Episode 5 Bangga

Zivanna berdiri dari tempat duduknya dan akhirnya meninggalkan meja makan tersebut tanpa menghabiskan makanannya.

"Zivanna kamu mau ke mana?"

"Makanan kamu belum habis, Zivanna!" Sekar bahkan sejak tadi memanggilnya dan diabaikan oleh Zivanna membuat Sekar menghela nafas.

"Dikta. Papa minta maaf atas kejadian ini. Zivanna masih sangat labil dengan usianya yang masih terbilang mudah, mungkin mengalami banyak tekanan dalam dunia pekerjaan membuatnya belakangan ini suka marah-marah dan bahkan tidak menghargai kamu sebagai suaminya. Papa akan bicara dengannya agar bisa perlahan menenangkan diri dan tidak melakukan segala sesuatu hanya dengan emosi," ucap Andra.

"Papa tidak perlu mengatakan apapun kepada Zivanna, semakin ditegur dia akan semakin merasa dianggap salah, masalah juga akan semakin besar dan bahkan tidak ada selesainya," ucap Dikta.

"Lalu bagaimana dengan keputusan Zivanna? Apa kita akan mengizinkannya untuk mengambil Dokter spesialis secepat itu?" tanya Sekar memang tidak memiliki keyakinan pada putrinya jika mampu melakukannya.

"Saya rasa biarkan saja dia ingin mengambil spesialis, Zivanna sudah dewasa dan perlahan akan mengerti apakah yang diambil mampu dia lakukan atau tidak, jika terus dilarang dan menunjukkan keraguan kepadanya, dia akan terus merasa terasingkan dan merasa tidak berguna, dalam keadaan seperti ini dengan usianya yang masih labil akan membuatnya lebih sering sensitif, tekanan yang didapatkan bisa merusak mentalnya dan lebih baik memberi dukungan atas apapun yang dia lakukan," jawab Dikta.

"Kamu memang paling bisa memahami bagaimana Zivanna. Papa hanya mengikut saja pada keputusan kamu. Kamu berada di rumah sakit yang otomatis kamu akan selalu menjaga Zivanna, memantau dan bisa melindunginya. Kami sebagai orang tua Pasti lega dan menyerahkan semua kepada kamu," sahut Andra ternyata keputusan yang mereka ambil hanya berdasarkan keputusan Dikta.

Dikta di depan Zivanna mungkin seperti orang yang tidak pernah mendukungnya dalam hal apapun dan siapa sangka di belakangnya, Dikta yang justru menahan orang tuanya untuk tidak terlalu menekan Zivanna dan menyetujui keinginan Zivanna.

Mungkin Dikta gengsi harus memberikan persetujuan dan dukungan kepada istrinya.

*******

Zivanna seperti biasa kunjungan ke ruang rawat pasien. Kunjungannya di rumah sakit sendiri juga bahkan dibatasi karena kemampuannya yang selalu dianggap kurang.

Zivanna memeriksa pasien anak laki-laki yang mengalami kecelakaan dengan kepalanya dipenuhi dengan perban yang lilit sehingga kepala itu terbungkus perban.

"Siapa nama kamu?" tanya Zivanna terlihat begitu ramah pada bocah laki-laki yang sudah sadar itu.

"Rain," jawabnya.

"Namanya sangat indah sekali. Pasti kedua orang tua kamu menyukai hujan," ucap Zivanna.

Seorang wanita paruh baya terlihat memotong buah yang duduk di sofa.

"Tidak tahu. Rain tidak punya orang tua dan selama ini tinggal dengan Nenek," jawabnya.

Hati Zivanna tersentuh mendengar pernyataan itu membuat senyumnya hilang dan melihat ke arah wanita yang sudah tua itu sekitar berusia 70 tahun, tetapi harus bolak-balik ke rumah sakit karena cucunya yang kecelakaan.

"Dokter namanya siapa?" tanya Rain.

"Zivanna," jawab Zivanna.

"Dokter Zivanna cantik sekali," pujinya membuat Zivanna tersenyum.

"Rain sudah lama berada di rumah sakit dan tidak pernah melihat Dokter," ucap Rain dengan suara mendayu.

"Ini memang baru pertama kali Dokter masuk ke ruangan kamu," jawab Zivanna.

"Lalu kapan Rain akan pulang?" tanyanya sepertinya sudah tidak sabaran untuk meninggalkan rumah sakit.

"Jika kamu cepat sembuh dan rajin minum obat, maka akan segera diberi izin untuk pulang," jawab Zivanna.

