Bab 3
Gigitan di Siku
Senja terbangun karena suara benturan.
Keras. Tumpul. Dekat.
Matanya terbuka sebelum pikirannya benar-benar sadar. Tubuhnya langsung menegang di lantai kamar, di atas kain tipis yang semalam ia jadikan alas tidur. Lehernya masih sakit. Setiap tarikan napas mengingatkan bahwa jari-jari Aiden pernah menutup jalur udara di sana.
Suara itu terdengar lagi.
Bruk.
Senja menoleh ke ranjang.
Aiden tidak ada di atasnya.
"Aiden?"
Ia bangkit terlalu cepat. Kepalanya berkunang-kunang, tubuh beratnya hampir membuat lututnya menyerah. Tapi begitu ia melihat laki-laki itu tergeletak di lantai dekat kaki ranjang, semua rasa pusing tersingkir.
Aiden tengkurap miring. Rambut kusut menutupi wajahnya. Di keningnya ada darah.
"Aiden!"
Senja merangkak lebih dulu sebelum berhasil berdiri. Ia tahu ia seharusnya takut. Tadi malam laki-laki ini hampir membunuhnya. Tapi darah di lantai selalu membuat tubuhnya bergerak lebih cepat daripada ketakutan.
Naluri yang dulu ia pelajari di ruang praktikum kembali menyala.
"Jangan gerak."
Aiden mengerang. Tangannya mencakar lantai, seperti hendak menjauh.
"Aku nggak akan sakitin kamu." Suara Senja serak, tapi ia memaksa tetap pelan. "Kepala kamu berdarah. Aku cuma mau tekan lukanya."
Ia mengambil kaus lamanya dari koper, merobek bagian bawahnya dengan susah payah, lalu menekan kain itu ke kening Aiden. Darah meresap cepat. Luka itu tidak terlalu dalam, tapi cukup membuat perutnya dingin.
Aiden meronta sekali.
Senja hampir terlempar ke samping.
"Diam!" Suaranya keluar lebih tegas dari yang ia rencanakan. "Kalau kamu gerak terus, lukanya makin parah."
Aiden berhenti.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat Senja menahan napas.
Ia patuh?
Atau kebetulan?
Senja tidak tahu. Ia tidak sempat memikirkan itu. Ia menekan luka sampai perdarahan melambat, lalu memeriksa pupil sebisanya. Cahaya kamar buruk, tapi Aiden tidak tampak pingsan. Tidak ada muntah. Tidak ada kejang.
"Kamu jatuh dari ranjang?" gumam Senja.
Aiden menatap kosong ke arah dinding.
"Jatuh..." ulangnya.
Senja tidak bisa memastikan apakah itu jawaban atau hanya tiruan.
***
Menjelang siang, Aiden tertidur.
Atau pura-pura tidur.
Senja duduk di samping ranjang hampir setengah jam, menunggu napasnya stabil. Keningnya sudah dibalut kain. Wajahnya masih tertutup rambut panjang yang kusut dan berminyak. Bau tubuhnya lebih tajam ketika Senja berada sedekat ini, campuran keringat lama, debu, dan sesuatu yang pahit seperti obat murah.
Ia mengambil baskom dari kamar mandi, mengisinya dengan air hangat, lalu kembali dengan handuk kecil.
"Aku bersihin sedikit," bisiknya, walau Aiden tampak tidak sadar.
Tidak ada jawaban.
Senja mulai dari tangannya.
Jari-jari Aiden panjang. Di balik kuku yang kotor, bentuk tangannya tidak kasar seperti orang jalanan. Ada bekas kapalan tipis di sisi jari tengah, seperti orang yang sering menulis. Di pergelangan tangannya ada memar lama. Di lengan bawah, garis luka tipis bertumpuk dengan bekas baru yang lebih gelap.
Semakin banyak ia membersihkan, semakin sedikit ia mengerti.
