Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.

Dikta berada di kamar terlihat duduk di sofa dengan satu kakinya diangkat di atas pahanya. Tablet yang berada di atas pahanya itu dengan jarinya memperbesar gambar yang merupakan bagian kepala manusia.

Dengan kacamatanya Dokter tampan dengan wajah berkarismatik itu terus saja memperhatikan dengan detail.

Ceklek.

Suara pintu kamar yang terbuka tidak mengganggu konsentrasinya. Zivanna baru saja pulang dari rumah sakit dengan jubah putih itu berada di tangannya.

"Aku akan mengambil spesialis," Dikta seketika menghentikan pekerjaannya, mendengar dengan jelas permintaan istrinya.

"Kamu bahkan belum menguasai bidang medis dengan baik, Dokter umum saja, kamu masih mengalami banyak kesalahan," jawab Dikta terdengar meragukan keinginannya.

Hanya Sherina sahabatnya yang mendukung keinginannya, semua orang meragukannya termasuk suaminya.

"Aku mampu dan aku akan membuktikan kepada semua orang jika aku bisa menjadi Dokter. Aku akan mengambil spesialis di rumah sakit Citra Kasih!" tegas Zivanna sudah bulat dengan keyakinannya.

Dikta menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghadap Zivanna dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

"Kamu fokus dulu untuk belajar dari semua kesalahan kamu, jangan memperburuk keadaan dengan melangkah terlalu jauh," ucap Dikta.

"Di mata kamu aku selalu salah, bagaimana aku bisa fokus dengan semua kesalahan yang aku lakukan dan ketika kamu menegurku, memarahiku di depan semua orang membuat otakku bebal dan bahkan aku tidak mengetahui apa kesalahanku? Kamu memang senior di rumah sakit semua orang mengakui kemampuanmu, tetapi bukankah sebagai seorang senior harus bisa memberitahu kesalahan Dokter yang masih baru belajar," ucap Zivanna untuk pertama kali mengeluarkan semua unek-uneknya kepada Dikta.

"Aku tidak harus meminta izin kepada kamu untuk mengambil spesialis. Aku akan tetap melakukannya!" tegas Zivanna sudah bulat dengan keputusannya.

"Apa yang kamu lakukan hanya akan membuat kamu dikelilingi masalah. Kamu tahu sendiri bagaimana orang-orang di rumah sakit, jika kamu mengambil spesialis dan disetujui rumah sakit dan mereka akan bercerita ini dan itu," sahut Dikta.

"Apa peduli kamu jika semua itu harus terjadi dan bukankah selama ini tidak satu orang pun di rumah sakit tidak ada yang bisa menghargaiku, menganggapku sebelah mata dan itu jauh lebih baik jika akhirnya aku mengambil spesialis dan akan membuat mereka semua panas. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain dan tiba sudah saatnya aku akan mengatakan kepada mereka bahwa aku putri tunggal pemilik rumah sakit Citra Kasih dan bahkan Dokter yang selalu mereka agung-agungkan itu bisa berada di sana dan mendapatkan posisinya karena orang tuaku!" tegas Zivanna mengeluarkan semua unek-unek dengan penuh penekanan.

"Cukup Zivanna, kamu sadar apa yang barusan kamu katakan sudah....."

"Menyinggung kamu...." Zivanna memotong kalimat itu.

"Bukankah semuanya benar. Kamu setuju dengan keinginan Papa dan Mama menikah denganku hanya karena kamu ingin mendapatkan posisi yang jauh lebih tinggi di rumah sakit, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Kamu harus menikahi wanita yang baru saja selesai melaksanakan sumpah dokternya, wanita yang masih butuh ketenangan dan belajar lebih baik dalam dunia pekerjaannya dan bukan dinikahi!"

"Ketika sudah menikah kamu bahkan tidak menjalankan peran kamu untuk membantuku meraih semua impianku, kamu hanya sendiri yang hanya menikmati semua posisimu dengan pujian yang diberikan orang-orang dan sementara dengan sangat ringan mulut kamu mempermalukanku di rumah sakit, menjadikanku sebagai seorang dokter yang tidak berguna dan direndahkan banyak orang!"

Dikta terdiam untuk pertama kali mendengarkan semua isi hati Zivanna yang selama ini tersimpan.

"Kamu pikir aku tidak capek dengan semua yang terjadi padaku selama ini. Aku juga ingin dihargai, jika aku salah. Apa tidak bisa menegurku dengan baik, tidak perlu membentak, marah-marah dengan seribu bahasa di depan orang lain tanpa beritaku di mana letak kesalahanku, bukan hanya itu saja, apa kamu tidak bisa menyimpan kesalahanku dan tanpa memberitahu kepada kedua orang tuaku yang membuatku selalu salah di mata mereka dan terus saja memberikan kepada kamu, mereka menganggap aku akan menjadi orang dan jika berada di tangan kamu!"

