang utama. Dia terbaring di kamar lantai dua, hanya diwakili wali dan dokumen legal yang sudah disiapkan pengacara.
Saat penghulu menyelesaikan kalimat terakhir, semua orang mengucap selamat tanpa suara bahagia.
Alya resmi menjadi istri Raka Adiwangsa.
Belum sempat dia menarik napas, seorang perawat berlari dari tangga.
"Nyonya! Tuan Raka muntah darah!"
Nyonya Ratna menjerit tertahan.
Oma Ratna berdiri dibantu tongkat. "Bawa Alya ke atas."
Semua mata langsung tertuju pada Alya.
Salah satu tante Raka berkata sinis, "Bukankah dia dibawa untuk membawa keberuntungan? Baru akad sudah muntah darah. Hebat sekali."
Alya menatap perempuan itu sekilas.
"Kalau ucapan Tante bisa menyembuhkan orang, silakan Tante naik duluan."
Perempuan itu tercekat.
Oma Ratna mengetukkan tongkat. "Cukup. Alya, ikut."
Alya menaiki tangga dengan langkah tenang. Di balik pintu kamar utama, bau obat, antiseptik, dan sesuatu yang lebih samar langsung menusuk hidungnya.
Racun.
Dia belum melihat pasiennya, tetapi tubuhnya sudah mengenali bau itu.
Di atas ranjang besar, Raka Adiwangsa terbaring dengan wajah pucat. Bahkan dalam keadaan koma, garis wajahnya tegas, dingin, dan terlalu indah untuk seseorang yang hampir mati.
Dokter keluarga berdiri panik.
"Tekanan darah turun. Kami harus bawa ke rumah sakit."
Alya berjalan mendekat.
Dokter itu menghalangi. "Nyonya, jangan mendekat."
"Minggir."
"Anda bukan dokter."
Alya mengangkat mata. "Kalau Anda dokter, kenapa tidak tahu dia diracun?"
Kamar itu mendadak sunyi.
Dokter keluarga membeku. Wajah Nyonya Ratna memucat. Oma Ratna mencengkeram tongkatnya lebih kuat.
Alya menyentuh pergelangan tangan Raka.
Denyutnya kacau, lemah, tetapi belum menyerah.
Dia membuka tas kecilnya, mengambil gulungan kain berisi jarum tipis yang selama ini dia sembunyikan dari siapa pun.
Surya yang ikut naik langsung berseru, "Alya, kamu mau apa?"
Alya tidak menoleh.
"Menyelamatkan pria yang baru kalian paksa jadi suamiku."
Lalu jarum pertama masuk ke titik nadi Raka.
Tubuh pria itu tiba-tiba kejang.
Nyonya Ratna menjerit.
Dokter keluarga hendak maju, tetapi Oma Ratna mengangkat tangan.
"Biarkan dia."
Jarum kedua, ketiga, keempat.
Keringat dingin muncul di dahi Alya. Lima tahun dia menyembunyikan kemampuan ini, karena di penjara kemampuan apa pun bisa menjadi alat orang lain untuk memeras.
Hari ini dia menggunakannya lagi.
Karena dia butuh Raka hidup.
Karena selama pria itu hidup, keluarga Adiwangsa masih butuh dia.
Dan selama mereka butuh dia, Surya tidak bisa sembarangan menyentuh anak-anaknya.
Raka tiba-tiba batuk keras.
Darah hitam keluar dari bibirnya, menodai bantal putih.
Semua orang mundur ketakutan.
Alya menekan satu titik di dada pria itu dan berbisik, "Jangan mati dulu, Tuan Raka. Aku belum selesai memakai namamu."
Seolah mendengar, jari Raka bergerak sedikit.
Alya menatapnya.
Kelopak mata pria itu bergetar.
Lalu terbuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Indry Saleh
baru aja baca ceritanya sudah seseru ini. like buat novel ini👍👍👍👍👍
2026-06-09
4
Yuliyana
kok sama namanya Oma n nyonya
2026-05-30
1
Kezia ayumi
kayanya seru
aku tertarik Thor /Chuckle/
2026-06-24
0