Wajah Xavier terlihat mengerikan, jauh lebih menakutkan daripada saat ia sedang marah di medan perang. Matanya yang biasanya tajam namun teduh, kini memerah menyala diliputi oleh kebencian yang tak lagi bisa dibendung.
Pembuluh darah di leher dan pelipisnya menonjol jelas, rahangnya mengeras seolah akan hancur berkeping-keping. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, membiarkan Azura melihat amarah yang membara dalam dirinya.
"Kau pikir dengan senyum palsu dan jawaban manis itu kau bisa menipu semua orang lagi?" desis Xavier dengan suara rendah namun menggelegar, penuh penekanan yang tajam dan menyakitkan.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang, tidur di sini dan menikmati gelar sebagai istriku setelah semua kebohongan kotor yang kau lakukan?!"
Azura meronta sekuat tenaga, kuku-kukunya bahkan sampai meninggalkan goresan merah di lengan kekar Xavier, namun lelaki itu sama sekali tak bergeming. Cengkeramannya justru makin kuat, membuat napas wanita itu terputus-putus, kepalanya mulai pening dan berkunang-kunang. Wajah cantiknya perlahan berubah merah padam, lalu perlahan membiru karena kekurangan oksigen. Air mata tak sanggup lagi tertahan, mengalir membasahi pipinya yang pucat, jatuh tepat di tangan kasar yang sedang mencekik lehernya.
"Kau wanita iblis, " ucap Xavier lagi, penuh rasa muak.
"Aku benar-benar bodoh dulu. Aku bodoh sekali sampai percaya dan memperlakukanmu dengan baik. Kau bahkan rela menyakiti tubuhmu sendiri demi ambisi busuk kerajaanmu, demi misi kotormu itu!"
Azura menggeleng lemah, mulutnya terbuka menahan sakit, berusaha mengeluarkan suara meski tak ada sedikit pun udara yang bisa lewat. Ia ingin berteriak minta dilepaskan, namun jelas tidak bisa.
"Kau pikir aku tidak tahu apa tugasmu di sini?" ucap Xavier sinis, matanya menatap tajam ke manik mata Azura yang mulai memudar.
"Kau diutus ke sini bukan untuk menjadi istri yang baik, bukan untuk menjaga perdamaian. Kau diutus untuk menjadi mata-mata, mencari kelemahan kerajaan ini, dan menghancurkannya dari dalam, benar kan? Itu tugas mulia yang diberikan ayahmu padamu, bukan?"
Air mata Azura makin deras mengalir karena kesulitan bernafas. Ia tersiksa bukan hanya karena nyawanya yang sedang di ujung tanduk, tapi karena hatinya yang entah kenapa rasanya hancur sekali. Karena Xavier yang lembut, kini berubah menjadi sosok yang begitu kejam terhadapnya.
"Kau tahu apa yang paling aku sesalkan selama hidupku?" bisik Xavier, kali ini nadanya terdengar lebih dingin dan mematikan, penuh kepahitan yang mendalam.
"Aku menyesal telah menyelamatkanmu waktu itu. Aku menyesal telah memelukmu saat kau ketakutan. Aku menyesal memberi nama, karena nama itu tak pantas untuk wanita menjijikkan seperti dirimu."
Perlahan namun pasti, Xavier mulai melonggarkan cengkeramannya sedikit, bukan karena ia iba atau berubah pikiran, melainkan karena ia tidak ingin Azura mati begitu saja. Kematian terlalu mudah untuk wanita sepertinya. Ia ingin Azura hidup, dan merasakan penderitaan yang jauh lebih berat daripada sekadar kehilangan nyawa.
Begitu lehernya terlepas dari tekanan keras itu, tubuh Azura langsung terhempas jatuh ke lantai yang keras dan dingin. Ia terbatuk-batuk hebat, tubuhnya menggigil hebat sambil memegangi lehernya yang terasa perih, panas, dan sakit luar biasa. Ia terengah-engah seperti habis berlari ribuan kilometer.
Xavier berdiri tegak di depannya, menatap tubuh itu dengan tatapan tanpa belas kasihan sedikitpun. Wajah yang dulu selalu dipenuhi senyum lembut dan pelindung kini hilang sudah, digantikan oleh tatapan kejam yang mengerikan.
"Jangan berharap aku akan mengampunimu," ucap Xavier pelan namun berat, terdengar jelas di tengah keheningan kamar itu.
"Mulai malam ini, dan untuk selamanya, kau bukan istriku. Di mata dunia kita memang suami istri, tapi di dalam tembok ini, kau hanyalah tawanan yang aku biarkan hidup."
Xavier berjalan mundur beberapa langkah, lalu duduk di kursi santai yang berada di sudut ruangan, menjauh sejauh mungkin dari Azura. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Azura yang masih terbatuk sambil berusaha bangkit dengan tatapan yang jijik.
"Kau boleh tidur di mana saja di ruangan ini, asal jangan dekat denganku. Kau adalah wanita yang kotor dan penuh dengan kebohongan, melihatmu saja membuatku tak sudi." ucapnya dingin.
"Dan ingatlah baik-baik, princess Azura... setiap tetes air mata yang kau jatuhkan, setiap rasa sakit yang kau rasakan, itu semua adalah balasan pantas untuk apa yang kau lakukan padaku, pada keluargaku, dan pada kerajaan ini."
Azura akhirnya berhasil duduk bersandar pada dinding dingin. Ia menundukkan wajah, menutup mulutnya yang masih mengeluarkan suara isak tangis tertahan. Lehernya terasa sakit sekali, bekas jari-jari Xavier pasti akan membiru dan meninggalkan tanda untuk waktu yang lama. Namun, rasa sakit di hatinya terasa jauh lebih parah, jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit fisik apa pun di dunia ini.
Ia menatap Xavier dari balik kelopak matanya yang basah, melihat lelaki itu yang kini tampak begitu jauh, begitu asing, dan begitu penuh kebencian. Azura tahu, perjalanan panjang dan menyakitkan baru saja dimulai. Ia harus bertahan, seberat apa pun itu, meski harus menelan ludah sendiri setiap hari, meski harus hidup di bawah bayang-bayang kebencian Xavier.
Kau tidak boleh kalah Azura. Lawan dia, jangan kalah. Kau adalah putri yang menikah secara sah dengannya. Kalau dia bisa mengancam, kau juga bisa.
Gumamnya pada dirinya sendiri. Kemudian ia berdiri, menatap Xavier dari tempatnya. Setelah berhasil mengatur nafas, dia melangkah sedikit mendekat dan berbicara pada pria itu.
"Terserah kau menganggapku seperti apa," katanya. Xavier menyipitkan matanya tajam. Masih berani ternyata. Padahal sudah dia gertak seperti tadi.
"Aku menikah denganmu secara sah. Kalau kau berani main tangan denganku, aku tidak akan segan-segan melapor pada raja."
Xavier mencibir.
"Kau mengancamku?"
"Bukankah itu sudah jelas?"
"Kau tidak takut mati ditanganku?"
"Kau tidak akan membunuhku. Aku adalah putri Agung dari Kerajaan Utara. Membunuhku, sama saja dengan menyatakan perang dengan Kerajaanku."
Tangan Xavier dengan cepat meraih vas bunga dari atas meja sofa dan melempar kuat ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Azura kaget luar biasa tapi dia tetap berusaha kuat di depan laki-laki itu. Tidak boleh lemah sekarang, karena bukan nyawanya saja yang dia pertaruhkan.
Azura tetap berdiri dengan dagu terangkat. Dia harus tampak sombong seperti putri Azura yang terkenal sombong dan suka seenaknya di Kerajaan Utara. Xavier berdiri ingin menyerang wanita itu lagi, tapi langkahnya berhenti begitu melihat leher Azura yang penuh memar biru akibat ulahnya tadi. Lalu tanpa kata ia berbalik keluar dari kamar itu.
Azura langsung terduduk di lantai begitu pintu tertutup dan Xavier benar-benar menghilang. Hari-hari selanjutnya pasti akan berat, tapi dia akan bertahan, seberat apapun itu. Toh, dia pernah mengalami yang jauh lebih berat dari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
🍒WINA🍒
Pangeran xavier rasanya ingin membunuh putri azura, tapi pangeran xavier masih punya hati nurani.. pangeran xavier merasa ditipu dan dikhianati...
dikerajaan timur putri azura sudah biasa diperlakukan kurang baik, dan putri azura tidak anggap...
putri azura tidak mau kelihatan lemah dihadapan pengeran xavier, pura jadi kuat dan tegar..putri azura diancam akan menyakiti orang-orang dicintai.. harus menuruti jadi mata-mata dan menikah sama pangeran xavier...
pangeran xavier mangganggap putri azura wanita iblis menipu...
dibalik itu semua putri azura melindungi orang disayanginya, putri azura rela dibenci sama pangeran xavier...
pangeran xavier juga tidak tahu alasan putri azura...pangeran xavier nanti juga akan luluh hatinya, jatuh cinta sama putri azura klo tahu kebenarannya ,putri azura tidak sejahat itu karena terpaksa jadi mata2...
2026-05-17
1
Bunda Dzi'3
xavier psti di hati yg trdalamnya skit melakukan kekerasan ke Azura..tapi emosi nya mengalahkan rasa syangnya ke Azura(KRNA XAVIER ADA TRAUMA DRI IBU KANDUNGNYA SNDRI)AZURA DI BALIK KEANGKUHANNYA BNYK MENYIMPAN PEMDERITAAN MESKIPUN AZURA PUTRI DRI TIMUR😭😭😭😭
2026-05-17
1
Amel_
sepertinya Azura sedang menyelamatkan ibunya , ibunya ditawan kerajaan Utara , mgkn dia anak ratu yg tidak diinginkan atau anak selir wanita yg dicintai raja tp dibenci ratu , semua masih teka teki
2026-05-17
2