Orang sakit bisa melukai dirinya sendiri.
Tapi luka seperti ini?
Ada yang bulat seperti bekas puntung rokok. Ada yang memanjang seperti terkena sabuk atau kabel. Ada memar di sisi tulang rusuk yang warnanya sudah berubah kuning kehijauan. Tidak semua berasal dari jatuh.
Rahang Senja mengeras.
Semalam ia hampir mati di tangan Aiden.
Hari ini ia melihat bahwa seseorang mungkin sudah lama menyiksa Aiden.
Kemarahan itu tidak tahu harus pergi ke mana.
Ia mengganti air dua kali. Pelan-pelan, wajah Aiden mulai terlihat. Tulang pipinya tegas. Hidungnya lurus. Bibirnya pucat dan pecah-pecah. Bahkan dalam keadaan kusam, wajah itu punya sisa ketampanan yang aneh, seperti patung mahal yang dilempar ke gudang bertahun-tahun.
Senja mengusap rambut dari keningnya.
Ia tidak ingin mengakui bahwa dadanya sempat berhenti satu detik.
"Kamu sebenarnya siapa?" bisiknya.
Aiden tidak menjawab.
***
Saat Senja membersihkan lengan kirinya, handuk di tangannya berhenti.
Di bagian dalam siku Aiden, tepat di lekukan kulit yang biasanya jarang diperhatikan orang, ada bekas luka berbentuk setengah lingkaran.
Putih.
Rapi.
Seperti jejak gigi.
Jantung Senja memukul begitu keras sampai ia mendengar darah sendiri di telinga.
Ia mendekatkan wajah.
Bekas itu sudah lama. Kulit di sekelilingnya halus, tanda lukanya terjadi bertahun-tahun lalu. Tapi bentuknya masih jelas. Dua lengkung gigi depan sedikit tidak rata. Bagian kanan lebih dalam.
Tangan Senja mulai gemetar.
Tidak mungkin.
Ia meletakkan lengan Aiden di pangkuannya, lalu tanpa sadar menyentuh bibir sendiri dengan lidah.
Tiga tahun lalu.
Pasar malam Tangerang.
Bau sate, knalpot motor, dan hujan yang baru berhenti.
Senja waktu itu masih 55 kilogram. Masih bisa berlari tanpa napas putus. Masih memakai jas almamater UI dengan bangga karena baru masuk kedokteran. Di dalam tasnya ada uang operasi Mama, uang yang ia kumpulkan dari pinjaman saudara, tabungan kecil Papa, dan gelang emas terakhir milik Mama.
Dua laki-laki dengan motor bebek merampas tas itu di gang samping pasar.
Senja mengejar sambil berteriak sampai tenggorokannya sakit.
Salah satu dari mereka turun, mendorongnya ke dinding, dan mengangkat tangan. Sebelum pukulan itu jatuh, seseorang menarik laki-laki itu dari belakang. Seorang pria muda berbaju gelap. Tinggi. Cepat. Wajahnya tidak sempat Senja lihat jelas karena lampu pasar berkedip dan hujan membuat segalanya berkilau.
Perkelahian itu kacau.
Ada tangan yang menarik lengan Senja. Ada tubuh yang menabrak bahunya. Dalam panik, Senja menggigit lengan yang paling dekat dengan mulutnya.
Keras.
Sampai ia merasakan rasa besi darah di lidah.
Orang itu tidak berteriak. Hanya menarik napas tajam.
Ketika semuanya selesai, tasnya kembali. Uang operasi Mama selamat. Dua perampok kabur. Pria muda itu berdiri beberapa langkah darinya, tangan kirinya berdarah di bagian siku.
"Mas, tunggu. Aku..."
Ia ingin berterima kasih.
Pria itu hanya menoleh sebentar.
Lampu pasar menyala tepat satu detik, cukup untuk memperlihatkan rahang tegas dan mata gelap yang tenang.
