3. Sistem Istri Ideal

Mata Sumarni membelalak. Pendar biru pucat mendadak muncul di penglihatannya, seperti membelah udara berdebu. Suara lengkingan mekanis itu menggores saraf otaknya, membekukan waktu di dalam paviliun kusam ini.

Huruf-huruf digital tercetak di udara kosong.

[Sistem Istri Ideal Aktif.]

[Misi Pertama: Buang bukti racun tanpa ketahuan.]

[Batas waktu: 5 menit.]

[Hukuman gagal: Kematian Karakter.]

Kematian. Lagi.

Sumarni mendecih. Di kehidupan sebelumnya, dia memimpin rapat pemegang saham dengan ancaman kebangkrutan yang memburu setiap detik. Tenggat waktu adalah makanan sehari-harinya. Angka digital merah berkedip di sudut pandangannya.

04:59.

04:58.

Tek. Tok. Tek.

Bunyi sepatu kulit beradu dengan tegel terdengar dari selasar luar. Berat. Konstan. Berwibawa.

Itu bukan langkah kaki Sulastri yang tergesa-gesa. Itu langkah seorang pria penguasa. Harjono. Tuan Pabrik Batik. Suami dari cangkang rapuh ini.

Waktunya nyaris habis.

Sumarni melempar tubuhnya ke lantai tegel. Dinginnya semen menusuk tulang lututnya. Dia menyambar kain jarik kusam yang tersampir di sandaran kursi rotan. Tangannya bergerak brutal, menyeka genangan cairan hitam yang masih mendesis merusak nat semen.

Panas racun korosif itu menembus kain. Kulit telapak tangannya melepuh. Sumarni menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga asin darah mengecap di lidah. Dia menolak mengeluarkan suara rintihan.

03:45.

Pecahan mangkuk motif ayam jago berserakan. Ujung tajamnya menggores jari telunjuknya saat dia memungut beling itu satu per satu. Darah menetes, menyatu dengan noda jamu. Dia menggulung semua kepingan itu ke dalam jarik kusam rapat-rapat.

Langkah sepatu di luar paviliun makin keras. Jaraknya tidak lebih dari sepuluh meter.

Mata Sumarni menyapu sekeliling. Bawah dipan terlalu mudah diperiksa. Jendela kayu tertutup rapat dari luar. Pandangannya terkunci pada lemari jati raksasa di sudut ruangan.

Dia menyeret kakinya. Pintu lemari ditarik perlahan agar engsel karatatnya tidak berderit. Aroma tajam kapur barus langsung menyengat hidung. Sumarni menjejalkan buntelan jarik itu ke celah paling gelap, tepat di balik tumpukan kebaya lawas yang bau apek. Pintu lemari ditutup kembali.

02:10.

Langkah itu berhenti di depan pintu paviliun. Terdengar ketukan pelan tongkat kayu ke lantai teras.

Sumarni berputar. Dimas masih mematung di dekat kaki meja. Mulut bocah itu sedikit terbuka, ngeri melihat ibu tirinya bergerak beringas seperti orang kesurupan.

Sumarni merenggut lap kecil dari atas nakas. Dia membasahinya dengan sisa air dari kendi tanah liat. Dalam dua langkah lebar, dia meraih bahu kurus Dimas. Lap basah itu digosokkan kasar ke sudut bibir dan dagu sang anak. Remah nasi dan jejak minyak tempe bacem lenyap seketika.

"Duduk di lantai. Menghadap dinding. Tutup mulutmu," bisik Sumarni tajam. Suaranya kering, memerintah tanpa celah bantahan.

Dimas buru-buru memutar tubuhnya. Bocah itu memeluk lutut, meringkuk menghadap tembok kusam. Pundaknya tidak lagi gemetar. Dia tahu perempuan di belakangnya ini bukan lagi ancaman, melainkan tembok pelindungnya.

00:15.

Gagang pintu paviliun ditarik ke bawah. Bunyi logam bergesekan memecah keheningan.

Sumarni melemparkan dirinya kembali ke atas kasur kapuk. Dia menarik selimut motif parang hingga menutupi dada. Kepalanya dijatuhkan ke bantal datar. Napasnya diatur putus-putus. Keringat yang membanjiri pelipisnya menyempurnakan ilusi seorang wanita sakit yang nyaris mati.

00:03.

00:02.

Pintu berderit terbuka.

00:00.

[Misi Selesai.]

[Hadiah: Penawar Racun Tingkat Rendah otomatis disuntikkan.]

Sensasi es seketika menjalar dari ulu hati. Rasa terbakar di tenggorokannya padam. Udara kotor paviliun tiba-tiba terasa segar masuk ke dalam paru-parunya. Kekuatan merayap perlahan ke dalam urat nadi Sumarni.

