Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)

Baru satu minggu Arini bekerja sebagai kepala pelayan di penthouse mewah itu, sebuah badai besar datang tanpa peringatan. Malam itu hujan deras mengguyur kota Jakarta. Adrian baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang jauh lebih kusut dan aura yang lebih dingin dari biasanya. Belum sempat Arini membuatkan teh hangat untuk majikannya, pintu ganda penthouse mendadak terbuka kasar menggunakan kunci cadangan.

Seorang pria tua berambut putih dengan tongkat berkepala perak melangkah masuk dengan langkah tegas. Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap menjaga pintu. Beliau adalah Wijaya, kakek Adrian sekaligus pemilik tunggal Wijaya Group—pria paling disegani di dunia bisnis nasional.

"Kakek? Kenapa datang malam-malam begini tanpa memberi tahu sekretarisku?" Adrian refleks berdiri dari sofa, suaranya yang biasa dingin kini terdengar sedikit tegang.

"Kalau Kakek tidak datang mendadak, kamu pasti akan terus menunda pernikahanmu dan sibuk di kantor!" suara sang Kakek menggelegar, mengalahkan bunyi guntur di luar. "Batas waktumu habis, Adrian. Besok pagi Kakek akan mengadakan rapat umum pemegang saham untuk mengumumkan sepupumu, Baskoro, sebagai CEO baru. Kakek tidak bisa memercayakan masa depan perusahaan pada pria yang bahkan tidak punya niat untuk membangun keluarga!"

Arini yang sedang memegang nampan di dekat dapur bersih seketika membeku. Ia berniat mundur perlahan ke kamarnya di area belakang agar tidak ikut campur urusan keluarga konglomerat ini. Namun, langkah kakinya membuat lantai kayu sedikit berderit.

Mata tajam Kakek Wijaya langsung tertuju pada Arini. Beliau mengernyit melihat Arini yang hanya memakai kemeja denim dan celana kain biasa. "Siapa wanita ini? Pelayan baru lagi yang akan kamu pecat minggu depan?"

Adrian melirik Arini, lalu beralih menatap Kakeknya. Otak bisnisnya yang penuh kalkulasi berputar cepat dalam hitungan detik untuk mencari jalan keluar darurat. Baskoro adalah pria yang licik; jika posisi CEO jatuh ke tangannya, seluruh kerja keras Adrian selama bertahun-tahun akan hancur. Dalam situasi terdesak itu, Adrian mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya.

"Bukan. Dia bukan pelayan," potong Adrian cepat. Ia melangkah lebar mendekati Arini, lalu tanpa permisi, merangkul pundak gadis itu dengan erat. Bersentuhan sedekat ini membuat tubuh Arini menegang sempurna karena terkejut. "Dia Arini. Calon istriku."

Arini membelalakkan matanya, menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya. Namun, cengkeraman tangan Adrian di pundaknya semakin mengencang, memberi kode keras agar Arini diam dan mengikuti permainan.

Kakek Wijaya berjalan mendekat, menatap Arini dari dekat dengan pandangan mengintimidasi sebelum akhirnya tersenyum puas mendengarkan gaya bicara Arini yang tenang saat menjawab pertanyaan jebakannya. Setelah memberikan ancaman final agar mereka segera mengumumkan pernikahan, sang Kakek pergi meninggalkan penthouse.

Begitu pintu tertutup rapat, Arini langsung menyentak tangan Adrian dari pundaknya. "Tuan Adrian! Anda sudah gila, ya?! Calon istri? Anda berbohong pada Kakek Anda sendiri dan menyeret saya ke dalam pusaran masalah keluarga Anda!"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja bar, menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumnya hingga tandas. Sifatnya yang dingin kembali mengambil alih.

"Itu adalah satu-satunya jalan keluar logis untuk situasi tadi, Arini," ucap Adrian datar. "Kakekku serius dengan ancamannya. Kehilangan jabatan berarti aku tidak bisa mengelola asetku lagi. Jadi, mari kita bicarakan keuntungan untukmu. Berapa biaya total operasi dan perawatan ibumu di rumah sakit?"

Pertanyaan itu seketika menusuk ulu hati Arini. Kemarahan gadis itu meredup, digantikan oleh rasa sesak. "Dua ratus juta rupiah. Dan pihak administrasi memberi tenggat waktu sampai besok pagi, atau operasi ibu saya dibatalkan."

Adrian mengangguk pelan, seolah angka itu tidak ada artinya. Ia melangkah ke ruang kerjanya, mengambil sebuah laptop, lalu mulai mengetik dengan cepat di atas meja marmer sebelum mencetaknya ke selembar kertas bermeterai.

"Mari kita buat kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan," ujar Adrian sambil menyodorkan draf kertas itu kepada Arini. "Aku akan melunasi seluruh biaya rumah sakit ibumu malam ini juga melalui transfer langsung. Sebagai gantinya, kamu harus menandatangani kontrak pernikahan bersamaku selama dua belas bulan ke depan."

Arini menunduk, membaca baris demi baris teks kontrak dengan kacamata analisis akuntansinya. Pasal-pasal di sana tertulis sangat jelas: pernikahan ini murni demi reputasi publik, Adrian menanggung biaya medis keluarga Arini, Arini akan mendapatkan sebuah rumah setelah satu tahun bercerai, dan aturan mutlak yang paling bawah: Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan.

Arini terdiam cukup lama. Harga diri sarjananya berteriak untuk menolak menjadi istri pajangan, namun kenyataan bahwa nyawa ibunya sedang dipertaruhkan jauh lebih berharga daripada egonya sendiri.

"Bagaimana dengan tempat tinggal? Kakek Anda pasti akan curiga jika kita tidak tinggal bersama," tanya Arini, suaranya mulai bergetar.

"Kamu akan pindah dari kamar belakang ke kamar utama bersamaku mulai malam ini," jawab Adrian tenang. "Kita harus terlihat seperti pasangan suami istri baru pada umumnya di depan mata-mata Kakek. Tapi tenang saja, kasurku cukup luas. Kita akan beri pembatas guling di tengahnya. Jangan melewati garis itu satu sentimeter pun."

Arini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia menatap Adrian yang memasang wajah tanpa ekspresi seperti es kutub utara.

"Baik. Demi ibu saya, saya terima kesepakatan ini, Tuan Adrian," ucap Arini mantap. Ia mengambil pulpen, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar.

Adrian mengambil kembali kertas itu, menatap tanda tangan Arini, lalu menyunggingkan senyum tipis yang misterius. "Pilihan yang cerdas, Nona Arini. Selamat datang di dunia kontrak."

Episodes
1 Bab 1 (Toga dan Kain pel)
2 Bab 2 (Aturan No 14)
3 Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
4 Bab 4 (Janji di atas kertas dan Malam Pertama)
5 Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)
6 Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
7 Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)
8 Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)
9 Bab 9 ( Hadiah dan Hati yang Goyah)
10 Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
11 Bab 11 (Pulau terpencil dan Satu Atap)
12 Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)
13 Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
14 Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
15 Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)
16 Bab 16 (Runtuhnya Benteng di Realitas Jakarta)
17 Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
18 Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)
19 Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)
20 Bab 20 (Suka Cita Sang Konlomerat Utama)
21 Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
22 Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
23 Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
24 Bab 24 (Murka Sang Es Kutub Utara)
25 Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
26 Bab 26 (Perhatian di Balik Dinding Tawang)
27 Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)
28 Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)
29 Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
30 Bab 30 (Vonis Akhir dan Kedamaian yang Mutlak)
31 Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
32 Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)
33 Bab 33 (Meja Kerja dalam Sangkar Emas)
34 Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
35 Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)
36 Bab 36 (Evaluasi Rasa dan Berkas Akuisisi)
37 Bab 37 (Ruang Merah Muda dan Pelindung Kecil)
38 Bab 38 ( Kepanikan Putaran Kedua)
39 Bab 39 (Tuan Putri Kecil dan Kaka Pelindung)
40 Bab 40 (Proteksi Tiga Lapis dan Tuan Putri Kecil)
41 Bab 41 (Panggilan Sayang Tuan Putri)
42 Bab 42 (Kejadian di Gerbang TK)
43 Bab 43 (Barikade Posesif dan Teguran di Depan Gerbang)
44 Bab 44 Sumpah Darah di Balik Dinding Kastil Wijaya
45 Bab 45 (Pengakuan Berdarah dan Topeng Sang Dalang)
46 Bab 46 (Jejak Darurat di Seberang Selat dan Firasat Sang Istri)
47 Bab 47 (Retakan di Sangkar Emas)
48 Bab 48 ( Sambungan Darurat di Atas Selat Malaka)
49 Bab 49 (Barikade Besi dan Tamu di Ambang Pintu)
50 Bab 50 (Dokumen Pengeras dan Rahasia Sang Pengacara)
51 Bab 51 (Koordinat Batam dan Amarah yang Bergeser)
52 Bab 52 (Badai di Harbour Bay dan Wajah di Balik Kedok)
53 Bab 53 (Rencana Cadangan yang Licik)
54 Bab 54 (Retakan di Dasar Tanah dan Keberanian Sang Ibu)
55 Bab 55 (Tembakan Pertama di Ruang Rahasia)
56 Bab 56 (Amarah Sang Penguasa Tahta)
57 Bab 57 ( Di Kamar Utama dan Pengawasan 24 Jam)
58 Bab 58 (Sisi Lembut Sang Pengusaha dan Pemulihan Trauma)
59 Bab 59 (Penyitaan Total dan Pengalihan Takhta Finansial)
60 Bab 60 (Kejutan Tiga Triliun di Atas Ranjang Sutra)
61 Bab 61 (Evaluasi Udara Menuju Sangkar Surya)
62 Bab 62 (Sangkar Surga di Tepi Samudra)
63 Bab 63 (Kantor Mini Sang Ratu Audit)
64 Bab 64 (Kejanggalan di Balik Angka Tiga Triliun)
65 Bab 65 (Identitas di Balik Topeng Kepercayaan)
66 Bab 66 (Sumpah di Keheningan Malam Tropis)
67 Bab 67 (Hukuman di Ruang Kedap Suara)
68 Bab 68 (Getaran Suara di Seberang Samudra)
69 Bab 69 (Dekapan Posesif di Ujung Hari)
70 Bab 70 (Istana Pasir di Tepi Sangkar Surga)
71 Bab 71 (Pelayaran Romantis di Bawah Langit Berbintang)
72 Bab 72 ( Surel Misterius di Tengah Samudra)
73 Bab 73 (Pemburuan di Garis Cakrawala)
74 Bab 74 ( Bayang-Bayang Sang Ilusi)
75 Bab 75 (Jebakan Umpan Sang Ratu)
76 Bab 76 (Peretasan Balik dan Detik-detik Eksekusi)
77 Bab 77 (Suara dari Masa Lalu)
78 promo novel
79 Bab 78 (Perang Siber Dua Kubu)
80 Bab 79 (Sumpah Posesif Sebelum Berburu)
81 Bab 80 (Sebuan Sayap di Tengah Samudra)
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 (Toga dan Kain pel)
2
Bab 2 (Aturan No 14)
3
Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
4
Bab 4 (Janji di atas kertas dan Malam Pertama)
5
Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)
6
Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
7
Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)
8
Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)
9
Bab 9 ( Hadiah dan Hati yang Goyah)
10
Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
11
Bab 11 (Pulau terpencil dan Satu Atap)
12
Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)
13
Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
14
Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
15
Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)
16
Bab 16 (Runtuhnya Benteng di Realitas Jakarta)
17
Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
18
Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)
19
Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)
20
Bab 20 (Suka Cita Sang Konlomerat Utama)
21
Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
22
Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
23
Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
24
Bab 24 (Murka Sang Es Kutub Utara)
25
Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
26
Bab 26 (Perhatian di Balik Dinding Tawang)
27
Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)
28
Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)
29
Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
30
Bab 30 (Vonis Akhir dan Kedamaian yang Mutlak)
31
Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
32
Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)
33
Bab 33 (Meja Kerja dalam Sangkar Emas)
34
Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
35
Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)
36
Bab 36 (Evaluasi Rasa dan Berkas Akuisisi)
37
Bab 37 (Ruang Merah Muda dan Pelindung Kecil)
38
Bab 38 ( Kepanikan Putaran Kedua)
39
Bab 39 (Tuan Putri Kecil dan Kaka Pelindung)
40
Bab 40 (Proteksi Tiga Lapis dan Tuan Putri Kecil)
41
Bab 41 (Panggilan Sayang Tuan Putri)
42
Bab 42 (Kejadian di Gerbang TK)
43
Bab 43 (Barikade Posesif dan Teguran di Depan Gerbang)
44
Bab 44 Sumpah Darah di Balik Dinding Kastil Wijaya
45
Bab 45 (Pengakuan Berdarah dan Topeng Sang Dalang)
46
Bab 46 (Jejak Darurat di Seberang Selat dan Firasat Sang Istri)
47
Bab 47 (Retakan di Sangkar Emas)
48
Bab 48 ( Sambungan Darurat di Atas Selat Malaka)
49
Bab 49 (Barikade Besi dan Tamu di Ambang Pintu)
50
Bab 50 (Dokumen Pengeras dan Rahasia Sang Pengacara)
51
Bab 51 (Koordinat Batam dan Amarah yang Bergeser)
52
Bab 52 (Badai di Harbour Bay dan Wajah di Balik Kedok)
53
Bab 53 (Rencana Cadangan yang Licik)
54
Bab 54 (Retakan di Dasar Tanah dan Keberanian Sang Ibu)
55
Bab 55 (Tembakan Pertama di Ruang Rahasia)
56
Bab 56 (Amarah Sang Penguasa Tahta)
57
Bab 57 ( Di Kamar Utama dan Pengawasan 24 Jam)
58
Bab 58 (Sisi Lembut Sang Pengusaha dan Pemulihan Trauma)
59
Bab 59 (Penyitaan Total dan Pengalihan Takhta Finansial)
60
Bab 60 (Kejutan Tiga Triliun di Atas Ranjang Sutra)
61
Bab 61 (Evaluasi Udara Menuju Sangkar Surya)
62
Bab 62 (Sangkar Surga di Tepi Samudra)
63
Bab 63 (Kantor Mini Sang Ratu Audit)
64
Bab 64 (Kejanggalan di Balik Angka Tiga Triliun)
65
Bab 65 (Identitas di Balik Topeng Kepercayaan)
66
Bab 66 (Sumpah di Keheningan Malam Tropis)
67
Bab 67 (Hukuman di Ruang Kedap Suara)
68
Bab 68 (Getaran Suara di Seberang Samudra)
69
Bab 69 (Dekapan Posesif di Ujung Hari)
70
Bab 70 (Istana Pasir di Tepi Sangkar Surga)
71
Bab 71 (Pelayaran Romantis di Bawah Langit Berbintang)
72
Bab 72 ( Surel Misterius di Tengah Samudra)
73
Bab 73 (Pemburuan di Garis Cakrawala)
74
Bab 74 ( Bayang-Bayang Sang Ilusi)
75
Bab 75 (Jebakan Umpan Sang Ratu)
76
Bab 76 (Peretasan Balik dan Detik-detik Eksekusi)
77
Bab 77 (Suara dari Masa Lalu)
78
promo novel
79
Bab 78 (Perang Siber Dua Kubu)
80
Bab 79 (Sumpah Posesif Sebelum Berburu)
81
Bab 80 (Sebuan Sayap di Tengah Samudra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!