Tak lama kemudian, Lin Xiaomi dan Lin Mingyu telah berada di dalam kereta kuda menuju kediaman Perdana Menteri.
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kereta cukup tenang.
Lin Mingyu menoleh ke arah adiknya.
"Ingat, jangan membuat masalah di sana."
Lin Xiaomi mengangguk patuh.
"Iya, Kak."
"Kita hanya datang untuk memenuhi undangan dan menikmati jamuan teh. Setelah itu, kita akan segera pulang."
"Baik. Xiaomi mengerti."
Mendengar jawaban itu, Lin Mingyu mengangguk pelan. Meski masih sedikit khawatir dengan tingkah adiknya, setidaknya hari ini Lin Xiaomi terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya.
Kereta kuda terus melaju melewati jalan utama ibu kota. Dari balik tirai jendela, Lin Xiaomi diam-diam memperhatikan pemandangan di luar. Matanya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum melihat suasana kota yang selama ini hanya ia lihat melalui novel.
Jalanan dipenuhi pedagang dan warga yang berlalu-lalang. Bangunan-bangunan bergaya kuno berdiri megah di sepanjang jalan, membuat Lin Xiaomi merasa seperti benar-benar masuk ke dalam dunia cerita.
"Jadi ini ibu kota kerajaan..." gumamnya pelan.
Lin Mingyu yang duduk di seberangnya melirik adiknya. Melihat tatapan penasaran itu, ia hanya bisa tersenyum kecil sebelum mengingatkan.
"Jangan terlalu memperhatikan sekitar. Ingat, kita datang sebagai tamu."
Lin Xiaomi segera menarik kembali pandangannya dan mengangguk.
"Iya, Kak."
Namun, rasa penasarannya masih belum hilang. Baginya, dunia ini jauh lebih menarik dibandingkan sekadar membaca cerita di layar.
Tak lama kemudian, kereta kuda mulai melambat. Suara pengawal terdengar dari luar memberi tahu bahwa mereka sudah tiba.
"Tuan Muda, Nona. Kita telah sampai di kediaman Perdana Menteri."
Lin Mingyu turun lebih dulu, kemudian membantu adiknya turun dari kereta.
Di hadapan mereka berdiri kediaman megah dengan gerbang besar dan para pelayan yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Lin Xiaomi berdiri di depan gerbang besar kediaman Perdana Menteri sambil mengamati tempat itu dengan rasa ingin tahu.
Dibandingkan kediaman Keluarga Lin, tempat ini tidak kalah megah. Setiap sudutnya menunjukkan kemewahan dan wibawa keluarga bangsawan yang telah berdiri selama bertahun-tahun.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka dan membungkukkan badan.
"Salam hormat, Tuan Muda Lin, Nona Lin. Tuan dan Nyonya Perdana Menteri sudah menunggu kedatangan kalian."
Lin Mingyu mengangguk pelan.
"Antarkan kami."
"Baik, Tuan Muda."
Lin Xiaomi berjalan mengikuti kakaknya memasuki kediaman tersebut. Tatapannya sesekali melihat sekeliling, berusaha menyimpan setiap pemandangan baru yang ia temui.
Namun, sebelum mereka sampai di aula utama—
[Ding! Sistem Gosip mendeteksi target.]
Langkah Lin Xiaomi langsung terhenti.
"Jangan bilang..."
[Target gosip berada di dalam kediaman ini.]
Mata Lin Xiaomi perlahan berbinar.
"Sepertinya makan melon hari ini akan dimulai lebih cepat."
Sistem yang mendengar pikiran itu hanya terdiam.
[Host terlihat jauh lebih bersemangat ketika mendengar kata gosip dibandingkan mendengar hadiah.]
Lin Xiaomi tersenyum kecil.
"Tentu saja. Ini jauh lebih menarik."
Lin Mingyu yang berjalan di samping adiknya tiba-tiba terdiam.
Suara pikiran Lin Xiaomi yang terdengar jelas di benaknya membuatnya menoleh perlahan.
"Sepertinya makan melon hari ini akan dimulai lebih cepat."
Mingyu menatap adiknya yang berjalan dengan wajah tenang, tetapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Masalah apa lagi yang akan Xiaomi lakukan kali ini..." gumamnya dalam hati.
Sejak kecil, adiknya memang sering membuatnya khawatir. Meski terlihat polos, selalu saja ada hal tak terduga yang terjadi ketika Lin Xiaomi mulai penasaran dengan sesuatu.
Lin Mingyu menghela napas kecil.
Ia hanya berharap kali ini adiknya benar-benar datang untuk minum teh, bukan membuat kekacauan di kediaman Perdana Menteri.
Setelah melewati gerbang utama, Lin Mingyu membawa Lin Xiaomi menuju taman belakang tempat para tamu berkumpul.
Suasana di sana tidak kalah ramai, dengan banyak bangsawan yang duduk menikmati teh sambil berbincang.
Berbagai bunga menghiasi taman yang luas itu, sementara suara percakapan para tamu terdengar di setiap sudut.
Lin Xiaomi berjalan di samping kakaknya sambil memperhatikan sekeliling.
"Ramai sekali..." gumamnya pelan.
Lin Mingyu hanya mengingatkan dengan suara rendah.
"Jangan lupa, kita datang hanya untuk minum teh."
Lin Xiaomi mengangguk patuh.
"Iya, Kak."
Namun, matanya yang melihat banyak orang berkumpul membuat sistem di dalam pikirannya mulai aktif.