"Rain sudah lelah meminum obat terlalu banyak, tetapi tetap saja tidak pulang," jawabnya dengan kesal.

Zivanna hanya tersenyum mendengar keluhan dari anak kecil itu.

"Dokter suntik ya...." Zivanna sudah mengeluarkan suntiknya Rain sama sekali tidak takut.

"Biar saya saja yang melakukannya?" Zivanna tiba-tiba tidak jadi melakukan hal itu ketika mendengar suara wanita yang tidak asing membuatnya menoleh ke arah pintu.

Rania datang bersama dengan Dikta. Memang sepengetahuan Zivanna pasien anak kecil itu adalah pasien Rania.

"Rain, maaf ya Dokter terlambat, sekarang biar Dokter yang menyuntikkan kamu, daripada terjadi kesalahan yang membuat kamu tidak lekas sembuh," ucap Rania dengan tersenyum bahkan mengambil suntikan itu dari tangan Zivanna.

"Geserlah Zivanna, aku kesulitan untuk memberi vitamin pada pasien," ucap Rania.

Zivanna menghela nafas dan kemudian bergeser, sementara terlihat Dikta memeriksa kondisi yang lain.

"Tidak mau!" Rain tiba-tiba menjauhkan tangannya ketika jarum suntik itu hampir menyentuh kulitnya.

"Kenapa sayang?" tanya Rania cukup heran karena selama ini dia yang menangani pasien tersebut.

"Rain, ayo. Nak, kamu harus segera disuntik vitamin agar cepat pulang," wanita paruh baya itu langsung berdiri ketika kedua Dokter memasuki ruangan.

"Tidak mau. Rain maunya disuntik Dokter Zivanna," jawabnya.

Rania terdiam dan langsung melihat Zivanna, sementara Zivanna cukup kaget dengan permintaan anak kecil tersebut yang menginginkan dia yang melakukannya dan padahal selama ini pasien banyak takut padanya.

"Rain, jika ingin sembuh. Maka, Dokter yang akan melakukannya kepada kamu," sahut Rania.

"Memangnya Dokter tuhan. Rain tetap tidak mau dan hanya mau dipegang oleh Dokter Zivanna," jawabnya dengan keras kepala.

Rania terdiam sepertinya sekarang tidak bisa membujuk anak kecil tersebut.

"Lakukanlah!" titah Dikta memberi perintah pada Zivanna.

"Hah!" Zivanna cukup kebingungan tetapi akhirnya Rania memberikan suntikan itu kepada Zivanna dan dengan terpaksa Rania harus bergeser dari posisinya dan diambil kembali Zivanna, tanpa ragu Rain mengulurkan tangannya tahu di mana letak dia akan disuntik oleh dokter cantik itu.

"Dokter mulai ya," ucap Zivanna dengan sangat lembut membuat Rain menganggukkan kepala.

"Bismillah," Zivanna melakukannya tidak lupa mengawali dengan bismillah dan akhirnya jarum suntik itu menusuk lengan bocah yang terlihat begitu santai dan tampak tenang dengan ekspresi biasa saja sampai akhirnya vitamin itu masuk ke dalam tubuhnya.

"Seperti semut kecil yang nakal menggigit lengan Rain, tetapi rasanya tidak terlalu sakit dan berbeda selama ini seperti serangga besar yang menggigitnya," Rain memberi komentar dan ternyata membandingkan suntikan Zivanna dengan Rania. Zivanna menyuntik dengan penuh kelembutan membuat pasien merasa senang dan berbeda dengan Rania.

Wajah Rania terlihat begitu kesal dan seolah-olah dipermalukan di depan Dikta, bagaimana untuk kali ini dia tidak berhasil memikat hati pasien dan justru selama ini pasien tersebut tidak nyaman.

"Dokter tampan, besok-besok datang bersama do Dokter Zivanna saja. Rain pasti cepat sembuh jika dirawat oleh Dokter Zivanna," ucap Rain.

"Benarkah?" tanya Dikta membuat Rain mengangguk-anggukkan kepala.

"Rain kesembuhan itu bukan berdasarkan siapa yang datang mengunjungi, tetapi keinginan pasien yang harus rajin meminum obat agar secepatnya sembuh," ucap Dikta.

"Baiklah Dokter," sahut Rain.

Zivanna tersenyum dan entah mengapa ada kebanggaan bagi dirinya sendiri karena telah melakukan pasien yang ternyata sangat menyukai dirinya.

