Episode 3 Di Anggap Spele

Zivanna bersama dengan Suster sedang memeriksa pasien yang berada di ruang rawat inap. Ini memang jadwal kunjungan Dokter seperti biasa aktivitas yang dilakukan.

"Ibu, harus minum obat yang rajin, ingat makanan yang dilarang tidak boleh dimakan, jika ingin sembuh harus benar-benar jaga kesehatan dengan baik, nanti kalau sakitnya makin parah baru mengeluh," ucap Zivanna memberi saran pada wanita sekitar berusia 70 tahunan itu.

"Ibu sudah tua, jangan marah-marah jika makanan yang ibu makan tidak sehat, siapa tahu itu jalan terakhir ibu untuk makan," ucap wanita itu.

"Yang memiliki ketentuan kita akan pergi atau tidak itu adalah sang pencipta, tetapi sebagai manusia tidak boleh menyerah," ucap Zivanna memberikan saran kepada pasiennya itu.

"Iya-iya Dokter, terima kasih atas sarannya," ucap Dokter tersebut dengan menganggukkan kepala.

Zivanna memberi senyum dan memberi suntikan kepada wanita tua itu.

"Baiklah, kalau begitu Ibu beristirahat. Saya permisi dulu!" ucap Zivanna dengan tersenyum.

"Baik! Dokter,!" wanita itu merespon dengan tersenyum.

Zivanna kemudian langsung keluar dari ruang perawatan itu bersama dengan Suster di belakangnya yang mengikuti Zivanna.

"Kita ada kunjungan ke ruangan mana lagi?" tanya Zivanna.

"Sudah selesai Dokter," jawab Suster.

"Selesai! kenapa cepat sekali, bukankah kita hanya memeriksa beberapa pasien saja dan pasiennya juga akan segera pulang?" tanya Zivanna.

"Semuanya diambil alih-alih Dokter Rania," jawab Suster.

"Hah!" sahut Zivanna cukup kaget mendengar pernyataan dari Suster tersebut.

"Kata Dokter Raina, beberapa pasien banyak mengeluh karena tindakan yang Dokter ambil, terkadang saran yang Dokter berikan tidak masuk akal membuat mereka tidak berani untuk meminum obat," Suster wanita itu tampak gugup menyampaikan secara langsung pada Zivanna.

"Pasien komplain tentang hal itu?" tanya Zivanna memastikan.

Suster menganggukkan kepala.

Zivanna tidak bisa berkomentar apapun hanya menghela nafas dengan perasaan yang tidak enak.

"Dokter, kalau begitu saya permisi dulu!," ucap Suster menundukkan kepala dan kemudian langsung pergi.

"Kenapa pasien takut padaku? Padahal aku tidak menyakiti mereka dan aku hanya mencoba untuk menolong mereka, saran yang aku berikan juga masuk akal, kenapa menjadi Dokter begitu sangat sulit," gumam Zivanna menjadi sedih karena mendengar pernyataan Suster.

Zivanna melanjutkan langkahnya dengan terlihat lesu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah putih itu.

"Zivanna....." panggil Sherina menghampiri temannya itu dengan merangkul bahunya.

"Hey, ada apa dengan kamu? kenapa wajah kamu terlihat cemberut seperti itu?" tanya Sherina.

"Semakin lama orang-orang yang ada di rumah sakit ini benar-benar tidak menghargaiku, mereka mencapku sebagai dokter gadungan, selalu melakukan kesalahan, bahkan untuk kunjungan pasien secara rutin saja aku harus dibatasi, jika seperti ini untuk apa melanjutkan menjadi seorang Dokter," keluh Zivanna.

"Hey, kenapa langsung menyerah begitu saja? Kamu harus belajar dan buktikan pada semua orang yang ada di rumah sakit jika kamu mampu, bukankah kamu berniat ingin mengambil Dokter spesialis. Jadi lanjutkan saja mengambil Dokter spesialis penyakit dalam," ucap Sherina tidak pernah berhenti memberi dukungan kepada Zivanna.

"Memang kamu mampu?" tiba-tiba mereka membalikan tubuh ketika mendengar suara yang terdengar merendahkan itu.

"Dokter Raina...." sahut Sherina.

"Sherina, jika kamu ingin mengambil Dokter spesialis, maka silakan dan mungkin saya masih yakin kamu mampu menjalaninya, tetapi tidak untuk Zivanna, menjadi Dokter umum saja dan bahkan melakukan hal kecil saja kepada pasien selalu salah, kalau saran saya profesi ini tidak cocok untuk kamu. Alangkah baiknya jangan dilanjutkan dan kalau perlu sudah tidak menjadi Dokter lagi," ucap Raina tersenyum meragukan kemampuan Zivanna.

"Hmmmm, Dokter, bukankah siapapun itu berhak untuk mengambil spesialis dan termasuk Zivanna. Zivanna juga bisa menjadi Dokter dan berada di rumah sakit ini pasti melewati banyak hal dan artinya dia mampu," sahut Sherina membela temannya.

"Semua orang berhak untuk melanjutkan cita-citanya dan mengembangkan karirnya dalam dunia kedokteran, tetapi keberhakaan itu bukan untuk orang yang pasti memiliki keterculian, yaitu Zivanna, kemampuannya sebagai Dokter di bawah rata-rata para perawat di rumah sakit ini, melihat darah takut mengambil tindakan ragu dan bahkan melakukan hal-hal kecil saja tidak mampu," ucap Rania.

Zivanna menghela nafas, perasaannya pasti tidak enak karena diberi sindiran oleh Rania yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Daripada terus mendengar kejelekan dan sindiran terhadapnya lebih baik Zivanna memilih untuk pergi.

"Zivanna tunggu!" panggil Sherina kebingungan harus berbuat apa.

"Dokter saya permisi dulu!" ucap Sherina buru-buru dan meninggalkan tempat tersebut.

"Baru dikatakan seperti itu saja sudah marah, jika sudah tahu tidak memiliki kemampuan dan seharusnya tidak berani untuk menjalani profesi yang tidak cocok dengan kita," batin Rania dengan tersenyum miring.

****

Zivanna mendapat pernyataan yang membuat hatinya terluka, menjadi bahan pikiran untuknya yang duduk di luar rumah sakit di bawah pohon yang terdapat salah satu bangku di sana. Wajahnya terlihat murung dan tidak semangat dengan apa yang dia dapatkan hari ini.

"Benarkah, aku tidak mampu untuk menjadi seorang Dokter? benarkah profesi ini tidak cocok untukku dan kesannya justru terpaksa?"

"Memang tidak mudah untuk menjalani profesi yang berkaitan dengan nyawa seseorang, aku hanya ingin menjadi seorang Dokter karena mengharapkan pekerjaan ini akan membawakan pahala karena menolong banyak orang, tetapi siapa sangka justru aku menjadi satu-satunya dokter yang ditakuti banyak orang,"

"Apa aku begitu buruk dan tidak pantas untuk mendapatkan profesi ini?" Zivanna sejak tadi bertanya sendiri tentang profesi yang dia jalani tidak seindah yang dia bayangkan.

Kehidupan gadis 23 tahun itu tidak lepas dari kehidupan dunia medi. Kakeknya seorang profesor terkenal, dilanjutkan dengan ayahnya mengambil dunia di bagian kesehatan berhasil mendirikan rumah sakit terbaik di Indonesia.

Sejak kecil dunia medis sudah diperlihatkan kepada Zivanna, dia merasa senang karena banyak para pasien yang mengucapkan terima kasih dengan senyum melebar pada dokter tersebut membuat Zivanna memiliki keinginan untuk menjadi Dokter.

Zivanna benar-benar tidak mudah untuk berada pada titik sampai saat ini, semua melalui proses dan tidak seperti yang dikatakan orang-orang bahwa dia mendapatkan profesiku secara instan, orang-orang tidak melihat bagaimana perjuangannya begitu keras, tetapi sudah pasti setiap praktek yang dia jalani tidak sama dengan dunia nyata.

Zivanna terkadang merasa takut mengambil tindakan, bahkan untuk melihat darah pun dia terkadang masih tidak tahan, memang sangat banyak kekurangan Zivanna sebagai seorang Dokter.

"Dokter, ini rekap pasien dari pasien di ruangan melati!" Suster menghampiri Dikta yang berdiri di teras lantai 2 yang baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya.

"Baiklah, kamu persiapkan prosedur operasinya!" titah Dikta.

"Baik Dokter," sahut Suster tersebut menganggukkan kepala dan kemudian meninggalkan Dikta.

Saat Dikta ingin pergi tiba-tiba saja tidak jadi ketika arah matanya melihat pada sosok wanita yang duduk termenung siapa lagi jika bukan istrinya.

Entah apa yang dipikiran Dikta, hanya menatap bagaimana wanita tersebut.

"Kenapa dia tidak pernah belajar dari kesalahan dan tetap melakukan kesalahan yang sama? Dia memiliki cita-cita yang tinggi dalam karir dunia ke Dokter nya, tetapi tidak mau berusaha, dan jika seperti itu terus maka lama-lama dia juga akan kehilangan karirnya," batin Dikta menghela nafas.

Dikta mungkin sudah lelah terus menerus marah kepada Zivanna.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Lisa Halik

Lisa Halik

zivvania bukti kamu boleh jadi dokter yang di banggakan

2026-08-20

0

Dreamland Township

Dreamland Township

typonya bertebaran thor

2026-05-24

1

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

kadang Riana kadang Raina yg benar yg mana thor
Zifana klu di kasih tau tuh di dengerin bkn di tinggal pergi
dr Dikta ngasih taunya mungkin jgn sambil marah2 JD zifanna rakut

2026-05-20

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kesalahan
2 Episode 2 Di rumah Berbeda
3 Episode 3 Di Anggap Spele
4 Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5 Episode 5 Bangga
6 Episode 6 Hal Tidak Terduga
7 Episode 7 Tentang Dia
8 Episode 8 Sama Saja
9 Episode 9 Bisa Melakukannya
10 Episode 10 Terus Ribut
11 Episode 11 Pertemuan Itu.
12 Episode 12 Tindakan
13 Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14 Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15 Episode 15 Di Ospek Suami
16 Episode 16 Makan Malam
17 Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18 Episode 18 Insiden Buruk
19 Episode 19 Di Caci Maki
20 Episode 20 Entah Apa Lagi
21 Episode 21 Apa Lagi Ini
22 Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23 Episode 23 Hal Serius
24 Episode 24 Pamit
25 Episode 25 Sabotase.
26 Episode 26 Gengsi
27 Episode 27 Lebih Di haragi
28 Episode 28 Penyesuaiannya
29 Episode 29 Nyaman Bersamanya
30 Episode 30 Darurat
31 Episode 31 Roboh
32 Episode 32 Saling Menyalahkan
33 Episode 33 Evakuasi
34 Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35 Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36 Episode 36 Dekat
37 Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38 Episode 38 Cemburu
39 Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40 Episode 40 Panas
41 Episode 41 Suami Cemburu
42 Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43 Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44 Episode 44 Banyak Moment
45 Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46 Episode 46 Suami Istri
47 Episode 47 Hampir Saja
48 Episode 48 Dia Istri Saya
49 Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50 Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51 Episode 51 Pertentangan
52 Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53 Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54 Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55 Episode 55 Dingin
56 Episode 56 blak-blakan
57 Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58 Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59 Episode 59 Kemarahan Dikta
60 Episode 60 Ada Sesuatu
61 Episode 61 Kesempatan
62 Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63 Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64 Episode 64 Ada apa dengannya
65 Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66 Episode 67 Berada Di Sampingnya
67 Episode 67 Mereka Saling Memahami
68 Episode 68 Mengobrol Inti
69 Episode 69 Dukungan
70 Episode 70 Operasi besar
71 Episode 71 Kesempatan Untuknya
72 Episode 72 Apresiasi Untuknya
73 Episode 73 Kode Dari Zivanna
74 Episode 74 Dikta Terancam
75 Episode 76 Candaan Romantis
76 Episode 76 Dia Harus Tegas
77 Episode 77 Suami Yang Romantis
78 Episode 78 Keputusan Dikta
79 Episode 79
80 Episode
81 Episode 81 1 Bulan Kemudian
82 Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83 Episode 83 Meninggalkan Rumah
84 Episode 84 Tiba-tiba
85 Episode 84 Seperti Persaingan
86 Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87 Episode 87 Apa yang terjadi
88 Episode 88 Saling Merindukan
89 Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90 Episode 90 Nayla Terpojok
91 Episode 91 Ada Rahasia
92 Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93 Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94 Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95 Episode 95 Terlambat
96 Episode 96 Pengungkapan
