Kehidupan Baru

Empat tahun kemudian.

Di sebuah gedung tinggi di sudut kota yang ramai, tampak seorang wanita tengah berdiri dengan tenang di dekat jendela besar lantai dua. Kedua tangannya yang terlatih dengan cekatan menarik pelatuk dari senjata laras panjang miliknya, mengarahkan moncong senjata hitam itu tepat pada seorang pria bertubuh tambun yang sedang berdiri di tengah pengawalan ketat di seberang jalan.

Setelah memastikan bidikannya mengunci target dengan sempurna, wanita itu tanpa ragu melepaskan satu tembakan telak. Tidak ada suara dentuman keras yang terdengar karena senjata tersebut telah dilengkapi peredam terbaik, namun di seberang sana, pria bertubuh tambun itu langsung tumbang seketika dengan sebuah luka lubang peluru yang tepat bersarang di tengah keningnya.

Suasana di seberang jalan mendadak berubah menjadi histeris, orang-orang berteriak panik melihat sang bos tewas dalam sekejap. Namun, wanita di balik jendela itu justru menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman dingin yang menawan sebelum akhirnya lekas beranjak pergi dari sana. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Amoera, yang kini telah menjelma menjadi salah satu pembunuh bayaran paling dicari di dunia bawah.

Dengan gerakan yang sangat santai, Amoera meletakkan senjata laras panjangnya di sebuah sudut sembarang tempat yang tersembunyi. Ia kemudian menarik ikat rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai indah, lalu melepaskan kemeja luarannya dan membalikkannya hingga warna pakaiannya berubah drastis dalam sekejap. Ia juga melepas kacamata hitam yang dipakainya, menggantinya dengan sebuah kacamata berbingkai bening yang membuatnya tampak seperti wanita kantoran biasa.

Mulutnya terus mengunyah permen karet dengan tenang, seolah-olah pembunuhan yang baru saja terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya sama sekali. Saat melangkah memasuki lift gedung, dia bahkan sempat tersenyum ramah menyapa seseorang yang berada di dalam lift yang sama dengannya. Lift itu pun bergerak turun dengan cepat, membawa Amoera menuju lantai dasar gedung.

Tring!

Pintu lift terbuka. Tepat saat Amoera akan melangkahkan kakinya keluar menuju pintu utama, sebuah suara panggilan dari arah belakang mendadak mengejutkannya.

"Nona," panggil seorang pria asing dengan pakaian rapi.

Amoera menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap bingung pada pria tersebut. Namun, begitu matanya melihat sebuah pena mahal berbentuk unik yang disodorkan oleh pria itu, senyuman manis langsung mengembang di wajah cantiknya. Ia segera mengambil pena tersebut dengan perasaan lega.

"Terima kasih banyak. Ini pena milik putraku yang terjatuh," ucap Amoera ramah, lalu kembali berlalu pergi.

Ia berjalan dengan langkah santai menuju tempat parkir dan segera memasuki mobil minimalis miliknya. Tepat saat ia baru saja menyalakan mesin dan hendak melajukan kendaraannya, ponsel di dalam tasnya mendadak berbunyi nyaring. Amoera lekas mengambilnya, melihat nama yang tertera di layar, lalu segera mengangkat ponsel tersebut dan menempelkannya di telinga.

"Halo—apa?!"

Kedua mata Amoera seketika berbinar terang, dan senyuman bahagianya merekah lebar. Tanpa membuang waktu lagi, ia mematikan sambungan ponselnya lalu segera menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah bergaya minimalis yang terletak di pinggiran kota yang tenang, Amoera lekas melangkah masuk dengan tergesa-gesa setelah membuka pintu depan.

"Tumben sekali kamu pulang secepat ini, Moera," ucap seorang wanita berusia sepadan dengannya yang tengah duduk di ruang tengah, menatapnya dengan pandangan heran.

"Agnes! Eren akhirnya mendapatkan donor kornea! Dia akan bisa melihatku!" teriak Amoera dengan suara kencang yang dipenuhi rasa suka cita yang meluap-luap.

Suara ketukan ritmis dari sebuah tongkat kecil di atas lantai marmer mendadak membuat kedua wanita itu menoleh ke arah koridor dalam. Dari sana, terlihat seorang bocah laki-laki berwajah sangat menggemaskan tengah berjalan mendekati mereka dengan memegang sebuah tongkat penuntun kecil di tangan kanannya.

Amoera segera menjatuhkan lututnya ke lantai, merendahkan tubuhnya lalu meraih kedua bahu anak kecil itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Eren Marcello, anak laki-laki yang empat tahun lalu sempat ia kira telah meninggal di dalam kandungan, kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang sangat manis dan berbakti. Walaupun, sebuah kenyataan pahit tidak bisa dihindari sejak lahir, mata anak itu mengalami masalah serius yang membuatnya tidak bisa melihat dunia. Namun hari ini, dokter baru saja memberikan kabar bahwa putranya membutuhkan donor kornea tersebut agar dapat melihat dengan normal seperti anak-anak pada umumnya.

"Mommy pulang, bawa donat gula Elen ndaaa?" ucap anak itu dengan suara cadelnya yang terdengar sangat semangat, menengadahkan wajahnya yang polos ke arah suara Amoera.

"Donatnya libur dulu yah untuk hari ini," ucap Amoera lembut dengan nada menggoda, yang seketika membuat Eren langsung mengerucutkan bibir mungilnya dengan perasaan sebal.

"Olang itu cukaaaa kali beli halapan palcuuu, cakit pelcaaan ini," ucapnya dengan nada merajuk, bersiap memutar tubuhnya untuk melangkah pergi dari hadapan sang ibu. Namun, Amoera dengan sigap menahan kedua lengan kecilnya, tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan sang putra.

"Ereeeen, sebentar lagi Eren bisa melihat lagi looh! Senang enggak?" ucap Amoera dengan nada suara yang dipenuhi kebahagiaan yang mendalam. Namun, mendengar hal itu, anak kecil itu mendadak terdiam, menghentikan gerakannya.

"Elen bica nda lihat muka mommy?" tangan kecil Eren perlahan terangkat ke atas, meraba dan meraih wajah Amoera dengan jemari mungilnya, mencoba merasakan setiap lekuk wajah ibunya lewat sentuhan kulit.

"Mommy tantik kali, Elen mau lihat mommy," ucapnya kemudian, sebuah senyuman tulus yang sangat manis terukir di bibir kecilnya yang mungil.

Amoera mengangguk kuat dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena haru. "Tentu saja, sayang ... tentu saja kamu bisa melihat wajah Mommy."

Amoera langsung menarik putranya ke dalam pelukan yang erat. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bangga dan bersyukur karena bisa bertahan hidup sampai di titik ini demi menghidupi anak yang menjadi alasan utamanya untuk tetap bernapas.

.

.

.

.

Sementara itu, di sudut belahan dunia yang lain, atmosfer ketegangan yang pekat tampak menyelimuti sebuah area bawah tanah yang gelap dan dingin. Langkah kaki yang tegas terdengar menuruni anak tangga marmer. Seorang pria dengan aura intimidasi yang luar biasa kuat melangkah masuk, tangan kanannya dengan santai meraih sebuah pistol hitam dari balik jasnya lalu mengarahkannya langsung pada tiga orang pria yang kini berada dalam kondisi terikat di atas kursi besi. Tatapan matanya yang tajam bak elang tidak lepas dari ketiga orang tersebut, yang telah berani memicu amarah besarnya.

"Apa dia sudah jujur mengenai siapa dalang di balik semua ini?" tanya pria itu dingin, yang tak lain dan tak bukan adalah Leon D'Alterio.

"Belum, Tuan Leon. Mereka justru sengaja menggigit lidah mereka sendiri agar tidak bisa berbicara dan membocorkan informasi kepada kita," ucap salah satu anak buahnya dengan kepala tertunduk takut, sebuah jawaban yang seketika membuat Leon menyeringai kejam.

Leon mengangkat senjata apinya lebih tinggi, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke arah dahi salah satu dari ketiga tawanan yang kini mulai tampak panik dan gemetar hebat menanti ajal. Namun, tepat saat jari Leon bersiap menekan pelatuk senjata tersebut, sebuah suara cempreng bernada datar dari arah pintu masuk mendadak mengejutkan semua orang di dalam ruangan.

"Belhenti cebental bica?"

Leon menoleh cepat dengan kening berkerut dalam. Begitu pula dengan seluruh anak buahnya yang kini langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Di sana, berdiri seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang tengah memeluk sebuah bantal guling kecil, menatap ke arah Leon dengan pandangan mata yang tampak sangat malas dan mengantuk.

"Enzo mau tidul bental, jangan belicik bica?" ucap anak itu dengan nada suara yang luar biasa datar, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh pemandangan berdarah dan senjata api di depannya.

"Nda mau Enzo kabul lagi kan? Jangan beltingkah jadi olang tua," ucap anak itu acuh tak acuh, lalu membalikkan tubuh kecilnya begitu saja dan berlalu pergi dari sana.

Kepergian bocah itu meninggalkan seluruh anak buah mafia di dalam ruangan dalam kondisi syok luar biasa karena keberaniannya yang tak masuk akal. Hanya Leon yang kini tampak menggeram kesal dengan rahang yang mengeras menahan emosi yang mendadak naik.

"Anak itu benar-benar semakin berani," desis Leon rendah, lalu melempar senjata api miliknya ke atas meja dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentuman logam yang nyaring.

"Kael, bereskan sisanya!" perintah Leon dengan nada tajam pada seorang anak remaja laki-laki yang berdiri tegak di sudut ruangan, sebelum akhirnya ia melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah yang terasa kian menghimpit dadanya.

"Enzo!" teriak Leon dengan suara menggelegar saat ia sampai di koridor lantai atas, membuat Enzo yang tadinya baru saja bersiap melangkah masuk ke dalam kamarnya terpaksa berbalik dan menatap malas ke arah sang ayah.

"Tidak ada sopan santunnya sama sekali kamu sekarang, ya? Mau kabur? Mau kabur ke mana lagi kamu, hah?!" bentak Leon dengan berkacak pinggang.

Enzo menatapnya datar dengan sepasang mata hitam yang sangat mirip dengan milik Leon, seolah Leon sedang melihat cerminan dari dirinya sendiri pada diri anak kecil tersebut.

"Kabul ke Mommy, tanya aja telus kayak lentenil," desis Enzo kesal dengan bibir mengerucut, lalu dengan cepat melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras.

Brak!

"Enzo!" pekik Leon dengan tatapan mata yang tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Seorang pemimpin mafia tertinggi Cosa Nero yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah, kini justru diperlakukan seperti ini oleh anaknya yang baru berusia empat tahun? Astaga, putranya yang satu ini benar-benar tahu bagaimana cara memancing emosi gilanya hingga ke batas maksimal.

Leon melangkah mendekati pintu kamar Enzo yang tertutup rapat, lalu berteriak dari luar dengan suara menggelegar. "Mommy kamu itu tidak ada! Tidak ada sosok mommy di dalam kehidupan kamu sejak kamu lahir!" teriak Leon ketus.

Tak lama kemudian, suara teriakan balasan dari dalam kamar Enzo terdengar tak kalah kencang, menyahuti ucapan Leon dengan nada yang sangat mengejek.

"TELCELAAAAAAH! TELCELAAAAH! OLANG NDA ADA MOMMY NDA BOLEH ILI DENGKIIII!" teriak Enzo dari balik pintu, yang seketika membuat mulut Leon lagi-lagi menganga lebar karena tidak habis pikir dengan kelakuan putra pewarisnya tersebut.

___________

Triple dulu yaaa😍

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

seharus'y s' Singa itu aja yang d'bikin buta

🤣

2026-05-24

8

indrie_💖

indrie_💖

sabar leon itu putramu sendiri

2026-05-27

1

Deera__

Deera__

Eren... apakah dia putra Moera yg sempat dikira wafat itu kah?
oh my boy.. /Whimper//Grimace/ternyata penglihatannya bermasalah, semoga pendonor korneanya sngat cocok.. agar Eren bisa melihat dunia dan mommy serta Kembarannya nanti aamiin😭🤗🤗😍😍😍😘😘

2026-06-25

0

lihat semua
Episodes
1 Tawanan Iblis
2 Kelahiran Penerus Cosa Nero
3 Kehidupan Baru
4 Phantom Of Ravenna
5 Kembar Yang Terpisah
6 Bukan Wanita Baik Baik~
7 Bujukan Si Kecil Yang Gagal
8 Kebimbangan Leon
9 Menjalankan Misi
10 Phantom Of Ravenna
11 Ketahuan
12 Harapan Seorang Anak
13 Misi Baru
14 Perasaan Bersalah
15 Selalu Tak Akur
16 Pertemuan Kembar Yang Terpisah
17 Kita Miliiiip!
18 Memulai Misi Besar
19 Menuju Lokasi
20 Putraku, Targetku?
21 Phantom Of Ravenna Itu Nona Amoera
22 Ketakutan Amoera
23 Pengepungan
24 Enzo?
25 Terbongkar
26 Eren Tak Bisa Tanpaku!
27 Titik Lemah Seorang Ibu
28 Pertengkaran Awal?
29 Kembali Ke Sarang Musuh
30 Kembala Kembala Cintiiiing!
31 Sikap Aneh Leon
32 Di Salahkan
33 Kamu Sama Saja Seperti ku, Amoe~
34 Hampir Saja~
35 Kekhawatiran Amoera
36 Masuk Ke Kamar Singa
37 Roket Besar
38 Calikan Mommy Cuami
39 Mansion Utama
40 Pertunangan Yang Di Atur
41 Emosi Enzo
42 Tak Sengaja
43 Video Call Daddy Si Kembar
44 Leon Kecil Yang Malang
45 Panik!
46 Pertunangan Tuan Muda D'alterio
47 Acara Yang Berantakan!
48 Eren Adalah Putraku!
49 Saling Menguatkan
50 Membaik
51 Berbincang
52 Kabar Baik & Kabar Buruk?
53 Karena Dia Cintaku!
54 Takluknya Sang Ketua
55 Bukan Sekedar Kecupan
56 Musang Bir4hi
57 Rujak
58 Leon ...
59 Aku Tetap Bisa Mencintaimu, Amoe
60 Keraguan
61 Kamu Tidak Rindu?
62 Bisa Melihat
63 Tingkah Si Kembar
64 Perasaan Leon
65 Saran Black
66 Ratu Setan
67 Perdebatan Sengit 2 Wanita
68 Perkelahian Sengit
69 Timah Panas Yang Meleset
70 Sama-Sama Terluka
71 Khawatir Tapi Kesal
72 Syarat Menikah
73 Jangan Ragukan Aku~
74 Dalam Pantauan
75 Cassius Dominion
76 Rahasia Besar Terungkap
77 Membawa Pulang
78 Kepulangan Leon
79 Ayah!
80 My Little Basreng
81 Perdebatan Ayah Dan Anak
82 Sepakat Menikah
83 Kesempatan Dalam Kesempitan
84 Jambakan Pedas
85 Little Basreng
86 Jalan-Jalan
87 Mencoba Gaun
88 Ini Loh Basleeeeng!
89 Tingkat Calon Mertua
90 Ketegangan Ariana
91 Pelaku Sebenarnya
92 Menebus Luka
93 Pernikahan King Cosa Nero
94 Cemburunya Leon
95 Darah?
96 Hanya Mimpi
97 Shhtt ... diam dan nikmati
98 Adik Buat Kalian
99 Hari Pertama Sekolah
100 Tak Terduga
101 Misi Penyelamatan
102 Penyerangan
103 Tak Ingin Kehilangan
104 Menunggu
105 7 Bulan Kemudian
106 Isi hati Enzo
107 Penantian Panjang
108 Kumpul kembali
109 Ada Apa Dengan Kael?
110 Menargetkan Putrimu
111 Gemblot
112 Ada Apa Dengan Kael?
113 Baby Girl
114 Alaura, Si Bayi Menggemaskan
115 Si Bayi Menggemaskan
116 Di Pisahkan?
117 Pergi~
118 CERITA KAEL
Episodes