Tapi ancaman sebenarnya baru saja melangkah masuk.

Siluet tinggi tegap memblokir cahaya matahari sore dari ambang pintu. Bau tembakau cengkih kelas satu dan wangi pomade rambut menendang aroma sangit jamu di udara.

Harjono berdiri di sana. Jas safari abu-abunya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Wajah bersudut tajam itu minim ekspresi. Dingin bak patung pahatan batu. Sorot matanya yang gelap menyapu seluruh penjuru kamar, menilai kerusakan, sebelum akhirnya mengunci sosok Sumarni di atas dipan.

Kepingan memori menyeruak. Di masa lalu, Sumarni asli akan langsung merangkak turun. Dia akan memeluk kaki pria ini. Menangis histeris. Mengemis perlindungan dan mengadukan kelicikan Sulastri dengan air mata bercucuran. Reaksi murahan yang justru membuat Harjono memandangnya rendah bak lintah darat.

Sumarni modern tidak melakukan itu.

Dia hanya menoleh perlahan. Dagunya sedikit terangkat. Matanya membalas tatapan sang Pemilik Pabrik Kretek itu lurus tanpa gentar. Tidak ada air mata. Tidak ada rintihan menyedihkan. Dia menganalisis pria di depannya ini murni sebagai variabel bisnis: sebuah aset yang harus dikendalikan, atau musuh yang harus dihancurkan.

Udara di kamar itu mendadak padat.

Alis tebal Harjono bertaut tipis. Ada riak kebingungan di matanya yang dingin. Dia melangkah masuk, sepatu kulitnya mengetuk lantai.

"Sulastri bilang kamu pingsan. Katanya kamu mengamuk dan menolak pengobatannya." Suara Harjono rendah, bergetar di frekuensi bariton yang menuntut ketaatan.

Sumarni tetap bungkam. Dia membiarkan kesunyian menjadi senjatanya.

Langkah Harjono terhenti tepat di sisi dipan. Matanya yang jeli tiba-tiba turun. Bukan pada wajah Sumarni, melainkan pada tetesan merah pekat di ujung jari telunjuk istrinya itu. Luka gores dari pecahan mangkuk.

Lalu, pandangan pria itu menyapu ke lantai. Tepat pada sisa genangan air kendi yang berantakan di dekat kaki meja. Bukan jamu, hanya air putih. Tapi ada yang salah.

Harjono menunduk. Jari tangannya yang besar menyentuh bercak air di lantai, lalu matanya kembali menatap Sumarni.

"Kalau kamu hanya menolak minum obat," suara Harjono turun menjadi bisikan berbahaya. Matanya menyipit curiga. "Kenapa jarimu berdarah, dan bau kamper di kamar ini tajam sekali?"

Episodes
1 1. Tahun 1984
2 2. Dimas
3 3. Sistem Istri Ideal
4 4. Harjono
5 5. Menyerang Kompetensinya
6 6. Cara Modern
7 7. Pakai Logika
8 8. Emas mentah
9 9. Dari Kain Sisa
10 10. Merebut Panggung
11 11. Ia Butuh Keajaiban
12 12. Perbuatan Rendah
13 13. Bernegosiasi
14 14. Rekan Kerja
15 15. Ancaman
16 16. senyuman kemenangan
17 17. Benteng Pertahanan
18 18. Menguliti Karakternya
19 19. Umbi Gadung Mentah
20 20. Sudah Saya Buang
21 21. Obsesi Ringan
22 22. Misi Berhasil
23 23. Tidak Boleh Berhasil
24 24. Akses dicabut
25 25. Teknik Keseimbangan
26 26. Semburat Kecemburuan
27 27. Darah Panas
28 28. Bukan Hanya Tubuhku
29 29. Fitnah Keji
30 30. Mendadak Memuja
31 31. Para Wanita Akar Rumput
32 32. Mengunci Sisa Kewarasan
33 33. Untuk Memuaskan Hasrat
34 34. Air Mata Buaya
35 35. Tugas Utama
36 36. Sedang Sekarat
37 37. Manuver Finansial
38 38. Penguasa Tunggal
39 39. Menyerupai Neraka
40 40. Malaikat Kecil
41 41. Pertahanan Psikologis
42 42. Tawaran Manis
43 43. Sisa Kewarasan
44 44. Dendam Masa Lalu
45 45. Pasar Surabaya
46 46. Jauh Lebih Berharga
47 47. Aura Permusuhan
48 48. Ego Feodal
49 49. Kemarahan Baru
50 50. Mengintimidasi
51 51. Mendadak Lumpuh
52 52. Insting Manusiawi
53 53. Lahirnya Teror Baru
54 54. Menuju Ibukota
55 55. Kesalahan Fatal
56 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57 56. Jalan Pintas
58 57. Ganjaran Kebodohan
59 58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60 59. Surat Palsu
61 60. Drama Jalanan
62 61. Birokrasi Hukum
63 62. Kesombongan Feodal
64 63. Kenyataan Pahit
65 64. Risiko Kelumpuhan
66 65. Monster yang Ia Pelihara
67 66. Sumarni Tertembak
68 67. Senjata Finansial
69 68. Percaya Kepada Instingku
70 69. Keponakan Sulastri
71 70. Memberikan Celah
72 71. Racun Mematikan
73 72. Protektif
74 73. Menyatu Harmonis
75 74. Mencoba Merampas
76 75. Siap Melilit Mangsanya
77 76. Jangan Buka Pintu
78 77. Ilmu Hitam
79 78. Bertahanlah
80 79. Sudah diputuskan
81 80. Melampaui Batasan Fisik
82 81. Dendam Kesumat
83 82. Pertarungan Hidup dan Mati
84 83. Menolak dihancurkan
85 84. Uang Suamiku
86 85. Tameng Finansial
87 86. Terkonfirmasi
88 87. Membunuh Darah Daging
89 88. Korban
90 89. Secara Sah
91 90. Membersihkan Nama
92 91. Gugatan Cerai
93 92. Pelarian
94 93. Belum Selesai
95 94. Telah dimusnahkan
96 95. Misi Selesai - TAMAT
97 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 98 Episodes

