Takdir yang Tertukar

Takdir yang Tertukar

Episode 1

Bab 1

Pengantin yang Tak Diinginkan

Koper tua itu turun dari bagasi Grab.

Rodanya sudah pincang sebelah. Saat Senja menariknya melewati aspal depan gerbang, koper itu mengeluarkan bunyi seret yang kasar, seperti kuku menggaruk lantai. Sopir Grab menoleh lewat kaca spion, ragu apakah ia harus membantu. Tapi setelah melihat pagar besi berkarat di depan mereka dan rumah besar yang tampak seperti lama ditinggalkan, ia memilih cepat-cepat menekan tombol selesai di aplikasinya.

"Mbak, sudah ya."

Senja mengangguk. "Iya, Pak. Terima kasih."

Mobil itu pergi, meninggalkan bau bensin tipis dan debu yang naik di belakang ban.

Tubuh 110 kilogramnya terasa seperti beban yang sengaja diikatkan ke setiap tulang. Kaus longgar yang ia pakai menempel basah di punggung. Napasnya pendek hanya karena menurunkan koper dari mobil dan berjalan tiga langkah ke depan pagar. Di layar ponsel, sinyal tinggal satu garis, naik turun seperti ikut ragu berada di tempat ini.

Ia menekan tombol voice note untuk Mira.

"Mir, aku udah sampai." Suaranya keluar lebih serak dari yang ia kira. "Rumahnya... kayak haunted house. Kalau besok aku nggak bales chat, tolong jangan nunggu tiga hari buat panik."

Ia melepas tombol kirim sebelum suaranya pecah.

Di hadapannya, rumah itu berdiri di kawasan Kemang yang seharusnya mahal. Tapi halaman depannya dipenuhi rumput liar setinggi pinggang. Cat dinding mengelupas seperti kulit sakit. Di balkon lantai dua, tirai cokelat kusam bergantung miring, bergerak pelan diterpa angin, seolah ada seseorang yang baru saja mengintip lalu mundur.

Senja menelan ludah.

Hari ini, ia resmi menjadi istri Aiden Gu.

Laki-laki yang belum pernah ia temui.

Laki-laki yang kata orang sudah tidak waras.

***

Pagi tadi, Papa tidak berani menatap matanya ketika menyerahkan amplop cokelat berisi dokumen pernikahan.

"Senja, ini kesempatan keluarga kita," kata Hendra, suaranya kecil, seperti selalu. "Toko bahan bangunan di Tangerang itu hampir tutup. Kalau kerja sama dengan keluarga Gu jalan, kita semua bisa selamat."

Kita semua.

Senja hampir tertawa saat mendengarnya.

Sejak Mama meninggal dua tahun lalu, kata "kita" di rumah itu selalu berarti Hendra, Yolanda, dan Nita. Senja hanya dihitung ketika ada tagihan, rasa malu, atau sesuatu yang bisa dijual.

Yolanda berdiri di belakang Hendra pagi itu, memakai daster sutra warna peach dan senyum lembut yang hanya keluar di depan orang lain.

"Kamu jangan berpikir buruk dulu," ucapnya. "Aiden memang sakit, tapi keluarga Gu itu keluarga besar. Kamu akan hidup enak. Lebih baik daripada terus jadi beban di rumah."

Beban.

Senja menatap gelas jus jeruk di meja makan. Dua tahun lalu, Yolanda selalu memaksanya minum jus seperti itu setiap pagi. Katanya vitamin, agar Senja kuat kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Lalu berat badannya naik. Lima kilo. Sepuluh kilo. Dua puluh. Jerawat tumbuh di wajah, siklus haidnya kacau, tubuhnya membengkak sampai ia tidak sanggup naik tangga kampus tanpa berhenti.

Ketika ia meminta ke dokter, Yolanda menangis di depan Papa.

"Aku sudah merawat anakmu, Mas. Kalau dia sakit, kenapa aku yang selalu disalahkan?"

Akhirnya Senja cuti kuliah. Lalu tinggal di rumah. Lalu menjadi orang yang semua orang lihat dengan kasihan atau jijik.

Pagi tadi, Hendra hanya berkata, "Ini juga demi kamu."

Kalimat itu yang membuat Senja berhenti membantah. Di rumah itu, tidak ada yang akan menyelamatkannya.

***

Gerbang berdecit ketika dibuka dari dalam.

Seorang perempuan berusia lima puluhan muncul. Ia memakai kerudung abu-abu tua, kemeja panjang, dan wajah yang nyaris tidak menyimpan ekspresi. Matanya menatap Senja dari kepala sampai kaki, tidak menghina, tapi juga tidak menyambut.

"Mbak Senja?"

"Iya. Bu Renata?"

Perempuan itu mengangguk. "Masuk."

Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat datang. Senja menarik kopernya melewati gerbang. Roda pincang itu tersangkut batu, membuat tubuhnya hampir terdorong ke depan. Lututnya berdenyut, tapi ia menggigit bibir dan menarik lagi.

Renata berjalan di depan tanpa menoleh.

Bagian dalam rumah lebih buruk daripada halaman. Udara lembap menampar wajah Senja begitu pintu utama dibuka. Bau debu, kain lama, dan jamur bercampur jadi satu. Sarang laba-laba menggantung di sudut plafon. Lantai marmer kini buram tertutup lapisan abu tipis.

"Beliau di lantai dua," kata Renata.

"Beliau... maksudnya Aiden?"

Renata menoleh sebentar. "Suami Mbak."

Kata itu membuat kulit tengkuk Senja meremang.

Di amplop cokelat tadi, ada fotokopi akta nikah sipil dan surat pemberkatan yang diurus keluarga Gu dengan terlalu rapi. Semua sah. Semua legal. Semua dingin seperti transaksi.

Renata menunjuk ke dapur. "Bahan makanan dikirim seminggu sekali. Air galon ada dua. Gas masih ada. Kalau habis, tulis di kertas."

"WiFi?"

"Tidak ada."

"Sinyal?"

"Kadang di dekat pagar belakang."

Senja menatapnya. "Saya boleh keluar?"

Renata diam cukup lama sampai jawaban itu terasa sudah jelas.

"Untuk sementara, lebih baik tidak."

"Lebih baik menurut siapa?"

Mata Renata turun ke koper Senja, lalu kembali ke wajahnya. "Menurut orang yang masih ingin Mbak hidup tenang."

Kalimat itu pelan, tapi membuat tangan Senja dingin.

Sebelum ia sempat bertanya lagi, dari lantai dua terdengar bunyi sesuatu diseret. Berat. Lambat. Lalu hening.

Renata tidak bereaksi.

"Ikut saya."

***

Tangga menuju lantai dua berdebu. Setiap langkah membuat napas Senja makin berat. Ia berusaha tidak terdengar ngos-ngosan di belakang Renata, tapi paru-parunya panas. Keringat mengalir dari pelipis ke rahang.

Di ujung koridor, ada satu pintu kayu gelap.

Pintu itu penuh goresan.

Renata berhenti di depannya. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit. Bukan takut. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat luka yang sama.

"Jangan berdiri terlalu dekat kalau dia belum tenang," katanya.

"Dia sering menyerang?"

Renata tidak menjawab langsung.

Ia hanya membuka kunci.

Bau yang keluar dari kamar itu membuat perut Senja naik. Bau keringat basi, obat merah lama, kain lembap, dan makanan busuk. Cahaya masuk hanya dari celah tirai. Di lantai ada piring plastik terbalik, gelas pecah, potongan kain, dan kertas yang sudah diremas-remas.

Di sudut kamar, seseorang meringkuk.

Senja membutuhkan beberapa detik untuk percaya bahwa itu manusia.

Laki-laki itu tinggi, tapi tubuhnya dilipat seperti anak ketakutan. Rambut panjang kusut menutupi hampir seluruh wajah. Bajunya robek di bagian bahu. Di lengan yang terlihat, ada bekas lebam kekuningan dan garis-garis luka lama. Jari-jarinya kotor, kukunya panjang, mencengkeram lutut sendiri.

"Pak Aiden," panggil Renata datar.

Kepala laki-laki itu bergerak sedikit.

Senja menahan napas.

Inikah golden boy keluarga Gu yang dulu fotonya pernah muncul di majalah bisnis? Inikah pewaris yang katanya pernah kuliah di luar negeri, berbicara tiga bahasa, dan disiapkan menjadi Direktur Utama?

Renata menaruh kunci di meja dekat pintu.

"Saya datang lagi minggu depan."

"Tunggu." Senja langsung menoleh. "Bu, saya ditinggal begitu saja?"

"Mbak istrinya."

"Saya bahkan belum bicara dengan dia."

Renata menatapnya lama. "Justru itu. Bicara pelan."

Lalu ia pergi.

Pintu tertutup di belakang Senja.

Bunyi klik kunci dari luar membuat dada Senja kosong.

"Bu Renata?"

Tidak ada jawaban.

Senja memutar gagang pintu. Terkunci.

Panik naik sampai tenggorokannya. Ia memukul pintu sekali, tidak terlalu keras, karena sebagian dirinya takut membangunkan sesuatu di sudut kamar.

"Bu Renata!"

Di belakangnya, lantai berderit.

Senja membeku.

Ketika ia menoleh, Aiden sudah berdiri.

Tubuhnya lebih tinggi dari yang ia kira. Rambutnya menutupi mata, tapi dari celah kusut itu Senja melihat kilatan hitam yang tidak kosong. Hanya sekejap. Terlalu cepat. Lalu wajah itu kembali liar.

"Jangan..." Senja mengangkat kedua tangan. "Aku tidak akan menyakitimu."

Aiden memiringkan kepala.

"Aku Senja," katanya pelan, berusaha menjaga suara tetap lembut meski lututnya gemetar. "Aku... istrimu."

Kata terakhir itu bahkan terdengar asing di telinganya sendiri.

Aiden menatapnya.

Lalu ia menerjang.

Senja tidak sempat berteriak. Punggungnya menghantam pintu. Udara terlempar keluar dari paru-parunya. Tangan Aiden mencekik lehernya, besar dan kuat, terlalu kuat untuk seseorang yang tampak rusak seperti itu.

"Ai... den..."

Jari-jarinya mencakar pergelangan tangan laki-laki itu. Koper tua di samping pintu terguling, isinya berantakan. Botol air mineral jatuh dan menggelinding. Senja menendang, tapi tubuhnya berat, gerakannya lambat. Aiden menekan lebih keras.

Dunia menyempit.

Ia meraih apa pun di dekatnya. Tangan kanannya menyentuh meja kecil, menyenggol gelas, lalu gelas itu jatuh dan pecah. Pecahan kaca menusuk telapak tangannya ketika ia berusaha menopang tubuh.

Rasa sakit meledak.

Tapi lehernya lebih sakit.

Napasnya tersangkut, tidak masuk, tidak keluar. Suara yang keluar dari mulutnya hanya desis rusak. Mata Aiden dekat sekali sekarang. Di balik rambut kusut itu, Senja melihat sesuatu yang aneh.

Bukan kegilaan.

Amarah.

Atau ketakutan yang terlalu lama dipaksa menjadi amarah.

"Aku..." Senja berusaha bicara, tapi tidak ada udara.

Pandangan mulai buram. Wajah Mama muncul sebentar di kepalanya, lalu hilang. Disusul meja makan rumah Tangerang, suara Yolanda, mata Papa yang selalu menghindar.

Jadi begini akhirnya?

Dijual oleh keluarga sendiri, lalu mati di tangan suami yang bahkan belum mengenal namanya?

Jari-jari Senja melemah.

Darah dari telapak tangannya menetes ke lantai.

Ia mendengar sesuatu dari dalam lehernya. Bunyi kecil, rapuh, seperti ranting diinjak dalam gelap.

Lalu semua cahaya mulai padam.

Terpopuler

Comments

Lestari Ami'ne Zia

Lestari Ami'ne Zia

rekomended kayanya cerita nya dr awal bagus

2026-05-24

2

Lestari Ami'ne Zia

Lestari Ami'ne Zia

rekomended kayanya cerita nya dr awal bagus

2026-05-24

0

Soraya

Soraya

hadir thor

2026-05-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
Episodes

Updated 180 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!