Lalu ia pergi.
Senja tidak pernah tahu namanya.
Sampai sekarang.
***
Napas Senja patah.
Ia mengangkat lengan Aiden dengan kedua tangan, lalu mendekatkan mulutnya ke bekas luka itu. Bukan untuk menggigit lagi. Hanya untuk membandingkan. Giginya gemetar ketika ia menempelkan susunan giginya di atas bekas putih itu.
Pas.
Lengkungnya pas.
Bagian kanan yang dulu lebih dalam, pas.
Senja menarik tubuhnya menjauh seolah tersengat.
"Kamu..."
Kata itu pecah.
Air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya. Satu tetes mengenai lengan Aiden. Lalu satu lagi.
Laki-laki yang mencekiknya semalam adalah orang yang pernah menyelamatkan uang operasi Mama.
Laki-laki kotor yang makan nasi dengan tangan di lantai adalah orang yang dulu berdiri di gang pasar malam dengan darah di siku dan tidak meminta apa pun.
Senja menutup mulut dengan punggung tangan.
Tidak ada suara tangis yang keluar. Hanya bahunya yang bergetar. Ia takut kalau bersuara, Aiden akan bangun, dan ia belum siap menghadapi mata kosong itu dengan rasa terima kasih yang tiba-tiba terlalu besar.
"Kenapa bisa jadi begini?" bisiknya.
Aiden tidur diam.
Senja memegang lengan itu lebih hati-hati, seolah bekas luka tersebut adalah benda yang bisa pecah.
Semalam ia bertahan karena tidak punya tempat pulang.
Hari ini alasan itu berubah.
Ia tidak tahu apakah Aiden benar-benar sakit atau sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tidak tahu siapa yang melukai tubuhnya. Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan selamat tinggal di rumah ini.
Tapi ia tahu satu hal.
Ia pernah berutang nyawa.
Dan sekarang, orang itu terkurung di hadapannya.
***
Sore hari, Senja turun ke dapur untuk membuat bubur.
Tangannya masih gemetar, tapi langkahnya lebih pasti daripada kemarin. Ia mencuci beras, menambahkan air lebih banyak, memasukkan sedikit garam dan potongan ayam kecil yang ia temukan di freezer. Saat panci mulai mendidih, ia berdiri di depan kompor dengan mata merah dan leher lebam, merasa seperti seseorang yang baru saja diberi tugas oleh masa lalu.
Ia tidak akan pergi.
Setidaknya belum.
Setidaknya sampai ia tahu siapa yang mengubah pria di pasar malam itu menjadi bayangan di kamar gelap.
Setelah memberi Aiden bubur dan mengganti kain di keningnya, Senja mencuci baju kotor yang tadi ia kumpulkan. Halaman belakang ditumbuhi rumput liar, tapi ada tali jemuran yang masih bisa dipakai. Angin sore membawa bau tanah lembap.
Ia menggantung kemeja robek Aiden satu per satu.
Saat kain terakhir dijepit, kulit belakang lehernya tiba-tiba meremang.
Perasaan itu datang begitu jelas sampai Senja berhenti bernapas.
Ada yang melihatnya.
Ia menoleh cepat ke lantai dua.
Jendela kamar Aiden tertutup. Tirainya diam.
Tapi di jendela kamar sebelah, tirai cokelat yang sejak kemarin tampak mati itu bergerak pelan.
Senja berdiri kaku di bawah jemuran, tangan masih memegang jepitan plastik.
Aiden ada di tempat tidur. Ia baru saja melihatnya tertidur.
Angin bertiup dari belakang Senja, bukan dari dalam rumah.
Tirai itu bergerak lagi.
Pelan.
Seperti seseorang baru saja mundur dari baliknya.
Senja merasakan darah di wajahnya turun.
Di rumah ini, rupanya ia dan Aiden bukan satu-satunya yang bernapas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments