Kelahiran Penerus Cosa Nero

Amoera yang terengah-engah mencoba mengalihkan pandangannya pada Lula, memberi isyarat agar pelayan itu memeriksa apa yang sedang terjadi. Lula melangkah mendekati dokter yang tengah sibuk memberikan pertolongan pertama, mencoba menepuk-nepuk punggung kecil bayi itu agar mengeluarkan suara. Namun sayang, tubuh mungil itu tetap bergeming. Kulitnya tampak pucat kebiruan, seolah tidak pernah ada denyut kehidupan di dalamnya sejak awal. Air mata Lula seketika jatuh. Ia berbalik dan menatap Amoera sambil menggelengkan kepalanya perlahan dengan tatapan penuh duka.

Amoera tahu ada yang salah. Ikatan batin sebagai seorang ibu menembus batas keheningan itu, hatinya hancur berkeping-keping. Begitu melihat gelengan kepala Lula, tangis Amoera pecah seketika, meratapi takdir bayinya yang malang.

Brak!

Pintu kamar mendadak terbuka dengan kasar. Leon D'Alterio melangkah masuk dengan aura intimidasi yang pekat. Pakaian hitamnya masih ternoda oleh cipratan darah segar, dan terdapat sebuah luka goresan baru di pipinya, sebuah tanda bahwa ia baru saja memenangkan peperangan besar di luar sana.

"Apa bayinya sudah lahir?" tanya Leon dengan nada suara datar tanpa emosi, seolah baru saja menanyakan hal yang sepele.

"Su-sudah, Tuan ...," jawab salah seorang dokter dengan suara bergetar ketakutan.

Leon melayangkan pandangannya ke arah dua bayi tersebut. Salah satu bayi masih berada di dalam gendongan dokter, sementara bayi yang satunya lagi telah diletakkan di dalam boks bayi khusus. Leon melangkah mendekati dokter yang memegang bayi yang diam, lalu menatapnya dengan kening berkerut. Bayi di dalam boks terus menangis dengan kencang, sedangkan bayi di hadapannya ini sama sekali tidak bersuara.

"Kenapa dia tidak menangis?" tanya Leon, nadanya merendah, namun sarat akan ancaman.

"Tuan ... maafkan kami. Kami tidak tahu jika bayi kedua ini ternyata sudah meninggal di dalam kandungan," ucap sang dokter dengan kepala tertunduk dalam. "Bayinya tidak dapat diselamatkan, bahkan sejak pertama kali dikeluarkan."

"Apa?! Bagaimana bisa?!" sentak Leon brutal. Tatapannya menajam bagai mata pisau, membuat atmosfer kamar seketika membeku. "Bukankah selama ini kalian mengatakan bahwa kedua bayiku sehat?! Bagaimana bisa kalian seceroboh ini hingga membuat salah satu penerusku tiada, hah?!"

Seluruh orang di dalam ruangan itu menciut ketakutan. Kedua dokter itu gemetar hebat, tahu betul bahwa Leon bisa saja mencabut nyawa mereka detik ini juga tanpa ragu. Namun, Leon tidak melanjutkan amarahnya. Pria itu berbalik dan melangkah mendekati boks bayi tempat putranya yang hidup tengah menangis keras. Ia menatap bayi mungil itu dengan pandangan yang dalam.

"Bayi ini ... laki-laki? Mereka kembar laki-laki?" tanya Leon memastikan.

"I-iya, Tuan. Keduanya laki-laki," jawab dokter dengan sisa keberaniannya.

Leon menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang mengerikan. "Setidaknya ... masih ada satu penerusku yang bertahan hidup untuk memimpin Cosa Nero," bisik Leon pelan.

Kalimat dingin itu merayap masuk ke telinga Amoera yang tengah sekarat di atas ranjang. Di tengah rasa sakit yang mendera fisik dan batinnya yang hancur karena kehilangan salah satu buah hatinya, ia menatap punggung pria kejam itu dengan dendam yang membara.

"Baj1ngan ...," desis Amoera lirih, sebelum akhirnya kegelapan total merenggut kesadarannya dan membuatnya jatuh pingsan.

.

