Hari ini adalah hari besar bagi dua kerajaan. Kerajaan Barat dan Utara. Putra Mahkota Xavier akan menikah dengan sang putri mahkota, Azura. Seluruh istana dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir mudik membawa gaun, bunga dan perhiasan, sementara para prajurit berjaga ketat di setiap sudut aula kerajaan. Para bangsawan dari berbagai wilayah juga mulai memenuhi istana untuk menyaksikan pernikahan politik terbesar tahun ini.
Di tengah kemegahan itu, Azura duduk diam di depan cermin kamarnya. Gaun putih keperakan yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, namun tatapan gadis itu kosong. Tidak ada senyum bahagia seperti gadis-gadis pada umumnya yang akan menikah. Jari-jarinya justru gemetar pelan di atas pangkuannya.
"Putri, waktunya menuju aula," ucap salah satu pelayan hati-hati.
Azura mengangguk pelan sebelum berdiri. Langkahnya terasa berat. Kepalanya dipenuhi banyak hal, peringatan dari kerajaan utara, ancaman untuk orang yang ia sayangi, dan rasa bersalah yang semakin menyesakkan dadanya setiap kali mengingat tatapan kekecewaan Xavier.
Saat menyelamatkannya di perbatasan barat beberapa bulan lalu, Xavier tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Sampai hari di mana utusan Utara datang dan dia maju sebagai putri yang akan dijodohkan dengan laki-laki itu.
Azura masih ingat jelas bagaimana ekspresi wajah Xavier serta Akari, Sabella dan yang lain, karena mereka telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Sayangnya, Emely yang mereka kenal, ternyata adalah seorang putri dari Kerajaan Utara.
Azura menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu aula, mengatur nafasnya dan tersenyum angkuh seperti biasa ia perlihatkan ke orang-orang. Beberapa detik kemudian pintu aula besar tersebut terbuka perlahan. Semua tamu langsung berdiri saat Azura berjalan masuk. Langkahnya anggun, Mahkota kecil di kepalanya berkilau terkena cahaya lampu kristal.
Di ujung aula, Xavier berdiri tegap dengan pakaian kebesaran Kerajaan berwarna hitam dan emas. Tatapan pria itu langsung tertuju padanya. Tak ada senyum. Dingin, datar dan penuh kebencian. Azura jelas merasakan itu. Namun dia tetap tersenyum. Sudah sejauh ini, tidak boleh mundur. Tidak apa-apa pangeran Xavier membencinya. Toh semasa dia hidup dia sudah terbiasa di benci. Kebencian dan rasa jijik terhadapnya adalah makanannya sehari-hari di Utara.
Statusnya mungkin seorang putri mahkota, tapi sebenarnya, dia adalah aib Kerajaan Utara. Itulah alasannya kenapa dia yang diutus menikahi pangeran Xavier dan menjadi mata-mata. Karena kalau dia mati, tidak ada yang akan peduli.
Azura berjalan hingga berhenti tepat di hadapan Xavier. Jarak mereka begitu dekat, namun terasa seperti dipisahkan oleh jurang yang tidak bisa dijangkau.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Tatapan Xavier turun ke wajah Azura dengan dingin. Dingin sekali. Tidak ada lagi kelembutan yang dulu selalu pria itu tunjukkan setiap kali memandangnya. Semua telah hilang sejak identitas aslinya terbongkar.
Azura menahan sesak di dadanya.
Dia masih mengingat malam itu dengan jelas. Malam ketika para utusan Kerajaan Utara datang ke istana Barat membawa lambang kerajaan mereka. Xavier yang awalnya tersenyum padanya perlahan berubah kaku saat Azura melangkah maju dan memberi hormat pada utusan tersebut. Wajah Xavier saat itu benar-benar berubah.
"Kau senang, bisa menikah denganku?" bisik Xavier di telinganya. Suaranya jelas mencibir.
Azura tersenyum. Ia harus bisa bertahan. Tidak apa-apa Xavier membencinya. Dia harus menjalankan misi, karena ada orang lain yang paling penting dalam hidupnya yang harus dia selamatkan.
"Semua perempuan akan senang di hari pernikahan mereka pangeran." balasnya, menatap Xavier dengan berani.
Dia bukan lagi Emely yang ketakutan tiap kali mendengar suara keras, atau melihar orang asing. Bukan lagi sosok lemah yang akan bersembunyi di balik punggung Xavier saat merasa terancam, dan itu membuat Xavier mendengus keras. Merasa kalau dia benar-benar telah di tipu oleh sosok yang berpura-pura lemah ini.
"Hebat, aku tidak pernah bertemu dengan wanita menjijikkan sepertimu. Kau memang yang paling menjijikkan di antara semua wanita. Hebat, hebat sekali."
Hinaan itu Azura telan mentah-mentah dan tersenyum.
