Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar

​Dua antek Lin Wei berdiri terpaku dengan lutut gemetar. Udara malam yang dingin terasa seperti menembus hingga ke sumsum tulang mereka. Lin Wei, bos mereka yang selalu sombong, kini terkapar di genangan lumpur sambil mengerang memegangi bahunya yang hancur.

​Mata Lin Chen perlahan menyapu kedua pemuda itu. Tatapannya sedingin es abadi.

​"Bawa sampah ini pergi dari halamanku. Dan ingat, jika ada dari kalian yang berani menginjakkan kaki di sini lagi, yang akan kupatahkan bukan lagi sekadar bahu, melainkan leher kalian."

​Kedua pemuda itu tersentak seolah baru saja disiram air mendidih. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, mereka buru-buru memapah Lin Wei yang setengah pingsan dan lari terbirit-birit menembus kegelapan malam, layaknya anjing yang ketakutan.

​Setelah halaman kembali sunyi, Lin Chen berbalik dan melangkah masuk ke dalam gubuk kayunya yang reyot.

​Udara di dalam ruangan itu pengap dan lembap. Lin Chen duduk bersila di atas ranjang kayu yang keras, lalu memejamkan mata untuk memeriksa kondisi internalnya.

​"Sutra Pedang Kehampaan memang teknik kultivasi purba yang menentang surga. Meski aku baru mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1, kemurnian dan ketajaman Qi di dalam meridianku sebanding dengan kultivator Tingkat 3."

​Namun, Lin Chen segera menyadari sebuah masalah besar. Teknik Sutra Pedang Kehampaan menguras energi dengan sangat rakus. Untuk memadatkan Qi menjadi 'pedang energi' di dalam Dantian, ia membutuhkan jumlah energi spiritual sepuluh kali lipat lebih banyak daripada teknik kultivasi biasa.

​Di tempat dengan energi spiritual yang tipis seperti Kota Daun Musim Gugur ini, mengandalkan pernapasan alam saja tidak akan cukup. Ia membutuhkan sumber daya eksternal.

​"Pemilik asli tubuh ini adalah Tuan Muda ke-13. Meskipun ia dianggap sampah, keluarga tetap memiliki kuota bulanan yang seharusnya dibagikan kepadanya. Namun dalam ingatanku... dia sudah tidak menerima jatah bulanannya selama tiga tahun terakhir."

​Bibir Lin Chen melengkung membentuk senyum dingin. Tiga tahun jatah bulanan seorang tuan muda keluarga utama bukanlah jumlah yang kecil. Seseorang di Aula Sumber Daya pasti telah menggelapkan haknya.

​"Karena aku sekarang menggunakan tubuh ini, segala hutang masa lalu akan kutagih beserta bunganya."

​Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah ingin menghapus jejak badai semalam.

​Lin Chen melangkah keluar dari gubuknya menuju ke pusat kediaman Keluarga Lin. Penampilannya yang kotor dan compang-camping akibat kejadian semalam belum ia bersihkan sepenuhnya, namun aura yang memancar dari setiap langkahnya membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengannya secara refleks menyingkir dan menundukkan kepala, bingung dengan tekanan misterius yang tiba-tiba dimiliki oleh si "Sampah Terbesar".

​Bangunan Aula Sumber Daya menjulang megah di depan. Ini adalah tempat di mana semua anggota keluarga mengambil jatah bulanan mereka berupa pil, batu spiritual, dan ramuan obat.

​Saat Lin Chen melangkah melewati pintu ganda aula tersebut, suara berisik di dalam ruangan seketika mereda. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi—jijik, heran, dan mencemooh.

​"Bukankah itu Lin Chen? Kudengar semalam dia dipukuli oleh Lin Wei sampai mati. Ternyata dia masih bisa berjalan?"

"Hmph, kulitnya saja yang tebal. Untuk apa si cacat itu datang ke Aula Sumber Daya? Membuang-buang udara saja."

​Mengabaikan bisik-bisik rendahan itu, Lin Chen melangkah lurus menuju meja konter panjang yang dijaga oleh seorang pria paruh baya bertubuh gemuk. Pria itu adalah Diakon Lin Ba, pengawas distribusi sumber daya untuk murid luar dan anggota keluarga yang tidak berbakat.

​Lin Ba sedang menyesap tehnya dengan santai. Ketika ia melihat Lin Chen berdiri di depan mejanya, ia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar.

​"Ada urusan apa kau kemari, Sampah? Jangan mengotori mejaku dengan bau kemiskinanmu," dengus Lin Ba dengan raut wajah jijik.

