Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan

​Udara di dalam Aula Sumber Daya terasa membeku. Puluhan pasang mata menatap ngeri ke arah pemuda berpakaian compang-camping yang kakinya kini berpijak mantap di atas dada Diakon Lin Ba.

​Di bawah tekanan aura membunuh yang memancar dari mata Lin Chen, pertahanan mental Lin Ba hancur sepenuhnya. Rasa sakit dari hidungnya yang remuk ditambah ancaman kematian yang begitu nyata membuatnya kencing di celana. Cairan pesing merembes mengotori lantai pualam.

​"A-aku berikan! Aku akan berikan semuanya! Tolong, lepaskan aku, Tuan Muda Lin Chen!" ratap Lin Ba dengan suara serak dan bergetar.

​Dengan tangan gemetar hebat, pria paruh baya itu merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah kantong kecil berwarna abu-abu—sebuah Kantong Penyimpanan tingkat rendah. Ia menuangkan isinya ke lantai. Kilauan cahaya redup dari batu-batu spiritual dan aroma herbal seketika memenuhi udara.

​"Di... di dalam sini ada 120 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan 40 Pil Pengumpul Qi," ucap Lin Ba terbata-bata. "Ini adalah seluruh persediaan yang kumiliki saat ini. Tolong, biarkan aku hidup."

​Lin Chen menarik kakinya dari dada Lin Ba. Ia membungkuk, mengambil kantong penyimpanan tersebut, lalu memasukkan semua batu dan pil ke dalamnya.

​"Kelebihannya akan kuanggap sebagai bunga atas penderitaan pemilik tubuh ini selama tiga tahun," ucap Lin Chen dingin. Ia menepuk pipi Lin Ba yang bengkak dengan punggung tangannya. "Ingat, Lin Ba. Mulai hari ini, setiap awal bulan, kau harus mengantarkan jatahku langsung ke halamanku. Jika kurang satu batu saja, aku akan menagihnya dengan nyawamu."

​Tanpa menunggu jawaban dari Diakon yang sudah setengah pingsan karena ketakutan itu, Lin Chen berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

​Kerumunan kultivator muda yang sejak tadi memblokir jalan secara otomatis membelah bagai lautan yang terbelah, memberi jalan untuknya. Tidak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras apalagi mencibirnya. Sampah yang selama ini mereka ludahi baru saja menghancurkan empat pengawal bersenjata dan seorang Diakon tingkat 3 hanya dengan sebatang ranting kayu!

​Setibanya kembali di gubuk kayunya yang sunyi, Lin Chen mengunci pintu dan duduk bersila di atas ranjang. Ia mengeluarkan isi kantong penyimpanannya dan menjejerkan hasil rampasannya.

​"Bahan-bahan ini sangat rendah kualitasnya, penuh dengan kotoran sisa alkimia," gumam Lin Chen sambil mengambil sebutir Pil Pengumpul Qi dan mengamatinya. Di kehidupan sebelumnya, pil sampah semacam ini bahkan tidak layak diberikan kepada hewan peliharaannya. "Namun, untuk tubuh yang haus energi ini, cukuplah."

​Lin Chen memasukkan tiga butir Pil Pengumpul Qi sekaligus ke dalam mulutnya—sebuah tindakan bunuh diri bagi kultivator biasa, karena energi yang meledak bisa menghancurkan meridian mereka.

​WUSH!

​Begitu pil-pil itu lumer di perutnya, ledakan energi spiritual yang liar menyebar ke seluruh tubuhnya bagai kuda liar yang mengamuk. Tubuh Lin Chen memerah, dan suhu di dalam gubuk langsung melonjak.

​"Sutra Pedang Kehampaan, telan!"

​Lin Chen membentuk segel tangan purba. Energi liar dari pil-pil itu seketika ditarik paksa menuju Dantian-nya. Di sana, sebuah pusaran tak kasat mata berbentuk pedang kecil berputar dengan kecepatan gila, menggiling kotoran pil dan menyerap esensi murninya.

​Krak!

​Suara ringan terdengar dari dalam tubuhnya. Dalam kurang dari sepuluh tarikan napas, Lin Chen telah menembus Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2.

​Namun, ia tidak berhenti. Ia mengambil sepuluh Batu Spiritual dan menggenggamnya di kedua tangan. Sutra Pedang Kehampaan kembali bekerja layaknya pusaran air raksasa. Energi dari batu-batu itu mengalir deras ke meridiannya, memperluas dan memperkuat dinding urat nadinya hingga sekuat baja.

