Bab 02 - Tante Vania Lebih Cocok
Pagi itu, rumah keluarga Wicaksono tetap berjalan seperti biasa.
Setidaknya, dari luar terlihat seperti biasa.
Lampu ruang makan menyala terang. Aroma kopi hitam memenuhi udara. Sopir sudah menunggu di garasi. ART menata piring di meja sambil sesekali mencuri pandang ke arah Alina, seolah semalam suara Adrian yang meninggi telah sampai ke dapur belakang.
Alina turun pukul enam tiga puluh.
Ia tidak memakai apron.
Biasanya, pada jam segini ia sudah berdiri di dapur sejak satu jam sebelumnya. Ia akan memastikan telur untuk Arka tidak terlalu matang, kopi Adrian tidak terlalu pahit, roti untuk Ibu Ratna tidak dipanggang terlalu kering, dan jus hijau untuk mertuanya tidak mengandung terlalu banyak seledri.
Pagi ini, rambutnya terikat rapi. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana bahan krem. Di tangannya tidak ada nampan, tidak ada daftar belanja, tidak ada kotak bekal.
Hanya sebuah tas kecil.
Adrian sudah duduk di ujung meja, membaca ringkasan berita bisnis dari tablet. Ia mendongak sebentar ketika Alina masuk, lalu kembali menatap layar.
Tidak ada yang membahas map cokelat semalam.
Mungkin Adrian berpikir bila ia diam, semua akan kembali seperti biasa.
Alina duduk di kursi yang biasanya jarang ia duduki. Kursi di samping, bukan kursi dekat dapur.
Seorang ART bernama Sari mendekat dengan gugup.
"Bu Alina, sarapan untuk Mas Arka mau dibuat seperti biasa?"
"Tanya Pak Adrian," jawab Alina tenang.
Sari terdiam.
Adrian mengangkat wajah.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu jadwal Arka hari ini. Semalam dia pulang denganmu."
"Kamu ibunya."
"Dan kamu ayahnya."
Suara sendok yang diletakkan ART terdengar terlalu keras.
Adrian menatap Alina beberapa detik. "Jangan mulai pagi-pagi."
Alina menuang air putih untuk dirinya sendiri. "Aku belum mulai apa pun."
Tangga berderit pelan. Arka turun dengan seragam sekolah internasionalnya, rambutnya masih berantakan. Biasanya Alina akan berdiri, menghampirinya, merapikan kerah, mencium keningnya, lalu bertanya apakah semalam ia tidur nyenyak.
Pagi ini, Alina hanya menoleh.
"Selamat pagi, Arka."
Arka berhenti di anak tangga terakhir.
Anak itu memandang ibunya dengan bingung. "Mama kok belum siapin bekal?"
"Hari ini Mama tidak menyiapkan."
Alis kecilnya mengerut. "Kenapa?"
"Mama pikir Papa atau Tante Vania lebih tahu kamu suka apa."
Nama Vania membuat wajah Arka langsung cerah, tapi hanya sesaat. Ia seperti menangkap sesuatu yang tidak enak dari nada ibunya.
"Tante Vania lagi sakit. Mana bisa bikinin bekal."
Alina mengangguk pelan. "Kalau begitu, Papa bisa minta Sari."
Arka menoleh ke Adrian. "Pa, aku mau sandwich ayam yang biasa Mama buat."
Adrian meletakkan tabletnya. "Sari bisa buat."
Arka langsung cemberut. "Beda. Kalau Sari yang buat, sausnya kebanyakan."
Sari yang berdiri di dekat dapur menunduk, wajahnya pucat.
Dulu Alina akan langsung berdiri dan berkata tidak apa-apa, Mama buatkan sekarang. Ia akan meminta maaf kepada Sari walau bukan salahnya. Ia akan menyelamatkan suasana sebelum Adrian kehilangan sabar.
Pagi ini, ia hanya meminum airnya.
Adrian menatap Arka. "Makan apa yang ada."
Arka menatap Alina, lalu bibirnya mulai maju. "Mama marah karena semalam?"
Alina tidak menjawab dengan emosi. "Mama tidak marah."
"Kalau tidak marah, bikinkan bekal."
