Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

1. Tahun 1984

Aroma sangit herbal merebus udara.

Sumarni membuka mata. Napasnya tersengal pelan. Langit-langit kamar tidak menampakkan lampu kristal apartemen mewahnya di pusat Sudirman, melainkan kelambu kusam putih tulang yang bergoyang ditiup angin layu. Punggungnya menekan kerasnya kasur kapuk tipis. Hawa dingin merayap tanpa ampun dari lantai tegel abu-abu, menusuk pori-pori kulitnya yang berpeluh.

Lidahnya masih terasa pahit. Pekat dan amis. Seolah tubuh rapuh ini belum selesai mengingat kematian pemilik sebelumnya.

Kilasan memori asing menghantam otaknya tanpa permisi. Tahun 1984. Rumah besar berbau malam batik. Status hina sebagai istri kedua pemilik Pabrik yang dibeli murah untuk satu tujuan: melahirkan anak laki-laki. Lalu, ingatan terakhir yang paling jelas, tubuh ini kejang-kejang di atas lantai, meregang nyawa usai menenggak mangkuk pertama jamu godok semalam.

Perempuan desa yang asli sudah mati. Cangkang kosong ini sekarang diisi oleh jiwa lain. Jiwa seorang mantan CEO yang terbiasa hidup di ujung tanduk, melibas lawan bisnis tanpa belas kasihan.

Suara langkah kaki menggesek lantai mendekat. Pelan, berirama, terukur.

"Sudah bangun, Dik Marni?"

Suara itu mengalun halus. Manis bagai gula jawa, tapi membawa aura sedingin es.

Seorang perempuan paruh baya berdiri anggun di samping dipan. Kebaya kutubaru motif bunga kerinyuh membalut tubuh sintalnya dengan sempurna. Sanggulnya tertata rapi tanpa sehelai rambut pun yang berani keluar dari tempatnya. Bibir berpoles gincu merah bata itu melengkung membentuk senyum keibuan.

Di kedua tangannya bertengger sebuah nampan kayu. Di atasnya, semangkuk keramik putih motif ayam jago mengepulkan uap hitam.

Sulastri. Istri pertama. Nyonya besar di rumah ini.

"Syukurlah kalau kamu sudah sadar." Sulastri meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil di sebelah ranjang. Dia duduk di tepi dipan. Jemarinya yang lentik dan berhias cincin emas besar terulur, menyapu keringat di dahi Sumarni dengan kelembutan yang memuakkan.

"Mas Harjono sampai khawatir semalaman. Katanya kamu tiba-tiba pingsan." Sulastri berdecak pelan, penuh simpati palsu. "Makanya, tubuh itu dijaga. Orang desa memang sering kaget kalau baru pindah ke rumah besar begini. Masuk angin pasti."

Bohong.

Sumarni tidak membalas. Matanya menatap lurus ke wajah perempuan di depannya. Di kehidupan lamanya, dia memimpin rapat dewan direksi yang isinya para serigala berjas mahal. Dia hafal betul anatomi kemunafikan.

Senyum Sulastri terlalu simetris. Suaranya terlalu diatur. Orang yang tulus menolong tidak akan mengunci tatapannya dengan kewaspadaan setajam itu. Tatapan perempuan itu bukan tatapan istri baik-baik. Itu tatapan predator yang takut wilayahnya direbut.

"Mbakyu sudah buatkan jamu godok lagi untukmu." Sulastri mengambil mangkuk dari atas meja. Sendok perak kecil mengaduk cairan hitam pekat di dalamnya, menerbangkan aroma busuk yang memancing rasa mual di perut Sumarni. "Ayo, diminum mumpung hangat."

Ini racun.

Sumarni tahu itu bahkan sebelum mangkuk menyentuh bibirnya.

Otak strategisnya berputar cepat. Fisiknya saat ini lumpuh akibat sisa toksin semalam. Jari-jarinya kaku tersembunyi di balik selimut batik parang. Jantungnya berdebar keras, memompa darah yang terasa berat. Jika dia memberontak sekarang secara membabi buta, tenaganya pasti kalah. Dia butuh momentum.