****

"Serius, yang bernama Rain itu tersenyum dan mengatakan bahwa dia menyukai kamu dan ingin kamu yang merawatnya?" tanya Sherina terlihat begitu excited mendengarkan cerita teman yang sejak tadi mengeluarkan senyum.

"Benar, aku juga tidak menyangka jika dia memberikan respon yang positif seperti itu dan kamu tahu tidak dia justru mengatakan semua itu di depan Dokter kedua senior yang selalu menguasai rumah sakit ini," jawab Zivanna terdengar begitu sewa dan pasti Sherina sudah tahu siapa yang dimaksud oleh temannya itu.

"Wau, kamu keren sekali dan aku yakin kamu memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu," ucap Sherina.

"Hmmmmm, bocah laki-laki itu bukankah korban kecelakaan?" tanya Zivanna.

"Benar, anak itu mengalami kecelakaan tabrak lari saat pulang sekolah menggunakan sepedanya," jawab Sherina.

"Aku sudah melihat kondisinya baik-baik saja dan kenapa dia belum pulang?" tanya Zivanna.

"Secara fisik mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan ulang benturan di kepalanya juga parah membuat pasien mengalami permasalahan pada otaknya. Entahlah belum ada hasil lab yang jelas yang aku dengarkan, karena dokter Dikta masih melakukan pemeriksaan berkali-kali terhadap pasien tersebut," jelas Sherina.

"Begitu," sahut Zivanna.

Bersambung......

Terpopuler

Comments

Lisa Halik

Lisa Halik

tiba2 juga dokter dikta benarkan zivania melalukan suntikan,apa motifnya

2026-08-20

0

RSJ TABLET

RSJ TABLET

tetiba Dikta lebih bijaksana ke Zivanna...itu pun harus kena semprot dulu🤣🤣

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kesalahan
2 Episode 2 Di rumah Berbeda
3 Episode 3 Di Anggap Spele
4 Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5 Episode 5 Bangga
6 Episode 6 Hal Tidak Terduga
7 Episode 7 Tentang Dia
8 Episode 8 Sama Saja
9 Episode 9 Bisa Melakukannya
10 Episode 10 Terus Ribut
11 Episode 11 Pertemuan Itu.
12 Episode 12 Tindakan
13 Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14 Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15 Episode 15 Di Ospek Suami
16 Episode 16 Makan Malam
17 Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18 Episode 18 Insiden Buruk
19 Episode 19 Di Caci Maki
20 Episode 20 Entah Apa Lagi
21 Episode 21 Apa Lagi Ini
22 Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23 Episode 23 Hal Serius
24 Episode 24 Pamit
25 Episode 25 Sabotase.
26 Episode 26 Gengsi
27 Episode 27 Lebih Di haragi
28 Episode 28 Penyesuaiannya
29 Episode 29 Nyaman Bersamanya
30 Episode 30 Darurat
31 Episode 31 Roboh
32 Episode 32 Saling Menyalahkan
33 Episode 33 Evakuasi
34 Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35 Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36 Episode 36 Dekat
37 Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38 Episode 38 Cemburu
39 Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40 Episode 40 Panas
41 Episode 41 Suami Cemburu
42 Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43 Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44 Episode 44 Banyak Moment
45 Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46 Episode 46 Suami Istri
47 Episode 47 Hampir Saja
48 Episode 48 Dia Istri Saya
49 Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50 Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51 Episode 51 Pertentangan
52 Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53 Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54 Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55 Episode 55 Dingin
56 Episode 56 blak-blakan
57 Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58 Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59 Episode 59 Kemarahan Dikta
60 Episode 60 Ada Sesuatu
61 Episode 61 Kesempatan
62 Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63 Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64 Episode 64 Ada apa dengannya
65 Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66 Episode 67 Berada Di Sampingnya
67 Episode 67 Mereka Saling Memahami
68 Episode 68 Mengobrol Inti
69 Episode 69 Dukungan
70 Episode 70 Operasi besar
71 Episode 71 Kesempatan Untuknya
72 Episode 72 Apresiasi Untuknya
73 Episode 73 Kode Dari Zivanna
74 Episode 74 Dikta Terancam
75 Episode 76 Candaan Romantis
76 Episode 76 Dia Harus Tegas
77 Episode 77 Suami Yang Romantis
78 Episode 78 Keputusan Dikta
79 Episode 79
80 Episode
81 Episode 81 1 Bulan Kemudian
82 Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83 Episode 83 Meninggalkan Rumah
84 Episode 84 Tiba-tiba
85 Episode 84 Seperti Persaingan
86 Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87 Episode 87 Apa yang terjadi
88 Episode 88 Saling Merindukan
89 Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90 Episode 90 Nayla Terpojok
91 Episode 91 Ada Rahasia
92 Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93 Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94 Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95 Episode 95 Terlambat
96 Episode 96 Pengungkapan
97 Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98 Episode 98 Kembali Memulai
99 Episode 99 Keromantisan
100 Episode 100 Di antara
101 Episode 101 Ada Apa Ini
102 Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103 Episode 103 Lebih Memilihnya
104 Episode 104 Menyalahkan
105 Episode 105 Darurat
106 Episode 106 Putus Asa
107 Episode 107 Berjuang
108 Episode 108 Kedewasaan Orang Tua
109 Episode 109 Lamaran Ke-2
110 Episode 110 Kalian Tetap Sahabat
111 Episode 111 Air Mata Pernikahan
112 Episode 112 Kebersamaan
113 Episode 113 Tammat
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Episode 1 Kesalahan
2
Episode 2 Di rumah Berbeda
3
Episode 3 Di Anggap Spele
4
Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5
Episode 5 Bangga
6
Episode 6 Hal Tidak Terduga
7
Episode 7 Tentang Dia
8
Episode 8 Sama Saja
9
Episode 9 Bisa Melakukannya
10
Episode 10 Terus Ribut
11
Episode 11 Pertemuan Itu.
12
Episode 12 Tindakan
13
Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14
Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15
Episode 15 Di Ospek Suami
16
Episode 16 Makan Malam
17
Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18
Episode 18 Insiden Buruk
19
Episode 19 Di Caci Maki
20
Episode 20 Entah Apa Lagi
21
Episode 21 Apa Lagi Ini
22
Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23
Episode 23 Hal Serius
24
Episode 24 Pamit
25
Episode 25 Sabotase.
26
Episode 26 Gengsi
27
Episode 27 Lebih Di haragi
28
Episode 28 Penyesuaiannya
29
Episode 29 Nyaman Bersamanya
30
Episode 30 Darurat
31
Episode 31 Roboh
32
Episode 32 Saling Menyalahkan
33
Episode 33 Evakuasi
34
Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35
Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36
Episode 36 Dekat
37
Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38
Episode 38 Cemburu
39
Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40
Episode 40 Panas
41
Episode 41 Suami Cemburu
42
Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43
Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44
Episode 44 Banyak Moment
45
Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46
Episode 46 Suami Istri
47
Episode 47 Hampir Saja
48
Episode 48 Dia Istri Saya
49
Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50
Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51
Episode 51 Pertentangan
52
Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53
Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54
Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55
Episode 55 Dingin
56
Episode 56 blak-blakan
57
Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58
Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59
Episode 59 Kemarahan Dikta
60
Episode 60 Ada Sesuatu
61
Episode 61 Kesempatan
62
Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63
Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64
Episode 64 Ada apa dengannya
65
Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66
Episode 67 Berada Di Sampingnya
67
Episode 67 Mereka Saling Memahami
68
Episode 68 Mengobrol Inti
69
Episode 69 Dukungan
70
Episode 70 Operasi besar
71
Episode 71 Kesempatan Untuknya
72
Episode 72 Apresiasi Untuknya
73
Episode 73 Kode Dari Zivanna
74
Episode 74 Dikta Terancam
75
Episode 76 Candaan Romantis
76
Episode 76 Dia Harus Tegas
77
Episode 77 Suami Yang Romantis
78
Episode 78 Keputusan Dikta
79
Episode 79
80
Episode
81
Episode 81 1 Bulan Kemudian
82
Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83
Episode 83 Meninggalkan Rumah
84
Episode 84 Tiba-tiba
85
Episode 84 Seperti Persaingan
86
Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87
Episode 87 Apa yang terjadi
88
Episode 88 Saling Merindukan
89
Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90
Episode 90 Nayla Terpojok
91
Episode 91 Ada Rahasia
92
Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93
Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94
Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95
Episode 95 Terlambat
96
Episode 96 Pengungkapan
97
Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98
Episode 98 Kembali Memulai
99
Episode 99 Keromantisan
100
Episode 100 Di antara
101
Episode 101 Ada Apa Ini
102
Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103
Episode 103 Lebih Memilihnya
104
Episode 104 Menyalahkan
105
Episode 105 Darurat
106
Episode 106 Putus Asa
107
Episode 107 Berjuang
108
Episode 108 Kedewasaan Orang Tua
109
Episode 109 Lamaran Ke-2
110
Episode 110 Kalian Tetap Sahabat
111
Episode 111 Air Mata Pernikahan
112
Episode 112 Kebersamaan
113
Episode 113 Tammat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!