Updated 118 Episodes

1
Tawanan Iblis
2
Kelahiran Penerus Cosa Nero
3
Kehidupan Baru
4
Phantom Of Ravenna
5
Kembar Yang Terpisah
6
Bukan Wanita Baik Baik~
7
Bujukan Si Kecil Yang Gagal
8
Kebimbangan Leon
9
Menjalankan Misi
10
Phantom Of Ravenna
11
Ketahuan
12
Harapan Seorang Anak
13
Misi Baru
14
Perasaan Bersalah
15
Selalu Tak Akur
16
Pertemuan Kembar Yang Terpisah
17
Kita Miliiiip!
18
Memulai Misi Besar
19
Menuju Lokasi
20
Putraku, Targetku?
21
Phantom Of Ravenna Itu Nona Amoera
22
Ketakutan Amoera
23
Pengepungan
24
Enzo?
25
Terbongkar
26
Eren Tak Bisa Tanpaku!
27
Titik Lemah Seorang Ibu
28
Pertengkaran Awal?
29
Kembali Ke Sarang Musuh
30
Kembala Kembala Cintiiiing!
31
Sikap Aneh Leon
32
Di Salahkan
33
Kamu Sama Saja Seperti ku, Amoe~
34
Hampir Saja~
35
Kekhawatiran Amoera
36
Masuk Ke Kamar Singa
37
Roket Besar
38
Calikan Mommy Cuami
39
Mansion Utama
40
Pertunangan Yang Di Atur
41
Emosi Enzo
42
Tak Sengaja
43
Video Call Daddy Si Kembar
44
Leon Kecil Yang Malang
45
Panik!
46
Pertunangan Tuan Muda D'alterio
47
Acara Yang Berantakan!
48
Eren Adalah Putraku!
49
Saling Menguatkan
50
Membaik
51
Berbincang
52
Kabar Baik & Kabar Buruk?
53
Karena Dia Cintaku!
54
Takluknya Sang Ketua
55
Bukan Sekedar Kecupan
56
Musang Bir4hi
57
Rujak
58
Leon ...
59
Aku Tetap Bisa Mencintaimu, Amoe
60
Keraguan
61
Kamu Tidak Rindu?
62
Bisa Melihat
63
Tingkah Si Kembar
64
Perasaan Leon
65
Saran Black
66
Ratu Setan
67
Perdebatan Sengit 2 Wanita
68
Perkelahian Sengit
69
Timah Panas Yang Meleset
70
Sama-Sama Terluka
71
Khawatir Tapi Kesal
72
Syarat Menikah
73
Jangan Ragukan Aku~
74
Dalam Pantauan
75
Cassius Dominion
76
Rahasia Besar Terungkap
77
Membawa Pulang
78
Kepulangan Leon
79
Ayah!
80
My Little Basreng
81
Perdebatan Ayah Dan Anak
82
Sepakat Menikah
83
Kesempatan Dalam Kesempitan
84
Jambakan Pedas
85
Little Basreng
86
Jalan-Jalan
87
Mencoba Gaun
88
Ini Loh Basleeeeng!
89
Tingkat Calon Mertua
90
Ketegangan Ariana
91
Pelaku Sebenarnya
92
Menebus Luka
93
Pernikahan King Cosa Nero
94
Cemburunya Leon
95
Darah?
96
Hanya Mimpi
97
Shhtt ... diam dan nikmati
98
Adik Buat Kalian
99
Hari Pertama Sekolah
100
Tak Terduga
101
Misi Penyelamatan
102
Penyerangan
103
Tak Ingin Kehilangan
104
Menunggu
105
7 Bulan Kemudian
106
Isi hati Enzo
107
Penantian Panjang
108
Kumpul kembali
109
Ada Apa Dengan Kael?
110
Menargetkan Putrimu
111
Gemblot
112
Ada Apa Dengan Kael?
113
Baby Girl
114
Alaura, Si Bayi Menggemaskan
115
Si Bayi Menggemaskan
116
Di Pisahkan?
117
Pergi~
118
CERITA KAEL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!