Episode 4

Bab 04 - Air Mata Vania

Apartemen Vania Safira berada di lantai dua puluh tujuh sebuah gedung mewah di Senopati.

Unit itu bukan miliknya.

Secara resmi, apartemen tersebut disewa oleh Wicaksono Foundation untuk "kebutuhan pasien prioritas". Secara tidak resmi, semua orang yang dekat dengan keluarga Adrian tahu bahwa tempat itu disiapkan khusus untuk Vania.

Vania berdiri di depan cermin ketika bel berbunyi.

Wajah pucatnya hilang begitu ia menepuk pipi dengan blush tipis. Ia mengambil lip tint warna lembut, mengoleskannya sedikit, lalu menghapus sebagian agar terlihat seperti warna alami. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, tidak terlalu rapi, tidak terlalu berantakan.

Sakit harus tetap cantik.

Rapuh harus tetap memikat.

Itu pelajaran pertama yang ia pelajari sejak kembali ke Jakarta.

Ketika bel berbunyi untuk kedua kalinya, Vania berjalan pelan menuju pintu. Ia sengaja menahan langkah, menarik napas seolah tubuhnya lemah.

Begitu pintu terbuka, Adrian berdiri di luar.

Pria itu masih mengenakan jas kerja. Wajahnya tenang, tapi garis di antara alisnya menunjukkan pikirannya tidak sepenuhnya berada di sini.

Vania tersenyum lemah. "Kamu datang."

"Kamu bilang pusing."

"Sudah lebih baik. Maaf, aku membuatmu repot."

Adrian masuk tanpa banyak bicara. Ia meletakkan tas kecil berisi obat dan bubur yang dibeli dari restoran hotel di meja makan.

Vania menatap kantong makanan itu.

Bukan bubur buatan Alina.

Ia langsung tahu.

Bubur buatan Alina selalu datang dalam wadah kaca, dengan potongan ayam yang disuwir halus, sedikit jahe, dan bawang goreng dipisah karena Vania pernah bilang aromanya terlalu kuat.

Bubur ini dari restoran. Mahal, tapi tidak punya jejak tangan perempuan itu.

Vania menurunkan mata.

"Alina marah, ya?"

Adrian melepas jas. "Tidak perlu membahas dia."

"Aku merasa bersalah."

"Kamu tidak melakukan apa pun."

Vania menggigit bibir. "Aku mengunggah foto kalung itu. Seharusnya aku bertanya dulu. Aku tidak tahu itu punya arti penting untuk Alina."

Adrian terdiam sepersekian detik.

Vania melihatnya.

Tentu saja ia tahu kalung itu penting.

Ia tahu sejak Adrian mengambilnya dari brankas kecil di ruang kerja. Ia juga tahu karena saat Adrian menyerahkannya, pria itu berkata, "Jaga baik-baik. Ini milik Alina."

Kalimat itu membuat Vania ingin tertawa.

Milik Alina.

Tapi tetap berada di tangannya.

Apa artinya benda itu milik seseorang kalau Adrian bisa mengambilnya dan memberikannya kepada wanita lain?

"Dia meminta cerai," kata Adrian tiba-tiba.

Vania mengangkat wajah, pura-pura terkejut. "Apa?"

"Semalam."

"Karena aku?"

"Karena dia terlalu emosional."

Vania mendekat perlahan. "Adrian, jangan bicara begitu. Perempuan pasti sakit hati kalau suaminya menemani wanita lain di hari penting."

Adrian menatapnya.

Vania menunduk, suara mulai bergetar. "Aku tidak pernah ingin mengambil tempatnya. Aku tahu aku tidak berhak. Aku hanya... aku hanya takut."

"Takut apa?"

"Takut mati sendirian."

Kalimat itu bekerja seperti biasa.

Wajah Adrian melunak.

Vania menyembunyikan senyum dalam tarikan napas patah.

"Dulu, saat kita masih muda, aku pikir kita punya banyak waktu," lanjutnya. "Lalu semuanya berubah. Aku pergi, kamu menikah, punya anak. Aku tidak menyalahkanmu. Aku benar-benar tidak menyalahkan siapa pun."

Adrian berdiri diam.

"Tapi ketika dokter bilang kondisiku bisa memburuk kapan saja, aku hanya memikirkan satu hal. Aku ingin melihatmu lagi. Aku ingin tahu kamu baik-baik saja."

