Berangkat ke perbatasan

BRAKKK!

Xavier membanting benda apa saja yang ada di dekatnya. Dia berada di tempat tersembunyi dalam kediaman itu. Tempat yang biasanya dia datangi saat dirinya sedang bosan, ada masalah, atau hanya ingin sendiri.

Nafasnya naik turun karena emosi. Harusnya dia habisi saja perempuan itu, atau mencekiknya lagi seperti yang dia lakukan tadi. Tapi, melihat leher Azura yang penuh memar, hatinya justru semakin kacau. Dia benci perempuan menjijikkan itu, tapi dia lebih benci dirinya sendiri sekarang.

"Kau terlalu mengasihaninya Xavier." gumamnya mendengus kesal lalu mengusap wajahnya kasar.

Ia lalu berbalik keluar dari istana itu mengenakan kudanya. Pengawal pribadinya yang selalu bersama dengan dia menahannya.

"Pangeran, anda mau ke mana? Ini adalah malam pertama setelah anda dan putri Azura menikah. Sesuai dengan peraturan, kalian berdua ..."

"Ini pernikahan politik, jangan mengharapkan sesuatu yang melewati batas. Lagipula, percuma aku melakukan hubungan suami istri dengan perempuan itu, kau lupa aku tidak bisa punya anak?"

Pengawal pribadinya bernama Hugo itu terdiam.

"Ayo, ke perbatasan sekarang. Aku  tidak ingin melihat wajah perempuan licik itu." kata Xavier lagi. Hugo mengangguk, karena ia tahu tidak ada gunanya lagi menasehati sang pangeran kalau hatinya sudah keras seperti itu.

Keduanya menaiki kuda, meninggalkan kediaman itu.

Perbuatan Xavier menimbulkan gosip di kalangan para dayang istana pagi harinya. Rata-rata bergosip tentang sang pangeran yang kabur di malam pertamanya karena tidak menginginkan putri Azura. Bahkan cukup banyak dari mereka yang nyinyir dan sengaja menyindir sang putri.

"Aku dengar putri itu adalah seorang pembohong. Dia sengaja memanfaatkan kebaikan pangeran Xavier agar bisa menikah."

"Betul, astaga. Aku baru melihat ada perempuan selicik itu. Kalian lihat semalam? Yang paling senang mereka menikah hanya utusan dari kerajaan utara. Para pangeran dan putri serta pejabat dari Kerajaan kita, tidak ada yang terlihat senang.

"Putri itu sudah sombong, licik, munafik, dan muka badak juga. Astaga tidak tahu malu seka..."

PLAKKK!

Sebuah tamparan keras mengenai pipi tiga orang dayang yang sibuk bergosip itu. Mereka kaget luar biasa. Rasa sakit menjalar di pipi mereka. Saat menyadari siapa pelakunya, ketiganya langsung menunduk ketakutan.

"Pu-putri ... " wajah ketiganya berubah pucat pasi.

Azura berdiri tegak dengan dagu terangkat di depan mereka. Dua pelayan berdiri di sampingnya.

"Apa kalian tahu hukuman dari menghina seorang putri?" suara Azura yang tegas itu langsung membuat ketiga dayang tersebut berlutut di depannya dan minta-minta ampun.

"Ampun, tuan putri!"

Wajah Azura dingin, matanya menatap tajam tanpa ada sedikit pun rasa iba. Ia tidak lagi menjadi Emely yang pendiam, lemah, dan membiarkan orang lain berbuat semena-mena padanya. Ia adalah Azura, Mahkota Kerajaan Utara yang sejak kecil sudah terlatih menghadapi intrik dan kepahitan, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan pelayan rendahan sekalipun, merendahkannya seenak hati. Cukup orang-orang di Kerajaannya sendiri yang memperlakukannya seperti itu.

"Hukumannya adalah pemotongan lidah atau cambukan hingga kulit kalian hancur," ucap Azura dengan nada datar namun mengerikan, membuat ketiga wanita itu gemetar hebat.

"Aku sudah cukup bersabar diam saat kalian berbisik-bisik di belakangku, tapi kali ini kalian sudah melampaui batas. Menghina, menuduh, dan menyebarkan kebohongan tentang seorang putri kerajaan adalah pengkhianatan."

"Maafkan kami, putri! Kami salah! Jangan hukum kami! Ampun!" teriak mereka sambil menangis tersedu-sedu, menempelkan dahi ke lantai.

Azura menunduk menatap mereka dengan pandangan yang penuh wibawa dan ancaman.

"Kalian pikir aku lemah? Sekali lagi kalian bergosip tentangku di belakangku, bukan hanya lidah, nyawa kalian bisa habis di tanganku."

Ketiga dayang tersebut menggigil ketakutan.

"Pergilah, mulai sekarang kalian bertiga jangan pernah muncul di depanku lagi."

Mereka berdiri dan langsung berlari pergi dari sana. Azura menghembuskan nafas kasar. Pada saat yang sama, dayang di samping kirinya memberinya sebuah surat.