"Pangeran, semua orang sedang menatap ke sini. Tolong jangan bicara lagi." katanya.
Xavier menatap Azura beberapa detik setelah ucapan itu keluar dari bibir gadis tersebut. Tatapan abu-abunya semakin dingin, penuh amarah yang ditahan kuat-kuat di depan seluruh bangsawan.
Lalu perlahan, senyum tipis muncul di wajah pria itu.
Namun senyum itu sama sekali tidak hangat.
"Oh? Sekarang kau peduli pada pandangan orang lain?" bisiknya pelan.
"Bukankah sejak awal kau memang pandai memainkan sandiwara di depan semua orang?"
Azura menggigit bagian dalam bibirnya pelan. Ia tahu Xavier sengaja ingin menyakitinya. Dan jujur saja, pria itu berhasil.
Pendeta kerajaan akhirnya mulai membacakan sumpah pernikahan. Suaranya menggema memenuhi aula besar yang megah. Semua orang tampak bahagia melihat penyatuan dua kerajaan besar itu, tanpa tahu kalau kedua mempelai di altar saling dipenuhi luka dan kebencian.
"Atas restu dua kerajaan, hari ini Putra Mahkota Xavier akan resmi mempersunting Putri Azura."
Tepuk tangan terdengar riuh.
Azura menunduk perlahan, berusaha mengabaikan tatapan dingin para bangsawan barat yang jelas tidak menyukainya. Mereka mungkin tersenyum di depan, tapi Azura tahu, tidak ada di antara mereka yang menyukai pernikahan ini.
"Ulurkan tangan anda, putri."
Azura perlahan mengangkat tangannya. Xavier menatap jemari kecil itu seolah jijik menyentuhnya, namun tetap menggenggamnya demi prosesi.
Sentuhan itu membuat hati Azura terasa nyeri. Dulu tangan yang sama selalu melindunginya.
Saat dia ketakutan karena badai malam, Xavier menggenggam tangannya sambil berkata bahwa tidak ada yang akan menyakitinya. Saat Azura demam karena racun yang masih tersisa di tubuhnya, Xavier bahkan berjaga semalaman di samping tempat tidurnya.
Dan sekarang ...
Pria itu mungkin sedang berpikir seandainya dia tidak pernah menyelamatkannya.
"Dengan ini, kalian resmi menjadi pasangan suami istri."
Sorakan memenuhi aula. Para bangsawan berdiri memberi tepuk tangan meriah, sementara musik kerajaan mulai dimainkan.
Xavier melepaskan tangan Azura secepat mungkin. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Azura, namun gadis itu tetap mempertahankan senyumnya.
"Lihat," bisik Xavier lagi tanpa menoleh padanya,
"Mereka semua berpikir ini pernikahan yang indah."
Azura diam.
"Tapi aku bersumpah," lanjut pria itu pelan, suaranya rendah dan menusuk,
"Aku akan membuatmu menyesal telah datang ke hidupku, Azura."
nafas Azura tercekat sesaat.
Ancaman itu terdengar nyata. Sangat nyata. Namun di balik rasa sakit yang menghimpit dadanya, Azura tetap tersenyum anggun pada para tamu undangan, seolah tidak terjadi apa-apa. Karena sejak awal, dia tahu akhir dari semua ini tidak akan bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
🍒WINA🍒
Akhirnya pangeran xavier dan putri azura resmi menikah, pangeran xavier menatap jijik dan penuh kebencian keputri azura...
putri azura dikirim menjadi mata-mata kekajaan barat, putri azura terpaksa melakukan semua demi melindungi seseorang...
pangeran xavier klo tahu alasan azura pasti tidak akan membenci azura, awalnya pangeran xavier membenci dan menatap jijik azura.. tapi nantinya seiring waktu berjalan rasa benci itu akan berubah jadi cinta...
putri azura hidupnya sangat menderita di Kerajaan utara, putri yg tidak dianggap, makanya putri azura dijadiin mata-mata di Kerajaan barat....
2026-05-16
2
Ida Sriwidodo
Meski dari awal dah nebak plot twist nya.. teteupp weh nyesekk bacanya
Dah kebayang gimana mirisnya nanti nasib Azura dalam pernikahannya
Dibenci suami dan putri n pangeran2 yang lain tapi tetep harus berjuang melindungi mereka diam2
Haiisszz.. semoga ngga lama2 yaa kk.. Xavier, Basten, Piere bisa segera menyadari apa yang sebenarnya sedang di alami Azura supaya mereka juga bisa bantu n lindungi Azura dari orang2 di kerajaannya sendiri.. 😥🤔😤
2026-05-16
3
RiriChiew🌺
yaa diawal2 ini sebelum tau gimana terluka nya kamu Azura , Xavier lebih dulu merasa dikhianati pdhal dalam wujud Emily kau sangat disayang . disini sama2 gak enak sih kalian berdua tuh 😢
2026-05-16
1