Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa

​Hutan Bayangan mendadak terasa lebih sunyi. Angin yang berhembus seakan membeku saat aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuh Lin Chen.

​Namun, ketiga tentara bayaran Taring Darah itu justru terdiam sejenak sebelum meledak dalam tawa yang meledak-ledak. Bagi mereka, ancaman dari seorang pemuda kurus berwajah pucat yang baru berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3 terdengar seperti lelucon paling lucu yang pernah mereka dengar.

​"Mati bunuh diri? Hahaha! Bos, apa anak ini kehilangan akal sehatnya karena ketakutan?" ejek salah satu tentara bayaran di sebelah kiri sambil menghunus golok besarnya.

​Pria berwajah codet itu menyeringai kejam. "Bocah bodoh yang tidak tahu luasnya langit dan bumi. Potong kedua kakinya, lalu bawa kepalanya padaku!"

​Mendapat perintah, kedua tentara bayaran di sisi kiri dan kanan langsung melesat secara bersamaan. Tubuh mereka memancarkan Qi tingkat 3 yang ganas, mengayunkan senjata mereka dengan niat untuk melumpuhkan Lin Chen dalam satu gerakan.

​Lin Chen hanya menghela napas tipis. Mata gelapnya menatap kedua orang itu dengan pandangan kasihan.

​"Kalian yang memilihnya."

​Sring!

​Pedang besi berkarat di pinggang Lin Chen akhirnya tercabut dari sarungnya. Senjata itu hanyalah pedang fana berkualitas rendah yang tidak memiliki ukiran formasi apa pun, namun begitu berada di tangan mantan Kaisar Pedang, besi rongsokan itu bertransformasi menjadi pusaka dewa kematian.

​Lin Chen tidak menggunakan teknik pedang tingkat dewa, karena tubuhnya belum mampu menopangnya. Ia hanya menggunakan teknik dasar: Tebasan Horisontal.

​Wush!

​Sebuah kilatan cahaya perak melengkung membelah udara. Kecepatannya melampaui batas pandangan manusia biasa. Tidak ada suara benturan senjata, tidak ada ledakan Qi yang heboh. Hanya ada keheningan yang mematikan.

​Dua tentara bayaran yang sedang melayang di udara itu tiba-tiba kaku. Senjata mereka terlepas dari genggaman. Mereka mendarat di tanah dengan posisi berdiri, namun mata mereka membelalak ngeri.

​Sedetik kemudian, sebuah garis merah tipis muncul di leher mereka berdua secara bersamaan. Darah segar menyembur keluar bagai air mancur, dan kedua kepala itu menggelinding jatuh ke tanah berlumpur.

​Hanya butuh satu ayunan pedang fana untuk mencabut dua nyawa.

​Senyum kejam di wajah pria bercodet seketika membeku. Matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Ia adalah kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 4 yang telah melalui ratusan pertempuran hidup dan mati, namun ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana pedang pemuda itu bergerak!

​"T-teknik pedang macam apa itu?! Siapa kau sebenarnya?!" pria codet itu berteriak, suaranya kini bergetar hebat. Rasa percaya dirinya hancur lebur digantikan oleh teror murni.

​"Orang mati tidak perlu tahu nama tuannya," jawab Lin Chen dingin. Ia melangkah perlahan mendekati pria itu. Ujung pedang besinya meneteskan darah, seirama dengan detak jantung sang pemimpin tentara bayaran.

​Mengetahui ia tidak bisa melarikan diri dari monster bertopeng pemuda ini, pria bercodet itu menggertakkan giginya. Ia menyalurkan seluruh Qi Tingkat 4 ke dalam belati beracunnya.

​"Mati kau, Iblis Kecil! Sabetan Taring Berdarah!"

​Pria itu menerjang maju dengan kekuatan penuh. Bayangan belatinya membelah menjadi tiga, mengincar jantung, tenggorokan, dan mata Lin Chen sekaligus. Ini adalah teknik bela diri tingkat fana kelas menengah, jurus andalan yang selalu menyelamatkan nyawanya.

​Namun, di mata Lin Chen, serangan itu penuh dengan celah sebesar gerbang kota.

​Lin Chen hanya memutar pergelangan tangannya. Pedang besinya bergetar dan melesat maju menyongsong serangan tersebut.

​Tring! KRAK!