"Putri, ini surat dari ayah anda."

Azura menoleh, menatapi surat itu beberapa detik, sebelum mengambilnya dan berjalan menjauh dari kedua dayang itu. Dalam surat itu tertulis,

Cepat laksanakan tugasmu. Cari keberadaan Peta itu, ingat ... Secepatnya, kalau tidak, kau tahu yang akan terjadi bukan? Itu saja, jangan lupa bakar surat itu, jangan sampai ketahuan, apalagi oleh Xavier.

Azura meremas kertas itu kuat-kuat, rahangnya mengeras. Namun ekspresinya berubah dengan cepat. Ia berbalik dan menatap kedua dayang itu.

"Pangeran ke mana?" tanyanya.

Kedua dayang tersebut saling menatap sebelum salah satu dari mereka menjawab.

"Pangeran Xavier semalam ke perbatasan putri."

Perbatasan? Ah benar, ia dengar perbatasan barat memang selalu di jaga oleh pangeran Xavier. Lelaki itu lebih banyak tinggal di sana dibandingkan istana besar ini. Kalau begitu, dia juga akan pindah ke sana. Kemungkinan besar Peta yang dia cari itu ada di sana.

"Siapkan semua barang-barangku, setelah melapor pada raja, kita pindah ke perbatasan." katanya dengan nada memerintah.

"Baik, putri."

Kedua dayang langsung bergerak cepat. Azura menghembuskan nafas panjang. Awalnya dia pikir dirinya akan menyelesaikan tugasnya sebagai mata-mata dengan baik, tapi begitu mengenal Xavier, dan setelah hari-hari yang dia lewati saat menjadi Emely, semua rasanya begitu berat. Dia sekarang berada di posisi yang sulit, tapi harus memilih menyakiti salah satu di antara yang dia sayangi.

Satu jam kemudian, begitu melapor pada raja, Azura segera berangkat ke perbatasan dengan puluhan prajurit. Dua dayang tadi yang melayani di sampingnya juga ikut. Tidak peduli Xavier akan marah besar melihat wajahnya, dia harus tetap ke sana.

Perjalanan itu memakan waktu sekitar dua jam. Sesampainya di gerbang benteng perbatasan, dua prajurit yang berjaga di depan langsung menunduk hormat dan memberinya jalan masuk. Tentu saja mereka langsung memberi jalan, karena dia adalah tuan putri agung yang menikah dengan pangeran mereka.

"Pangeran sedang latihan memanah putri, mau saya bawah ke sana?" kata salah seorang prajurit yang menunjuk arah.

Azura mengangguk. Sepanjang perjalanan, beberapa prajurit wanita yang ada di sana melirik-lirik ke arahnya. Jelas sekali wajah mereka tidak begitu senang, mungkin iri dia menikah dengan Xavier.

Azura tidak peduli tatapan iri atau pandangan curiga yang ditujukan padanya. Ia berjalan tegap, kepalanya terangkat tinggi, menatap lurus ke depan seolah tidak ada satu pun hal yang bisa menggoyahkan dirinya. Baginya, tatapan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari, baik di kerajaannya sendiri maupun di sini. Ia sudah terbiasa, dan ia tidak akan membiarkan hal sekecil itu menghentikan langkahnya.

Sesampainya di lapangan latihan, langkahnya terhenti sejenak. Di sana, di tengah padang rumput yang luas, berdiri sosok yang dia cari, Xavier.

Terpopuler

Comments

🍒WINA🍒

🍒WINA🍒

Pangeran xavier makin marah dan emosi, melihat putri azura menyusul keperbatasan... putri azura cari penyakit aja pangeran xavier menghindarinya ,dan tidak mau bertemu sama putri azura...

putri azura pura-pura tegar dan kuat, segala hinaan dan cacian maki di Kerajaan utara, telah menjadi makanan sehari-harinya... sekarang aja pangeran xavier benci dan jijik nanti tahu kebenarannya, pangeran xavier menyesal telah kasar sama putri azura...
putri azura dihadapan pengeran xavier pura2 kuat dan tegar..benci dan cinta beda tipis benci akan berubah jadi cknta🤣🤭

2026-05-17

1

Bunda Dzi'3

Bunda Dzi'3

Xavier smoga secepatnya kmu tau istrimu korban&bnyk mnderita di kerajaan timur..saatnya putri azura bhgia bersama suami yy dia cintai😍

2026-05-17

2

mimief

mimief

cinta dan benci....sangat tipis vier
tapi dia emang ada diantara dua duanya..
kalau kata naif band..
" aku tak tau apa yg terjadi
antara aku...dan kau
yg kutau pasti
ku benci tuk mencintaimu...."

2026-05-18

0

lihat semua
Episodes
1 PENOKOHAN
2 Menikah
3 Kepura-puraan yang sempurna
4 Wanita iblis
5 Berangkat ke perbatasan
6 Berhak
7 Ternyata ...
8 Kebrutalan Xavier
9 Jangan ceroboh
10 Anak?
11 Racun
12 Nasehat Basten
13 Lakukan tugasmu
14 Pandai memanaskan laki-laki
15 Kau pikir sudah selesai?
16 Pelan-pelan saja
17 Bersihkan dirimu
18 Perjalanan
19 Perintah Xavier
20 Dalang
21 Emely hanya ilusi
22 Kerajaan Utara
23 Putri Perdana Menteri
24 Membantumu rileks
25 Malam ini saja
26 Mimpi buruk
27 Apa yang tersisa
28 Cemburu dan murka
29 Orion
30 Maaf
31 Pria bertopeng
32 Siapa ayahnya?
33 Kenapa kau lakukan itu?
34 Pertemuan
35 Kau cemburu?
36 Tristan
37 Tuduhan
38 Genggaman yang menenangkan
39 Ayo ke kamar
40 Cemburu
41 Pangeran, jangan ...
42 Jangan harap
43 Siapa wanita itu?
44 Serangan
45 Kabur
46 Kemarahan Xavier
47 Merebut kembali kerajaanku
48 Ayah dari anakku
49 Perang
50 Titah Azura
51 Anak?
52 Tangisan Orion
53 Janji
54 Hidup Raja!
55 Berburu
56 Bukan urusanmu
57 Mereka datang lagi
58 Jangan kasar padanya
59 Golem besi
60 Lapar
61 Bisa kau suapi?
62 Perasaan Violet
63 Papa?
64 Pertanyaan Xavier
65 Ingin menciummu
66 Bunyi ledakan
67 Kau siapa?
68 Golem lagi
69 Penghormatan
70 Orion
71 Xavier cemburu
72 Jangan panggil aku sayang
73 Masih marah
74 Kewajibanmu
75 Ayah?
76 Licik
77 Kau ingin di sentuh?
78 Yakin tidak mau?
79 Sentuhan
80 Gondok
81 Malu
82 Bicara dengan Orion
83 Pulang
84 Istana
85 Perpisahan
86 Skak Mati
87 Serangan Azura
88 Giliranku
89 Giliranku
90 Nakal sekali
91 Tahan sebentar
92 Kelabakan
93 Hukuman
94 Perjalanan
95 Kerajaan Barat
96 Pengakuan Xavier dan Azura
Episodes

Updated 96 Episodes

1
PENOKOHAN
2
Menikah
3
Kepura-puraan yang sempurna
4
Wanita iblis
5
Berangkat ke perbatasan
6
Berhak
7
Ternyata ...
8
Kebrutalan Xavier
9
Jangan ceroboh
10
Anak?
11
Racun
12
Nasehat Basten
13
Lakukan tugasmu
14
Pandai memanaskan laki-laki
15
Kau pikir sudah selesai?
16
Pelan-pelan saja
17
Bersihkan dirimu
18
Perjalanan
19
Perintah Xavier
20
Dalang
21
Emely hanya ilusi
22
Kerajaan Utara
23
Putri Perdana Menteri
24
Membantumu rileks
25
Malam ini saja
26
Mimpi buruk
27
Apa yang tersisa
28
Cemburu dan murka
29
Orion
30
Maaf
31
Pria bertopeng
32
Siapa ayahnya?
33
Kenapa kau lakukan itu?
34
Pertemuan
35
Kau cemburu?
36
Tristan
37
Tuduhan
38
Genggaman yang menenangkan
39
Ayo ke kamar
40
Cemburu
41
Pangeran, jangan ...
42
Jangan harap
43
Siapa wanita itu?
44
Serangan
45
Kabur
46
Kemarahan Xavier
47
Merebut kembali kerajaanku
48
Ayah dari anakku
49
Perang
50
Titah Azura
51
Anak?
52
Tangisan Orion
53
Janji
54
Hidup Raja!
55
Berburu
56
Bukan urusanmu
57
Mereka datang lagi
58
Jangan kasar padanya
59
Golem besi
60
Lapar
61
Bisa kau suapi?
62
Perasaan Violet
63
Papa?
64
Pertanyaan Xavier
65
Ingin menciummu
66
Bunyi ledakan
67
Kau siapa?
68
Golem lagi
69
Penghormatan
70
Orion
71
Xavier cemburu
72
Jangan panggil aku sayang
73
Masih marah
74
Kewajibanmu
75
Ayah?
76
Licik
77
Kau ingin di sentuh?
78
Yakin tidak mau?
79
Sentuhan
80
Gondok
81
Malu
82
Bicara dengan Orion
83
Pulang
84
Istana
85
Perpisahan
86
Skak Mati
87
Serangan Azura
88
Giliranku
89
Giliranku
90
Nakal sekali
91
Tahan sebentar
92
Kelabakan
93
Hukuman
94
Perjalanan
95
Kerajaan Barat
96
Pengakuan Xavier dan Azura

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!