.

.

.

Amoera perlahan mengerjapkan matanya yang terasa berat. Ingatan tentang rasa sakit yang merobek tubuhnya beberapa saat lalu berputar kembali bak kaset rusak. Detik berikutnya, jantung Amoera berdegup kencang saat menyadari ada tubuh mungil yang terbaring kaku tepat di sebelah lengan kirinya.

Dengan napas tertahan, wanita itu beranjak duduk meski rasa perih di perut bawahnya luar biasa menyiksa. Jari-jemarinya mencoba mengelus dada bayi kecil yang terpejam itu. Namun, kulit itu terasa dingin. Dada mungil itu tetap diam, tanpa ada debar kehidupan yang berdenyut di sana.

"Bayi itu tidak berhasil selamat, akibat kecerobohanmu sendiri," suara berat tiba-tiba memotong kesunyian.

Leon berdiri di kegelapan sudut kamar, melangkah maju dengan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. "Bisa-bisanya kamu tidak sadar jika ada yang salah dengan kandunganmu?" lanjut pria itu dingin.

Amoera membeku. Kalimat Leon menghantam relung hatinya yang terdalam. Air matanya kembali luruh, mengalir deras membasahi pipi tanpa bisa ia cegah. Wajah mungil bayi yang tampak tertidur abadi itu membuat batin Amoera teriris hebat. Dengan penuh rasa cinta yang bercampur keputusasaan, ia meraih tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Ia menggendongnya dengan amat hati-hati, lalu mengecup keningnya dengan begitu lembut.

"Untungnya, masih ada bayi yang lain. Jika tidak, waktu penahananmu di tempat ini akan jauh lebih panjang," ucap Leon datar. Tatapan matanya yang sehitam jelaga menatap lurus pada Amoera, tanpa ada secercah pun rasa kasihan terhadap wanita yang baru saja kehilangan separuh jiwanya tersebut.

Amoera menarik napas panjang dan dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga diri dan kekuatannya yang telah hancur. Ia menghentikan isaknya, lalu mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Leon yang tak berdasar.

"Bisa aku bawa bayi ini? Biarkan aku menguburkannya sendiri," ucap Amoera dengan suara yang penuh sesak oleh kepedihan.

"Silahkan. Lagipula bayi itu tak lagi bernyawa. Aku tidak membutuhkannya," sahut Leon kejam, tanpa secuil pun belas kasih untuk darah dagingnya yang telah tiada. Bagi seorang pemimpin mafia sepertinya, sesuatu yang tidak berguna tidak layak untuk dipertahankan.

Amoera mengangguk pelan. Dengan tubuh yang masih lemas, ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Kedua lengannya mendekap erat tubuh bayinya yang kaku. Melihat pergerakan nekat wanita itu, Leon kembali angkat bicara.

"Tunggu matahari terbit. Kamu baru beristirahat setengah jam pasca melahirkan. Aku tidak mau dinilai terlihat kejam oleh wanita yang baru saja melahirkan," ucap Leon dingin.

Mendengar hal itu, satu sudut bibir Amoera terangkat, membentuk senyuman sinis yang sarat akan kebencian. Wanita itu menoleh, menatap Leon dengan pandangan tajam.

"Tidak mau terlihat kejam?" desis Amoera rendah. "Dengan kamu menculikku dan membalaskan dendam masa lalumu padaku, kamu sudah menjadi pria paling kejam di dunia ini, Leon."

Amoera membalikkan tubuhnya, menolak untuk menatap pria itu lebih lama lagi. "Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang, aku pergi."

Ia mulai melangkah tertatih-tatih keluar dari kamar. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di setiap persendian tubuhnya, namun rasa sakit itu tidak ia pedulikan sama sekali. Dorongan untuk segera keluar dari neraka ini jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya. Leon sempat berniat melangkah untuk mengejarnya, berniat menahan wanita keras kepala itu sampai pagi tiba. Namun, langkah pria itu mendadak tertahan.

Suara tangisan bayi yang sangat kencang tiba-tiba pecah dari dalam boks bayi di sudut ruangan. Putra mereka yang hidup terbangun, menangis histeris seolah tahu bahwa ibu kandungnya sedang melangkah pergi meninggalkannya selamanya.

Amoera mendengar jeritan tangis bayinya yang menggema memilukan. Langkah kaki Amoera sempat terhenti di ambang pintu, hatinya terasa seperti diremas kuat. Namun, ia memejamkan mata dan kembali berjalan, mempererat dekapannya pada bayinya yang sudah tak bernyawa di pelukan.

"Tunggu Mommy, sayang ... tunggu. Mommy pasti akan kembali untuk mengambilmu dari pria kejam itu," bisik Amoera dalam hatinya yang paling dalam.

.

.

.

.

Leon rupanya telah menyiapkan sebuah mobil hitam untuk mengantar Amoera keluar dari area mansion yang terletak jauh di dalam hutan belantara tersebut. Di dekat mobil yang terparkir di halaman, seorang pria paruh baya membungkuk hormat, lalu membukakan pintu belakang untuk Amoera.

Namun, tepat saat Amoera bersiap melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kendaraan, sebuah suara terengah-engah dari arah belakang menghentikan gerakannya.

"Queen, tunggu!" seru suara itu.

Amoera menoleh cepat. Lula, tampak berlari menyusulnya dengan napas yang memburu. Tanpa membuang waktu, Amoera langsung memeluk wanita paruh baya itu dengan erat, menumpahkan segala rasa terima kasih yang tak sempat ia ucapkan.

"Lula ...,"

"Queen, aku akan ikut denganmu. Aku sudah meminta Tuan Leon untuk memecatku dari sini. Aku ingin ikut dan mengabdi bersamamu saja," ucap Lula dengan tatapan penuh harap. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang mulai berkerut, sementara Amoera hanya bisa menatapnya dengan tangis tanpa suara.

"Tidak bisa, Lula. Kamu harus tetap tinggal di sini," ucap Amoera dengan suara berbisik, sementara air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang pucat. "Jaga putraku ... jaga dia baik-baik sampai aku kembali dan mampu membawanya pergi dari tempat ini. Jaga dia untukku, aku mohon. Jangan biarkan iblis itu membuat putraku tumbuh menjadi iblis kejam sepertinya. Tolong, Lula ... jangan biarkan itu terjadi."

Lula terisak semakin keras, dadanya naik turun menahan kesedihan yang mendalam. "Queen ...,"

"Lula, tolong titip ini." Amoera dengan cepat melepas kalung perak yang melingkar di lehernya, lalu meraih tangan Lula dan meletakkannya di atas telapak tangan pelayan itu.

"Berikan ini pada putraku jika waktunya sudah tepat. Ini adalah kalung yang dulu diberikan oleh ibu kandungku sendiri. Kenalkan aku pada putraku lewat kalung ini," ucap Amoera penuh permohonan.

Lula mengangguk kuat-kuat, menggenggam kalung perak itu dengan sangat erat seolah benda itu adalah amanah paling berharga dalam hidupnya. Ia kembali memeluk Amoera sekilas, memantapkan hati untuk mengemban tugas berat yang baru saja diletakkan di atas pundaknya.

"Aku pergi dulu, Lula." Amoera melepaskan pelukan mereka dan melangkah masuk ke dalam mobil.

Pintu mobil ditutup dengan bunyi debuman pelan. Kendaraan roda empat itu perlahan bergerak maju, meninggalkan Lula yang berdiri diam sembari melambaikan tangannya dengan air mata yang terus bercucuran menatap kepergian sang nyonya.

Sementara itu, di dalam pelukan keheningan mobil yang berjalan membelah hutan, Amoera menunduk. Ia menatap bayinya yang tampak tertidur dengan begitu damai di dalam dekapannya. Isak tangisnya kembali terdengar lirih, meratapi nasibnya yang harus membawa pulang sesosok jasad bayi yang tak lagi bernyawa. Sang sopir yang duduk di kursi kemudi sempat melirik melalui spion tengah, menatap iba sejenak sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya.

Mobil hitam itu akhirnya bergerak melewati gerbang besi tinggi yang dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkurung, Amoera kembali melihat jalanan umum dan dunia luar.

"Kenapa kamu memilih pergi dibandingkan hidup bersama Mommy, sayang? Mommy sekarang sendirian ... rasanya Mommy mau mati saja," ucap Amoera dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan, menahan sesak yang teramat sangat.

"Bangun, sayang ... lihat Mommy. Lihat Mommy, nak ...," ucap Amoera kembali, jemarinya mengusap pipi bayi itu dengan putus asa.

Namun, di tengah kepasrahannya yang mendalam karena tahu bayi itu tidak akan pernah menyahut, sebuah keajaiban yang tak masuk akal mendadak terjadi. Amoera tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan halus, seperti tendangan kecil yang sangat lemah tepat di bagian perut bawahnya yang bergesekan dengan posisi sang bayi.

Amoera seketika menghentikan tangisnya. Napasnya tercekat. Matanya membulat sempurna ketika melihat kelopak mata bayi yang semula terpejam rapat itu kini perlahan bergerak mengecap, sebelum akhirnya mengerjapkan matanya pelan. Tubuh mungil yang semula kaku itu mulai menggeliat pelan, seolah merasa tidak nyaman akibat dekapan Amoera yang terlalu erat.

Seluruh tubuhnya seketika menegang, merasa syok dan mengira bahwa dirinya sedang berada di dalam sebuah mimpi yang teramat indah. Untuk beberapa waktu, ia hanya bisa mematung seperti patung batu. Namun, bayi di dalam dekapannya itu terus bergerak, jemari kecilnya mulai terbuka, dan bibir mungilnya mengerucut pelan, memperlihatkan sepasang manik mata yang indah dan bersih tepat di depan wajah Amoera.

"Ba-bagaimana bisa ...," gumam Amoera pelan.

Ia langsung melempar pandangannya ke arah depan, memastikan sang sopir tidak menyadari perubahan situasi ini melalui kaca spion. Dengan gerakan sigap, Amoera segera menarik kain penutup untuk menutupi wajah bayinya, membatasi setiap pergerakan sang anak agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.

Anak buah Leon tidak boleh ada yang tahu tentang hal ini. "Jika sampai pria baj1ngan itu tahu bayiku masih hidup ... dia pasti akan merebutnya dariku lagi," batin Amoera dengan detak jantung yang berpacu liar karena was-was.

Namun, ketakutannya kian memuncak saat bayi kecil itu mulai mengeluarkan suara rengekan kecil, bersiap untuk menangis karena lapar. Tanpa berpikir panjang, Amoera dengan sigap membuka kancing pakaiannya dan menyusui bayi itu, menutupi seluruh bagian dadanya dengan kain gendongan rajut yang tebal. Ia sempat didera rasa cemas yang luar biasa, namun beruntung, sang sopir di depan tetap fokus mengemudikan mobil tanpa menaruh curiga sedikit pun.

"Antar saja aku sampai ke batas kota. Setelah itu, kamu boleh pergi dan kembali ke mansion," ucap Amoera dengan nada suara yang dibuat sedatar mungkin.

"Baik, Nyonya," jawab sang sopir patuh.

Amoera kembali menunduk, menatap dalam-dalam pada bayinya yang kini tengah fokus menyusu padanya. Air susu ibu yang sempat ia kira tidak akan pernah berguna kini mengalir lancar, memberikan kehidupan bagi sang putra untuk pertama kalinya. Air mata kebahagiaan Amoera menetes tanpa suara, membasahi pipi bayinya. Bayi ini tidak meninggal. Semesta mengembalikan nyawa anaknya khusus untuk menemaninya hidup di dunia yang kejam ini.

"Mommy tahu ... kamu tidak akan membiarkan Mommy hidup sendirian di dunia ini, sayang ...," bisik Amoera penuh keharuan.