"Tidak."
Jawaban itu pendek.
Arka seperti tidak pernah mendengar kata itu dari ibunya. Matanya membesar.
"Mama jahat."
Adrian langsung berkata, "Arka."
Namun tegurannya lemah. Lebih seperti formalitas.
Arka turun dan duduk dengan kasar di kursinya. "Tante Vania nggak pernah gitu. Kalau aku minta sesuatu, dia selalu bilang iya."
Alina menatap anak itu.
Arka adalah bayi yang ia kandung dengan muntah setiap pagi selama hampir tujuh bulan. Bayi yang membuatnya berhenti mengambil proyek desain karena dokter menyuruhnya bed rest. Bayi yang ia gendong semalaman saat demam, sementara Adrian berada di Singapura untuk menemani Vania menjalani pemeriksaan.
Anak yang sama kini berkata perempuan lain lebih baik karena lebih mudah berkata iya.
"Tante Vania tidak harus mendidikmu," kata Alina pelan. "Itu sebabnya dia bisa selalu bilang iya."
Arka memukul meja dengan tangan kecilnya. "Aku suka Tante Vania!"
"Aku tahu."
"Kalau Tante Vania jadi Mama, rumah ini pasti lebih enak!"
Ruangan itu langsung membeku.
Sari menahan napas.
Adrian menatap Arka, tapi tetap tidak berbicara.
Alina merasa sesuatu menusuk tepat di bawah tulang rusuknya. Bukan karena ia baru pertama kali mendengar kalimat seperti itu. Arka pernah mengucapkannya dalam bentuk lain, sambil tertawa, sambil memeluk Vania, sambil bilang Tante Vania cantik dan harum.
Tapi kali ini, kalimat itu jatuh di meja tempat ia duduk sebagai ibunya.
"Begitu?" tanya Alina.
Arka mengangkat dagu, meniru ekspresi Adrian saat marah. "Iya. Tante Vania lebih cocok jadi Mama."
Adrian akhirnya bersuara. "Cukup."
Arka langsung menoleh padanya, terkejut. Mungkin ia pikir ayahnya akan membela.
Tapi Adrian hanya berkata, "Makan. Jangan terlambat sekolah."
Alina tersenyum tipis.
Bahkan teguran itu bukan karena Arka melukainya. Teguran itu karena suasana menjadi tidak nyaman.
Ponsel Adrian berbunyi.
Nama Vania muncul di layar.
Alina melihatnya.
Adrian juga tahu ia melihat.
Pria itu mengambil ponselnya, berdiri, lalu berjalan beberapa langkah menjauh sebelum menerima telepon.
"Ya, Van?"
Suaranya langsung berubah.
Lebih rendah. Lebih sabar.
Alina menunduk, mengiris roti di piringnya sendiri. Tangannya stabil. Ia bahkan kagum pada dirinya sendiri.
"Kamu pusing lagi?" Adrian berkata pelan. "Sudah minum obat?"
Arka langsung turun dari kursi. "Tante Vania sakit?"
Adrian menoleh, memberi isyarat agar Arka diam, tapi anak itu sudah berlari mendekat.
"Pa, aku mau lihat Tante Vania sebelum sekolah."
Alina meletakkan pisau.
Adrian menutup bagian mikrofon dengan telapak tangan. "Kamu ada kelas."
"Sebentar aja. Aku mau bawain bekal buat Tante Vania."
"Bekalmu saja belum jadi."
Arka menoleh ke Alina. "Mama, bikinin bubur buat Tante Vania. Dia kalau pusing harus makan yang lembut."
Sari menatap Alina dengan mata panik.
Adrian tidak langsung menolak.
Di masa lalu, Alina pasti sudah berdiri. Ia akan memasak bubur, memasukkan ayam suwir, memisahkan daun bawang karena Vania pernah bilang tidak suka baunya. Ia akan mengemasnya rapi, lalu Adrian dan Arka akan membawa makanan itu ke apartemen Vania tanpa menyebut siapa yang memasaknya.
Hari ini, Alina hanya menatap putranya.
"Tidak."
Arka membuka mulut. "Mama!"
"Kalau Tante Vania ingin makan bubur, Papa bisa membelikan. Atau Tante Vania bisa pesan lewat aplikasi."
"Tapi Mama kan pintar masak."
"Pintar bukan berarti wajib."
Adrian menutup telepon. Wajahnya mulai gelap. "Alina, dia sedang sakit."
"Aku juga pernah sakit."
Adrian terdiam.
Alina menatapnya. "Tiga bulan lalu, aku demam sampai hampir pingsan. Kamu membawa Arka dan Vania ke Bandung karena Vania ingin melihat kebun teh sebelum kondisi tubuhnya memburuk."
"Kita sudah membahas itu."
"Tidak. Kamu yang bicara. Aku yang diam."
Arka bingung melihat kedua orang tuanya. "Mama kan cuma demam."
Alina mengalihkan tatapan pada anaknya.
Ia ingin menjelaskan. Ia ingin berkata bahwa demam itu membuatnya menggigil sendirian di kamar, bahwa ia menelepon Adrian tiga kali dan tidak diangkat, bahwa ia hampir jatuh di kamar mandi.
Tapi ia melihat mata Arka yang keras karena terlalu sering mendengar cerita dari sisi lain.
Ia lelah mengemis agar dipahami.
"Iya," katanya. "Cuma demam."
Arka tampak puas. "Makanya Mama jangan pelit. Tante Vania sakitnya lebih parah."
Adrian memejamkan mata sebentar. "Arka, ke mobil."
"Tapi buburnya?"
"Ke mobil."
Arka mengentakkan kaki, lalu mengambil tas sekolahnya. Sebelum pergi, ia menatap Alina dengan mata basah karena kesal.
"Mama jahat. Kalau Tante Vania jadi Mama, dia nggak akan bikin aku sedih."
Alina tidak menjawab.
Pintu depan tertutup.
Suara mobil menyala beberapa saat kemudian.
Adrian masih berdiri di ruang makan.
"Dia anak kecil," katanya akhirnya.
"Aku tahu."
"Jangan memasukkan kata-katanya ke hati."
Alina tertawa pelan. "Lucu. Saat dia memintaku meminta maaf pada Vania, kamu bilang anak kecil saja tahu siapa yang benar. Saat dia melukaiku, kamu bilang dia anak kecil."
Adrian menatapnya tajam. "Kamu berubah."
"Syukurlah."
"Alina."
"Aku akan ke kantor pengacara jam sepuluh. Draf gugatan akan dikirimkan ke emailmu."
"Aku tidak akan menandatangani apa pun."
"Itu hakmu. Makanya ada pengadilan."
Adrian berjalan mendekat. "Kamu pikir Pengadilan Agama akan langsung mengabulkan semua maumu? Keluargaku punya pengacara terbaik."
"Gunakan."
"Dan Arka?"
Nama itu lagi.
Alina berdiri, mengambil tasnya.
"Untuk saat ini, biarkan Arka tinggal di sini. Dia sudah jelas lebih nyaman denganmu, keluargamu, dan Tante Vania."
Adrian seperti ditampar.
"Kamu tega mengatakan itu?"
Alina menatapnya tanpa berkedip.
"Yang tega adalah orang dewasa yang membiarkan anak lima tahun berpikir ibunya bisa diganti karena perempuan lain lebih manis."
Adrian tidak menjawab.
Alina melangkah melewatinya.
Di pintu, ia berhenti sebentar.
"Mulai hari ini, aku tidak akan memasak untuk Vania. Aku juga tidak akan menyiapkan bekal Arka hanya supaya dia punya tenaga untuk memeluk perempuan yang mengajarinya merendahkan ibunya."
Ia membuka pintu.
Udara pagi Jakarta masuk, panas dan kasar.
Untuk pertama kali dalam lima tahun, Alina pergi tanpa menunggu Adrian memanggilnya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Fitrian
semoga tersemogakan vania mampuss dan hidup kembali sebagai jakang beracun kepencet anunya gi golo receh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🔪🔪🔪🖕
2026-06-26
0
Susi Andriani
bagus Alina lope u,buang lakikmu itu ke laut
2026-06-24
1
Yati Syahira
laki sama anak tdk beraqlaq cerai yang terbaik
2026-08-18
0