4. Harjono

Tatapan Harjono menembus langsung ke dalam bola matanya. Pria berkemeja safari abu-abu itu berdiri tegak, menunggu jawaban. Bayangannya menutupi seluruh tubuh kurus Sumarni di atas dipan.

Sumarni menyembunyikan telapak tangannya di balik selimut batik. Otak modernnya menyusun alibi dalam hitungan detik.

"Aku tersandung ujung dipan. Air kendi tumpah." Sumarni menunjuk genangan air di lantai dengan dagunya. Suaranya datar. Tidak ada getaran ketakutan. "Aku membuka lemari mencari kain lap. Tanganku tergores engsel pintu yang karatan."

Langkah sepatu kulit Harjono mengetuk lantai. Ia maju selangkah.

Tangan besar bersorot urat menonjol itu terulur, mencengkeram pergelangan tangan Sumarni paksa. Ia menarik tangan istrinya keluar dari balik selimut.

Sensasi panas seketika menjalar dari kulit pria itu. Ibu jarinya yang kasar menyapu ujung telunjuk Sumarni yang berdarah. Bekas sayatan beling itu masih segar.

"Engsel karatan tidak membuat luka sayat setajam ini, Marni." Suara Harjono rendah. Baritonnya bergetar di telinga, membawa intimidasi seorang pemimpin pabrik yang terbiasa dituruti.

Dulu, Sumarni asli akan luluh lantak hanya dengan sentuhan ini. Ia akan memeluk lengan pria itu, menangis, dan mengemis agar Harjono tidak meninggalkannya tidur sendirian. Ia akan mengadukan kelicikan Sulastri dengan air mata berderai, berharap mendapat belas kasihan.

Reaksi murahan yang justru selalu membuat Harjono memandangnya rendah bak hama.

Sumarni modern menatap jemari suaminya sesaat. Lalu, ia menarik tangannya. Kasar.

"Lepas, Mas."

Harjono tertegun. Telapak tangannya menggantung kosong di udara.

Istri keduanya yang selalu membebek, merengek, dan menangis, baru saja menepis tangannya. Sorot mata Sumarni begitu bening. Kosong dari pemujaan buta yang biasa pria itu nikmati setiap kali berkunjung ke paviliun belakang.

"Kamu..." Harjono kehilangan kalimatnya.

"Aku lelah. Ingin istirahat." Sumarni memutus kontak mata.

Harjono belum sempat memproses penolakan itu ketika sebuah suara perut keroncongan memecah ketegangan di antara mereka.

Pria itu menoleh tajam ke sudut ruangan. Mata gelapnya baru menangkap gundukan kecil di dekat kaki meja. Dimas meringkuk menghadap tembok. Kaus putihnya dekil penuh noda tanah.

"Kenapa anak ini ada di sini?" Nada suara Harjono menukik naik.

Sumarni menyingkap selimut. Ia turun dari dipan, mengabaikan sisa pening yang berputar di kepalanya. Tubuh kurusnya berdiri menghalangi pandangan Harjono ke arah bocah tiga tahun itu. Insting pelindungnya mengambil alih kemudi.

"Dia lapar." Sumarni menunjuk piring seng berkarat di atas meja. Sisa tempe bacem dan sejumput sambal terasi mentah tergeletak menyedihkan di sana. "Tuan pemilik pabrik membiarkan ahli warisnya makan sisa kemarin, sementara istri pertamamu memakai sutra mahal?"

Satu kalimat pendek. Menghantam ulu hati Harjono tanpa ampun.

Pria itu menatap piring seng tersebut lama. Kerutan di dahinya menajam. Sulastri selalu melaporkan bahwa Dimas sangat diurus, hanya saja anak itu rewel dan sulit makan. Kenyataannya? Putranya bahkan tidak diberi lauk layak.

"Bawa dia ke rumah utama. Biar pelayan yang mengurus." Harjono mengulurkan tangan, hendak meraih bahu Dimas.

Bocah itu menjerit tertahan. Ia beringsut mundur menjauhi Harjono. Tangan mungilnya justru memeluk betis Sumarni erat-erat. Wajah kotornya disembunyikan di balik kain kebaya ibu tirinya.

Harjono terpaku. Putranya sendiri ketakutan padanya. Anak itu malah mencari perlindungan pada sosok istri kedua yang selama ini selalu diabaikannya.

Sumarni menunduk. Ia mengelus puncak kepala Dimas. Gerakannya begitu luwes dan hangat, berbanding terbalik dengan sikap dinginnya pada Harjono.

"Dia tidur di sini malam ini. Denganku," putus Sumarni.

"Ini paviliun kotor, Marni. Berdebu."

"Kalau begitu, perintahkan pelayan membersihkan paviliun ini besok pagi. Kirimkan kasur kapuk baru dan makanan hangat." Sumarni mendongak, menantang mata suaminya. "Atau Mas mau para buruh pabrik tahu, anak laki-laki keluarga Tjokro dibiarkan tidur di lantai keras?"