97 Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98 Episode 98 Kembali Memulai
99 Episode 99 Keromantisan
100 Episode 100 Di antara
101 Episode 101 Ada Apa Ini
102 Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103 Episode 103 Lebih Memilihnya
104 Episode 104 Menyalahkan
105 Episode 105 Darurat
106 Episode 106 Putus Asa
107 Episode 107 Berjuang
108 Episode 108 Kedewasaan Orang Tua
109 Episode 109 Lamaran Ke-2
110 Episode 110 Kalian Tetap Sahabat
111 Episode 111 Air Mata Pernikahan
112 Episode 112 Kebersamaan
113 Episode 113 Tammat
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Episode 1 Kesalahan
2
Episode 2 Di rumah Berbeda
3
Episode 3 Di Anggap Spele
4
Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5
Episode 5 Bangga
6
Episode 6 Hal Tidak Terduga
7
Episode 7 Tentang Dia
8
Episode 8 Sama Saja
9
Episode 9 Bisa Melakukannya
10
Episode 10 Terus Ribut
11
Episode 11 Pertemuan Itu.
12
Episode 12 Tindakan
13
Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14
Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15
Episode 15 Di Ospek Suami
16
Episode 16 Makan Malam
17
Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18
Episode 18 Insiden Buruk
19
Episode 19 Di Caci Maki
20
Episode 20 Entah Apa Lagi
21
Episode 21 Apa Lagi Ini
22
Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23
Episode 23 Hal Serius
24
Episode 24 Pamit
25
Episode 25 Sabotase.
26
Episode 26 Gengsi
27
Episode 27 Lebih Di haragi
28
Episode 28 Penyesuaiannya
29
Episode 29 Nyaman Bersamanya
30
Episode 30 Darurat
31
Episode 31 Roboh
32
Episode 32 Saling Menyalahkan
33
Episode 33 Evakuasi
34
Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35
Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36
Episode 36 Dekat
37
Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38
Episode 38 Cemburu
39
Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40
Episode 40 Panas
41
Episode 41 Suami Cemburu
42
Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43
Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44
Episode 44 Banyak Moment
45
Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46
Episode 46 Suami Istri
47
Episode 47 Hampir Saja
48
Episode 48 Dia Istri Saya
49
Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50
Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51
Episode 51 Pertentangan
52
Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53
Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54
Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55
Episode 55 Dingin
56
Episode 56 blak-blakan
57
Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58
Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59
Episode 59 Kemarahan Dikta
60
Episode 60 Ada Sesuatu
61
Episode 61 Kesempatan
62
Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63
Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64
Episode 64 Ada apa dengannya
65
Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66
Episode 67 Berada Di Sampingnya
67
Episode 67 Mereka Saling Memahami
68
Episode 68 Mengobrol Inti
69
Episode 69 Dukungan
70
Episode 70 Operasi besar
71
Episode 71 Kesempatan Untuknya
72
Episode 72 Apresiasi Untuknya
73
Episode 73 Kode Dari Zivanna
74
Episode 74 Dikta Terancam
75
Episode 76 Candaan Romantis
76
Episode 76 Dia Harus Tegas
77
Episode 77 Suami Yang Romantis
78
Episode 78 Keputusan Dikta
79
Episode 79
80
Episode
81
Episode 81 1 Bulan Kemudian
82
Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83
Episode 83 Meninggalkan Rumah
84
Episode 84 Tiba-tiba
85
Episode 84 Seperti Persaingan
86
Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87
Episode 87 Apa yang terjadi
88
Episode 88 Saling Merindukan
89
Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90
Episode 90 Nayla Terpojok
91
Episode 91 Ada Rahasia
92
Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93
Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94
Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95
Episode 95 Terlambat
96
Episode 96 Pengungkapan
97
Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98
Episode 98 Kembali Memulai
99
Episode 99 Keromantisan
100
Episode 100 Di antara
101
Episode 101 Ada Apa Ini
102
Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103
Episode 103 Lebih Memilihnya
104
Episode 104 Menyalahkan
105
Episode 105 Darurat
106
Episode 106 Putus Asa
107
Episode 107 Berjuang
108
Episode 108 Kedewasaan Orang Tua
109
Episode 109 Lamaran Ke-2
110
Episode 110 Kalian Tetap Sahabat
111
Episode 111 Air Mata Pernikahan
112
Episode 112 Kebersamaan
113
Episode 113 Tammat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!