​Satu jam... dua jam... tiga jam berlalu.

​Batu-batu spiritual di sekitarnya berubah menjadi debu kelabu satu per satu setelah energinya terkuras habis. Tepat ketika matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya jingga dari celah jendela gubuk, mata Lin Chen terbuka mendadak.

​Sebuah gelombang udara meledak dari tubuhnya, meniup debu dan kotoran di dalam gubuk.

​Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3!

​Dalam satu hari, ia berhasil melompati dua tingkat berturut-turut. Ini adalah kecepatan kultivasi yang sangat menakutkan, cukup untuk membuat para jenius di Benua Langit Biru merasa malu hingga ingin bunuh diri.

​Lin Chen mengepalkan tinjunya. Ia bisa merasakan tenaga fisik setara dengan banteng iblis mengalir di otot-ototnya. "Fondasi di tubuh ini masih terlalu lemah. Mulai sekarang, aku tidak hanya perlu melatih Qi, tapi juga memperkuat tubuh fisikku."

​Sementara itu, di Halaman Utama Keluarga Lin.

​Prang!

​Sebuah cangkir keramik mahal hancur berkeping-keping menghantam dinding. Seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan jubah sutra biru menatap tajam ke arah dua antek yang berlutut gemetar di depannya. Di atas ranjang di sebelahnya, Lin Wei terbaring dengan bahu yang dibalut perban tebal, mengerang kesakitan.

​Pemuda berjubah biru itu adalah Lin Tian, kakak kandung Lin Wei. Ia adalah salah satu jenius teratas generasi muda Keluarga Lin, yang telah mencapai Ranah Kondensasi Qi Tingkat 5.

​"Kalian bilang... si cacat Lin Chen mengalahkan kalian dan mematahkan lengan adikku hanya dengan dua jari?" Suara Lin Tian terdengar dingin dan dipenuhi niat membunuh.

​"B-benar, Tuan Muda Tian! B-bahkan Diakon Lin Ba dihajar sampai babak belur olehnya di Aula Sumber Daya siang tadi," lapor salah satu antek dengan suara gemetar.

​Lin Tian menyipitkan matanya. "Sepertinya si sampah itu mendapatkan suatu kebetulan yang luar biasa, atau menemukan sisa-sisa warisan tetua. Tapi dia terlalu bodoh. Menyerang sesama anggota keluarga adalah pelanggaran besar."

​Lin Tian berjalan ke jendela, menatap ke arah pelataran luar. "Satu bulan lagi adalah Ujian Evaluasi Tahunan Keluarga Lin. Di arena itu, pertarungan antara generasi muda diizinkan, dan senjata tidak memiliki mata."

​Senyum kejam mengembang di bibir Lin Tian.

​"Biarkan dia menikmati kesombongannya selama sebulan ini. Saat evaluasi nanti, aku sendiri yang akan mencabut meridiannya satu per satu dan mematahkan keempat anggota tubuhnya di depan seluruh tetua keluarga!"

Terpopuler

Comments

REY ASMODEUS

REY ASMODEUS

sombong amat si tiang roboh

2026-06-27

2

yos helmi

yos helmi

👍👍👍😄😄😄

2026-06-07

1

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️

alur ceritanya di awal menarik semoga tidak hiatus👍😄

2026-06-02

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2 Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3 Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4 Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5 Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6 Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7 Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8 Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9 Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10 Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11 Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12 Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13 Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14 Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15 Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16 Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17 Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18 Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19 Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20 Bab 20: Gravitasi Kematian
21 Bab 21: Penjaga Jembatan
22 Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23 Bab 23: Paviliun Sutra
24 Bab 24: Surat Tantangan Darah
25 Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26 Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27 Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28 Bab 28: Hutan Pedang Karat
29 Bab 29: Membakar Bayangan
30 Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31 Bab 31: Tungku Darah
32 Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33 Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34 Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35 Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36 Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37 Bab 37: Penundukan Jiwa
38 Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39 Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40 Bab 40: Badai Bilah Hitam
41 Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42 Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43 Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44 Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45 Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46 Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47 Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48 Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49 Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50 Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51 Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52 Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53 Bab 53: Murka Sekte Pedang
54 Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55 Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56 Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57 Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58 Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59 Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60 Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61 Bab 61: Lautan Badai Kematian
62 Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63 Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64 Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65 Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66 Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67 Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68 Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69 Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70 Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71 Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72 Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73 Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74 Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75 Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76 Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77 Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78 Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79 Bab 79: Hujan Logam
80 Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81 Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82 Bab 82: Sekte Gunung Baja
83 Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84 Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85 Bab 85: Benturan Fisik Emas
86 Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87 Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88 Bab 88: Inti Magma Bintang
89 Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90 Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91 Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92 Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93 Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94 Bab 94: Takhta Kosong
95 Bab 95: Lautan Petir Primordial
96 Hujan Darah di Sembilan Langit
97 Berdirinya Istana Kehancuran
98 Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99 Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100 Bab 100: Lautan Api Purba
101 Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102 Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103 Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104 Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105 Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106 Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107 Bab 107: Riak di Istana Teratai
108 Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109 Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110 Kabut Kematian di Samudra Tulang
111 Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112 Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113 Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114 Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115 Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116 Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117 Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118 Dekrit Jiwa Kehampaan
119 Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120 Penempaan Pedang Ilahi
121 Kota Bintang Hitam
122 Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123 Tarian Pedang Kehampaan
124 Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125 Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Bab 1: Kebangkitan di Bawah Hujan Darah
2
Bab 2: Hutang yang Harus Dibayar
3
Bab 3: Bunga Kematian dan Terobosan
4
Bab 4: Hutan Bayangan Kematian
5
Bab 5: Pedang Fana Pencabut Nyawa
6
Bab 6: Guncangan di Arena Evaluasi
7
Bab 7: Kemarahan Tetua Pertama
8
Bab 8: Katak di Dalam Sumur
9
Bab 9: Paviliun Harta Surgawi
10
Bab 10: Pedang Hitam Penakluk Surga
11
Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
12
Bab 12: Badai dari Sang Penguasa Pedang
13
Bab 13: Menghancurkan Kesombongan
14
Bab 14: Teratai Salju yang Hancur
15
Bab 15: Hukum Rimba Akademi
16
Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur
17
Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik
18
Bab 18: Memasuki Lautan Naga
19
Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian
20
Bab 20: Gravitasi Kematian
21
Bab 21: Penjaga Jembatan
22
Bab 22: Pengakuan Sang Tetua
23
Bab 23: Paviliun Sutra
24
Bab 24: Surat Tantangan Darah
25
Bab 25: Satu Langkah, Satu Nyawa
26
Bab 26: Isi Cincin Gu Tian dan Bayangan Dendam
27
Bab 27: Api Es Penempa Fondasi
28
Bab 28: Hutan Pedang Karat
29
Bab 29: Membakar Bayangan
30
Bab 30: Menuju Lembah Kematian
31
Bab 31: Tungku Darah
32
Bab 32: Hujan Darah di Lembah Pedang Patah
33
Bab 33: Fondasi Emas Menentang Surga
34
Bab 34: Akhir Sang Naga Sejati
35
Bab 35: Puncak Gunung Pedang
36
Bab 36: Pedang Kaisar Membelah Bayangan
37
Bab 37: Penundukan Jiwa
38
Bab 38: Guncangan di Luar Gerbang
39
Bab 39: Pemberontakan Berdarah
40
Bab 40: Badai Bilah Hitam
41
Bab 41: Pembantaian di Gerbang Istana dan Semburan Api Teratai
42
Bab 42: Penebas Dimensi dan Jejak yang Terputus
43
Bab 43: Puncak Tertinggi Kerajaan dan Langkah Menuju Benua Atas
44
Bab 44: Tekanan Lima Puluh Kali Lipat dan Kereta Binatang Spiritual
45
Bab 45: Serigala Bayangan dan Taruhan di Atas Kereta
46
Bab 46: Jentikan Jari yang Mengguncang Medan Laga
47
Bab 47: Memasuki Kota Blackwood dan Niat Klan Fang
48
Bab 48: Menghancurkan Racun Es dan Persiapan Turnamen
49
Bab 49: Murid Sekte Luar dan Keberangkatan Menuju Gunung Berburu
50
Bab 50: Aturan Gunung Berburu dan Pembukaan Gerbang Kabut
51
Bab 51: Memasuki Hutan Purba dan Jejak yang Tercium
52
Bab 52: Tarian di Atas Tumpukan Mayat
53
Bab 53: Murka Sekte Pedang
54
Bab 54: Reuni Berdarah di Altar Kuno
55
Bab 55: Resonansi Hukum Ruang dan Runtuhnya Makam Pedang
56
Bab 56: Pembantaian di Atas Formasi Darah dan Tebasan Ruang
57
Bab 57: Kejutan di Alun-Alun Kota
58
Bab 58: Angin Pembantaian di Pegunungan Utara dan
59
Bab 59: Dominasi Mutlak di Tanah Iblis
60
Bab 60: Perpisahan di Perbatasan dan Kapal Terbang Penembus Awan
61
Bab 61: Lautan Badai Kematian
62
Bab 62: Keputusasaan Penegak Hukum dan Kabar Kolam Suci
63
Bab 63: Guncangan di Puncak Awan
64
Bab 64: Kejatuhan Tiran Awan Mengalir dan Kolam Suci Pedang
65
Bab 65: Inti Emas Ilahi Berwarna Sembilan dan Kemurkaan Langit
66
Bab 66: Langit Darah Wilayah Pusat
67
Bab 67: Sang Penguasa Jiwa Baru
68
Bab 68: Turun di Domain Bintang Atas
69
Bab 69: Sisa Petir di Gerbang Dewa
70
Bab 70: Hukum Penindasan Dewa Kuno
71
Bab 71: Penempaan Darah di Rawa Tulang
72
Bab 72: Hantaman Pedang Berat
73
Bab 73: Badai di Istana Inti Ilahi
74
Bab 74: Reuni Dua Anomali dan Jatuhnya Sang Matahari
75
Bab 75: Kemurkaan Raja Bintang
76
Bab 76: Jantung Dewa Primordial
77
Bab 77: Kepompong Dewa dan Kesengsaraan Surgawi Ganda
78
Bab 78: Merobek Mata Kesengsaraan
79
Bab 79: Hujan Logam
80
Bab 80: Gerbang Dimensi Ilahi
81
Bab 81: Badai Pemotong Dewa
82
Bab 82: Sekte Gunung Baja
83
Bab 83: Batas Fisik dan Hierarki Benua Besi
84
Bab 84: Modifikasi Ekstrem dan Penempaan Daging Berdarah
85
Bab 85: Benturan Fisik Emas
86
Bab 86: Gerbang Neraka Besi
87
Bab 87: Kerapuhan Batu Giok
88
Bab 88: Inti Magma Bintang
89
Bab 89: Lautan Pasir Gravitasi dan Monster Pemakan Baja
90
Bab 90: Rahasia Tiga Pilar Suci
91
Bab 91: Puncak Gunung Berlian dan Runtuhnya Cakar Naga
92
Bab 92: Turunnya Sang Berlian dan Hancurnya Gunung Abadi
93
Bab 93: Hati Dao yang Runtuh dan Raungan Naga yang Tercekik
94
Bab 94: Takhta Kosong
95
Bab 95: Lautan Petir Primordial
96
Hujan Darah di Sembilan Langit
97
Berdirinya Istana Kehancuran
98
Bab 98: Kemurkaan Paviliun Bintang Abadi
99
Bab 99: Hancurnya Tiga Puluh Giok Jiwa
100
Bab 100: Lautan Api Purba
101
Bab 101: Gema Memori Lima Ratus Tahun dan Jejak Sang Pengkhianat
102
Bab 102: Ketakutan di Puncak Surga
103
Bab 103: Runtuhnya Hukum Raja Dewa
104
Bab 104: Abu Bintang Abadi dan Turunnya Tiga Bayangan Naga
105
Bab 105: Amukan Bayangan Naga
106
Bab 106: Dekrit Istana Kehancuran dan Teror di Langit Ketiga Puluh Tiga
107
Bab 107: Riak di Istana Teratai
108
Bab 108: Hujan Darah Naga Emas
109
Bab 109: Tungku Kiamat Pembakar Langit
110
Kabut Kematian di Samudra Tulang
111
Auman Tulang Primal dan Kesempurnaan Tubuh Kehampaan
112
Bab 112: Terkoyaknya Gerbang Dimensi
113
Bab 113: Ilusi Cermin Suci
114
Bab 114: Penyatuan Dua Jalan Dao dan Jeritan dari Istana Naga
115
Bab 115: Tebasan Kehampaan Pedang dan Hancurnya Jaring Darah Pengorbanan
116
Bab 116: Runtuhnya Kubah Langit
117
Bab 117: Memotong Jari Dewa Kuno
118
Dekrit Jiwa Kehampaan
119
Memburu Energi Asal dan Evolusi Fisik Kehancuran
120
Penempaan Pedang Ilahi
121
Kota Bintang Hitam
122
Umpan Sang Tiran dan Paviliun Bayangan Bintang
123
Tarian Pedang Kehampaan
124
Bab 124: Terpadamnya Pelita Jiwa dan Berdirinya Panji Kehancuran
125
Bab 125: Tebasan Membelah Kapal Tulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!