Pesta pernikahan berlangsung meriah. Aula istana yang megah itu dihiasi ribuan lilin dan karangan bunga langka yang harumnya memenuhi seluruh ruangan. Para bangsawan, utusan kerajaan sahabat, hingga pejabat tinggi dari dua kerajaan saling bersalaman, tersenyum, dan bersulang demi kedamaian yang kini terikat lewat pernikahan politik itu.
Namun, di tengah kemeriahan itu, tak banyak yang menyadari ada ketegangan antara pengantin yang bisa meledak kapan saja.
Xavier berdiri di sisi Azura, wajahnya tetap datar. Setiap kali ada tamu mendekat memberi ucapan selamat, ia hanya mengangguk sekilas, sesekali tersenyum tipis yang sama sekali tidak sampai ke matanya.
Azura memaksakan senyumnya, menyambut setiap tamu dengan sopan, menunduk anggun, dan menjawab ucapan selamat dengan nada lembut namun hati-hati, seolah sedang berjalan di atas tepi jurang yang curam.
Satu per satu kerabat dan sahabat Xavier berjalan ke arah mereka. Halver mendekat, menatap keduanya bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu menepuk bahu Xavier singkat sebelum beralih menatap Azura dengan pandangan menyelidik. Basten dan Edel mengucapkan selamat dengan nada sopan namun canggung, tak ada lagi kehangatan seperti saat mereka menganggapnya sebagai Emely yang lemah dan butuh perlindungan.
Saat giliran Akari dan Sabella beserta suami mereka, Denis dan Ansel mendekat, jantung Azura seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menatap wajah dua wanita yang dulu pernah begitu dekat dengannya, yang dulu sering membawakan makanan enak, menemani saat ia takut sendirian, dan memeluknya erat seolah ia saudari kandung mereka sendiri.
Kini, tatapan itu sama sekali berbeda. Tidak ada kehangatan, tak ada senyum, bahkan tidak ada kebencian yang meledak-ledak. Yang ia lihat hanyalah kekecewaan yang begitu dalam, dingin, dan jarak yang tiba-tiba terasa begitu jauh
Mata Akari menatapnya lekat-lekat, seolah sedang melihat orang asing yang pernah masuk ke dalam rumahnya lalu menusuk punggungnya diam-diam. Sabella menundukkan pandangan sesaat, lalu mengangkatnya kembali dengan ragu, namun tidak ada keinginan untuk menyapa lebih dari sekadar sopan santun.
"Selamat atas pernikahannya, tuan putri Azura," ucap Akari datar, suaranya jauh lebih dingin dari biasanya, tidak ada sapaan sayang seperti dulu.
Di sebelahnya, Denis menatapnya tajam, matanya menyiratkan kewaspadaan tinggi.
"Semoga kau bahagia dengan keputusanmu." katanya, lebih seperti menyampaikan kekecewaannya kepada Azura.
Ansel hanya diam, menggenggam pinggang Sabella erat seolah ingin menjauhkan istrinya dari wanita yang dulu mereka tolong dan percayai itu. Sabella akhirnya membuka mulut, suaranya pelan dan berat.
"Aku mengira ... Aku mengenalmu. Ternyata, semuanya hanya kepura-puraan yang sangat sempurna. Semoga kamu bahagia dengan peranmu ini."
Respon Azura hanya tersenyum percaya diri, berusaha menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh sama sekali.
"Terimakasih, aku pasti bahagia."
Xavier yang berdiri di sebelahnya hanya tertawa kecil sinis, suaranya rendah namun cukup terdengar oleh mereka berempat.
Akari dan Sabella hanya menatapnya sekali lagi dengan tatapan yang penuh kekecewaan itu, lalu berbalik dan pergi, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Denis dan Ansel mengikuti di belakang mereka, seolah ingin segera menjauh dari wanita yang dulu mereka anggap keluarga itu.
Azura merasakan dadanya semakin sesak, namun ia tetap berdiri tegak, memaksakan senyum itu tetap terukir meski matanya terasa panas dan perih. Ia harus kuat. Ia tidak boleh jatuh sekarang. Masih ada misi yang harus diselesaikan, masih ada nyawa orang yang ia cintai P bergantung padanya.
Pesta berlanjut hingga larut malam hingga para tamu dan pejabat istana satu persatu meninggalkan aula istana. Xavier dan Azura akhirnya diantar oleh dua pelayan istana menuju kamar pengantin yang terletak di sayap paling dalam istana, ruangan yang paling megah dan paling tertutup dari gangguan luar.
Langkah kaki mereka menyusuri lorong panjang yang sepi dengan cahaya remang. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara langkah kaki mereka berdua dan detak jantung Azura yang semakin cepat dan kencang.
Azura jujur merasa sangat gugup. Tangannya dingin dan sedikit gemetar meski ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya. Ia tahu betul seperti apa perasaan Xavier padanya sekarang, penuh kebencian, rasa jijik, dan rasa dikhianati yang mendalam.
Ia juga tahu betul, tidak akan ada malam pertama seperti pasangan suami istri lainnya. Tidak akan ada kelembutan, tidak akan ada kebersamaan yang hangat. Ia sudah bersiap untuk tidur sendirian di sudut kamar, sementara Xavier mungkin akan pergi ke kamar lain atau setidaknya menjauhinya sejauh mungkin.
Namun, saat pintu kamar besar itu tertutup rapat dan terkunci di belakang mereka, seketika suasana berubah menjadi sangat mencekam. Xavier tidak berkata sepatah kata pun. Ia tidak bergerak ke tempat tidur besar yang tertutup kain sutra putih, tidak juga berbalik meninggalkan ruangan itu seperti dugaan Azura.
Tiba-tiba, Xavier berbalik dengan gerakan kilat. Sebelum Azura sempat bereaksi atau bahkan menarik napas panjang, tangan kasar Xavier sudah mencengkeram kuat lehernya, mengangkat tubuhnya sedikit hingga kakinya melayang di atas lantai.
"Ugh!"
Azura terkejut hebat, napasnya tersumbat seketika. Kedua tangannya langsung berusaha merenggangkan cengkeraman itu, namun kekuatan Xavier jauh lebih besar darinya, cengkeramannya begitu kuat hingga terasa seperti baja yang mencekik nyawanya perlahan namun pasti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
🍒WINA🍒
Putri azura pura-pura terlihat kuat dan tegar, padahal dibalik itu hatinya merasa sesak.. putri azura terpaksa melakukan itu demi melindungi seorang...
ansel sabella denis akari dan yg lainya merasakan kecewa sama putri azura, gak ada lagi tatapan mereka penuh kelembutan dan hangat..
yg ada tatapan kecewa dan datar, pangeran xavier selidiki dulu putri azura, pasti ada alasannya...
pangeran xavier merasa kecewa dan jijik melihat putri azura, pangeran xavier emosi dan marah merasa ditipu mencekik putti azura.....
lanjut mae....
2026-05-16
5
Ny Rudi Harianto
pangeran merasa d khianati ......sebagai bentuk nya dia mencekik Azura..... Xavier blm tau knapa Azura berbuat begitu maka nya dia kasar dengan Azura...... mudah-mudahan gak terlambat untuk mengetahui motif d belakang tindakan Azura terhadap Xavier
2026-05-16
2
RiriChiew🌺
ya siapa yg tidak sakit hati dan menyangka bahwa orang yg dulu dianggap lemah berbohong penuh dusta dan itu bukti sekecewa apa Xavier terhadap kamu Zura, walau mungkin kebablasan tpi cara kedatangan mu itu sudah salah dari awal .
2026-05-16
1