"Kenapa diam saja, Dik?" Nada suara Sulastri masih mendayu-dayu. Tidak ada tanda-tanda kemarahan. Dia memainkan perannya sebagai kakak madu yang penuh kasih sayang dengan luar biasa sempurna.

"Mbakyu tahu rasanya pahit. Tapi jamu ini resep rahasia keluarga. Biar rahimmu kuat." Sulastri mendekatkan bibir mangkuk ke wajah Sumarni. Uap panasnya menerpa dagu. "Biar Mas Harjono lekas dapat ahli waris laki-laki. Kamu kan dibawa ke sini untuk itu."

Kata-kata itu dirancang untuk merendahkan. Mengingatkan status Sumarni yang tak lebih dari sekadar mesin pencetak anak.

Sumarni menutup rapat bibirnya. Napasnya ditarik perlahan melalui hidung. Mengumpulkan sisa oksigen ke dalam paru-paru.

Melihat respons kaku itu, senyum Sulastri melebar. Ada kilat kepuasan di matanya, menyangka gadis desa ini masih terlalu bodoh dan ketakutan.

"Jangan manja, Dik Marni." Tangan kiri Sulastri yang bebas kini menyentuh rahang Sumarni. Awalnya hanya elusan lembut. Namun sedetik kemudian, jari-jari itu menekan kuat.

Kuku-kuku bercat merah gelap menusuk kulit pipi pucat Sumarni. Rasa sakit menjalar cepat.

"Kamu harus cepat sembuh. Siapa yang mau mengurus Dimas kalau kamu sakit-sakitan begini? Mas Harjono tidak suka perempuan lemah." Suara Sulastri turun satu oktaf. Kelembutannya masih ada, tapi kini bercampur racun ancaman yang mematikan. Sopan, elegan, namun siap mencekik.

"Biar Mbakyu suapi."

Sulastri menyorongkan mangkuk itu lebih dekat. Memaksa ujung keramiknya menabrak bibir bawah Sumarni yang terkatup rapat.

"Buka mulutmu."

Bukan lagi bujukan. Itu perintah mutlak seorang nyonya rumah.

Cairan hitam mendidih tumpah sedikit. Menetes melewati dagu Sumarni, membakar kulit lehernya. Perih. Panas.

Adrenalin meledak di dalam dada Sumarni. Rasa sakit itu menjadi katalis yang membangunkan setiap sel saraf di tubuh rapuhnya.

Lumpuh ini hanya ilusi sisa racun. Dia menolak mati di kamar pengap ini. Dia menolak takluk pada perempuan yang menggunakan kepalsuan sebagai senjata.

Mata Sumarni menajam. Dingin. Kosong dari rasa takut.

Perubahan raut wajah itu tertangkap oleh Sulastri. Untuk sepersekian detik, ada keraguan melintas di mata istri pertama itu. Gadis desa ini seharusnya menangis memohon ampun, bukan menatapnya seolah sedang menghakimi seekor serangga.

"Keras kepala—" desis Sulastri, akhirnya melepaskan topeng ramahnya. Tekanan kukunya di rahang Sumarni makin dalam. Mangkuk di tangan kanannya didorong paksa ke depan.

Tepat di saat itu, lengan kanan Sumarni melesat dari balik selimut.

Tenaga yang dia kerahkan bukan berasal dari otot tubuh yang kurang gizi ini, melainkan dari sisa amarah jiwa modern yang tidak sudi diinjak-injak.

Tangan Sumarni menghantam pergelangan tangan Sulastri dengan telak.

Prang!

Mangkuk keramik bermotif ayam jago itu terlempar ke udara. Menabrak lantai tegel abu-abu dan hancur berkeping-keping. Cairan hitam pekat berbau sangit memercik ke segala arah, menodai ujung kain kebaya mahal milik Sulastri.

Keheningan mutlak menyergap kamar itu. Hanya suara tetesan jamu yang merembes di sela-sela tegel yang terdengar.

Sulastri mematung. Matanya membelalak lebar, menatap noda hitam di kebayanya, lalu beralih ke wajah perempuan di atas ranjang. Rahangnya jatuh. Tidak percaya. Gadis yang semalam sekarat itu baru saja memukul tangannya.

Sumarni menggunakan siku kirinya untuk menopang tubuh. Susah payah, dia mendorong punggungnya menjauhi kasur hingga duduk tegak bersandar pada kepala dipan. Napasnya memburu, dadanya naik turun, tapi postur tubuhnya memancarkan dominasi absolut.

Dia mengangkat tangannya. Menghapus kasar sisa jamu panas yang menetes di lehernya, lalu menatap lurus ke dalam pupil mata Sulastri yang gemetar.

Tatapan itu mengunci sang nyonya rumah. Bukan tatapan gadis desa yang tak berdaya. Itu tatapan seorang penguasa yang baru saja menemukan mangsa pertamanya.

Napas Sulastri tertahan di tenggorokan. Kakinya mundur selangkah tanpa sadar.

Permainan baru saja dimulai.

Terpopuler

Comments

sukensri hardiati

sukensri hardiati

baca aah....perempuan kuat berikutnya....

2026-05-15

1

Fahreziy

Fahreziy

👣👣👣👣

2026-07-03

0

gina altira

gina altira

mampir thorr

2026-05-15

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tahun 1984
2 2. Dimas
3 3. Sistem Istri Ideal
4 4. Harjono
5 5. Menyerang Kompetensinya
6 6. Cara Modern
7 7. Pakai Logika
8 8. Emas mentah
9 9. Dari Kain Sisa
10 10. Merebut Panggung
11 11. Ia Butuh Keajaiban
12 12. Perbuatan Rendah
13 13. Bernegosiasi
14 14. Rekan Kerja
15 15. Ancaman
16 16. senyuman kemenangan
17 17. Benteng Pertahanan
18 18. Menguliti Karakternya
19 19. Umbi Gadung Mentah
20 20. Sudah Saya Buang
21 21. Obsesi Ringan
22 22. Misi Berhasil
23 23. Tidak Boleh Berhasil
24 24. Akses dicabut
25 25. Teknik Keseimbangan
26 26. Semburat Kecemburuan
27 27. Darah Panas
28 28. Bukan Hanya Tubuhku
29 29. Fitnah Keji
30 30. Mendadak Memuja
31 31. Para Wanita Akar Rumput
32 32. Mengunci Sisa Kewarasan
33 33. Untuk Memuaskan Hasrat
34 34. Air Mata Buaya
35 35. Tugas Utama
36 36. Sedang Sekarat
37 37. Manuver Finansial
38 38. Penguasa Tunggal
39 39. Menyerupai Neraka
40 40. Malaikat Kecil
41 41. Pertahanan Psikologis
42 42. Tawaran Manis
43 43. Sisa Kewarasan
44 44. Dendam Masa Lalu
45 45. Pasar Surabaya
46 46. Jauh Lebih Berharga
47 47. Aura Permusuhan
48 48. Ego Feodal
49 49. Kemarahan Baru
50 50. Mengintimidasi
51 51. Mendadak Lumpuh
52 52. Insting Manusiawi
53 53. Lahirnya Teror Baru
54 54. Menuju Ibukota
55 55. Kesalahan Fatal
56 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57 56. Jalan Pintas
58 57. Ganjaran Kebodohan
59 58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60 59. Surat Palsu
61 60. Drama Jalanan
62 61. Birokrasi Hukum
63 62. Kesombongan Feodal
64 63. Kenyataan Pahit
65 64. Risiko Kelumpuhan
66 65. Monster yang Ia Pelihara
67 66. Sumarni Tertembak
68 67. Senjata Finansial
69 68. Percaya Kepada Instingku
70 69. Keponakan Sulastri
71 70. Memberikan Celah
72 71. Racun Mematikan
73 72. Protektif
74 73. Menyatu Harmonis
75 74. Mencoba Merampas
76 75. Siap Melilit Mangsanya
77 76. Jangan Buka Pintu
78 77. Ilmu Hitam
79 78. Bertahanlah
80 79. Sudah diputuskan
81 80. Melampaui Batasan Fisik
82 81. Dendam Kesumat
83 82. Pertarungan Hidup dan Mati
84 83. Menolak dihancurkan
85 84. Uang Suamiku
86 85. Tameng Finansial
87 86. Terkonfirmasi
88 87. Membunuh Darah Daging
89 88. Korban
90 89. Secara Sah
91 90. Membersihkan Nama
92 91. Gugatan Cerai
93 92. Pelarian
94 93. Belum Selesai
95 94. Telah dimusnahkan
96 95. Misi Selesai - TAMAT
97 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 98 Episodes

1
1. Tahun 1984
2
2. Dimas
3
3. Sistem Istri Ideal
4
4. Harjono
5
5. Menyerang Kompetensinya
6
6. Cara Modern
7
7. Pakai Logika
8
8. Emas mentah
9
9. Dari Kain Sisa
10
10. Merebut Panggung
11
11. Ia Butuh Keajaiban
12
12. Perbuatan Rendah
13
13. Bernegosiasi
14
14. Rekan Kerja
15
15. Ancaman
16
16. senyuman kemenangan
17
17. Benteng Pertahanan
18
18. Menguliti Karakternya
19
19. Umbi Gadung Mentah
20
20. Sudah Saya Buang
21
21. Obsesi Ringan
22
22. Misi Berhasil
23
23. Tidak Boleh Berhasil
24
24. Akses dicabut
25
25. Teknik Keseimbangan
26
26. Semburat Kecemburuan
27
27. Darah Panas
28
28. Bukan Hanya Tubuhku
29
29. Fitnah Keji
30
30. Mendadak Memuja
31
31. Para Wanita Akar Rumput
32
32. Mengunci Sisa Kewarasan
33
33. Untuk Memuaskan Hasrat
34
34. Air Mata Buaya
35
35. Tugas Utama
36
36. Sedang Sekarat
37
37. Manuver Finansial
38
38. Penguasa Tunggal
39
39. Menyerupai Neraka
40
40. Malaikat Kecil
41
41. Pertahanan Psikologis
42
42. Tawaran Manis
43
43. Sisa Kewarasan
44
44. Dendam Masa Lalu
45
45. Pasar Surabaya
46
46. Jauh Lebih Berharga
47
47. Aura Permusuhan
48
48. Ego Feodal
49
49. Kemarahan Baru
50
50. Mengintimidasi
51
51. Mendadak Lumpuh
52
52. Insting Manusiawi
53
53. Lahirnya Teror Baru
54
54. Menuju Ibukota
55
55. Kesalahan Fatal
56
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57
56. Jalan Pintas
58
57. Ganjaran Kebodohan
59
58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60
59. Surat Palsu
61
60. Drama Jalanan
62
61. Birokrasi Hukum
63
62. Kesombongan Feodal
64
63. Kenyataan Pahit
65
64. Risiko Kelumpuhan
66
65. Monster yang Ia Pelihara
67
66. Sumarni Tertembak
68
67. Senjata Finansial
69
68. Percaya Kepada Instingku
70
69. Keponakan Sulastri
71
70. Memberikan Celah
72
71. Racun Mematikan
73
72. Protektif
74
73. Menyatu Harmonis
75
74. Mencoba Merampas
76
75. Siap Melilit Mangsanya
77
76. Jangan Buka Pintu
78
77. Ilmu Hitam
79
78. Bertahanlah
80
79. Sudah diputuskan
81
80. Melampaui Batasan Fisik
82
81. Dendam Kesumat
83
82. Pertarungan Hidup dan Mati
84
83. Menolak dihancurkan
85
84. Uang Suamiku
86
85. Tameng Finansial
87
86. Terkonfirmasi
88
87. Membunuh Darah Daging
89
88. Korban
90
89. Secara Sah
91
90. Membersihkan Nama
92
91. Gugatan Cerai
93
92. Pelarian
94
93. Belum Selesai
95
94. Telah dimusnahkan
96
95. Misi Selesai - TAMAT
97
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!