Skakmat. Harjono terdiam sepenuhnya.

Dia memandangi Sumarni dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita di depannya ini terlihat sangat berantakan, pucat, dan bau keringat. Tapi ada keanggunan baru yang memancar dari postur tubuhnya. Ada ketegasan tak kasatmata yang memaksanya tunduk pada logika. Harjono tidak menyukai fakta bahwa perkataan wanita itu masuk akal.

"Besok pagi, Mbok Darmi akan membawakan sarapan ke mari," ucap Harjono akhirnya. Ia berbalik. Langkahnya tidak lagi seberwibawa saat pertama masuk. Ada rasa penasaran buntu yang mengganggu pikirannya.

Pintu jati kembali tertutup.

Sumarni mengembuskan napas panjang. Bahunya merosot. Berhadapan langsung dengan otoritas Harjono menguras sisa fisiknya.

Dimas mendongak. Tangannya menarik pelan ujung kebaya Sumarni.

"Ibu... tidak apa-apa?" Suara bocah itu kecil, nyaris berbisik ditelan udara malam.

Hati Sumarni meleleh seketika. Panggilan 'Ibu' itu mengalir begitu murni. Ia berjongkok, mengangkat tubuh ringan Dimas ke dalam pelukannya.

"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Kita aman malam ini."

Sumarni menidurkan Dimas di atas ranjang. Tidak butuh waktu lama bagi bocah kelelahan itu untuk terlelap. Dengkur halusnya menemani malam yang sunyi.

Cahaya bulan menembus celah jendela kayu. Sumarni berdiri menatap pantulan dirinya di cermin kusam sebelah lemari. Kebaya lusuhnya bernoda lumpur dan air kendi. Warnanya pudar. Besok pagi, Sulastri pasti akan menggelar drama baru di meja makan keluarga.

Istri pertama itu tidak akan tinggal diam melihat Harjono menaruh perhatian lebih padanya hari ini.

Sumarni membuka laci bawah lemari, menghindari celah tempat ia menyembunyikan pecahan mangkuk beracun tadi. Ia butuh baju yang layak untuk perang besok pagi.

Tangannya menarik setumpuk pakaian tumpuk dari dalam.

Bibir Sumarni terbelah. Matanya menajam.

Semua kain kebaya dan batik parang di dalam laci itu dipenuhi lubang besar bekas gigitan tikus. Bau pesing menyengat seketika membakar hidungnya. Kain-kain itu lembap dan lengket.

Sulastri pasti sengaja menghancurkan sisa harga diri Sumarni untuk besok pagi.

Terpopuler

Comments

sukensri hardiati

sukensri hardiati

reinkarnasi dan sistem biasanya latar belakang cina....ni di jawa...thn 80 lagi..👍

2026-05-15

3

lihat semua
Episodes
1 1. Tahun 1984
2 2. Dimas
3 3. Sistem Istri Ideal
4 4. Harjono
5 5. Menyerang Kompetensinya
6 6. Cara Modern
7 7. Pakai Logika
8 8. Emas mentah
9 9. Dari Kain Sisa
10 10. Merebut Panggung
11 11. Ia Butuh Keajaiban
12 12. Perbuatan Rendah
13 13. Bernegosiasi
14 14. Rekan Kerja
15 15. Ancaman
16 16. senyuman kemenangan
17 17. Benteng Pertahanan
18 18. Menguliti Karakternya
19 19. Umbi Gadung Mentah
20 20. Sudah Saya Buang
21 21. Obsesi Ringan
22 22. Misi Berhasil
23 23. Tidak Boleh Berhasil
24 24. Akses dicabut
25 25. Teknik Keseimbangan
26 26. Semburat Kecemburuan
27 27. Darah Panas
28 28. Bukan Hanya Tubuhku
29 29. Fitnah Keji
30 30. Mendadak Memuja
31 31. Para Wanita Akar Rumput
32 32. Mengunci Sisa Kewarasan
33 33. Untuk Memuaskan Hasrat
34 34. Air Mata Buaya
35 35. Tugas Utama
36 36. Sedang Sekarat
37 37. Manuver Finansial
38 38. Penguasa Tunggal
39 39. Menyerupai Neraka
40 40. Malaikat Kecil
41 41. Pertahanan Psikologis
42 42. Tawaran Manis
43 43. Sisa Kewarasan
44 44. Dendam Masa Lalu
45 45. Pasar Surabaya
46 46. Jauh Lebih Berharga
47 47. Aura Permusuhan
48 48. Ego Feodal
49 49. Kemarahan Baru
50 50. Mengintimidasi
51 51. Mendadak Lumpuh
52 52. Insting Manusiawi
53 53. Lahirnya Teror Baru
54 54. Menuju Ibukota
55 55. Kesalahan Fatal
56 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57 56. Jalan Pintas
58 57. Ganjaran Kebodohan
59 58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60 59. Surat Palsu
61 60. Drama Jalanan
62 61. Birokrasi Hukum
63 62. Kesombongan Feodal
64 63. Kenyataan Pahit
65 64. Risiko Kelumpuhan
66 65. Monster yang Ia Pelihara
67 66. Sumarni Tertembak
68 67. Senjata Finansial
69 68. Percaya Kepada Instingku
70 69. Keponakan Sulastri
71 70. Memberikan Celah
72 71. Racun Mematikan
73 72. Protektif
74 73. Menyatu Harmonis
75 74. Mencoba Merampas
76 75. Siap Melilit Mangsanya
77 76. Jangan Buka Pintu
78 77. Ilmu Hitam
79 78. Bertahanlah
80 79. Sudah diputuskan
81 80. Melampaui Batasan Fisik
82 81. Dendam Kesumat
83 82. Pertarungan Hidup dan Mati
84 83. Menolak dihancurkan
85 84. Uang Suamiku
86 85. Tameng Finansial
87 86. Terkonfirmasi
88 87. Membunuh Darah Daging
89 88. Korban
90 89. Secara Sah
91 90. Membersihkan Nama
92 91. Gugatan Cerai
93 92. Pelarian
94 93. Belum Selesai
95 94. Telah dimusnahkan
96 95. Misi Selesai - TAMAT
97 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 98 Episodes

1
1. Tahun 1984
2
2. Dimas
3
3. Sistem Istri Ideal
4
4. Harjono
5
5. Menyerang Kompetensinya
6
6. Cara Modern
7
7. Pakai Logika
8
8. Emas mentah
9
9. Dari Kain Sisa
10
10. Merebut Panggung
11
11. Ia Butuh Keajaiban
12
12. Perbuatan Rendah
13
13. Bernegosiasi
14
14. Rekan Kerja
15
15. Ancaman
16
16. senyuman kemenangan
17
17. Benteng Pertahanan
18
18. Menguliti Karakternya
19
19. Umbi Gadung Mentah
20
20. Sudah Saya Buang
21
21. Obsesi Ringan
22
22. Misi Berhasil
23
23. Tidak Boleh Berhasil
24
24. Akses dicabut
25
25. Teknik Keseimbangan
26
26. Semburat Kecemburuan
27
27. Darah Panas
28
28. Bukan Hanya Tubuhku
29
29. Fitnah Keji
30
30. Mendadak Memuja
31
31. Para Wanita Akar Rumput
32
32. Mengunci Sisa Kewarasan
33
33. Untuk Memuaskan Hasrat
34
34. Air Mata Buaya
35
35. Tugas Utama
36
36. Sedang Sekarat
37
37. Manuver Finansial
38
38. Penguasa Tunggal
39
39. Menyerupai Neraka
40
40. Malaikat Kecil
41
41. Pertahanan Psikologis
42
42. Tawaran Manis
43
43. Sisa Kewarasan
44
44. Dendam Masa Lalu
45
45. Pasar Surabaya
46
46. Jauh Lebih Berharga
47
47. Aura Permusuhan
48
48. Ego Feodal
49
49. Kemarahan Baru
50
50. Mengintimidasi
51
51. Mendadak Lumpuh
52
52. Insting Manusiawi
53
53. Lahirnya Teror Baru
54
54. Menuju Ibukota
55
55. Kesalahan Fatal
56
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
57
56. Jalan Pintas
58
57. Ganjaran Kebodohan
59
58. Kebanggaan dan Rasa Takjub
60
59. Surat Palsu
61
60. Drama Jalanan
62
61. Birokrasi Hukum
63
62. Kesombongan Feodal
64
63. Kenyataan Pahit
65
64. Risiko Kelumpuhan
66
65. Monster yang Ia Pelihara
67
66. Sumarni Tertembak
68
67. Senjata Finansial
69
68. Percaya Kepada Instingku
70
69. Keponakan Sulastri
71
70. Memberikan Celah
72
71. Racun Mematikan
73
72. Protektif
74
73. Menyatu Harmonis
75
74. Mencoba Merampas
76
75. Siap Melilit Mangsanya
77
76. Jangan Buka Pintu
78
77. Ilmu Hitam
79
78. Bertahanlah
80
79. Sudah diputuskan
81
80. Melampaui Batasan Fisik
82
81. Dendam Kesumat
83
82. Pertarungan Hidup dan Mati
84
83. Menolak dihancurkan
85
84. Uang Suamiku
86
85. Tameng Finansial
87
86. Terkonfirmasi
88
87. Membunuh Darah Daging
89
88. Korban
90
89. Secara Sah
91
90. Membersihkan Nama
92
91. Gugatan Cerai
93
92. Pelarian
94
93. Belum Selesai
95
94. Telah dimusnahkan
96
95. Misi Selesai - TAMAT
97
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
98
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!