2. Dimas

Pintu jati itu dibanting keras. Suaranya bergema memantul di dinding-dinding kusam.

Sulastri pergi. Langkah kakinya terdengar cepat menjauhi paviliun belakang. Noda hitam jamu merusak kebaya sutranya, membawa lari sisa keangkuhan wanita itu.

Sumarni sendirian.

Tenggorokannya tiba-tiba terbakar. Batuk keras merobek dadanya, memaksa tubuhnya membungkuk. Lendir kehitaman berbau karat besi menetes dari sudut bibirnya, jatuh mengenai selimut motif parang yang menutupi pahanya. Lidahnya kebas. Pahit dan amis darah bercampur menjadi satu.

Tubuh rapuh ini benar-benar menolak mati. Cangkang fisik Sumarni masih berjuang membuang sisa toksin dari tegukan pertama semalam.

Keringat dingin membanjiri dahi. Sumarni menyingkap selimut. Kakinya yang kurus pucat menyentuh lantai tegel abu-abu. Sedingin es. Tidak ada karpet bulu tebal seperti di ruang kerja CEO-nya dulu. Hanya lantai keras berdebu.

Dia butuh air.

Mata Sumarni menyapu ruangan redup itu. Bau kapur barus murahan dan aroma sangit jamu yang tumpah mendominasi udara. Di atas nakas kayu reyot samping ranjang, sebuah kendi tanah liat berdiri diam.

Sumarni menyeret kakinya. Tangannya yang gemetar mencengkeram leher kendi. Dia mengangkatnya, menenggak air putih suam-kuku itu langsung dari bibir kendi. Air membasuh jalur api di tenggorokannya. Napasnya berangsur turun menjadi ritme yang lebih stabil.

Klotak.

Sebuah bunyi benturan kayu halus menghentikan gerakannya.

Sumarni membeku. Telinganya menajam. Bunyi itu berasal dari sudut ruangan, tepat di celah sempit antara bagian bawah lemari pakaian dan dinding.

"Siapa di sana?" Suara Sumarni masih serak. Terdengar mengancam.

Hening.

Di kehidupan lamanya, dia memimpin perusahaan multinasional. Dia tahu cara menghadapi penyusup, pengkhianat, atau musuh dalam selimut. Tangan Sumarni meraba permukaan meja, mencari benda tumpul apa saja. Dia meraih sebuah asbak kayu padat.

Dengan langkah tak bersuara, dia mendekati sudut lemari. Bau debu makin pekat.

Sesuatu meringkuk di celah gelap itu.

Bukan penyusup. Bukan centeng suruhan Sulastri.

Itu seorang anak kecil. Usianya paling baru tiga tahun.

Kaus oblong putihnya menguning, penuh noda tanah di bagian kerah dan lengan. Celana pendek kainnya kebesaran, hanya ditahan oleh gulungan karet gelang di pinggang. Rambutnya lepek menempel di dahi. Bocah itu memeluk lututnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di sana. Tubuh kurusnya bergetar hebat.

Dimas.

Nama itu meledak di kepala Sumarni. Kepingan memori pemilik tubuh asli kembali mengambil alih. Dimas adalah anak kandung Harjono dari istri pertamanya yang sudah tiada. Pewaris sah pabrik batik ini.

Tapi di rumah ini, statusnya lebih rendah dari anak anjing jalanan. Sulastri membencinya setengah mati. Sedangkan Sumarni yang asli? Perempuan desa itu terlalu sibuk menangisi nasibnya sendiri sebagai istri kedua yang diinjak-injak, hingga membiarkan anak ini berkeliaran seperti hantu tak kasatmata.

Mata bulat Dimas mengintip dari balik lengannya. Sorotnya penuh teror. Tangan mungilnya meremas perutnya yang kempes.

Kruyuk.

Suara perut kosong itu memecah kesunyian. Lantang dan menyedihkan.

Dimas langsung memejamkan mata. Tangan kecilnya naik menutupi kepala, sebuah refleks perlindungan diri. Dia bersiap menerima pukulan, cubitan, atau sapu lidi yang biasa mendarat di tubuhnya setiap kali dia ketahuan menyelinap mencari makanan.

Langkah Sumarni terhenti. Asbak kayu di tangannya perlahan turun.

