Bab 4: Hutan Bayangan Kematian

​Satu bulan waktu yang tersisa sebelum Ujian Evaluasi Tahunan Keluarga Lin bukanlah waktu yang panjang bagi seorang kultivator. Bagi kebanyakan orang, menembus satu tingkat saja dalam sebulan sudah dianggap sebagai pencapaian jenius. Namun, di mata mantan Kaisar Pedang seperti Lin Chen, satu bulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membalikkan langit dan bumi.

​Keesokan paginya, Lin Chen tidak melanjutkan kultivasi tertutup di gubuknya. Ia menyadari sebuah kelemahan fatal: Sutra Pedang Kehampaan memberikan Qi yang sangat tajam dan murni, namun tubuh fananya yang tidak pernah dilatih selama lima belas tahun terlalu rapuh untuk menampung ledakan energi yang lebih besar.

​"Jika aku terus memaksakan penyerapan energi tanpa melatih fisik, tubuhku akan meledak saat aku mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5. Aku butuh pertarungan hidup dan mati untuk menempanya," gumam Lin Chen sambil menatap ke luar jendela.

​Tatapannya tertuju pada barisan pegunungan berkabut di sebelah barat Kota Daun Musim Gugur. Tempat itu adalah Hutan Bayangan, sarang bagi ribuan binatang buas dan tanaman herbal eksotis. Itu adalah surga bagi para pemburu dan tentara bayaran, sekaligus neraka bagi kultivator yang lemah.

​Tanpa berpamitan kepada siapa pun, Lin Chen mengenakan jubah hitam sederhana, menyandang sebuah pedang besi biasa yang ia temukan di gudang tua keluarga, dan melangkah keluar menuju Hutan Bayangan.

​Udara di dalam Hutan Bayangan terasa lembap dan dipenuhi aroma amis darah yang samar. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, menutupi sebagian besar cahaya matahari dan menciptakan ilusi senja yang abadi.

​KRAAAK!

​Sebuah pohon tua bergetar hebat sebelum tumbang ke tanah. Dari balik semak belukar berduri, sesosok monster berbulu perak melompat keluar dengan raungan yang memekakkan telinga.

​Itu adalah Beruang Baja Bertanduk, binatang buas tingkat rendah yang kekuatannya setara dengan kultivator Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3. Bulunya sekeras pelat besi, dan tanduk di kepalanya bisa menembus batu karang dengan mudah.

​Mata merah beruang itu menatap Lin Chen yang berdiri santai di depannya. Merasa wilayahnya diganggu oleh manusia kecil, beruang raksasa itu menerjang maju bak kereta kuda yang mengamuk. Tanah bergetar di bawah setiap pijakannya.

​Lin Chen tidak mencabut pedang besi di punggungnya. Ia hanya berdiri di sana dengan kedua tangan tergantung santai di sisi tubuh.

​"Datanglah," ucap Lin Chen datar. "Mari kita lihat seberapa keras tulang di tubuh ini."

​Tepat ketika cakar raksasa beruang itu hendak mengoyak kepalanya, Lin Chen menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang, lalu melontarkan pukulan lurus ke depan. Tidak ada teknik bela diri yang rumit, hanya pukulan murni yang ditenagai oleh aliran Qi dari Sutra Pedang Kehampaan.

​DUAAAGH!

​Suara benturan yang mengerikan terdengar seolah dua batu raksasa saling bertabrakan. Pukulan kecil Lin Chen beradu langsung dengan cakar beruang raksasa itu.

​Gelombang udara meledak dari titik benturan, menyapu dedaunan kering di sekitar mereka.

​Sesaat kemudian, sebuah suara retakan tulang yang memilukan menggema. Lengan Beruang Baja Bertanduk itu bengkok dengan sudut yang tidak wajar. Kekuatan pukulan Lin Chen tidak hanya menghancurkan tulang sang monster, tapi Qi pedangnya yang tajam merangsek masuk ke dalam tubuh beruang itu, merobek organ dalamnya menjadi bubur.