[Ding! Terdeteksi banyak sumber gosip di sekitar Host.]
Saat Lin Mingyu dan Lin Xiaomi berjalan menuju tempat yang telah disediakan, para putra dan putri bangsawan yang berada di taman segera berdiri.
Mereka membungkukkan badan memberi hormat kepada keduanya.
"Salam hormat, Tuan Muda Lin, Nona Lin."
Melihat hal itu, Lin Mingyu dan Lin Xiaomi juga membalas dengan membungkukkan badan.
"Salam hormat."
Setelah saling memberi salam, suasana kembali tenang.
Tak lama kemudian, seorang pemuda yang duduk di kursi utama tersenyum sambil mempersilakan mereka.
"Tuan Muda Lin, Nona Lin, silakan duduk."
Pemuda itu adalah Xu Wenhao, putra sulung Perdana Menteri yang menjadi tuan rumah jamuan hari ini.
Lin Mingyu mengangguk pelan.
"Terima kasih, Tuan Muda Xu."
Mereka berdua pun duduk di tempat yang telah disediakan.
Di tengah suasana jamuan yang mulai kembali tenang, Lin Xiaomi menyadari ada beberapa tatapan yang tertuju kepadanya.
Sebagian dari mereka menatap dengan rasa tidak suka. Hal itu tidak terlalu mengejutkannya, mengingat reputasi Lin Xiaomi yang sudah terkenal buruk di ibu kota.
Namun, di antara banyak tatapan tersebut, ada satu orang yang paling mencolok.
Seorang gadis muda yang duduk tidak jauh darinya terus menatap Lin Xiaomi dengan tatapan tajam, seolah menyimpan kebencian yang jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya.
Lin Xiaomi sedikit mengernyit.
"Aku pernah melakukan apa dengannya?"
Sistem pun berbunyi.
[Ding! Target terdeteksi.]
[Identitas: Zhou Ruo, Putri Kedua Keluarga Zhou.]
Lin Xiaomi menatap gadis itu dengan penasaran.
[Dia adalah salah satu orang yang paling tidak menyukai Host karena kejadian sebelumnya.]
Lin Xiaomi terdiam.
Ternyata bukan hanya reputasi buruk yang ia warisi, tetapi juga permusuhan dari orang-orang di sekitar tubuh ini.
Kini gadis itu akhirnya membuka suara.
Dengan senyum kecil yang lebih terlihat seperti ejekan, ia menatap Lin Xiaomi.
"Bagaimana keadaan Nona Lin? Apakah sudah merasa lebih baik?"
Suasana taman yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lebih hening.
Banyak pasang mata diam-diam mengarah kepada mereka, menunggu bagaimana reaksi Lin Xiaomi.
Mereka semua tahu hubungan keduanya tidak pernah baik. Bahkan kejadian Lin Xiaomi jatuh dari tangga beberapa waktu lalu juga berawal dari pertengkaran mereka.
Namun, berbeda dari bayangan semua orang, Lin Xiaomi hanya tersenyum santai.
"Terima kasih atas perhatian Nona Zhou. Aku sudah jauh lebih baik."
Jawaban yang tenang itu membuat beberapa orang sedikit terkejut.
Mereka awalnya mengira Lin Xiaomi akan langsung membalas atau membuat keributan seperti biasanya.
Tetapi hari ini, Nona Lin yang terkenal keras kepala justru terlihat jauh lebih tenang.
Hingga sebuah suara lembut terdengar dari sisi lain taman.
"Sepertinya hari ini suasananya cukup ramai."
Suara itu begitu halus dan menenangkan hingga membuat semua orang yang berada di sana mengalihkan pandangan.
Seorang gadis muda berjalan mendekat dengan senyum anggun di wajahnya.
Dia adalah Bai Lian, putri keluarga Bai dan wanita yang dikenal sebagai gadis paling berbakat di ibu kota.
Berbeda dengan tatapan tajam yang sebelumnya mengarah kepada Lin Xiaomi, tatapan Bai Lian terlihat lembut dan penuh ketenangan.
Kehadirannya langsung menarik perhatian semua orang.
Bahkan Lin Xiaomi yang sedang menikmati tehnya ikut menoleh.
"Jadi... ini dia protagonis wanita dalam novel itu?"
Sistem segera berbunyi.
[Ding! Target utama terdeteksi.]
[Identitas: Bai Lian, tokoh utama wanita dalam alur asli.]
Sejak tadi, beberapa orang sebenarnya sudah mendengar suara aneh itu.
Awalnya mereka mengira hanya pendengaran mereka yang bermasalah atau mungkin mereka terlalu banyak berpikir.
Bagaimana mungkin mereka bisa mendengar suara seseorang, sementara orang tersebut sama sekali tidak membuka mulut?
Namun, ketika suara itu kembali terdengar dengan jelas, mereka mulai menyadari bahwa semua itu bukanlah halusinasi.
"Jadi benar... suara itu berasal dari Nona Lin?"
Beberapa orang diam-diam menatap Lin Xiaomi dengan ekspresi bingung.
Lin Mingyu yang duduk di samping adiknya hanya bisa terdiam. Ia sudah tahu sejak awal suara itu memang berasal dari pikiran adiknya, tetapi ia tidak menyangka semakin banyak orang yang bisa mendengarnya.
Sementara itu, Lin Xiaomi masih tidak menyadari apa yang terjadi dI sekitarnya. Ia hanya duduk dengan tenang sambil menikmati teh di hadapannya, sesekali memperhatikan Bai Liang yang baru saja datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments