Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)

Tiga hari setelah pernikahan kilat yang menghebohkan publik, Kakek Wijaya mengadakan jamuan makan malam privat di salah satu restoran bintang lima milik keluarga di kawasan Menteng. Ini bukan sekadar makan malam biasa, melainkan ujian lanjutan bagi Arini untuk diperkenalkan secara resmi kepada lingkaran internal keluarga besar Wijaya.

Arini menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi restoran. Malam ini ia mengenakan gaun malam berwarna hijau zamrud berpotongan sederhana namun anggun, hadiah yang dipilihkan oleh sekretaris Adrian. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang dipulas riasan natural.

"Ingat, tetap berada di dekatku," suara bariton Adrian menginterupsi lamunan Arini begitu gadis itu keluar dari toilet wanita. Adrian sudah menunggu di koridor, tampak sangat tampan dengan setelan jas hitamnya. "Keluargaku, terutama bibi dan sepupuku Baskoro, akan mencari celah untuk menjatuhkanmu. Jangan tunjukkan kelemahan."

“Tugas saya adalah menjadi aset yang menguntungkan, Tuan Adrian. Saya tidak akan mempermalukan Anda," jawab Arini tenang, meskipun tangannya yang memegang tas genggam kecil terasa dingin.

Ketika mereka memasuki ruang VIP, atmosfer hangat keluarga yang Arini bayangkan sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah tatapan-tatapan menilai yang tajam. Di ujung meja, Kakek Wijaya menyambut mereka dengan senyum lebar, namun di sisi kiri meja, seorang wanita dengan gaun merah menyala dan perhiasan berlian berlebihan menatap Arini dengan pandangan benci.

Dia adalah Natasha, seorang model internasional sekaligus mantan kekasih Adrian yang dulu pergi meninggalkannya demi pria yang lebih kaya saat bisnis Adrian sempat goyah. Sialnya, malam ini Natasha datang mendampingi Baskoro, sepupu Adrian yang licik.

“Oh, jadi ini wanita beruntung yang berhasil mencuri hati seorang Adrian Wijaya?" Natasha membuka suara dengan nada sarkasme yang kental, merusak keheningan ruangan. "Kakek Wijaya, selera cucu Anda ternyata sudah jauh menurun. Memilih gadis kelas pekerja yang bahkan tidak punya latar belakang keluarga terpandang untuk menjadi menantu keluarga Wijaya?"

Baskoro terkekeh di sampingnya, sengaja memprovokasi. "Kudengar dia hanya lulusan baru yang melamar jadi pelayan minggu lalu. Benar begitu, Adrian? Bagaimana bisa seorang pelayan naik pangkat jadi istri CEO dalam semalam?"

Suasana di meja makan langsung mendingin drastis. Arini bisa merasakan aura membunuh yang keluar dari tubuh Adrian di sampingnya. Rahang pria itu mengatup rapat, dan tangannya mengepal di atas meja hingga buku jarinya memutih. Natasha tahu benar bagaimana cara mengorek trauma masa lalu Adrian tentang pengkhianatan dan status sosial.

Sebelum Adrian sempat kehilangan kendali dan membalas dengan kata-kata ketus yang bisa merusak citranya di depan Kakek Wijaya, Arini bergerak cepat. Ia meletakkan garpu dan pisaunya dengan ketukan pelan yang elegan, lalu menatap tepat ke arah Natasha dengan senyuman tipis yang mematikan.

“Nona Natasha, jika latar belakang keluarga dan nama besar adalah satu-satunya hal yang bisa Anda banggakan malam ini, saya sungguh turut prihatin," ujar Arini dengan nada suara yang sangat tenang, jelas, dan berwibawa, membuat seluruh ruangan mendadak senyap.

Natasha mengernyitkan dahi. "Apa katamu?!"

“Di dunia bisnis modern yang bergerak cepat ini, nilai seorang wanita tidak lagi ditentukan oleh siapa orang tuanya atau seberapa mahal perhiasan yang ia kenakan, melainkan oleh apa yang ada di dalam kepalanya," lanjut Arini dengan tatapan mata yang cerdas dan tidak gentar sedikit pun.