​Belati beracun yang terbuat dari baja hitam itu patah menjadi dua bagian seketika saat bertabrakan dengan ujung pedang Lin Chen yang telah dilapisi Sutra Pedang Kehampaan. Tanpa berhenti sedikit pun, pedang besi fana itu terus meluncur maju dan menembus dada pria bercodet itu, menancap tepat di jantungnya hingga menembus punggung.

​Pria itu memuntahkan darah segar. Matanya menatap ketidakpercayaan ke arah dadanya sendiri.

​Lin Chen menarik pedangnya dengan satu gerakan bersih. Tubuh pria itu ambruk ke tanah, menyusul kedua anak buahnya menuju neraka.

​Menyingkirkan darah dari bilah pedangnya dengan sekali kibasan, Lin Chen segera menggeledah tubuh ketiga korbannya. Di hutan liar ini, hukum rimba berlaku: yang kuat memangsa yang lemah.

​Hasil Jarahan:

​3 Kantong Penyimpanan tingkat rendah.

​80 Batu Spiritual.

​Berbagai tanaman obat penambah darah.

​Sebuah peta perkamen kuno yang sudah usang.

​Lin Chen membuka peta perkamen tersebut. Peta itu menunjukkan wilayah terdalam Hutan Bayangan, dan ada sebuah tanda silang merah yang digambar di tengah-tengah ngarai yang dikelilingi tebing. Di bawah tanda itu tertulis samar: Mata Air Roh Es.

​"Mata Air Roh Es?" Alis Lin Chen terangkat, menunjukkan sedikit ketertarikan. "Mata air yang terbentuk dari kondensasi energi murni elemen air dan es selama ratusan tahun. Sangat cocok untuk mendinginkan meridian yang terlalu panas akibat kultivasi Sutra Pedang Kehampaan."

​Tanpa membuang waktu, Lin Chen menyimpan barang-barang tersebut dan melesat ke arah yang ditunjukkan oleh peta. Ia bertekad untuk menghabiskan sisa waktunya sebelum Ujian Evaluasi Tahunan di sekitar mata air tersebut.

​Waktu berlalu dengan cepat. Satu bulan kemudian.

​Hutan Bayangan bagian dalam telah menjadi ladang pembantaian. Berbagai binatang buas tingkat 3 hingga tingkat 5 ditemukan mati dengan luka sayatan pedang yang sangat bersih dan rapi. Para tentara bayaran di sekitar kota bahkan mulai menyebarkan rumor tentang sesosok "Hantu Pedang" yang berkeliaran di dalam hutan.

​Di dasar sebuah ngarai yang tersembunyi, seorang pemuda bertelanjang dada sedang duduk bersila di tengah-tengah kolam kecil yang airnya berwarna biru es. Udara di sekitarnya begitu dingin hingga membentuk embun beku di bebatuan sekitarnya.

​Pemuda itu perlahan membuka matanya. Sebuah pilar Qi yang kuat meledak dari tubuhnya, menghancurkan bebatuan es di sekeliling kolam.

​Lin Chen berdiri. Otot-ototnya kini terbentuk sempurna, tidak terlalu besar, namun terlihat padat dan menyimpan tenaga ledak yang mengerikan. Luka-luka kecil akibat pertarungan selama sebulan terakhir telah hilang tak berbekas, digantikan oleh kulit yang sekeras tembaga.

​Ia telah mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5!

​"Mata Air Roh Es ini benar-benar membantu memperkuat fondasi fisikku. Sekarang, meridianku sudah cukup tangguh untuk menampung aliran Sutra Pedang Kehampaan tanpa risiko meledak," gumam Lin Chen puas.

​Ia mengenakan kembali jubah lamanya dan mengambil pedang besinya yang tergeletak di tanah. Bilah pedang fana itu kini dipenuhi retakan dan kerutan. Senjata biasa tidak bisa lagi menahan tekanan Qi murninya dalam waktu lama.

​"Sudah waktunya untuk kembali," ucap Lin Chen sambil melihat ke arah langit timur, tempat Kota Daun Musim Gugur berada. Sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman dingin yang sangat berbahaya.

​"Keluarga Lin... Ujian Evaluasi Tahunan. Lin Tian, aku harap kau sudah menyiapkan lehermu."

​Hari ini adalah hari di mana seluruh petinggi dan anggota Keluarga Lin berkumpul di alun-alun utama. Hari di mana "Sampah Terbesar" akan secara resmi mengguncang langit Benua Langit Biru untuk pertama kalinya.

Terpopuler

Comments

Yan Panungkek

Yan Panungkek

👍👍 bagus lanjut thor

2026-08-21

0

yos helmi

yos helmi

👍👍👍

2026-06-07

1

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

hehehehe pembantaian dimulai

2026-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2 Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3 Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4 Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5 Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6 Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7 Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8 Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9 Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11 Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12 Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13 Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14 Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15 Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16 Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17 Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18 Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19 Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20 Bab 20: Gravitasi Kematian
21 Bab 21: Penjaga Jembatan
22 Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23 Bab 23: Paviliun Sutra
24 Bab 24: Surat Tantangan Darah
25 Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26 Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27 Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28 Bab 28: Hutan Pedang Karat
29 Bab 29: Membakar Bayangan
30 Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31 Bab 31: Tungku Darah
32 Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33 Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34 Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35 Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36 Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37 Bab 37: Penundukan Jiwa
38 Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39 Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40 Bab 40: Badai Bilah Hitam
41 Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42 Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43 Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44 Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45 Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46 Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47 Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48 Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49 Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50 Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51 Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52 Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53 Bab 53: Murka Sekte Pedang
54 Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55 Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56 Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57 Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58 Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59 Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60 Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61 Bab 61: Lautan Badai Kematian
62 Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63 Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64 Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65 Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66 Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67 Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68 Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69 Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70 Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71 Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72 Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73 Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74 Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75 Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76 Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77 Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78 Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79 Bab 79: Hujan Logam
80 Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81 Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82 Bab 82: Sekte Gunung Baja
83 Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84 Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85 Bab 85: Benturan Fisik Emas
86 Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87 Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88 Bab 88: Inti Magma Bintang
89 Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90 Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91 Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92 Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93 Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94 Bab 94: Takhta Kosong
95 Bab 95: Lautan Petir Primordial
96 Hujan Darah di Sembilan Langit
97 Berdirinya Istana Kehancuran
98 Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99 Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100 Bab 100: Lautan Api Purba
101 Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102 Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103 Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104 Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105 Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106 Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107 Bab 107: Riak di Istana Teratai
108 Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109 Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110 Kabut Kematian di Samudra Tulang
111 Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112 Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113 Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114 Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115 Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116 Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117 Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118 Dekrit Jiwa Kehampaan
119 Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120 Penempaan Pedang Ilahi
121 Kota Bintang Hitam
122 Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123 Tarian Pedang Kehampaan
124 Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125 Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2
Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3
Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4
Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5
Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6
Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7
Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8
Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9
Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11
Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12
Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13
Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14
Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15
Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16
Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17
Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18
Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19
Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20
Bab 20: Gravitasi Kematian
21
Bab 21: Penjaga Jembatan
22
Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23
Bab 23: Paviliun Sutra
24
Bab 24: Surat Tantangan Darah
25
Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26
Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27
Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28
Bab 28: Hutan Pedang Karat
29
Bab 29: Membakar Bayangan
30
Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31
Bab 31: Tungku Darah
32
Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33
Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34
Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35
Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36
Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37
Bab 37: Penundukan Jiwa
38
Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39
Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40
Bab 40: Badai Bilah Hitam
41
Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42
Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43
Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44
Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45
Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46
Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47
Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48
Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49
Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50
Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51
Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52
Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53
Bab 53: Murka Sekte Pedang
54
Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55
Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56
Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57
Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58
Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59
Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60
Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61
Bab 61: Lautan Badai Kematian
62
Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63
Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64
Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65
Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66
Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67
Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68
Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69
Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70
Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71
Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72
Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73
Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74
Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75
Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76
Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77
Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78
Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79
Bab 79: Hujan Logam
80
Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81
Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82
Bab 82: Sekte Gunung Baja
83
Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84
Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85
Bab 85: Benturan Fisik Emas
86
Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87
Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88
Bab 88: Inti Magma Bintang
89
Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90
Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91
Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92
Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93
Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94
Bab 94: Takhta Kosong
95
Bab 95: Lautan Petir Primordial
96
Hujan Darah di Sembilan Langit
97
Berdirinya Istana Kehancuran
98
Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99
Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100
Bab 100: Lautan Api Purba
101
Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102
Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103
Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104
Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105
Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106
Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107
Bab 107: Riak di Istana Teratai
108
Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109
Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110
Kabut Kematian di Samudra Tulang
111
Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112
Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113
Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114
Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115
Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116
Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117
Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118
Dekrit Jiwa Kehampaan
119
Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120
Penempaan Pedang Ilahi
121
Kota Bintang Hitam
122
Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123
Tarian Pedang Kehampaan
124
Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125
Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!