"Tanpa mereka ketahui bahwa selama ini kamu tidak melakukan apapun kepadaku!" tegas Zivanna.

Tidak ada komentar apapun yang Dikta katakan. Dia hanya diam terpaku menatap mata Zivanna yang berkaca-kaca. Mungkin ada kelegaan tersendiri di hati Zivanna karena berhasil mengeluarkan semua unek-uneknya yang dipendam selama ini.

"Jadi jangan pernah menghalangiku untuk mengambil Dokter spesialis dan aku akan membuktikan kepada semua orang jika aku mampu," ucap Zivanna merendahkan suaranya dan kemudian berlalu dari hadapan Dikta.

Dikta masih diam di tempatnya dan baru membalikan tubuh ketika terdengar suara pintu kamar mandi. Zivanna langsung memasuki kamar mandi.

Dikta menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, entah apa yang saat ini dia pikirkan, wajahnya dipenuhi dengan ekspresi tidak terbaca, mungkin sedikit kaget dengan banyaknya Zivanna mengeluarkan suara, mengeluarkan semua isi hatinya, selama ini sungguh dia tertekan dalam dunia pekerjaan dan juga rumah tangga yang menurutnya tidak berarti sama sekali.

*****

Suara dentingan sendok terdengar di meja makan. Makan malam kali ini terasa begitu hening, Zivanna bersama dengan kedua orang tuanya dan Dikta seperti biasa menikmati makan malam.

"Papa mendengar jika kamu akan mengambil spesialis?" Andra akhirnya mengeluarkan suaranya dan langsung to the point bertanya kepada putrinya itu yang Zivanna menghela nafas, sudah pasti itu berdasarkan pemberitahuan yang diberikan Dikta pada ayah mertuanya akibat keinginannya.

"Zivanna. Papa kamu sedang bertanya?" tegur Sekar.

"Lalu kenapa jika iya? Papa dan Mama meragukan kemampuanku dan aku tidak akan bisa melakukan hal itu," jawab Zivanna terdengar begitu ketus.

"Kamu kenapa sih apa-apa langsung marah seperti itu. Papa bahkan tidak mengatakan apapun kepada kamu dan sudah berpikir negatif seperti itu kepada kedua orang tua kamu," sahut Andra.

"Bukankah selama ini Papa memang tidak pernah mendukung apapun yang Zivanna inginkan. Papa selalu meragukan kemampuan Zivanna, sehingga yang tertanam di kepala Zivanna hanya bagaimana Zivanna tidak akan bisa melakukan apapun dan tidak mampu untuk bertindak, keraguan semua orang membuat Zivanna tidak pernah berani mengambil tindakan apapun sehingga linglung dan mengambil tindakan bodoh dengan cepat tanpa berpikir panjang tanpa konsentrasi!" tegas Zivanna lagi-lagi hanya terus marah saja kepada sang ayah.

"Zivanna, ada apa ini? kenapa kamu memperbesarkan masalah hanya karena papa kamu bertanya kepada kamu?" tanya Sekar.

"Pertanyaan kalian seakan-akan sudah menekankan bahwa Zivanna tidak pernah melakukan hal itu sebelum berhasil menjadi Dokter. Bagi kalian Zivanna tidak memiliki kemampuan apapun meski sudah menyandang status Dokter dan padahal kalian semua tahu bahwa untuk berada di tahap ini, Zivanna berusaha sendiri tanpa menggunakan nama rumah sakit dan juga status kedua orang tua keluarga yang memiliki kuasa yang penuh jika ingin menjadi Dokter secara intan!" tegas Zivanna.

Dikta hanya diam saja karena sebelumnya dia juga sudah mendapat semburan dari istrinya itu, atas permintaannya yang tidak disetujui oleh Dikta.

"Zivanna akan mengambil Dokter spesialis bedah. Ini sudah keputusan Zivanna. Jadi mohon jangan halangi dan cukup berikan kepercayaan jika Zivanna mampu melakukan semua ini," tegas Zivanna.

Sekar dan Andra saling melihat mungkin ada keraguan mereka terhadap keputusan putri mereka.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Lisa Halik

Lisa Halik

patut xivania marah,dari mula ada saja salah di mata mereka&mereka tidak tahu bagaimana perasaan zivania saat di malukan depan orang ramai

2026-08-20

0

Teh Euis Tea

Teh Euis Tea

thor, ini maksudnya gimana ya Andra dan Sekar saling melihat dan pahala apakah saling ragu?

2026-05-20

0

Sarinah Quinn

Sarinah Quinn

heran sampai sini Zivanna dan awal selalu di salah kan tidak pernah benar rumah tangganya pun kacau balau, gak ngerti deh tokoh utamanya di jadikan bodoh dan tidak berarti entah apa tujuannya mengangkat tokoh yg seperti ini kasian gak sih 😢 ngikutin dari awal berharap ke arah lebih baik tapi mentok gitu aja 🙏🙏

2026-06-19

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kesalahan
2 Episode 2 Di rumah Berbeda
3 Episode 3 Di Anggap Spele
4 Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5 Episode 5 Bangga
6 Episode 6 Hal Tidak Terduga
7 Episode 7 Tentang Dia
8 Episode 8 Sama Saja
9 Episode 9 Bisa Melakukannya
10 Episode 10 Terus Ribut
11 Episode 11 Pertemuan Itu.
12 Episode 12 Tindakan
13 Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14 Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15 Episode 15 Di Ospek Suami
16 Episode 16 Makan Malam
17 Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18 Episode 18 Insiden Buruk
19 Episode 19 Di Caci Maki
20 Episode 20 Entah Apa Lagi
21 Episode 21 Apa Lagi Ini
22 Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23 Episode 23 Hal Serius
24 Episode 24 Pamit
25 Episode 25 Sabotase.
26 Episode 26 Gengsi
27 Episode 27 Lebih Di haragi
28 Episode 28 Penyesuaiannya
29 Episode 29 Nyaman Bersamanya
30 Episode 30 Darurat
31 Episode 31 Roboh
32 Episode 32 Saling Menyalahkan
33 Episode 33 Evakuasi
34 Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35 Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36 Episode 36 Dekat
37 Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38 Episode 38 Cemburu
39 Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40 Episode 40 Panas
41 Episode 41 Suami Cemburu
42 Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43 Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44 Episode 44 Banyak Moment
45 Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46 Episode 46 Suami Istri
47 Episode 47 Hampir Saja
48 Episode 48 Dia Istri Saya
49 Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50 Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51 Episode 51 Pertentangan
52 Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53 Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54 Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55 Episode 55 Dingin
56 Episode 56 blak-blakan
57 Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58 Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59 Episode 59 Kemarahan Dikta
60 Episode 60 Ada Sesuatu
61 Episode 61 Kesempatan
62 Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63 Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64 Episode 64 Ada apa dengannya
65 Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66 Episode 67 Berada Di Sampingnya
67 Episode 67 Mereka Saling Memahami
68 Episode 68 Mengobrol Inti
69 Episode 69 Dukungan
70 Episode 70 Operasi besar
71 Episode 71 Kesempatan Untuknya
72 Episode 72 Apresiasi Untuknya
73 Episode 73 Kode Dari Zivanna
74 Episode 74 Dikta Terancam
75 Episode 76 Candaan Romantis
76 Episode 76 Dia Harus Tegas
77 Episode 77 Suami Yang Romantis
78 Episode 78 Keputusan Dikta
79 Episode 79
80 Episode
81 Episode 81 1 Bulan Kemudian
82 Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83 Episode 83 Meninggalkan Rumah
84 Episode 84 Tiba-tiba
85 Episode 84 Seperti Persaingan
86 Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87 Episode 87 Apa yang terjadi
88 Episode 88 Saling Merindukan
89 Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90 Episode 90 Nayla Terpojok
91 Episode 91 Ada Rahasia
92 Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93 Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94 Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95 Episode 95 Terlambat
96 Episode 96 Pengungkapan
97 Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98 Episode 98 Kembali Memulai
99 Episode 99 Keromantisan