"Vania."

"Aku tahu itu egois." Air mata jatuh di pipinya, satu tetes, cukup indah. "Kalau Alina membenciku, aku pantas menerimanya. Tapi jangan sampai rumah tanggamu hancur karena aku."

Adrian memejamkan mata.

Di kepala Vania, ia bisa mendengar pintu terbuka.

Selalu seperti ini.

Adrian tidak bisa menghadapi air matanya. Bukan karena pria itu lembut. Adrian justru keras pada hampir semua orang. Tapi terhadap Vania, ia menyimpan rasa bersalah yang terlalu tua, terlalu nyaman untuk terus dipelihara.

"Aku akan mengurus Alina," kata Adrian.

Vania menggeleng cepat. "Jangan keras padanya. Dia istrimu."

"Dia mulai melewati batas."

"Mungkin dia hanya ingin diperhatikan."

Adrian tidak menjawab.

Vania menatapnya dengan hati-hati. "Kamu masih mencintainya?"

Pertanyaan itu jatuh begitu lembut, seolah tidak punya duri.

Adrian langsung mengerutkan kening. "Itu bukan masalahnya."

"Berarti kamu tidak bisa menjawab."

"Vania."

Vania tersenyum sedih. "Maaf. Aku tidak seharusnya bertanya."

Adrian berjalan ke jendela. Dari sana, Jakarta tampak berkilau dan kotor sekaligus. Gedung tinggi, jalan macet, langit pucat.

"Alina ibu Arka," katanya akhirnya. "Dia sudah berada di rumah itu lima tahun. Aku tidak ingin masalah ini menjadi tontonan."

Vania mendengar apa yang tidak dikatakan Adrian.

Bukan cinta.

Tanggung jawab.

Kebiasaan.

Nama keluarga.

Itu cukup untuk sekarang.

"Kalau dia benar-benar ingin pergi?" tanya Vania pelan.

Adrian menoleh. "Dia tidak akan pergi."

"Bagaimana kamu bisa yakin?"

"Karena dia tidak punya tempat."

Vania menatap punggung pria itu.

Untuk sesaat, ia hampir kasihan pada Alina.

Hampir.

Perempuan itu menghabiskan lima tahun untuk pria yang bahkan tidak sadar ketika menginjak hatinya. Tapi rasa kasihan Vania cepat menguap ketika ia mengingat tatapan Alina di rumah sakit beberapa minggu lalu. Tatapan yang tenang, tajam, seolah bisa melihat semua kebohongannya.

Alina mulai berbahaya.

Dan perempuan berbahaya harus dibuat terlihat gila sebelum orang lain mempercayainya.

*****

Di sisi lain kota, Alina baru keluar dari kantor pengacara ketika pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

Isinya hanya satu foto.

Vania duduk di sofa apartemen, wajah pucat, mata sembap, kalung bintang milik ibu Alina masih melingkar di lehernya. Adrian berdiri di sampingnya, menunduk memegang gelas air.

Di bawah foto, ada tulisan:

Kalau suamimu benar-benar milikmu, dia tidak akan datang setiap kali aku menangis.

Alina menatap pesan itu.

Tidak ada nama pengirim. Tidak perlu.

Vania lebih berani daripada yang ia tunjukkan di depan Adrian.

Alina menyimpan foto itu ke folder bukti, lalu memblokir nomor tersebut.

Ia berjalan menuju halte taksi, tapi baru beberapa langkah, ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Adrian.

"Di mana kamu?" suara Adrian terdengar dingin begitu panggilan tersambung.

Alina berhenti di bawah pohon tabebuya yang bunganya mulai rontok. "Ada perlu?"

"Kamu mengirim dokumen rumah tangga ke grup dan keluar begitu saja. Mama shock."

"Ibumu punya dokter. Bukan hanya aku."

"Jangan bicara seperti itu."

"Lalu harus bagaimana? Minta maaf karena tidak lagi ingin mengatur obat orang yang menyebutku menantu tidak tahu diri?"

Adrian terdiam.

"Kamu benar-benar ke pengacara?"

"Ya."

"Alina, cukup. Aku sudah membiarkanmu marah semalam."

Membiarkan.

Kata itu membuat Alina hampir tertawa.

"Terima kasih atas izinmu."

"Jangan sinis."

"Aku sedang sangat sopan."

Adrian menarik napas tajam. "Kita bisa menyelesaikan ini di rumah."

"Rumah siapa?"

"Rumah kita."

"Tidak ada rumah kita, Adrian. Ada rumah keluargamu. Aku hanya orang yang memastikan lampunya menyala, makanannya tersedia, anaknya rapi, ibunya minum obat, dan suaminya bisa pergi menemui perempuan lain tanpa terganggu urusan kecil."

Di seberang sana, Adrian diam terlalu lama.

Alina melanjutkan, "Aku sudah mengirim surat kuasa ke pengacara. Mulai sekarang, kalau membahas perceraian, hubungi Bu Nadia."

"Kamu pikir aku akan membiarkan ini masuk pengadilan?"

"Aku tidak butuh izinmu."

"Aku bisa membuat proses ini panjang."

"Silakan."

"Dan Arka?"

Alina menutup mata sebentar.

Nama itu selalu menjadi pisau yang Adrian simpan di saku.

"Jangan gunakan Arka untuk mengancamku."

"Aku tidak mengancam. Aku mengingatkan. Dia masih kecil. Kamu mau dia tumbuh tanpa ibunya?"

"Dia sudah belajar hidup tanpa ibunya, kan? Dia punya Tante Vania."

"Alina!"

Orang-orang di halte menoleh.

Alina menjauh beberapa langkah. "Jangan berteriak. Kamu sedang di mana? Apartemen Vania?"

Adrian tidak menjawab.

Itu jawaban.

"Kalau begitu, urus dia. Aku punya urusan lain."

"Jangan tutup telepon."

"Kenapa?"

"Karena aku belum selesai bicara."

"Tapi aku sudah selesai mendengar."

Alina memutus panggilan.

Tangannya sedikit gemetar setelah itu, tapi bukan karena takut. Lebih seperti tubuhnya belum terbiasa tidak patuh.

Ia memasukkan ponsel ke tas.

Langit Jakarta mendung, udara berat. Di layar kaca gedung seberang, ia melihat bayangannya sendiri. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun, wajah lelah, mata merah karena kurang tidur, tapi berdiri tegak.

Ia tidak terlihat seperti pemenang.

Belum.

Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat seperti seseorang yang menunggu diselamatkan.

*****

Sore itu, Vania mengunggah Instagram Story baru.

Tidak ada wajah Adrian. Tidak ada kalung. Hanya foto tangan pucatnya memegang obat.

Caption:

Kadang, kita merasa bersalah hanya karena masih ingin hidup.

Unggahan itu langsung dibagikan oleh beberapa akun gosip kecil.

Kasihan banget Vania, udah sakit masih diserang istri sah?

Ada juga yang menulis:

Kalau suami perhatian ke orang sakit, masa langsung minta cerai?

Nama Alina tidak disebut.

Tapi semua orang yang mengenal lingkaran Wicaksono tahu siapa yang dimaksud.

Malamnya, Melisa mengirim tangkapan layar ke Adrian.

Melisa:

Mas, ini mulai rame. Tolong Mbak Alina disuruh diam. Malu keluarga kita.

Adrian membaca pesan itu di ruang kerjanya.

Untuk pertama kali, ia tidak langsung menyalahkan Alina.

Ia justru membuka akun Vania dan menatap kalimat itu lama.

Kadang, kita merasa bersalah hanya karena masih ingin hidup.

Kalimat yang indah.

Tapi kenapa sekarang terasa seperti tuduhan yang terlalu rapi?

Pintu ruang kerja diketuk.

Arka masuk sambil membawa cangkir susu.

"Pa, Mama pulang kapan?"

Adrian mendongak.

"Kenapa?"

"Aku mau minta Mama jahitin kancing seragamku. Besok ada foto kelas."

Adrian melihat kancing yang hampir lepas di seragam anak itu.

Hal kecil.

Sangat kecil.

Tapi ia tidak tahu tempat kotak jahit berada.

Dan untuk hal sekecil itu, rumah besar keluarga Wicaksono mendadak terasa kosong.

Terpopuler

Comments

Fitrian

Fitrian

ya karena itu lah lo harus cepat mamposss supaya tidak ada lagi virus penyakitan seperti loo🖕🖕
cepaaattt mampoossssss🖕🖕🔪

2026-06-26

0

Idawati Wijaya

Idawati Wijaya

sukaaaa sama cerita nya

2026-06-16

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!