Bab 05 - Kali Ini Aku Tidak Minta Maaf
Panggilan dari sekolah Arka datang pukul sepuluh pagi.
Alina sedang duduk di ruang tunggu kantor Nadia, membaca ulang draf gugatan cerai, ketika nama wali kelas Arka muncul di layar.
Ia menatapnya selama dua detik sebelum mengangkat.
"Selamat pagi, Bu Alina. Maaf mengganggu."
"Ada apa, Bu Rani?"
Suara wali kelas terdengar ragu. "Mas Arka terlibat sedikit masalah dengan teman sekelasnya. Pak Adrian sudah kami hubungi, tapi beliau meminta kami menghubungi Ibu juga."
Tentu saja.
Jika ada masalah yang tidak nyaman, Adrian selalu ingat bahwa Arka punya ibu.
Alina menutup dokumen. "Saya ke sana."
Sekolah Arka berada di kawasan Simprug, sekolah internasional dengan biaya tahunan yang bisa membeli sebuah rumah kecil di pinggir kota. Lobi utamanya wangi, dingin, dan penuh senyum resepsionis yang terlatih.
Namun di ruang konseling, suasananya tidak seindah itu.
Arka duduk di sofa kecil dengan wajah merah. Di sebelahnya, Vania duduk sambil memeluk bahu anak itu. Wanita itu memakai cardigan biru muda, wajahnya pucat, matanya basah.
Adrian berdiri dekat jendela.
Di seberang mereka, seorang anak laki-laki lain duduk bersama ibunya. Anak itu menangis, pipinya memerah, ada bekas cakaran tipis di lengannya.
Bu Rani berdiri di tengah dengan wajah tidak enak.
Begitu Alina masuk, Arka langsung menunjuknya.
"Mama, bilang sama mereka aku nggak salah!"
Alina tidak langsung mendekat. Ia menatap ruangan, membaca wajah satu per satu.
Vania menunduk. "Alina, maaf. Ini salahku."
Kalimat pembuka yang selalu sama.
Alina bertanya pada Bu Rani, "Apa yang terjadi?"
Ibu anak lain langsung menjawab, suaranya kesal. "Anak Ibu mendorong anak saya sampai jatuh, lalu mencakar tangannya."
"Dia duluan bilang Tante Vania bukan mama aku!" Arka berteriak.
Anak laki-laki itu menangis lebih keras. "Aku cuma bilang dia tante, bukan mama kamu!"
Vania memeluk Arka lebih erat. "Arka hanya terlalu sensitif. Dia sayang padaku, jadi..."
Alina mengangkat tangan, menghentikan suara lembut itu.
"Saya tanya Bu Rani."
Vania terdiam.
Bu Rani terlihat lega ada orang dewasa yang akhirnya bertanya pada guru. "Awalnya mereka membuat kartu keluarga untuk tugas kelas. Arka menggambar Papa, Mama, dan Tante Vania. Temannya, Bima, bertanya kenapa ada dua mama. Arka bilang Tante Vania juga mamanya. Bima menjawab tante bukan mama. Setelah itu Arka marah."
Alina menoleh ke Arka. "Kamu mendorong Bima?"
Arka menggigit bibir. "Dia jahat."
"Mama tanya, kamu mendorong dia?"
"Aku cuma..."
"Arka."
Anak itu terdiam, lalu menunduk. "Iya."
Adrian akhirnya bersuara. "Anak-anak bertengkar. Tidak perlu dibesar-besarkan."
Ibu Bima langsung menatapnya. "Pak Adrian, anak saya terluka."
"Saya akan menanggung biaya pengobatan."
"Ini bukan soal uang."
Adrian mengerutkan kening, jelas tidak terbiasa mendengar kalimat itu.
Vania segera menyela, "Bu, saya benar-benar minta maaf. Arka tidak bermaksud. Dia hanya bingung karena belakangan rumahnya sedang tidak baik-baik saja."
Kalimat itu lembut, tapi arahnya jelas.
Semua mata berpindah ke Alina.
Rumahnya sedang tidak baik-baik saja.
Karena siapa?
Karena istri sah yang meminta cerai?
Karena ibu yang tidak mau mengalah pada perempuan sakit?
Alina berjalan ke depan Arka dan berjongkok agar mata mereka sejajar.
"Minta maaf pada Bima."
Arka langsung mendongak. "Kenapa aku?"
"Karena kamu mendorong dan mencakar dia."
"Tapi dia bilang Tante Vania bukan mama!"
"Memang bukan."
Ruangan sunyi.
Wajah Vania memucat, kali ini bukan karena kosmetik.
Arka menatap Alina seperti tidak percaya. "Mama!"
Alina tetap tenang. "Tante Vania adalah tante. Mama kamu aku. Kalau kamu tidak mau menganggapku Mama, itu masalah lain. Tapi kamu tidak boleh memukul orang karena dia mengatakan fakta."
Adrian bergerak dari jendela. "Alina, jangan mempermalukan anak di depan orang."
Alina menoleh. "Yang mempermalukan dia adalah orang dewasa yang membiarkan dia bingung soal siapa ibunya."
Vania menggigit bibir. "Aku tidak pernah meminta Arka memanggilku mama."
"Tapi kamu tidak menghentikannya."
"Aku takut menyakiti perasaannya."
"Kamu lebih takut menyakiti perasaannya daripada merusak batasan anak lima tahun?"
Air mata Vania langsung jatuh.
Adrian menatap Alina dengan marah. "Cukup."
Alina berdiri. "Belum."
Ia melihat Bu Rani. "Apakah ada CCTV kelas?"
Bu Rani tampak ragu. "Ada, tapi..."
"Saya ingin melihatnya."
Adrian berkata dingin, "Untuk apa? Arka sudah mengaku."
"Karena saya ingin tahu bagaimana semua ini dimulai."
Vania cepat berkata, "Alina, jangan. Nanti Arka makin malu."
Alina menatapnya. "Atau kamu takut ada yang terlihat?"
Wajah Vania berubah.
Tidak banyak. Tapi cukup.
Bu Rani akhirnya mengangguk. "Baik, kami bisa membuka rekaman di ruang kepala sekolah."
*****
Rekaman itu tidak bersuara jelas, tapi cukup untuk menunjukkan urutan kejadian.
Anak-anak duduk membuat gambar. Vania datang ke kelas dengan izin sekolah karena ia membawa cupcakes untuk Arka dan teman-temannya. Ia berjongkok di dekat meja Arka, mengelus rambut anak itu, lalu menunjuk gambar keluarga.
Setelah itu, ia menulis sesuatu di kertas kecil.
Kamera menangkap tulisan itu ketika Arka mengangkatnya.
Tante juga keluarga Arka, kan?
Arka mengangguk antusias.
Bima yang duduk di samping melihat, lalu berkata sesuatu. Arka langsung marah. Vania tidak menahan Arka. Ia justru mundur, membiarkan anak itu mendorong Bima.
Baru setelah Bima jatuh dan menangis, Vania mendekat dengan wajah panik.
Ruang kepala sekolah sunyi.
Alina tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menatap Vania.
Vania mulai menangis lagi. "Aku cuma ingin Arka merasa dicintai."
Alina tersenyum tipis. "Dengan menyuruhnya menggambar kamu sebagai keluarga, lalu membiarkan dia menyerang anak lain?"
"Aku tidak menyuruh."
Alina menunjuk layar. "Tulisan itu apa?"
"Aku hanya bercanda."
"Anak lima tahun tidak selalu tahu mana bercanda dan mana batas."
Adrian menatap layar dengan wajah gelap. Ia tidak membela Vania kali ini, tapi juga belum menegurnya.
Kepala sekolah berdeham. "Kami berharap semua pihak bisa menyelesaikan ini dengan baik. Mas Arka perlu meminta maaf kepada Bima, dan kami sarankan keluarga memberi pendampingan agar ia memahami struktur keluarga dengan benar."
Struktur keluarga.
Alina hampir tertawa.
Istilah yang rapi untuk kekacauan yang diciptakan orang dewasa.
Ia menoleh ke Arka. "Minta maaf."
Arka menangis. "Aku nggak mau!"