Di kehidupan masa depannya, Sumarni tidak punya anak. Rahimnya tidak pernah membuahkan kehidupan. Waktunya habis untuk rapat dewan direksi, akuisisi saham, dan menghancurkan rival bisnis. Anak kecil adalah entitas asing yang tidak masuk dalam portofolio hidupnya.

Namun, melihat bahu mungil yang gemetar itu, pertahanan rasionalnya runtuh. Dada Sumarni terasa diremas kuat. Ada perih tajam yang menyengat matanya. Bukan perih karena sisa racun, melainkan murni naluri kemanusiaan. Naluri seorang perempuan.

Sumarni meletakkan asbak itu ke lantai. Dia berjongkok perlahan. Tulang lututnya bergemeretak pelan.

"Kamu lapar?"

Suaranya tidak lagi mengancam. Tidak ada nada tinggi.

Dimas membuka sebelah matanya. Ragu. Takut. Perlahan, dagu kecilnya mengangguk. Gerakan yang sangat rapuh.

Sumarni menoleh ke arah meja bundar kecil di dekat jendela. Ada sebuah tudung saji anyaman bambu kusam di sana. Dia bangkit, berjalan tertatih menghampiri meja itu. Saat tudung saji dibuka, rahang Sumarni mengeras.

Di atas piring seng lecet, hanya ada seporsi nasi dingin yang sudah agak mengering. Sepotong tempe bacem sisa kemarin. Dan sejumput sambal terasi mentah. Tidak ada lauk lain.

Ini sarapan untuk seorang istri pemilik pabrik? Sulastri benar-benar memperlakukan penghuni paviliun ini lebih buruk dari binatang.

Sumarni membawa piring seng itu kembali ke sudut lemari. Dia duduk bersila di atas lantai tegel, tidak peduli kain batiknya kotor. Piring diletakkan di tengah-tengah antara dirinya dan Dimas.

"Sini."

Dimas tidak bergerak. Matanya terpaku pada butiran nasi, tapi ketakutan menahan tubuhnya.

Sumarni mematahkan sedikit ujung tempe, menaruhnya di atas gumpalan nasi, lalu menyodorkannya lebih dekat. "Makan. Kalau perutmu kosong, kamu tidak akan punya tenaga untuk lari dari orang jahat."

Mendengar nada suara yang tidak menghakimi itu, pertahanan Dimas runtuh. Perlahan, bocah itu merangkak keluar dari celah lemari. Tangannya yang mungil dan kotor langsung menyambar nasi.

Dia memasukkan makanan itu ke mulutnya dengan rakus. Terburu-buru. Berantakan. Nasi berjatuhan di dadanya. Dia mengunyah tanpa henti, persis seperti anak kelaparan yang tidak makan berhari-hari.

Sumarni menahan napas. Jemarinya yang dulu terbiasa menandatangani cek miliaran rupiah, kini terulur pelan. Dia mengusap sisa butiran nasi di sudut bibir Dimas. Kulit pipi bocah itu terasa dingin dan kasar.

Satu sentuhan itu membuat Dimas mendongak. Kunyahannya terhenti sejenak.

Untuk pertama kalinya, bocah itu tidak menemukan tatapan jijik atau kasihan yang merendahkan dari ibu tiri barunya. Yang ada di mata Sumarni hanyalah kehangatan pelindung yang kokoh. Seperti perisai baja.

Dimas kembali menunduk, melanjutkan makannya. Kali ini, pundaknya tidak lagi tegang. Dia menggeser tubuh kecilnya, duduk menyandar pada lutut Sumarni. Mencari kehangatan.

Sumarni merapikan poni lepek Dimas. Pikirannya berdengung tajam.

Bocah ini adalah ancaman terbesar bagi takhta Sulastri. Selama Dimas hidup, posisi istri pertama itu tidak akan pernah mutlak. Sulastri sengaja menelantarkannya, membiarkannya mati pelan-pelan tanpa harus mengotori tangannya sendiri secara langsung. Sama liciknya dengan racun jamu itu.

Di kehidupan lalu, Sumarni membangun kerajaan bisnis raksasa dari titik nol. Di tahun 1984 ini, di tengah rumah berisi senyum palsu dan niat membunuh ini, dia akan membangun hal yang sama. Dia akan membangun benteng.

Tidak akan ada yang berani menyentuh bocah ini lagi. Tidak selama Sumarni masih bernapas.

Tiba-tiba, aroma sangit kembali menyerang penciumannya.

Mata Sumarni beralih ke tengah ruangan. Genangan hitam sisa jamu dari mangkuk yang pecah. Cairan itu tidak sekadar tumpah. Busa-buih putih kecil muncul di tepian genangan, bereaksi memakan lapisan nat semen pada lantai tegel.

Jantung Sumarni berdetak lebih cepat.

Racun korosif. Jika Sulastri kembali dengan membawa saksi atau pelayan, perempuan licik itu bisa memutarbalikkan fakta. Dia bisa menuduh Sumarni sengaja merusak obat mahalnya, atau lebih buruk, menemukan bukti racun itu dan melenyapkannya sebelum Sumarni bisa menggunakannya sebagai senjata balik.

Genangan itu harus dibersihkan. Sekarang.

Sumarni baru saja hendak memindahkan kepala Dimas perlahan dari lututnya, ketika rasa sakit yang mendadak meledak di dalam tengkoraknya. Pandangannya berputar. Dunia seakan berhenti bergerak. Suara detak jam dinding mati seketika.

Ting.

Sebuah suara mekanis yang melengking dingin bergema tepat di dalam otaknya. Mustahil. Suara sintetik seperti itu tidak ada di tahun 1984.

[Sistem Istri Ideal Aktif.]

Terpopuler

Comments

gina altira

gina altira

seruuu,

2026-05-15

2

sukensri hardiati

sukensri hardiati

misi baru....anak didik baru

2026-05-15

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tahun 1984
2 2. Dimas
3 3. Sistem Istri Ideal
4 4. Harjono
5 5. Menyerang Kompetensinya
6 6. Cara Modern
7 7. Pakai Logika
8 8. Emas mentah
9 9. Dari Kain Sisa
10 10. Merebut Panggung
11 11. Ia Butuh Keajaiban
12 12. Perbuatan Rendah
13 13. Bernegosiasi
14 14. Rekan Kerja
15 15. Ancaman
16 16. senyuman kemenangan
17 17. Benteng Pertahanan
18 18. Menguliti Karakternya
19 19. Umbi Gadung Mentah
20 20. Sudah Saya Buang
21 21. Obsesi Ringan
22 22. Misi Berhasil
23 23. Tidak Boleh Berhasil
24 24. Akses dicabut
25 25. Teknik Keseimbangan
26 26. Semburat Kecemburuan
27 27. Darah Panas
28 28. Bukan Hanya Tubuhku
29 29. Fitnah Keji
30 30. Mendadak Memuja
31 31. Para Wanita Akar Rumput
32 32. Mengunci Sisa Kewarasan
33 33. Untuk Memuaskan Hasrat
34 34. Air Mata Buaya
35 35. Tugas Utama
36 36. Sedang Sekarat
37 37. Manuver Finansial
38 38. Penguasa Tunggal
39 39. Menyerupai Neraka
40 40. Malaikat Kecil
41 41. Pertahanan Psikologis
42 42. Tawaran Manis
43 43. Sisa Kewarasan
44 44. Dendam Masa Lalu
45 45. Pasar Surabaya
46 46. Jauh Lebih Berharga
47 47. Aura Permusuhan
48 48. Ego Feodal
49 49. Kemarahan Baru
50 50. Mengintimidasi
51 51. Mendadak Lumpuh
52 52. Insting Manusiawi
53 53. Lahirnya Teror Baru
54 54. Menuju Ibukota
55 55. Kesalahan Fatal
56 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57 56. Jalan Pintas
58 57. Ganjaran Kebodohan
59 58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60 59. Surat Palsu
61 60. Drama Jalanan
62 61. Birokrasi Hukum
63 62. Kesombongan Feodal
64 63. Kenyataan Pahit
65 64. Risiko Kelumpuhan
66 65. Monster yang Ia Pelihara
67 66. Sumarni Tertembak
68 67. Senjata Finansial
69 68. Percaya Kepada Instingku
70 69. Keponakan Sulastri
71 70. Memberikan Celah
72 71. Racun Mematikan
73 72. Protektif
74 73. Menyatu Harmonis
75 74. Mencoba Merampas
76 75. Siap Melilit Mangsanya
77 76. Jangan Buka Pintu
78 77. Ilmu Hitam
79 78. Bertahanlah
80 79. Sudah diputuskan
81 80. Melampaui Batasan Fisik
82 81. Dendam Kesumat
83 82. Pertarungan Hidup dan Mati
84 83. Menolak dihancurkan
85 84. Uang Suamiku
86 85. Tameng Finansial
87 86. Terkonfirmasi
88 87. Membunuh Darah Daging
89 88. Korban
90 89. Secara Sah
91 90. Membersihkan Nama
92 91. Gugatan Cerai
93 92. Pelarian
94 93. Belum Selesai
95 94. Telah dimusnahkan
96 95. Misi Selesai - TAMAT
97 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 98 Episodes

1
1. Tahun 1984
2
2. Dimas
3
3. Sistem Istri Ideal
4
4. Harjono
5
5. Menyerang Kompetensinya
6
6. Cara Modern
7
7. Pakai Logika
8
8. Emas mentah
9
9. Dari Kain Sisa
10
10. Merebut Panggung
11
11. Ia Butuh Keajaiban
12
12. Perbuatan Rendah
13
13. Bernegosiasi
14
14. Rekan Kerja
15
15. Ancaman
16
16. senyuman kemenangan
17
17. Benteng Pertahanan
18
18. Menguliti Karakternya
19
19. Umbi Gadung Mentah
20
20. Sudah Saya Buang
21
21. Obsesi Ringan
22
22. Misi Berhasil
23
23. Tidak Boleh Berhasil
24
24. Akses dicabut
25
25. Teknik Keseimbangan
26
26. Semburat Kecemburuan
27
27. Darah Panas
28
28. Bukan Hanya Tubuhku
29
29. Fitnah Keji
30
30. Mendadak Memuja
31
31. Para Wanita Akar Rumput
32
32. Mengunci Sisa Kewarasan
33
33. Untuk Memuaskan Hasrat
34
34. Air Mata Buaya
35
35. Tugas Utama
36
36. Sedang Sekarat
37
37. Manuver Finansial
38
38. Penguasa Tunggal
39
39. Menyerupai Neraka
40
40. Malaikat Kecil
41
41. Pertahanan Psikologis
42
42. Tawaran Manis
43
43. Sisa Kewarasan
44
44. Dendam Masa Lalu
45
45. Pasar Surabaya
46
46. Jauh Lebih Berharga
47
47. Aura Permusuhan
48
48. Ego Feodal
49
49. Kemarahan Baru
50
50. Mengintimidasi
51
51. Mendadak Lumpuh
52
52. Insting Manusiawi
53
53. Lahirnya Teror Baru
54
54. Menuju Ibukota
55
55. Kesalahan Fatal
56
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57
56. Jalan Pintas
58
57. Ganjaran Kebodohan
59
58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60
59. Surat Palsu
61
60. Drama Jalanan
62
61. Birokrasi Hukum
63
62. Kesombongan Feodal
64
63. Kenyataan Pahit
65
64. Risiko Kelumpuhan
66
65. Monster yang Ia Pelihara
67
66. Sumarni Tertembak
68
67. Senjata Finansial
69
68. Percaya Kepada Instingku
70
69. Keponakan Sulastri
71
70. Memberikan Celah
72
71. Racun Mematikan
73
72. Protektif
74
73. Menyatu Harmonis
75
74. Mencoba Merampas
76
75. Siap Melilit Mangsanya
77
76. Jangan Buka Pintu
78
77. Ilmu Hitam
79
78. Bertahanlah
80
79. Sudah diputuskan
81
80. Melampaui Batasan Fisik
82
81. Dendam Kesumat
83
82. Pertarungan Hidup dan Mati
84
83. Menolak dihancurkan
85
84. Uang Suamiku
86
85. Tameng Finansial
87
86. Terkonfirmasi
88
87. Membunuh Darah Daging
89
88. Korban
90
89. Secara Sah
91
90. Membersihkan Nama
92
91. Gugatan Cerai
93
92. Pelarian
94
93. Belum Selesai
95
94. Telah dimusnahkan
96
95. Misi Selesai - TAMAT
97
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!