Episode 3

Bab 03 - Keluar Dari Grup Keluarga

Grup WhatsApp keluarga Wicaksono sudah ramai sejak pukul delapan pagi.

Alina membukanya ketika mobil taksi online yang ia tumpangi berhenti di lampu merah dekat Senayan. Nama grup itu terlalu manis untuk isi percakapannya.

Keluarga Wicaksono.

Pesan pertama datang dari Ratna Wicaksono, ibu Adrian.

Ratna Wicaksono:

Alina, Ibu dengar kamu membuat keributan semalam.

Beberapa detik kemudian, adik ipar Adrian, Melisa, ikut menulis.

Melisa:

Mbak, Vania itu sedang sakit. Kalau Mas Adrian sedikit perhatian, bukannya wajar?

Lalu tante Adrian.

Tante Mira:

Perempuan yang baik itu tahu kapan harus mengalah. Apalagi kalau yang dihadapi orang sakit.

Alina menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.

Di samping nama-nama itu, ada tanda centang biru. Semua orang membaca. Tidak ada yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang bertanya kenapa Alina, istri sah Adrian, sampai meminta cerai pada malam ulang tahunnya sendiri.

Mereka hanya ingin memastikan ia kembali ke posisinya.

Diam.

Sabar.

Melayani.

Pesan Adrian masuk bukan di grup, melainkan pribadi.

Adrian:

Jangan menanggapi. Nanti aku bicara dengan Mama.

Alina tertawa kecil.

Selama lima tahun, Adrian selalu berkata nanti.

Nanti aku jelaskan.

Nanti aku bicara.

Nanti aku ganti.

Nanti kalung itu kembali.

Nanti, nanti, nanti.

Alina membuka grup keluarga lagi.

Ratna Wicaksono:

Hari ini Ibu ada jadwal kontrol jam sebelas. Jangan lupa siapkan dokumen rumah sakit dan obat-obatan Ibu.

Melisa:

Oh iya, Mbak, katering untuk arisan Jumat sudah fix kan? Jangan lupa Tante-tante sensitif soal makanan. Jangan sampai malu-maluin keluarga.

Tante Mira:

Arka juga nanti pulang cepat, kan? Tolong minta sopir jemput. Anak kecil jangan kena imbas masalah orang tua.

Alina membaca satu per satu.

Lucu.

Mereka bisa menganggapnya dramatis, cemburu, tidak tahu diri. Tapi ketika ada jadwal rumah sakit, arisan, anak pulang cepat, dan urusan keluarga, mereka tetap menulis namanya.

Karena dalam rumah itu, Alina bukan menantu.

Ia sistem.

Sistem yang memastikan semua berjalan rapi tanpa seorang pun perlu berterima kasih.

Lampu berubah hijau.

Mobil bergerak.

Alina mengetik pelan.

Alina:

Mulai hari ini, urusan pribadi Ibu Ratna, jadwal Arka, arisan keluarga, katering, obat, dan agenda rumah tangga silakan dikoordinasikan dengan Pak Adrian atau asisten rumah.

Grup langsung sunyi.

Selama beberapa detik, tidak ada yang membalas.

Lalu Melisa menulis:

Maksudnya apa, Mbak?

Ratna Wicaksono:

Alina, jangan membawa masalah suami istri ke urusan keluarga.

Alina:

Saya tidak membawa masalah ke mana pun. Saya hanya berhenti mengurus hal-hal yang tidak lagi menjadi tanggung jawab saya.

Tante Mira:

Kamu masih istri Adrian.

Alina:

Untuk proses hukum, sementara masih. Untuk menjadi pelayan semua orang, sudah tidak.

Kali ini grup benar-benar meledak.

Melisa:

Ya ampun, bahasanya!

Tante Mira:

Anak sekarang memang kurang ajar sama mertua.

Ratna Wicaksono:

Alina, datang ke rumah Ibu sekarang. Kita bicara baik-baik.

Alina tidak menjawab.

Ia membuka galeri ponsel dan mengirim satu file PDF ke grup.

Judulnya:

Jadwal dan Kontak Rumah Tangga Wicaksono.

Di dalamnya ada daftar lengkap: nomor dokter Ratna, dosis obat, jadwal kontrol, kontak katering, vendor bunga, guru piano Arka, wali kelas, jadwal vaksin, nomor sopir cadangan, preferensi makanan keluarga besar, bahkan catatan alergi salah satu keponakan Adrian.