​BRUK!

​Binatang buas seberat ratusan kilogram itu terpelanting ke belakang dan jatuh tersungkur. Ia melolong tertahan sejenak sebelum akhirnya mati dengan mata melotot.

​Lin Chen menurunkan tinjunya yang sedikit memerah. Ia mengangguk puas.

​"Kekuatan fisikku kini cukup untuk menghancurkan batu baja. Tubuh ini mulai beradaptasi dengan ritme kultivasiku."

​Lin Chen berjalan mendekati bangkai beruang tersebut. Ia menghunus pedang besinya, membelah dada monster itu dengan gerakan yang sangat rapi, dan mengambil sebuah kristal seukuran ibu jari yang bersinar redup dari dalam jantungnya.

​Itu adalah Inti Binatang Buas. Di dalamnya terkandung energi unsur alam yang jauh lebih liar, namun lebih padat dibandingkan batu spiritual tingkat rendah.

​Saat Lin Chen hendak menyimpan inti tersebut ke dalam kantong penyimpanannya, sebuah suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah cabang pohon di belakangnya.

​"Pukulan yang sangat mengesankan! Menggunakan tangan kosong untuk membunuh Beruang Baja Bertanduk... Sulit dipercaya bahwa kau baru berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3."

​Lin Chen menoleh tanpa mengubah ekspresinya. Tiga orang pria berpakaian zirah kulit melompat turun dari atas pohon. Mereka memakai lencana dengan lambang serigala merah di dada mereka—lambang dari Kelompok Tentara Bayaran Taring Darah, kelompok pemburu yang terkenal brutal di sekitar Kota Daun Musim Gugur.

​Pria yang berdiri paling depan, yang tampaknya adalah pemimpin mereka, memiliki bekas luka melintang di wajahnya. Kultivasinya berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 4.

​"Bocah, kami telah melacak beruang itu sejak pagi tadi," ucap pria berwajah codet itu sambil menyeringai licik, memainkan belati beracun di tangannya. "Kau berani mencuri mangsa kami. Tapi, karena kami sedang dalam suasana hati yang baik, tinggalkan Inti Binatang Buas itu, serahkan kantong penyimpananmu, dan kami akan membiarkanmu pergi dengan kedua kaki yang masih utuh."

​Dua tentara bayaran lainnya tertawa sinis sambil menyebar, mengepung Lin Chen dari sisi kiri dan kanan. Mereka berdua berada di puncak Tingkat 3. Di mata mereka, pemuda kurus di depan ini hanyalah domba gemuk yang kebetulan beruntung.

​Lin Chen menatap ketiga orang itu seolah sedang menatap debu di udara. Ia tidak marah, hanya merasa sedikit kasihan pada kebodohan mereka. Di kehidupan masa lalunya, bahkan dewa sejati pun tidak berani berbicara dengan nada seperti itu kepadanya.

​"Kalian melacaknya?" Lin Chen mengangkat Inti Binatang Buas di tangannya yang berlumuran darah. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat suhu di sekitarnya mendadak terasa lebih dingin dari es.

​"Sayang sekali. Aku tidak terbiasa meninggalkan barang milikku, dan aku sangat membenci orang yang membuang-buang waktuku. Jadi, aku akan memberi kalian satu kesempatan..."

​Lin Chen perlahan memegang gagang pedang besi di pinggangnya. Aura membunuh yang sangat pekat, hasil dari ribuan tahun pembantaian di kehidupan masa lalunya, seketika meledak menutupi area tersebut.

​"...Mati bunuh diri, atau aku yang akan mencabik kalian menjadi serpihan."

