Bab 2
Surat Nikah yang Ditelan
Gelap itu tidak datang sekaligus.
Ia merambat dari tepi mata Senja, menutup kamar kotor itu perlahan-lahan, seperti tirai hitam yang ditarik oleh tangan tak terlihat. Suara pecahan kaca di bawah telapak tangannya terdengar jauh. Napasnya sudah bukan napas lagi, hanya gerakan tubuh yang sia-sia, dada naik turun tanpa udara.
Aiden masih mencekik lehernya.
Jari-jari laki-laki itu panas. Kuat. Terlalu kuat.
Senja tidak tahu dari mana tubuhnya menemukan satu gerakan terakhir. Mungkin dari rasa takut. Mungkin dari kemarahan kecil yang belum sempat mati. Tangan kirinya meraba saku celana, mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata.
Yang tersentuh justru amplop cokelat.
Dokumen pernikahan.
Senja menariknya keluar dengan tangan gemetar. Amplop itu robek di ujung karena tertahan kain saku. Ia tidak sempat membuka dengan rapi. Ia hanya merogoh, mengambil buku kecil bersampul merah, lalu mengangkatnya tepat di depan mata Aiden.
Merah itu seperti menampar udara.
Tekanan di lehernya berhenti.
Mata Aiden bergerak.
Untuk pertama kalinya sejak ia menerjang, tatapannya tidak lagi menempel pada wajah Senja, melainkan pada buku kecil itu. Ada jeda satu detik. Dua detik. Lalu tangan yang mencekik leher Senja terlepas.
Senja jatuh ke lantai.
Udara masuk ke paru-parunya seperti api. Ia batuk keras, terbatuk lagi, lalu muntah sedikit cairan asam ke lantai. Lehernya terasa seperti digosok amplas dari dalam. Ia menekan dada dengan satu tangan, sementara tangan lain masih berdarah karena kaca.
Aiden merampas buku nikah itu.
"Merah..." gumamnya.
"Aiden, jangan..."
Ia tidak mendengar.
Atau pura-pura tidak mendengar.
Aiden membuka buku itu, melihat foto mereka yang ditempel berdampingan. Foto Senja diambil tiga hari lalu, wajahnya bengkak, rambutnya diikat asal, matanya seperti orang yang belum tidur. Foto Aiden jelas foto lama, rapi, tampan, memakai jas gelap. Dua orang di kertas yang sama, tapi seperti berasal dari dua kehidupan berbeda.
Aiden menatap foto itu lama.
Lalu ia merobeknya.
"Aiden!"
Suara Senja pecah.
Kertas itu terbelah. Aiden merobek lagi, lebih kecil, lalu memasukkan potongan pertama ke mulutnya.
Senja membeku.
Ia mengunyah.
Pelan.
Seperti anak kecil memakan sesuatu yang dilarang.
"Jangan dimakan!" Senja mencoba bangkit, tapi lututnya lemas. "Itu dokumen penting."
Aiden menoleh padanya dengan mata kosong. "Makan."
Ia memasukkan potongan berikutnya.
Dalam keadaan lain, pemandangan itu mungkin lucu. Suami yang baru ia kenal lima menit lalu mencekiknya sampai hampir mati, lalu memakan buku nikah mereka di lantai kamar yang bau jamur. Tapi dada Senja terlalu sakit untuk tertawa. Yang keluar hanya suara pendek, setengah batuk, setengah tangis.
Ia duduk bersandar pada pintu, memegang lehernya.
Di kulitnya pasti sudah tercetak jari-jari Aiden.
Aiden terus mengunyah sampai sampul merah itu hilang sedikit demi sedikit. Ia tidak memakan semuanya. Beberapa potongan jatuh ke lantai, basah oleh ludah. Tapi bagian penting sudah rusak. Foto, nomor akta, tanda tangan.
Senja menatap serpihan itu.
Selamat, katanya dalam hati. Bahkan bukti bahwa kamu istri seseorang pun tidak bertahan satu jam.
***
Butuh hampir dua puluh menit sampai napasnya kembali normal.
Normal yang baru.
Setiap kali menelan, lehernya nyeri. Telapak tangannya masih berdarah, jadi ia merobek ujung kaus longgar dan membebatnya asal. Ia menemukan ponselnya di bawah koper yang terguling. Layarnya retak sedikit di sudut, tapi masih menyala.
Sinyal satu garis.
Senja tidak berani menelepon. Suaranya tidak akan keluar jelas. Ia mengetik dengan ibu jari gemetar.
Mir, kalau aku mati di sini, lapor polisi.
Ia menatap kalimat itu lama.
Terlalu dramatis?
Lalu ia melihat Aiden di sudut kamar.
Laki-laki itu sudah kembali meringkuk. Potongan kertas masih menempel di bibirnya. Kepalanya menunduk, bahunya naik turun pelan, seperti semua kekerasan tadi tidak pernah terjadi.
Senja menekan kirim.
Pesan itu berputar.
Satu detik. Dua. Lima.
Terkirim.
Ia hampir menangis karena lega.
Balasan Mira belum muncul. Mungkin sinyal putus. Mungkin Mira sedang bekerja. Mungkin semesta memang senang membuatnya menunggu.
Senja memejamkan mata.
Pulang ke Tangerang?
Ia membayangkan Yolanda membuka pintu, melihat lehernya lebam, lalu tersenyum kecil sambil berkata, "Makanya jangan cari masalah." Ia membayangkan Papa duduk di meja makan, meremas tangan sendiri, lalu memulai kalimat dengan "Tapi..."
Tidak.
Kembali ke rumah itu sama saja menyerahkan lehernya kepada orang yang lebih rapi mencekik.
Di sini, setidaknya bahaya terlihat. Kotor, berbau, menggila, tapi terlihat.
Senja membuka mata.
"Aku belum mati," bisiknya.
Aiden tidak bereaksi.
"Dan aku nggak akan mati hari ini."
***
Kunci kamar ternyata ditinggalkan Renata di meja luar, bukan di pintu. Senja baru menyadarinya setelah ia menunggu cukup lama dan mendengar langkah Renata benar-benar pergi dari rumah. Pintu kamar tidak dikunci lagi dari luar. Mungkin tadi hanya klik otomatis. Mungkin Renata sengaja membiarkan.
Senja tidak tahu mana yang lebih menakutkan.
Ia turun ke lantai satu sambil memegang dinding.
Rumah itu terasa lebih besar setelah ia hampir mati. Setiap sudut seperti menyimpan mata. Di dapur, ia menemukan beras dalam wadah plastik, beberapa telur, kecap manis, bawang merah, dan cabai yang mulai layu. Di kulkas ada sayur yang sebagian sudah menguning, serta ayam beku yang belum rusak.
Ia tertawa pelan.
"Oke, Senja. Kamu bisa mati dicekik, tapi jangan mati kelaparan."
Kalimat itu keluar dengan suara serak. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Ia mencuci tangan, membersihkan luka dengan air mengalir sampai perihnya membuat matanya basah, lalu membalut lagi dengan kain bersih dari serbet dapur. Setelah itu ia menanak nasi seadanya, mengiris bawang, mengocok telur, dan membuat nasi goreng paling sederhana yang pernah ia masak.
Aroma kecap manis dan bawang panas mulai mengisi dapur.
Untuk pertama kalinya sejak datang, rumah itu tidak hanya berbau jamur.
Saat ia membawa piring ke lantai dua, Aiden sudah berdiri di ambang kamar.
Senja berhenti tiga anak tangga sebelum sampai.
Tubuhnya otomatis tegang.
Aiden menatap piring di tangannya.
"Makan," gumamnya.
"Iya." Senja menjaga suara tetap rendah. "Ini makanan. Kamu mau?"
Aiden turun satu langkah, lalu berhenti. Matanya tidak menatap Senja. Hanya piring.
Senja meletakkan piring itu di lantai, lalu mundur.
Begitu ia mundur, Aiden bergerak.
Ia jongkok di depan piring dan makan dengan tangan kosong. Bukan seperti orang yang menikmati makanan, melainkan seperti seseorang yang takut makanan itu akan diambil kembali. Nasi jatuh ke lantai. Telur menempel di jarinya. Ia memasukkan terlalu banyak sekaligus sampai batuk.
"Pelan-pelan," kata Senja tanpa sadar.
Aiden tidak peduli.
Senja duduk di anak tangga, menjaga jarak.
Rasa takut masih ada. Bekas jari di lehernya berdenyut setiap kali ia bernapas. Tapi melihat Aiden makan seperti itu membuat bagian lain di dadanya sakit.
Orang ini hampir membunuhnya.
Orang ini juga jelas sudah lama tidak diberi makan seperti manusia.
Keduanya bisa benar pada saat yang sama. Dan itu membuat Senja bingung harus membencinya atau mengasihaninya.
Ketika piring itu kosong, Aiden menjilat ujung jarinya. Lalu ia mengambil satu butir nasi yang jatuh di lantai dan memasukkannya ke mulut.
Senja memalingkan wajah.
Matanya panas.
***
Sore mulai turun ketika Senja membersihkan kamar.
Ia tidak melakukan semuanya. Tubuhnya terlalu lelah, tangannya sakit, dan Aiden bisa tiba-tiba bergerak setiap kali suara sapu terlalu dekat dengannya. Jadi ia memilih yang paling penting: pecahan kaca, sisa kertas basah, piring kotor, kain yang berjamur.
Aiden duduk di sudut, memeluk lutut, mengawasinya tanpa benar-benar terlihat mengawasi.
Saat Senja mengangkat meja kecil yang tadi terguling, ia melihat sesuatu di kusen pintu.
Goresan-goresan tipis.
Awalnya ia mengira itu bekas kayu tua. Tapi setelah didekati, goresan itu terlalu teratur. Satu garis. Satu garis lagi. Lima garis disilang. Lalu mulai lagi.
Senja menyentuhnya dengan ujung jari.
Satu kelompok.
Dua.
Tiga.
Ia menghitung sampai napasnya tertahan.
Lebih dari tiga ratus.
Lehernya yang lebam terasa dingin.
"Kamu..." Ia menoleh ke Aiden. "Kamu yang bikin ini?"
Aiden mengunyah ujung kuku sendiri.
Tidak menjawab.
Senja menatap garis-garis itu lagi.
Tiga ratus hari lebih.
Seseorang yang benar-benar kehilangan akal tidak akan menandai hari serapi ini. Atau mungkin akan. Senja tidak tahu. Yang ia tahu, setiap garis di kayu itu terasa seperti jeritan yang tidak pernah keluar dari mulut.
Ia turun membawa piring kosong.
Di tangga, langkahnya berhenti.
Dari kamar di lantai dua, terdengar suara rendah.
Senja menoleh.
Aiden sedang bersenandung.
Nada itu pelan, hampir tertelan suara angin dari jendela rusak. Tapi ia lengkap. Ada awal, ada jeda, ada pengulangan yang teratur. Bukan gumaman acak. Bukan suara anak kecil.
Sebuah lagu.
Senja berdiri di anak tangga dengan piring kosong di tangan, kulit lehernya masih nyeri oleh bekas cekikan.
Satu pertanyaan naik, dingin dan tajam, menembus semua rasa takutnya.
Siapa sebenarnya orang ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments