Bab 2 (Aturan No 14)

Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit saat Arini sudah berdiri di dapur bersih berlapis marmer hitam milik Adrian. Di tangannya, buku catatan berisi 150 aturan pemberian Adrian sudah terbuka.

Aturan Nomor 14 : Kopi hitam harus disajikan tepat pukul 06.00 WIB. Suhu air saat penyeduhan wajib berada di angka 92 derajat celsius. menggunakan biji kopi arabica single-origin gayo, digiling dengan tingkat kehalusan medium. Terlambat satu menit atau suhu tidak akurat, kopi dibuang.

Arini menatap termometer digital yang sengaja ia bawa dari rumah. Logika akuntansinya yang terbiasa dengan angka presisi kini ia terapkan pada secangkir kafein. Tepat pukul 05.59, ia menuangkan kopi ke dalam cangkir porselen putih, lalu melangkah menuju ruang kerja Adrian.

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara dingin dari dalam.

Arini membuka pintu. Adrian sudah rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Di bawah sorot lampu meja, wajahnya tampak sekaku patung pahatan. Arini meletakkan cangkir kopi di sisi kanan meja, tepat pada jarak sepuluh sentimeter dari laptop—sesuai aturan nomor 22.

Adrian melirik jam tangannya. Pukul 06.00 tepat. Ia mengambil cangkir, menyesapnya sedikit, lalu terdiam. Tidak ada makian, tidak ada kopi yang disemburkan. Pria itu hanya meletakkan kembali cangkirnya tanpa ekspresi.

"Hari ini, selain membersihkan seluruh lantai, saya mau kamu merapikan ruang arsip pribadi saya di lantai dua," ucap Adrian tanpa menatap Arini. Matanya terfokus pada layar laptop. "Semua laporan keuangan dan nota pengeluaran rumah tangga selama lima tahun terakhir berantakan karena pelayan sebelumnya. Selesaikan sebelum jam lima sore."

Arini tahu ini adalah jebakan untuk membuatnya dipecat. Merapikan arsip lima tahun dalam waktu kurang dari dua belas jam adalah hal yang mustahil untuk ukuran pelayan biasa. Namun, Adrian lupa satu hal: dia sedang menantang seorang lulusan terbaik jurusan akuntansi.

"Baik, Tuan. Sesuai perintah Anda," jawab Arini tenang sebelum mengundurkan diri.

Ketika Arini membuka pintu ruang arsip, debu tipis menyambutnya. Berkotak-kotak dokumen menumpuk tanpa kategori. Bukannya panik, mata Arini justru berbinar. Ini adalah zona nyamannya. Angka, laporan, dan pengarsipan adalah makanan sehari-harinya selama empat tahun di bangku kuliah.

Arini segera mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ia tidak hanya merapikan kertas-kertas itu ke dalam map, tetapi juga menyalakan laptop tua di sudut ruangan. Ia membuat sistem database digital baru menggunakan Microsoft Excel, lengkap dengan rumus VLOOKUP dan grafik pengeluaran yang rapi.

Waktu berlalu cepat. Arini bekerja tanpa lelah, mengabaikan rasa lapar yang mulai menyerang perutnya.

Tepat pukul 16.45, langkah kaki terdengar mendekat. Adrian masuk dengan kedua tangan di dalam saku celana. Ia bersiap untuk melihat kekacauan dan memberikan surat pemecatan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.

Ruangan itu bersih total. Kotak-kotak kardus sudah hilang, digantikan oleh deretan binder berwarna sesuai tahun anggaran yang berbaris rapi di rak.

Arini berdiri di samping meja, menyerahkan sebuah tablet milik rumah tangga yang sudah menampilkan sebuah berkas digital.

"Semua arsip fisik sudah dikategorikan berdasarkan kode akun pengeluaran, Tuan. Saya juga sudah memindahkan datanya ke bentuk digital," ujar Arini profesional.

"Selain itu, saya menemukan ada selisih pencatatan sebesar dua belas persen pada biaya perawatan penthouse tahun lalu. Agensi pemeliharaan AC Anda melakukan mark-up harga. Semua bukti salah hitung mereka sudah saya tandai dengan warna merah di laporan ini."

Adrian terpaku. Ia mengambil tablet itu dari tangan Arini. Jarinya menggeser layar, membaca analisis keuangan rumah tangganya yang dibuat dengan sangat struktur, rapi, dan tajam—bahkan jauh lebih baik dari hasil kerja beberapa staf magang di kantornya.

Mata elang Adrian beralih menatap Arini yang tampak kelelahan dengan peluh di dahinya, namun sepasang mata gadis itu memancarkan rasa percaya diri yang tidak bisa dipatahkan. Untuk pertama kalinya, sang es kutub utara merasakan sesuatu yang asing berdesir di dadanya. Pelayan di hadapannya ini... benar-benar berbahaya untuk ketenangan hidupnya.

"Kerja bagus," ucap Adrian pendek, menyembunyikan rasa terkejutnya di balik suara datarnya yang dingin.

"Tapi jangan besar kepala. Ini baru hari pertama."

Adrian berbalik pergi, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa keputusannya membawa Arini ke rumah ini akan mengubah banyak hal.

Episodes
1 Bab 1 (Toga dan Kain pel)
2 Bab 2 (Aturan No 14)
3 Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
4 Bab 4 (Janji di atas kertas dan Malam Pertama)
5 Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)
6 Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
7 Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)
8 Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)
9 Bab 9 ( Hadiah dan Hati yang Goyah)
10 Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
11 Bab 11 (Pulau terpencil dan Satu Atap)
12 Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)
13 Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
14 Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
15 Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)
16 Bab 16 (Runtuhnya Benteng di Realitas Jakarta)
17 Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
18 Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)
19 Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)
20 Bab 20 (Suka Cita Sang Konlomerat Utama)
21 Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
22 Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
23 Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
24 Bab 24 (Murka Sang Es Kutub Utara)
25 Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
26 Bab 26 (Perhatian di Balik Dinding Tawang)
27 Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)
28 Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)
29 Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
30 Bab 30 (Vonis Akhir dan Kedamaian yang Mutlak)
31 Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
32 Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)
33 Bab 33 (Meja Kerja dalam Sangkar Emas)
34 Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
35 Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)
36 Bab 36 (Evaluasi Rasa dan Berkas Akuisisi)
37 Bab 37 (Ruang Merah Muda dan Pelindung Kecil)
38 Bab 38 ( Kepanikan Putaran Kedua)
39 Bab 39 (Tuan Putri Kecil dan Kaka Pelindung)
40 Bab 40 (Proteksi Tiga Lapis dan Tuan Putri Kecil)
41 Bab 41 (Panggilan Sayang Tuan Putri)
42 Bab 42 (Kejadian di Gerbang TK)
43 Bab 43 (Barikade Posesif dan Teguran di Depan Gerbang)
44 Bab 44 Sumpah Darah di Balik Dinding Kastil Wijaya
45 Bab 45 (Pengakuan Berdarah dan Topeng Sang Dalang)
46 Bab 46 (Jejak Darurat di Seberang Selat dan Firasat Sang Istri)
47 Bab 47 (Retakan di Sangkar Emas)
48 Bab 48 ( Sambungan Darurat di Atas Selat Malaka)
49 Bab 49 (Barikade Besi dan Tamu di Ambang Pintu)
50 Bab 50 (Dokumen Pengeras dan Rahasia Sang Pengacara)
51 Bab 51 (Koordinat Batam dan Amarah yang Bergeser)
52 Bab 52 (Badai di Harbour Bay dan Wajah di Balik Kedok)
53 Bab 53 (Rencana Cadangan yang Licik)
54 Bab 54 (Retakan di Dasar Tanah dan Keberanian Sang Ibu)
55 Bab 55 (Tembakan Pertama di Ruang Rahasia)
56 Bab 56 (Amarah Sang Penguasa Tahta)
57 Bab 57 ( Di Kamar Utama dan Pengawasan 24 Jam)
58 Bab 58 (Sisi Lembut Sang Pengusaha dan Pemulihan Trauma)
59 Bab 59 (Penyitaan Total dan Pengalihan Takhta Finansial)
60 Bab 60 (Kejutan Tiga Triliun di Atas Ranjang Sutra)
61 Bab 61 (Evaluasi Udara Menuju Sangkar Surya)
62 Bab 62 (Sangkar Surga di Tepi Samudra)
63 Bab 63 (Kantor Mini Sang Ratu Audit)
64 Bab 64 (Kejanggalan di Balik Angka Tiga Triliun)
65 Bab 65 (Identitas di Balik Topeng Kepercayaan)
66 Bab 66 (Sumpah di Keheningan Malam Tropis)
67 Bab 67 (Hukuman di Ruang Kedap Suara)
68 Bab 68 (Getaran Suara di Seberang Samudra)
69 Bab 69 (Dekapan Posesif di Ujung Hari)
70 Bab 70 (Istana Pasir di Tepi Sangkar Surga)
71 Bab 71 (Pelayaran Romantis di Bawah Langit Berbintang)
72 Bab 72 ( Surel Misterius di Tengah Samudra)
73 Bab 73 (Pemburuan di Garis Cakrawala)
74 Bab 74 ( Bayang-Bayang Sang Ilusi)
75 Bab 75 (Jebakan Umpan Sang Ratu)
76 Bab 76 (Peretasan Balik dan Detik-detik Eksekusi)
77 Bab 77 (Suara dari Masa Lalu)
78 promo novel
79 Bab 78 (Perang Siber Dua Kubu)
80 Bab 79 (Sumpah Posesif Sebelum Berburu)
81 Bab 80 (Sebuan Sayap di Tengah Samudra)
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 (Toga dan Kain pel)
2
Bab 2 (Aturan No 14)
3
Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
4
Bab 4 (Janji di atas kertas dan Malam Pertama)
5
Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)
6
Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
7
Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)
8
Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)
9
Bab 9 ( Hadiah dan Hati yang Goyah)
10
Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
11
Bab 11 (Pulau terpencil dan Satu Atap)
12
Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)
13
Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
14
Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
15
Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)
16
Bab 16 (Runtuhnya Benteng di Realitas Jakarta)
17
Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
18
Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)
19
Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)
20
Bab 20 (Suka Cita Sang Konlomerat Utama)
21
Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
22
Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
23
Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
24
Bab 24 (Murka Sang Es Kutub Utara)
25
Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
26
Bab 26 (Perhatian di Balik Dinding Tawang)
27
Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)
28
Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)
29
Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
30
Bab 30 (Vonis Akhir dan Kedamaian yang Mutlak)
31
Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
32
Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)
33
Bab 33 (Meja Kerja dalam Sangkar Emas)
34
Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
35
Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)
36
Bab 36 (Evaluasi Rasa dan Berkas Akuisisi)
37
Bab 37 (Ruang Merah Muda dan Pelindung Kecil)
38
Bab 38 ( Kepanikan Putaran Kedua)
39
Bab 39 (Tuan Putri Kecil dan Kaka Pelindung)
40
Bab 40 (Proteksi Tiga Lapis dan Tuan Putri Kecil)
41
Bab 41 (Panggilan Sayang Tuan Putri)
42
Bab 42 (Kejadian di Gerbang TK)
43
Bab 43 (Barikade Posesif dan Teguran di Depan Gerbang)
44
Bab 44 Sumpah Darah di Balik Dinding Kastil Wijaya
45
Bab 45 (Pengakuan Berdarah dan Topeng Sang Dalang)
46
Bab 46 (Jejak Darurat di Seberang Selat dan Firasat Sang Istri)
47
Bab 47 (Retakan di Sangkar Emas)
48
Bab 48 ( Sambungan Darurat di Atas Selat Malaka)
49
Bab 49 (Barikade Besi dan Tamu di Ambang Pintu)
50
Bab 50 (Dokumen Pengeras dan Rahasia Sang Pengacara)
51
Bab 51 (Koordinat Batam dan Amarah yang Bergeser)
52
Bab 52 (Badai di Harbour Bay dan Wajah di Balik Kedok)
53
Bab 53 (Rencana Cadangan yang Licik)
54
Bab 54 (Retakan di Dasar Tanah dan Keberanian Sang Ibu)
55
Bab 55 (Tembakan Pertama di Ruang Rahasia)
56
Bab 56 (Amarah Sang Penguasa Tahta)
57
Bab 57 ( Di Kamar Utama dan Pengawasan 24 Jam)
58
Bab 58 (Sisi Lembut Sang Pengusaha dan Pemulihan Trauma)
59
Bab 59 (Penyitaan Total dan Pengalihan Takhta Finansial)
60
Bab 60 (Kejutan Tiga Triliun di Atas Ranjang Sutra)
61
Bab 61 (Evaluasi Udara Menuju Sangkar Surya)
62
Bab 62 (Sangkar Surga di Tepi Samudra)
63
Bab 63 (Kantor Mini Sang Ratu Audit)
64
Bab 64 (Kejanggalan di Balik Angka Tiga Triliun)
65
Bab 65 (Identitas di Balik Topeng Kepercayaan)
66
Bab 66 (Sumpah di Keheningan Malam Tropis)
67
Bab 67 (Hukuman di Ruang Kedap Suara)
68
Bab 68 (Getaran Suara di Seberang Samudra)
69
Bab 69 (Dekapan Posesif di Ujung Hari)
70
Bab 70 (Istana Pasir di Tepi Sangkar Surga)
71
Bab 71 (Pelayaran Romantis di Bawah Langit Berbintang)
72
Bab 72 ( Surel Misterius di Tengah Samudra)
73
Bab 73 (Pemburuan di Garis Cakrawala)
74
Bab 74 ( Bayang-Bayang Sang Ilusi)
75
Bab 75 (Jebakan Umpan Sang Ratu)
76
Bab 76 (Peretasan Balik dan Detik-detik Eksekusi)
77
Bab 77 (Suara dari Masa Lalu)
78
promo novel
79
Bab 78 (Perang Siber Dua Kubu)
80
Bab 79 (Sumpah Posesif Sebelum Berburu)
81
Bab 80 (Sebuan Sayap di Tengah Samudra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!