100 Episode 100 Di antara
101 Episode 101 Ada Apa Ini
102 Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103 Episode 103 Lebih Memilihnya
104 Episode 104 Menyalahkan
105 Episode 105 Darurat
106 Episode 106 Putus Asa
107 Episode 107 Berjuang
108 Episode 108 Kedewasaan Orang Tua
109 Episode 109 Lamaran Ke-2
110 Episode 110 Kalian Tetap Sahabat
111 Episode 111 Air Mata Pernikahan
112 Episode 112 Kebersamaan
113 Episode 113 Tammat
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Episode 1 Kesalahan
2
Episode 2 Di rumah Berbeda
3
Episode 3 Di Anggap Spele
4
Episode 4 Ungkapan Yang Tertahan.
5
Episode 5 Bangga
6
Episode 6 Hal Tidak Terduga
7
Episode 7 Tentang Dia
8
Episode 8 Sama Saja
9
Episode 9 Bisa Melakukannya
10
Episode 10 Terus Ribut
11
Episode 11 Pertemuan Itu.
12
Episode 12 Tindakan
13
Episode 13 Diam-diam Memperhatikan
14
Episode 14 Posisi Yang Sulit.
15
Episode 15 Di Ospek Suami
16
Episode 16 Makan Malam
17
Episode 17 Ini Sudah Memuakkan
18
Episode 18 Insiden Buruk
19
Episode 19 Di Caci Maki
20
Episode 20 Entah Apa Lagi
21
Episode 21 Apa Lagi Ini
22
Episode 22 Ternyata Tidak Sepaham
23
Episode 23 Hal Serius
24
Episode 24 Pamit
25
Episode 25 Sabotase.
26
Episode 26 Gengsi
27
Episode 27 Lebih Di haragi
28
Episode 28 Penyesuaiannya
29
Episode 29 Nyaman Bersamanya
30
Episode 30 Darurat
31
Episode 31 Roboh
32
Episode 32 Saling Menyalahkan
33
Episode 33 Evakuasi
34
Episode 34 Masih Ada Kesempatan
35
Episode 35 Sama-Sama Terjebak.
36
Episode 36 Dekat
37
Episode 37 Siapa Laki-laki Itu
38
Episode 38 Cemburu
39
Episode 19 Dia Mulai Gelisah
40
Episode 40 Panas
41
Episode 41 Suami Cemburu
42
Episode 42 Terjebak Di Hutan.
43
Episode 43 Tingkat Gengsi Suami.
44
Episode 44 Banyak Moment
45
Episode 45 Berusaha Untuk Kembali
46
Episode 46 Suami Istri
47
Episode 47 Hampir Saja
48
Episode 48 Dia Istri Saya
49
Episode 49 Pergi Tanpa Berpamitan
50
Episode 50 Ada Kenyataan Yang Baru di ketahui
51
Episode 51 Pertentangan
52
Episode 52 Ternyata Kabar Bahagia.
53
Episode 53 Kembali Ke Jakarta.
54
Episode 54 Siapa Yang Di Beri Kejutan
55
Episode 55 Dingin
56
Episode 56 blak-blakan
57
Episode 57 Mungkin Ada Rahasia Besar
58
Episode 58 Siapa yang korban sebenarnya
59
Episode 59 Kemarahan Dikta
60
Episode 60 Ada Sesuatu
61
Episode 61 Kesempatan
62
Episode 62 Kamu Hanya Di peralat
63
Episode 63 Hal Yang Baru diketahui
64
Episode 64 Ada apa dengannya
65
Episode 65 Dia Tidak Sekuat Itu
66
Episode 67 Berada Di Sampingnya
67
Episode 67 Mereka Saling Memahami
68
Episode 68 Mengobrol Inti
69
Episode 69 Dukungan
70
Episode 70 Operasi besar
71
Episode 71 Kesempatan Untuknya
72
Episode 72 Apresiasi Untuknya
73
Episode 73 Kode Dari Zivanna
74
Episode 74 Dikta Terancam
75
Episode 76 Candaan Romantis
76
Episode 76 Dia Harus Tegas
77
Episode 77 Suami Yang Romantis
78
Episode 78 Keputusan Dikta
79
Episode 79
80
Episode
81
Episode 81 1 Bulan Kemudian
82
Episode 82 Bentuk Kemarahannya.
83
Episode 83 Meninggalkan Rumah
84
Episode 84 Tiba-tiba
85
Episode 84 Seperti Persaingan
86
Episode 86 Ada yang di sembunyikan
87
Episode 87 Apa yang terjadi
88
Episode 88 Saling Merindukan
89
Episode 89 Apa Ini Pertentangan
90
Episode 90 Nayla Terpojok
91
Episode 91 Ada Rahasia
92
Episode 92 Akhirnya Mengetahui
93
Episode 93 Mengetahui Semuanya.
94
Episode 94 Orang Tua Masih Egois
95
Episode 95 Terlambat
96
Episode 96 Pengungkapan
97
Episode 97 Saling Meluluhkan Hati
98
Episode 98 Kembali Memulai
99
Episode 99 Keromantisan
100
Episode 100 Di antara
101
Episode 101 Ada Apa Ini
102
Episode 102 Akhirnya Terbongkar
103
Episode 103 Lebih Memilihnya
104
Episode 104 Menyalahkan
105
Episode 105 Darurat
106
Episode 106 Putus Asa
107
Episode 107 Berjuang
108
Episode 108 Kedewasaan Orang Tua
109
Episode 109 Lamaran Ke-2
110
Episode 110 Kalian Tetap Sahabat
111
Episode 111 Air Mata Pernikahan
112
Episode 112 Kebersamaan
113
Episode 113 Tammat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!