"Kalau kamu tidak minta maaf, Mama yang akan meminta maaf atas kelalaian orang dewasa di sekitarmu, tapi kesalahanmu tetap ada."
Adrian berkata, "Jangan keras begitu."
"Inilah masalahnya, Adrian. Setiap dia salah, kamu menyebutnya anak kecil. Setiap aku terluka, kamu menyebutku dewasa dan harus mengerti."
Arka menatap ibunya dengan mata basah. "Mama lebih sayang Bima?"
"Mama sedang mengajarimu bertanggung jawab."
"Tante Vania nggak pernah bikin aku minta maaf!"
"Karena Tante Vania tidak bertanggung jawab atas masa depanmu."
Kalimat itu membuat Arka menangis lebih keras.
Vania hendak memeluknya, tapi Alina lebih dulu berkata, "Jangan."
Vania berhenti.
Alina tidak menaikkan suara. Justru karena itu, semua orang mendengarnya.
"Hari ini Arka harus belajar bahwa kasih sayang bukan berarti membenarkan semua hal."
Arka menangis lama.
Akhirnya, dengan suara patah dan penuh marah, ia berkata kepada Bima, "Maaf."
Bima mengangguk sambil memeluk ibunya.
Alina lalu menatap ibu Bima. "Saya juga minta maaf karena anak saya melukai Bima. Biaya pengobatan akan kami tanggung, tapi saya tidak akan meminta Ibu menganggap ini sepele."
Ibu Bima terlihat sedikit melunak. "Saya menghargai itu."
Adrian menatap Alina.
Ada sesuatu di matanya. Mungkin terkejut. Mungkin tidak suka. Mungkin baru menyadari bahwa selama ini Alina tidak pernah lemah, ia hanya terlalu sering memilih menjaga wajah keluarga.
*****
Di parkiran sekolah, Adrian mengejar Alina.
"Kita perlu bicara."
Alina berhenti di samping taksi yang baru datang. "Tentang apa?"
"Kamu mempermalukan Vania."
Alina menatapnya lama.
"Jadi setelah melihat rekaman itu, kesimpulanmu adalah aku mempermalukan Vania?"
Adrian tampak kesal. "Dia salah, tapi niatnya tidak buruk."
"Niat baik yang selalu menguntungkan dirinya dan melukaiku. Menarik."
"Alina."
"Kamu tahu apa yang paling menyedihkan?" Alina bertanya pelan. "Bukan karena Vania mencoba mengambil tempatku. Tapi karena kamu selalu membuka pintunya."
Adrian terdiam.
Arka keluar dari gedung bersama Vania. Wajahnya sembap. Begitu melihat Alina, ia berteriak, "Mama jahat! Mama bikin Tante Vania nangis!"
Vania memegang bahunya. "Arka, jangan begitu."
Tapi tangannya tidak benar-benar menahan.
Alina memandang anaknya. Luka itu datang lagi, tapi kali ini ia tidak membiarkannya mengendalikan tubuhnya.
"Arka," katanya, "suatu hari kamu akan mengerti. Atau mungkin tidak. Tapi Mama tidak akan meminta maaf karena mengajarkanmu hal benar."
"Aku nggak mau pulang sama Mama!"
"Kamu memang tidak pulang denganku."
Arka terdiam.
Alina membuka pintu taksi.
Adrian menangkap pergelangan tangannya. "Kamu mau ke mana?"
"Bukan urusanmu."
"Kamu masih istriku."
Alina melihat tangan Adrian di pergelangan tangannya, lalu mengangkat mata.
"Lepaskan."
Adrian tidak bergerak.
Alina berkata lebih pelan, "Kalau kamu tidak mau sekolah anakmu melihat adegan lebih memalukan daripada rekaman tadi, lepaskan."
Jari Adrian mengendur.
Alina masuk ke taksi.
Ketika mobil bergerak, ia melihat dari kaca spion: Adrian berdiri di tempat, Arka memeluk Vania, dan Vania menunduk seperti korban.
Pemandangan yang dulu akan membuatnya hancur.
Sekarang masih sakit.
Tapi sakit bukan alasan untuk kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
2026-08-21
0
Yuliati Soemarlina
si vania si pelakor yg berkedok sakir
2026-06-23
2