​"Aku datang untuk mengambil jatah bulananku," jawab Lin Chen datar. "Dan juga jatah yang belum kau berikan selama tiga tahun terakhir."

​Suasana aula mendadak hening selama beberapa detik sebelum meledak dalam tawa meremehkan dari para kultivator muda di sekitarnya. Lin Ba tertawa paling keras hingga perut buncitnya berguncang.

​"Jatah bulanan? Hahaha! Lin Chen, apa otakmu sudah benar-benar rusak setelah dipukuli? Kau hanyalah seonggok daging tak berguna dengan meridian buntu! Memberikan sumber daya kepadamu sama saja dengan melemparkan emas ke dalam selokan!" Lin Ba berdiri dan mencondongkan tubuhnya, menatap Lin Chen dengan tatapan mengejek. "Semua jatahmu telah dialihkan kepada Tuan Muda Lin Wei. Jika kau keberatan, pergilah mengadu padanya!"

​Mendengar nama Lin Wei, kilatan dingin melintas di mata Lin Chen.

​"Jadi kau menggelapkan hakku untuk menjilat sepatu Lin Wei?" Lin Chen mengangguk perlahan. "Sangat bagus. Kalau begitu, kau sendiri yang akan membayarnya hari ini."

​"Bocah kurang ajar! Beraninya kau—"

​Sebelum Lin Ba bisa menyelesaikan kalimatnya, Lin Chen sudah bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan kabur di mata para penonton.

​Brak!

​Lin Chen meraih kerah baju Lin Ba yang terbuat dari sutra halus dan menarik tubuh gemuk pria itu melompati meja konter dengan satu tangan. Dengan tenaga yang mengerikan, ia membanting wajah Lin Ba ke lantai pualam aula.

​BRAKKK!

​Lantai pualam itu retak, dan hidung Lin Ba langsung hancur, memuncratkan darah segar ke mana-mana.

​"Arghhh!" Jeritan rasa sakit menggelegar dari mulut sang diakon.

​Seluruh aula seketika sunyi senyap. Mulut semua orang ternganga lebar. Diakon Lin Ba adalah seorang kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3! Bagaimana mungkin ia dibanting seperti boneka kain oleh Lin Chen yang tidak memiliki setetes pun Qi?

​"Pengawal! Bunuh anak ini! Bunuh dia!" teriak Lin Ba histeris sambil memegangi wajahnya yang bersimbah darah.

​Empat orang pengawal bergegas maju dari sudut ruangan, menghunuskan pedang besi mereka dan menerjang ke arah Lin Chen.

​Lin Chen tidak mundur selangkah pun. Ia memungut sebuah ranting kayu seukuran jari yang kebetulan tersapu angin ke dalam aula. Di tangan seorang Kaisar Pedang, bahkan sebatang ranting lapuk bisa menjadi senjata pembantai para dewa.

​Wush!

​Lin Chen menyuntikkan Qi dari Sutra Pedang Kehampaan ke dalam ranting tersebut. Ranting kayu itu mendadak bersinar dengan pendar keemasan yang samar dan berdengung seperti pedang pusaka yang haus darah.

​Ia melangkah maju menyongsong keempat pengawal itu. Ranting di tangannya berkelebat dengan lintasan yang sangat indah dan mematikan, menembus pertahanan pedang besi mereka seolah-olah besi itu terbuat dari kertas.

​Trak! Trak! Trak! Trak!

​Dalam kurang dari tiga tarikan napas, empat pedang besi baja patah menjadi dua. Ranting kayu di tangan Lin Chen dengan akurat menghantam titik lemah di dada masing-masing pengawal, membuat mereka memuntahkan darah dan terpental sejauh sepuluh meter sebelum jatuh pingsan.

​Keheningan yang mencekam kini menyelimuti Aula Sumber Daya. Tidak ada lagi yang berani tertawa. Mereka menatap Lin Chen seolah sedang melihat siluman yang bangkit dari neraka.

​Lin Chen membuang ranting kayu itu, lalu menginjak dada Lin Ba yang masih gemetar ketakutan di lantai.

​"Sekarang, mari kita hitung hutangmu," ucap Lin Chen dengan nada yang setenang air. Ia menatap Diakon yang kini pucat pasi itu. "Tiga tahun, artinya 36 bulan. Setiap bulan jatahku adalah 3 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan 1 Pil Pengumpul Qi."

​Lin Chen membungkuk, menatap lurus ke dalam mata Lin Ba yang dipenuhi teror.