_______

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

semangat Amor... akan kita sembelih s' Singa pas hari kurban

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2026-05-24

17

RiriChiew🌺

RiriChiew🌺

emang harus siapin mental sih kalau tema nya mafia kek gini , jahat nya gak kaleng² soalnya 🙈 ntah apa nanti yg akan terjadi kedepannya

2026-05-23

5

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀

Sikembar dipisahkan, Nantinya ketemu kembali. Kumpul bersama, Ayah dan ibu kalian menikah, gitu kan kak ra💆‍♀️

2026-05-23

5

lihat semua
Episodes
1 Tawanan Iblis
2 Kelahiran Penerus Cosa Nero
3 Kehidupan Baru
4 Phantom Of Ravenna
5 Kembar Yang Terpisah
6 Bukan Wanita Baik Baik~
7 Bujukan Si Kecil Yang Gagal
8 Kebimbangan Leon
9 Menjalankan Misi
10 Phantom Of Ravenna
11 Ketahuan
12 Harapan Seorang Anak
13 Misi Baru
14 Perasaan Bersalah
15 Selalu Tak Akur
16 Pertemuan Kembar Yang Terpisah
17 Kita Miliiiip!
18 Memulai Misi Besar
19 Menuju Lokasi
20 Putraku, Targetku?
21 Phantom Of Ravenna Itu Nona Amoera
22 Ketakutan Amoera
23 Pengepungan
24 Enzo?
25 Terbongkar
26 Eren Tak Bisa Tanpaku!
27 Titik Lemah Seorang Ibu
28 Pertengkaran Awal?
29 Kembali Ke Sarang Musuh
30 Kembala Kembala Cintiiiing!
31 Sikap Aneh Leon
32 Di Salahkan
33 Kamu Sama Saja Seperti ku, Amoe~
34 Hampir Saja~
35 Kekhawatiran Amoera
36 Masuk Ke Kamar Singa
37 Roket Besar
38 Calikan Mommy Cuami
39 Mansion Utama
40 Pertunangan Yang Di Atur
41 Emosi Enzo
42 Tak Sengaja
43 Video Call Daddy Si Kembar
44 Leon Kecil Yang Malang
45 Panik!
46 Pertunangan Tuan Muda D'alterio
47 Acara Yang Berantakan!
48 Eren Adalah Putraku!
49 Saling Menguatkan
50 Membaik
51 Berbincang
52 Kabar Baik & Kabar Buruk?
53 Karena Dia Cintaku!
54 Takluknya Sang Ketua
55 Bukan Sekedar Kecupan
56 Musang Bir4hi
57 Rujak
58 Leon ...
59 Aku Tetap Bisa Mencintaimu, Amoe
60 Keraguan
61 Kamu Tidak Rindu?
62 Bisa Melihat
63 Tingkah Si Kembar
64 Perasaan Leon
65 Saran Black
66 Ratu Setan
67 Perdebatan Sengit 2 Wanita
68 Perkelahian Sengit
69 Timah Panas Yang Meleset
70 Sama-Sama Terluka
71 Khawatir Tapi Kesal
72 Syarat Menikah
73 Jangan Ragukan Aku~
74 Dalam Pantauan
75 Cassius Dominion
76 Rahasia Besar Terungkap
77 Membawa Pulang
78 Kepulangan Leon
79 Ayah!
80 My Little Basreng
81 Perdebatan Ayah Dan Anak
82 Sepakat Menikah
83 Kesempatan Dalam Kesempitan
84 Jambakan Pedas
85 Little Basreng
86 Jalan-Jalan
87 Mencoba Gaun
88 Ini Loh Basleeeeng!
89 Tingkat Calon Mertua
90 Ketegangan Ariana
91 Pelaku Sebenarnya
92 Menebus Luka
93 Pernikahan King Cosa Nero
94 Cemburunya Leon
95 Darah?
96 Hanya Mimpi
97 Shhtt ... diam dan nikmati
98 Adik Buat Kalian
99 Hari Pertama Sekolah
100 Tak Terduga
101 Misi Penyelamatan
102 Penyerangan
103 Tak Ingin Kehilangan
104 Menunggu
105 7 Bulan Kemudian
106 Isi hati Enzo
107 Penantian Panjang
108 Kumpul kembali
109 Ada Apa Dengan Kael?
110 Menargetkan Putrimu
111 Gemblot
112 Ada Apa Dengan Kael?
113 Baby Girl
114 Alaura, Si Bayi Menggemaskan
115 Si Bayi Menggemaskan
116 Di Pisahkan?
117 Pergi~
118 CERITA KAEL
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Tawanan Iblis
2
Kelahiran Penerus Cosa Nero
3
Kehidupan Baru
4
Phantom Of Ravenna
5
Kembar Yang Terpisah
6
Bukan Wanita Baik Baik~
7
Bujukan Si Kecil Yang Gagal
8
Kebimbangan Leon
9
Menjalankan Misi
10
Phantom Of Ravenna
11
Ketahuan
12
Harapan Seorang Anak
13
Misi Baru
14
Perasaan Bersalah
15
Selalu Tak Akur
16
Pertemuan Kembar Yang Terpisah
17
Kita Miliiiip!
18
Memulai Misi Besar
19
Menuju Lokasi
20
Putraku, Targetku?
21
Phantom Of Ravenna Itu Nona Amoera
22
Ketakutan Amoera
23
Pengepungan
24
Enzo?
25
Terbongkar
26
Eren Tak Bisa Tanpaku!
27
Titik Lemah Seorang Ibu
28
Pertengkaran Awal?
29
Kembali Ke Sarang Musuh
30
Kembala Kembala Cintiiiing!
31
Sikap Aneh Leon
32
Di Salahkan
33
Kamu Sama Saja Seperti ku, Amoe~
34
Hampir Saja~
35
Kekhawatiran Amoera
36
Masuk Ke Kamar Singa
37
Roket Besar
38
Calikan Mommy Cuami
39
Mansion Utama
40
Pertunangan Yang Di Atur
41
Emosi Enzo
42
Tak Sengaja
43
Video Call Daddy Si Kembar
44
Leon Kecil Yang Malang
45
Panik!
46
Pertunangan Tuan Muda D'alterio
47
Acara Yang Berantakan!
48
Eren Adalah Putraku!
49
Saling Menguatkan
50
Membaik
51
Berbincang
52
Kabar Baik & Kabar Buruk?
53
Karena Dia Cintaku!
54
Takluknya Sang Ketua
55
Bukan Sekedar Kecupan
56
Musang Bir4hi
57
Rujak
58
Leon ...
59
Aku Tetap Bisa Mencintaimu, Amoe
60
Keraguan
61
Kamu Tidak Rindu?
62
Bisa Melihat
63
Tingkah Si Kembar
64
Perasaan Leon
65
Saran Black
66
Ratu Setan
67
Perdebatan Sengit 2 Wanita
68
Perkelahian Sengit
69
Timah Panas Yang Meleset
70
Sama-Sama Terluka
71
Khawatir Tapi Kesal
72
Syarat Menikah
73
Jangan Ragukan Aku~
74
Dalam Pantauan
75
Cassius Dominion
76
Rahasia Besar Terungkap
77
Membawa Pulang
78
Kepulangan Leon
79
Ayah!
80
My Little Basreng
81
Perdebatan Ayah Dan Anak
82
Sepakat Menikah
83
Kesempatan Dalam Kesempitan
84
Jambakan Pedas
85
Little Basreng
86
Jalan-Jalan
87
Mencoba Gaun
88
Ini Loh Basleeeeng!
89
Tingkat Calon Mertua
90
Ketegangan Ariana
91
Pelaku Sebenarnya
92
Menebus Luka
93
Pernikahan King Cosa Nero
94
Cemburunya Leon
95
Darah?
96
Hanya Mimpi
97
Shhtt ... diam dan nikmati
98
Adik Buat Kalian
99
Hari Pertama Sekolah
100
Tak Terduga
101
Misi Penyelamatan
102
Penyerangan
103
Tak Ingin Kehilangan
104
Menunggu
105
7 Bulan Kemudian
106
Isi hati Enzo
107
Penantian Panjang
108
Kumpul kembali
109
Ada Apa Dengan Kael?
110
Menargetkan Putrimu
111
Gemblot
112
Ada Apa Dengan Kael?
113
Baby Girl
114
Alaura, Si Bayi Menggemaskan
115
Si Bayi Menggemaskan
116
Di Pisahkan?
117
Pergi~
118
CERITA KAEL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!