"Adrian memilih saya bukan untuk menjadi sekadar pajangan pasif di karpet merah, melainkan sebagai mitra strategis yang bisa diajak berdiskusi, menganalisis risiko, dan membangun masa depan Wijaya Group bersama. Sesuatu yang tampaknya... gagal Anda berikan kepada Adrian di masa lalu, sehingga Anda memilih pergi saat situasi mendesak."

Skakmat. Kalimat tajam Arini tidak hanya membungkam Natasha, tetapi juga menelanjangi motif masa lalu Natasha yang matre di depan Kakek Wijaya. Wajah Natasha seketika memerah menahan malu dan amarah, sementara Baskoro langsung bungkam tak berkutik.

Kakek Wijaya yang duduk di ujung meja terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja dengan puas. "Luar biasa! Hahaha! Adrian, pilihanmu memang tidak pernah salah. Istrimu ini memiliki nyali dan otak yang encer. Pengawal! Tolong antar Nona Natasha keluar dari restoran ini sekarang juga. Jamuan makan malam keluarga Wijaya tidak menerima tamu yang tidak memiliki etika bisnis dan kesopanan."

Natasha terpaksa berdiri dan melangkah keluar dengan menghentakkan kakinya kesal, diikuti oleh tatapan tajam dari Kakek Wijaya.

Malam itu, setelah jamuan makan malam selesai dan mereka kembali ke dalam mobil mewah menuju penthouse, keheningan yang berbeda melingkupi mereka. Adrian duduk di samping Arini, memandangi luar jendela kaca mobil yang basah oleh sisa hujan.

"Terima kasih," ucap Adrian tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat pelan, menghilangkan sekat dingin yang biasa ia pasang. "Untuk yang di restoran tadi."

Arini menoleh, menatap profil samping wajah Adrian yang tampak lelah namun guratan ketegangannya sudah mengendur. "Saya hanya membela investasi saya, Tuan. Mengizinkan mantan kekasih Anda merusak reputasi suami saya di depan Kakek Wijaya adalah sebuah kerugian besar bagi kontrak kita."

Adrian memutar tubuhnya, menatap Arini dengan intensitas yang membuat napas Arini mendadak tertahan. Mobil yang melaju di tengah temaram lampu jalanan Jakarta membuat bayangan wajah mereka tampak dramatis.

Adrian mengikis jarak di antara mereka, bersandar sedikit lebih dekat hingga Arini bisa mencium aroma parfum maskulinya. "Hanya karena kontrak, Arini?" tanya Adrian dengan suara rendah yang serak, memancarkan ketegangan romantis yang begitu pekat.

Arini menelan ludah dengan susah payah, merasakan jantungnya berdegup menggila di dalam dada. Dinding es kutub utara itu tampaknya benar-benar mulai retak malam ini. "Ya," jawab Arini berbisik, berusaha sekuat tenaga mempertahankan benteng pertahanannya yang mulai goyah. "Hanya karena kontrak."

Episodes
1 Bab 1 (Toga dan Kain pel)
2 Bab 2 (Aturan No 14)
3 Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
4 Bab 4 (Janji di atas kertas dan Malam Pertama)
5 Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)
6 Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
7 Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)
8 Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)
9 Bab 9 ( Hadiah dan Hati yang Goyah)
10 Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
11 Bab 11 (Pulau terpencil dan Satu Atap)
12 Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)
13 Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
14 Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
15 Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)
16 Bab 16 (Runtuhnya Benteng di Realitas Jakarta)
17 Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
18 Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)
19 Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)
20 Bab 20 (Suka Cita Sang Konlomerat Utama)
21 Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
22 Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
23 Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
24 Bab 24 (Murka Sang Es Kutub Utara)
25 Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
26 Bab 26 (Perhatian di Balik Dinding Tawang)
27 Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)
28 Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)
29 Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
30 Bab 30 (Vonis Akhir dan Kedamaian yang Mutlak)
31 Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
32 Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)
33 Bab 33 (Meja Kerja dalam Sangkar Emas)
34 Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
35 Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)
36 Bab 36 (Evaluasi Rasa dan Berkas Akuisisi)
37 Bab 37 (Ruang Merah Muda dan Pelindung Kecil)
38 Bab 38 ( Kepanikan Putaran Kedua)
39 Bab 39 (Tuan Putri Kecil dan Kaka Pelindung)
40 Bab 40 (Proteksi Tiga Lapis dan Tuan Putri Kecil)
41 Bab 41 (Panggilan Sayang Tuan Putri)
42 Bab 42 (Kejadian di Gerbang TK)
43 Bab 43 (Barikade Posesif dan Teguran di Depan Gerbang)
44 Bab 44 Sumpah Darah di Balik Dinding Kastil Wijaya
45 Bab 45 (Pengakuan Berdarah dan Topeng Sang Dalang)
46 Bab 46 (Jejak Darurat di Seberang Selat dan Firasat Sang Istri)
47 Bab 47 (Retakan di Sangkar Emas)
48 Bab 48 ( Sambungan Darurat di Atas Selat Malaka)
49 Bab 49 (Barikade Besi dan Tamu di Ambang Pintu)
50 Bab 50 (Dokumen Pengeras dan Rahasia Sang Pengacara)
51 Bab 51 (Koordinat Batam dan Amarah yang Bergeser)
52 Bab 52 (Badai di Harbour Bay dan Wajah di Balik Kedok)
53 Bab 53 (Rencana Cadangan yang Licik)
54 Bab 54 (Retakan di Dasar Tanah dan Keberanian Sang Ibu)
55 Bab 55 (Tembakan Pertama di Ruang Rahasia)
56 Bab 56 (Amarah Sang Penguasa Tahta)
57 Bab 57 ( Di Kamar Utama dan Pengawasan 24 Jam)
58 Bab 58 (Sisi Lembut Sang Pengusaha dan Pemulihan Trauma)
59 Bab 59 (Penyitaan Total dan Pengalihan Takhta Finansial)
60 Bab 60 (Kejutan Tiga Triliun di Atas Ranjang Sutra)
61 Bab 61 (Evaluasi Udara Menuju Sangkar Surya)
62 Bab 62 (Sangkar Surga di Tepi Samudra)
63 Bab 63 (Kantor Mini Sang Ratu Audit)
64 Bab 64 (Kejanggalan di Balik Angka Tiga Triliun)
65 Bab 65 (Identitas di Balik Topeng Kepercayaan)
66 Bab 66 (Sumpah di Keheningan Malam Tropis)
67 Bab 67 (Hukuman di Ruang Kedap Suara)
68 Bab 68 (Getaran Suara di Seberang Samudra)
69 Bab 69 (Dekapan Posesif di Ujung Hari)
70 Bab 70 (Istana Pasir di Tepi Sangkar Surga)
71 Bab 71 (Pelayaran Romantis di Bawah Langit Berbintang)
72 Bab 72 ( Surel Misterius di Tengah Samudra)
73 Bab 73 (Pemburuan di Garis Cakrawala)
74 Bab 74 ( Bayang-Bayang Sang Ilusi)
75 Bab 75 (Jebakan Umpan Sang Ratu)
76 Bab 76 (Peretasan Balik dan Detik-detik Eksekusi)
77 Bab 77 (Suara dari Masa Lalu)
78 promo novel
79 Bab 78 (Perang Siber Dua Kubu)
80 Bab 79 (Sumpah Posesif Sebelum Berburu)
81 Bab 80 (Sebuan Sayap di Tengah Samudra)
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 (Toga dan Kain pel)
2
Bab 2 (Aturan No 14)
3
Bab 3 (Negosiasi di Balik Pintu Tertutup)
4
Bab 4 (Janji di atas kertas dan Malam Pertama)
5
Bab 5 (Jamuan makan malam dan Topeng yang Retak)
6
Bab 6 (Sisi lain dari Sang Es Kutub Utara)
7
Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)
8
Bab 8 ( Perang Angka di ruang Rapat)
9
Bab 9 ( Hadiah dan Hati yang Goyah)
10
Bab 10 (Ancaman dan Skenario Bulan Madu)
11
Bab 11 (Pulau terpencil dan Satu Atap)
12
Bab 12 (Dapur, Debur Ombak dan Kehangatan yang Asing)
13
Bab 13 (Cemburu Sang Kutub Utara)
14
Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
15
Bab 15 (Pagi Tanpa Sekat)
16
Bab 16 (Runtuhnya Benteng di Realitas Jakarta)
17
Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
18
Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)
19
Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)
20
Bab 20 (Suka Cita Sang Konlomerat Utama)
21
Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
22
Bab 22 (Jaring-Jaring yang Mulai Merapat)
23
Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
24
Bab 24 (Murka Sang Es Kutub Utara)
25
Bab 25 (Operasi Mangga Tengah Malam)
26
Bab 26 (Perhatian di Balik Dinding Tawang)
27
Bab 27 (Badai di Ruang Bersalin)
28
Bab 28 (Penerus Tahta dan Tangan yang kaku)
29
Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
30
Bab 30 (Vonis Akhir dan Kedamaian yang Mutlak)
31
Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
32
Bab 32 (Kembali Ke Medan Laga)
33
Bab 33 (Meja Kerja dalam Sangkar Emas)
34
Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
35
Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)
36
Bab 36 (Evaluasi Rasa dan Berkas Akuisisi)
37
Bab 37 (Ruang Merah Muda dan Pelindung Kecil)
38
Bab 38 ( Kepanikan Putaran Kedua)
39
Bab 39 (Tuan Putri Kecil dan Kaka Pelindung)
40
Bab 40 (Proteksi Tiga Lapis dan Tuan Putri Kecil)
41
Bab 41 (Panggilan Sayang Tuan Putri)
42
Bab 42 (Kejadian di Gerbang TK)
43
Bab 43 (Barikade Posesif dan Teguran di Depan Gerbang)
44
Bab 44 Sumpah Darah di Balik Dinding Kastil Wijaya
45
Bab 45 (Pengakuan Berdarah dan Topeng Sang Dalang)
46
Bab 46 (Jejak Darurat di Seberang Selat dan Firasat Sang Istri)
47
Bab 47 (Retakan di Sangkar Emas)
48
Bab 48 ( Sambungan Darurat di Atas Selat Malaka)
49
Bab 49 (Barikade Besi dan Tamu di Ambang Pintu)
50
Bab 50 (Dokumen Pengeras dan Rahasia Sang Pengacara)
51
Bab 51 (Koordinat Batam dan Amarah yang Bergeser)
52
Bab 52 (Badai di Harbour Bay dan Wajah di Balik Kedok)
53
Bab 53 (Rencana Cadangan yang Licik)
54
Bab 54 (Retakan di Dasar Tanah dan Keberanian Sang Ibu)
55
Bab 55 (Tembakan Pertama di Ruang Rahasia)
56
Bab 56 (Amarah Sang Penguasa Tahta)
57
Bab 57 ( Di Kamar Utama dan Pengawasan 24 Jam)
58
Bab 58 (Sisi Lembut Sang Pengusaha dan Pemulihan Trauma)
59
Bab 59 (Penyitaan Total dan Pengalihan Takhta Finansial)
60
Bab 60 (Kejutan Tiga Triliun di Atas Ranjang Sutra)
61
Bab 61 (Evaluasi Udara Menuju Sangkar Surya)
62
Bab 62 (Sangkar Surga di Tepi Samudra)
63
Bab 63 (Kantor Mini Sang Ratu Audit)
64
Bab 64 (Kejanggalan di Balik Angka Tiga Triliun)
65
Bab 65 (Identitas di Balik Topeng Kepercayaan)
66
Bab 66 (Sumpah di Keheningan Malam Tropis)
67
Bab 67 (Hukuman di Ruang Kedap Suara)
68
Bab 68 (Getaran Suara di Seberang Samudra)
69
Bab 69 (Dekapan Posesif di Ujung Hari)
70
Bab 70 (Istana Pasir di Tepi Sangkar Surga)
71
Bab 71 (Pelayaran Romantis di Bawah Langit Berbintang)
72
Bab 72 ( Surel Misterius di Tengah Samudra)
73
Bab 73 (Pemburuan di Garis Cakrawala)
74
Bab 74 ( Bayang-Bayang Sang Ilusi)
75
Bab 75 (Jebakan Umpan Sang Ratu)
76
Bab 76 (Peretasan Balik dan Detik-detik Eksekusi)
77
Bab 77 (Suara dari Masa Lalu)
78
promo novel
79
Bab 78 (Perang Siber Dua Kubu)
80
Bab 79 (Sumpah Posesif Sebelum Berburu)
81
Bab 80 (Sebuan Sayap di Tengah Samudra)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!