​"Serahkan 108 Batu Spiritual dan 36 Pil Pengumpul Qi sekarang, atau aku akan menginjak jantungmu hingga hancur."

Terpopuler

Comments

Luo Zan Thian

Luo Zan Thian

Mantap Chen... Seorang MC harusnya seperti ini..👍👍👍👍👍👍👍👍

2026-07-19

0

Yan Panungkek

Yan Panungkek

wah makin seru Thor lanjut

2026-08-21

0

yos helmi

yos helmi

🤣🤣🤣🤣💪💪💪

2026-06-07

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2 Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3 Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4 Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5 Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6 Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7 Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8 Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9 Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11 Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12 Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13 Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14 Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15 Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16 Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17 Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18 Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19 Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20 Bab 20: Gravitasi Kematian
21 Bab 21: Penjaga Jembatan
22 Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23 Bab 23: Paviliun Sutra
24 Bab 24: Surat Tantangan Darah
25 Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26 Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27 Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28 Bab 28: Hutan Pedang Karat
29 Bab 29: Membakar Bayangan
30 Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31 Bab 31: Tungku Darah
32 Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33 Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34 Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35 Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36 Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37 Bab 37: Penundukan Jiwa
38 Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39 Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40 Bab 40: Badai Bilah Hitam
41 Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42 Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43 Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44 Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45 Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46 Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47 Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48 Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49 Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50 Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51 Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52 Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53 Bab 53: Murka Sekte Pedang
54 Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55 Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56 Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57 Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58 Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59 Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60 Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61 Bab 61: Lautan Badai Kematian
62 Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63 Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64 Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65 Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66 Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67 Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68 Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69 Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70 Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71 Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72 Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73 Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74 Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75 Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76 Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77 Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78 Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79 Bab 79: Hujan Logam
80 Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81 Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82 Bab 82: Sekte Gunung Baja
83 Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84 Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85 Bab 85: Benturan Fisik Emas
86 Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87 Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88 Bab 88: Inti Magma Bintang
89 Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90 Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91 Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92 Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93 Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94 Bab 94: Takhta Kosong
95 Bab 95: Lautan Petir Primordial
96 Hujan Darah di Sembilan Langit
97 Berdirinya Istana Kehancuran
98 Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99 Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100 Bab 100: Lautan Api Purba
101 Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102 Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103 Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104 Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105 Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106 Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107 Bab 107: Riak di Istana Teratai
108 Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109 Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110 Kabut Kematian di Samudra Tulang
111 Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112 Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113 Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114 Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115 Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116 Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117 Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118 Dekrit Jiwa Kehampaan
119 Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120 Penempaan Pedang Ilahi
121 Kota Bintang Hitam
122 Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123 Tarian Pedang Kehampaan
124 Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125 Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2
Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3
Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4
Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5
Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6
Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7
Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8
Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9
Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11
Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12
Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13
Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14
Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15
Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16
Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17
Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18
Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19
Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20
Bab 20: Gravitasi Kematian
21
Bab 21: Penjaga Jembatan
22
Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23
Bab 23: Paviliun Sutra
24
Bab 24: Surat Tantangan Darah
25
Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26
Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27
Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28
Bab 28: Hutan Pedang Karat
29
Bab 29: Membakar Bayangan
30
Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31
Bab 31: Tungku Darah
32
Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33
Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34
Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35
Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36
Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37
Bab 37: Penundukan Jiwa
38
Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39
Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40
Bab 40: Badai Bilah Hitam
41
Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42
Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43
Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44
Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45
Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46
Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47
Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48
Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49
Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50
Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51
Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52
Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53
Bab 53: Murka Sekte Pedang
54
Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55
Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56
Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57
Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58
Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59
Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60
Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61
Bab 61: Lautan Badai Kematian
62
Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63
Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64
Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65
Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66
Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67
Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68
Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69
Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70
Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71
Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72
Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73
Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74
Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75
Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76
Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77
Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78
Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79
Bab 79: Hujan Logam
80
Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81
Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82
Bab 82: Sekte Gunung Baja
83
Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84
Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85
Bab 85: Benturan Fisik Emas
86
Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87
Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88
Bab 88: Inti Magma Bintang
89
Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90
Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91
Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92
Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93
Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94
Bab 94: Takhta Kosong
95
Bab 95: Lautan Petir Primordial
96
Hujan Darah di Sembilan Langit
97
Berdirinya Istana Kehancuran
98
Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99
Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100
Bab 100: Lautan Api Purba
101
Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102
Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103
Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104
Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105
Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106
Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107
Bab 107: Riak di Istana Teratai
108
Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109
Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110
Kabut Kematian di Samudra Tulang
111
Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112
Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113
Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114
Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115
Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116
Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117
Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118
Dekrit Jiwa Kehampaan
119
Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120
Penempaan Pedang Ilahi
121
Kota Bintang Hitam
122
Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123
Tarian Pedang Kehampaan
124
Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125
Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!