Semua itu Alina kumpulkan selama lima tahun.

Tidak ada yang pernah meminta.

Mereka hanya menikmati hasilnya.

Alina:

Semua informasi ada di file. Kalau ada yang kurang, silakan tanya Pak Adrian.

Setelah itu, ia membuka pengaturan grup dan keluar.

Tidak ada adegan besar. Hanya satu nama yang menghilang dari ruang yang selama ini mengikat lehernya.

Namun, dada Alina terasa sedikit lebih ringan.

*****

Di rumah Wicaksono, Ratna menatap layar ponselnya dengan wajah merah padam.

"Dia keluar dari grup?"

Melisa yang duduk di sofa langsung berdiri. "Keluar, Ma. Mbak Alina benar-benar keluar."

Ratna tidak bisa mempercayainya. Selama ini Alina adalah menantu yang paling mudah diatur. Disuruh datang, ia datang. Disindir, ia diam. Dipanggil mengurus acara keluarga, ia selalu siap walau sedang sakit.

Kini perempuan itu keluar dari grup seolah membuang keluarga Wicaksono dari hidupnya.

"Telepon Adrian," kata Ratna.

Melisa segera menelepon kakaknya.

Adrian mengangkat setelah beberapa dering. Suaranya terdengar dingin. "Ada apa?"

"Mas, Mbak Alina keluar dari grup keluarga."

Di seberang sana, Adrian diam sebentar.

"Aku tahu."

"Kok Mas tenang? Mama marah banget. Hari ini Mama kontrol. Semua dokumen biasanya Mbak Alina yang urus."

"Suruh Pak Joko ambil."

"Pak Joko mana tahu dokumennya di mana?"

"Tanya Sari."

Ratna merebut ponsel dari tangan Melisa.

"Adrian, istrimu sudah keterlaluan."

"Ma, aku sedang di mobil."

"Justru itu. Kamu harus pulang dan bicara dengannya. Kalau dibiarkan, dia makin menjadi."

Adrian menatap jalan. Di sebelahnya, Arka memainkan robot kecil, masih kesal karena tidak mendapat bekal.

"Nanti aku urus."

"Nanti lagi? Dari dulu kamu selalu bilang nanti. Lihat hasilnya, dia berani mempermalukan keluarga di grup."

Adrian menutup mata.

Ia ingin berkata bahwa semua ini hanya drama kecil. Alina akan tenang setelah beberapa hari. Perempuan itu selalu begitu. Ia mudah terluka, tapi juga mudah luluh.

Namun bayangan Alina semalam muncul di kepalanya.

Tenang.

Terlalu tenang.

Bukan seperti orang yang ingin ditahan.

Lebih seperti orang yang sudah melepas genggaman.

"Ma, aku akan minta asisten mengurus jadwal kontrol."

"Ibu tidak mau asisten. Ibu mau Alina yang mengurus. Dia tahu obat Ibu."

Adrian membuka file yang dikirim Alina di grup. Ia membacanya sekilas.

Semua ada di sana.

Rapi.

Terlalu rapi.

Nama obat, dosis, jam minum, efek samping, nama dokter, nomor perawat, riwayat alergi, bahkan catatan kecil: Ibu Ratna sering mengaku sudah minum obat padahal belum, cek ulang kotak obat setiap malam.

Adrian menatap catatan itu lama.

Ibunya sering begitu?

Ia tidak tahu.

Selama ini ia hanya tahu ibunya sehat karena Alina selalu memastikan semua terkendali.

"Adrian?" suara Ratna tajam.

"Aku baca filenya dulu, Ma."

"File? Ibu mau diurus pakai file?"

Sebelum Adrian menjawab, ponselnya bergetar lagi. Vania menelepon.

Nama itu muncul di layar, dan seperti biasa, semua prioritas lain bergeser.

"Ma, nanti aku telepon lagi."

"Adrian!"

Ia memutus panggilan ibunya dan menerima telepon Vania.

"Van?"

Suara Vania terdengar lemah. "Maaf mengganggu, Adrian. Aku cuma mau bilang, jangan marahi Alina karena semalam. Aku tidak enak sekali."

Adrian menghela napas. "Kamu tidak salah."

"Tapi dia pasti terluka. Aku lihat unggahanku semalam, mungkin aku terlalu senang sampai lupa menjaga perasaannya."

"Jangan pikirkan itu."

"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Aku tidak ingin jadi penyebab rumah tanggamu retak."

Adrian menatap keluar jendela. "Rumah tanggaku tidak serapuh itu."