Terpopuler

Comments

Yan Panungkek

Yan Panungkek

mantap lanjut

2026-08-21

0

yos helmi

yos helmi

🤣🤣🤣

2026-06-07

1

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

bantaaaaaaaiiiiii ayooool bantaaaaaaaiiiiii

2026-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2 Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3 Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4 Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5 Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6 Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7 Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8 Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9 Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11 Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12 Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13 Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14 Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15 Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16 Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17 Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18 Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19 Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20 Bab 20: Gravitasi Kematian
21 Bab 21: Penjaga Jembatan
22 Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23 Bab 23: Paviliun Sutra
24 Bab 24: Surat Tantangan Darah
25 Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26 Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27 Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28 Bab 28: Hutan Pedang Karat
29 Bab 29: Membakar Bayangan
30 Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31 Bab 31: Tungku Darah
32 Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33 Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34 Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35 Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36 Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37 Bab 37: Penundukan Jiwa
38 Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39 Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40 Bab 40: Badai Bilah Hitam
41 Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42 Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43 Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44 Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45 Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46 Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47 Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48 Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49 Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50 Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51 Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52 Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53 Bab 53: Murka Sekte Pedang
54 Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55 Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56 Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57 Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58 Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59 Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60 Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61 Bab 61: Lautan Badai Kematian
62 Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63 Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64 Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65 Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66 Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67 Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68 Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69 Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70 Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71 Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72 Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73 Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74 Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75 Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76 Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77 Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78 Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79 Bab 79: Hujan Logam
80 Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81 Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82 Bab 82: Sekte Gunung Baja
83 Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84 Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85 Bab 85: Benturan Fisik Emas
86 Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87 Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88 Bab 88: Inti Magma Bintang
89 Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90 Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91 Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92 Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93 Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94 Bab 94: Takhta Kosong
95 Bab 95: Lautan Petir Primordial
96 Hujan Darah di Sembilan Langit
97 Berdirinya Istana Kehancuran
98 Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99 Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100 Bab 100: Lautan Api Purba
101 Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102 Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103 Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104 Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105 Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106 Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107 Bab 107: Riak di Istana Teratai
108 Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109 Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110 Kabut Kematian di Samudra Tulang
111 Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112 Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113 Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114 Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115 Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116 Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117 Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118 Dekrit Jiwa Kehampaan
119 Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120 Penempaan Pedang Ilahi
121 Kota Bintang Hitam
122 Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123 Tarian Pedang Kehampaan
124 Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125 Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2
Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3
Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4
Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5
Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6
Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7
Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8
Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9
Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11
Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12
Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13
Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14
Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15
Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16
Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17
Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18
Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19
Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20
Bab 20: Gravitasi Kematian
21
Bab 21: Penjaga Jembatan
22
Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23
Bab 23: Paviliun Sutra
24
Bab 24: Surat Tantangan Darah
25
Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26
Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27
Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28
Bab 28: Hutan Pedang Karat
29
Bab 29: Membakar Bayangan
30
Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31
Bab 31: Tungku Darah
32
Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33
Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34
Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35
Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36
Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37
Bab 37: Penundukan Jiwa
38
Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39
Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40
Bab 40: Badai Bilah Hitam
41
Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42
Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43
Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44
Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45
Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46
Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47
Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48
Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49
Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50
Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51
Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52
Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53
Bab 53: Murka Sekte Pedang
54
Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55
Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56
Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57
Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58
Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59
Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60
Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61
Bab 61: Lautan Badai Kematian
62
Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63
Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64
Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65
Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66
Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67
Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68
Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69
Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70
Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71
Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72
Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73
Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74
Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75
Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76
Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77
Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78
Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79
Bab 79: Hujan Logam
80
Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81
Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82
Bab 82: Sekte Gunung Baja
83
Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84
Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85
Bab 85: Benturan Fisik Emas
86
Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87
Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88
Bab 88: Inti Magma Bintang
89
Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90
Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91
Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92
Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93
Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94
Bab 94: Takhta Kosong
95
Bab 95: Lautan Petir Primordial
96
Hujan Darah di Sembilan Langit
97
Berdirinya Istana Kehancuran
98
Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99
Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100
Bab 100: Lautan Api Purba
101
Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102
Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103
Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104
Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105
Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106
Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107
Bab 107: Riak di Istana Teratai
108
Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109
Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110
Kabut Kematian di Samudra Tulang
111
Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112
Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113
Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114
Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115
Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116
Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117
Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118
Dekrit Jiwa Kehampaan
119
Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120
Penempaan Pedang Ilahi
121
Kota Bintang Hitam
122
Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123
Tarian Pedang Kehampaan
124
Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125
Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!