1
1. Tahun 1984
2
2. Dimas
3
3. Sistem Istri Ideal
4
4. Harjono
5
5. Menyerang Kompetensinya
6
6. Cara Modern
7
7. Pakai Logika
8
8. Emas mentah
9
9. Dari Kain Sisa
10
10. Merebut Panggung
11
11. Ia Butuh Keajaiban
12
12. Perbuatan Rendah
13
13. Bernegosiasi
14
14. Rekan Kerja
15
15. Ancaman
16
16. senyuman kemenangan
17
17. Benteng Pertahanan
18
18. Menguliti Karakternya
19
19. Umbi Gadung Mentah
20
20. Sudah Saya Buang
21
21. Obsesi Ringan
22
22. Misi Berhasil
23
23. Tidak Boleh Berhasil
24
24. Akses dicabut
25
25. Teknik Keseimbangan
26
26. Semburat Kecemburuan
27
27. Darah Panas
28
28. Bukan Hanya Tubuhku
29
29. Fitnah Keji
30
30. Mendadak Memuja
31
31. Para Wanita Akar Rumput
32
32. Mengunci Sisa Kewarasan
33
33. Untuk Memuaskan Hasrat
34
34. Air Mata Buaya
35
35. Tugas Utama
36
36. Sedang Sekarat
37
37. Manuver Finansial
38
38. Penguasa Tunggal
39
39. Menyerupai Neraka
40
40. Malaikat Kecil
41
41. Pertahanan Psikologis
42
42. Tawaran Manis
43
43. Sisa Kewarasan
44
44. Dendam Masa Lalu
45
45. Pasar Surabaya
46
46. Jauh Lebih Berharga
47
47. Aura Permusuhan
48
48. Ego Feodal
49
49. Kemarahan Baru
50
50. Mengintimidasi
51
51. Mendadak Lumpuh
52
52. Insting Manusiawi
53
53. Lahirnya Teror Baru
54
54. Menuju Ibukota
55
55. Kesalahan Fatal
56
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57
56. Jalan Pintas
58
57. Ganjaran Kebodohan
59
58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60
59. Surat Palsu
61
60. Drama Jalanan
62
61. Birokrasi Hukum
63
62. Kesombongan Feodal
64
63. Kenyataan Pahit
65
64. Risiko Kelumpuhan
66
65. Monster yang Ia Pelihara
67
66. Sumarni Tertembak
68
67. Senjata Finansial
69
68. Percaya Kepada Instingku
70
69. Keponakan Sulastri
71
70. Memberikan Celah
72
71. Racun Mematikan
73
72. Protektif
74
73. Menyatu Harmonis
75
74. Mencoba Merampas
76
75. Siap Melilit Mangsanya
77
76. Jangan Buka Pintu
78
77. Ilmu Hitam
79
78. Bertahanlah
80
79. Sudah diputuskan
81
80. Melampaui Batasan Fisik
82
81. Dendam Kesumat
83
82. Pertarungan Hidup dan Mati
84
83. Menolak dihancurkan
85
84. Uang Suamiku
86
85. Tameng Finansial
87
86. Terkonfirmasi
88
87. Membunuh Darah Daging
89
88. Korban
90
89. Secara Sah
91
90. Membersihkan Nama
92
91. Gugatan Cerai
93
92. Pelarian
94
93. Belum Selesai
95
94. Telah dimusnahkan
96
95. Misi Selesai - TAMAT
97
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!