Vania terdiam sebentar.

"Syukurlah," katanya pelan. "Aku takut Alina benar-benar ingin berpisah."

Adrian tidak langsung menjawab.

Arka yang duduk di sebelahnya tiba-tiba berkata, "Pa, kita ke apartemen Tante Vania dulu? Aku mau kasih robotku."

Adrian menutup mikrofon. "Kamu sekolah."

"Sebentar aja."

Vania seperti mendengar suara itu. "Arka ada di situ? Tidak usah, Adrian. Jangan sampai dia terlambat. Aku tidak apa-apa."

Semakin Vania berkata tidak usah, semakin Adrian merasa harus melakukan sesuatu.

"Aku antar Arka ke sekolah dulu. Setelah itu aku ke tempatmu."

"Adrian, jangan."

"Tidak lama."

Vania menghela napas kecil. "Kalau begitu, hati-hati."

Telepon ditutup.

Adrian menyimpan ponsel, lalu menatap Arka. "Kamu langsung sekolah."

Arka cemberut. "Papa nanti ke Tante Vania?"

"Setelah mengantarmu."

"Aku mau ikut."

"Kamu sekolah."

Anak itu memalingkan wajah ke jendela. "Kalau Mama yang anter, Mama pasti izinin aku mampir."

Adrian mendadak diam.

Tidak.

Alina tidak akan mengizinkan.

Alina hanya akan membujuk Arka dengan sabar sampai anak itu mau sekolah. Ia akan menyiapkan alasan yang tidak membuat Arka merasa ditolak. Ia akan mengatur semuanya tanpa membuat Adrian pusing.

Adrian menyadari sesuatu yang tidak enak.

Selama ini, ia bukan hanya bergantung pada Alina.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi ayah tanpa Alina di belakangnya.

*****

Di kantor pengacara kecil di kawasan Kuningan, Alina duduk berhadapan dengan seorang perempuan berusia empat puluhan bernama Nadia.

Nadia membaca dokumen dengan tenang. "Mbak Alina yakin ingin mengajukan cerai gugat?"

"Yakin."

"Biasanya pihak keluarga akan menekan saat proses mediasi. Apalagi keluarga sebesar Wicaksono."

"Saya tahu."

"Mereka mungkin memakai anak sebagai alasan."

Jari Alina berhenti di atas tasnya.

Nadia melihat perubahan kecil itu, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. "Saya perlu tahu posisi Mbak soal hak asuh."

Alina menarik napas.

Arka.

Nama itu tetap sakit.

"Untuk sementara, saya tidak akan memaksa Arka tinggal dengan saya."

Nadia tidak langsung menilai. "Alasannya?"

"Dia sudah terlalu lama hidup di lingkungan ayahnya. Dia juga..." Alina berhenti sebentar. "Dia menolak saya."

"Anak lima tahun bisa dipengaruhi."

"Saya tahu. Tapi kalau saya memaksa sekarang, keluarga Adrian akan menjadikannya perang. Arka akan dipakai untuk menekan saya, dan dia akan semakin membenci saya."

Nadia mengangguk pelan. "Jadi kita fokus dulu pada cerai, pembagian harta bersama, nafkah, dan hak kunjung yang jelas."

"Ya."

"Mbak punya bukti?"

Alina membuka folder digital di tabletnya.

Foto Vania.

Rekaman suara Arka.

Riwayat transfer Adrian untuk biaya apartemen Vania.

Jadwal Adrian yang membatalkan janji keluarga demi menemani Vania.

Dokumen medis Ratna yang selama ini ia urus.

Semua ada.

Nadia menatapnya dengan sedikit terkejut. "Mbak sudah menyiapkan ini lama?"

Alina menatap layar.

"Tidak. Saya hanya terlalu sering diberi alasan. Lama-lama alasan itu menjadi bukti."

Nadia tersenyum tipis. "Baik. Kita mulai."

Ponsel Alina bergetar.

Pesan dari Adrian.

Adrian:

Kamu keluar dari grup keluarga?

Alina membaca, lalu mematikan layar.

Nadia bertanya, "Tidak dibalas?"

"Tidak perlu."

Untuk pertama kali, Alina merasa tidak semua panggilan dari rumah itu harus dijawab.

Dan entah kenapa, diam terasa jauh lebih kuat daripada berteriak.

Terpopuler

Comments

Susi Andriani

Susi Andriani

the best alina👍👍

2026-06-24

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!